Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Pernikahan yang tidak bahagia.


__ADS_3

Angga masih terngiang-ngiang ucapan Innara "Barang bekas" Dia tidak habis pikir kenapa Innara tega mengatakan hal itu, bahkan dia memiliki tanpa lelaki yang jelas saja dia tidak pernah mengatakan hal buruk padanya, tapi kenapa bisa sekarang Innara berkata begitu.


"Gue harus gimana sekarang? Apa iya gue ikuti saran Nara?" Angga mengacak rambutnya. Dengan terpaksa Angga menikahi Jenny beberapa hari kemudian, seperti yang Nara katakan dia tidak akan datang, dan benar saja semua ucapnya. Mami papinya pun tidak menanyakan keberadaan Nara, karena takut jika di singgung soal Nara Angga akan berubah pikiran.


"Ra.....maafin gue, " Gumam Angga. sedangkan di tempat lain, Innara masih berdiam diri di kamarnya setelah mendapat kabar dari Tania jika Angga melangsungkan pernikahan dengan Jenny, Bara pun tau akan hal itu, tapi dia tidak bisa memaksa Nara untuk tidak melakukan itu. Dia sadar Innara lebih lama bersama Angga ketimbang dirinya, dia akan memaklumi hal ini.


"Ay.....makan yuk, di tunggu Tara di bawah." panggil Bara saat Innara mengurung diri di kamar.


"Iya Ta, gue datang." jawab Nara dari dalam dan dia langsung mencuci wajahnya agar tidak terlihat kacau oleh anaknya. "Yuk...." Nara tersenyum pada Bara.


"Lo Enggak perlu pura-pura di depan gue, gue tau semuanya." Bara membelai punggung istrinya.


"Maafin gue Ta, harusnya gue enggak seperti ini, gue pikir enggak akan sakit, tapi ternyata sakitnya seperti tertusuk sampai gue enggak bisa bernapas." Nara kemudian terisak.


"Ada gue Lo bisa cerita apa aja sama gue, gue siap jadi tempat sampah Lo," Tutur Bara dengan mengusap kedua pipi Innara, kalau memegang pundaknya." dan gue bakalan nungguin Lo sampai Lo bisa terima hati gue, dan gue juga minta maaf untuk perkataan gue terakhir kali sama Lo."


"Gue juga, gue minta maaf." Akhirnya mereka berdamai.


"Semoga kedepannya kita bisa akur Ra, kira-kira sudah publish belum hubungan kita?" Bara memandang Innara.


"Kita bicara itu lain kali ya?"


"Oke, terserah Lo aja, yang penting Lo nyaman aja."


"Makasih Ta..." Bara tersenyum dan mereka menuju meja makan dan sudah di tunggu Tara dan lainnya.


"Bunda lama banget, Tara udah lapar."


"Maaf ya sayang, bunda tadi sakit perut." Alasan Innara.


...****************...

__ADS_1


"Jadi kemana kita bulan madu Ga?" Jenny memeluk pundak Angga yang kini berstatus suami nya.


"Buat apa bulan madu, Lo dah hamil juga kan!" Ketus Angga.


"Lo jahat banget sih Ga ma gue?"


"Jahat dimana nya?"Angga melepas tangan Jenny dan melihat lekat-lekat wajah perempuan yang telah menjebaknya.


"Ga...gue pengen honey moon."


"Ajak aja siapa bapak dari bayi Lo, setelah bayi itu lahir kita cerai."


"Ga...Lo gila, kita baru aja selesai pesta pernikahan lho, bisa-bisanya Lo bahas perceraian."


"Dari awal Lo yang mau pernikahan ini, gue enggak."


"Tapi Lo tidur sama gue Ga."


"Ga....ini anak Lo."


"Seandainya iya gue tidur sama Lo itu cuma satu kali, masak iya langsung jadi."


"Ya...ya...bisa aja kan, namanya juga janin." Jawab Jenny gagap.


"Gue tau Lo bohong, tapi karena papi, gue bakal nurutin kemauan nya, tapi bukan kemauan Lo " desisnya sambil menjauhkan diri dari Jenny, menuju balkon kamarnya, yang biasa dia gunakan bermain gitar juga bernyanyi bersama Innara. Betapa bahagianya dia saat itu pikirnya. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakan nya. "Gue kangen Lo Ra." Gumamnya. Sedangkan Jenny dengan kesal melepas semua aksesoris di tubuhnya.


...****************...


"Kenapa sih papi paksa Angga menikahi Jenny?" tanya mami Nita pada suaminya.


"Maafkan papi mi, papi tau mami suka sama Innara, papi pun juga, tapi ini demi berlangsungnya proyek papi yang ada di bandung." Jelas papi Radit.

__ADS_1


"Papi tega sama anak sendiri, bahkan sampai anak papi di tuduh menghamili Jenny, padahal papi taukan Angga tidak akan pernah melakukan hal memalukan seperti itu?" emosi Nita mulai meledak.


"Maafkan Papi mi, sekarang sudah terlanjur, kita doakan saja semoga Angga bahagia bersama Jenny." ucapnya masih jumawa.


"Apa pernah papi lihat Angga bahagia selama ini?" Tanya mami Nita dengan tangannya menunjuk keluar pintu. "Dulu mungkin Angga kalo kesal sama papi atau mami dia hanya kerumah Innara dan menginap disana sampai kesalnya hilang sendiri, tapi Sekarang? Papi lihat! Dia mabuk-mabukan bahkan di depan papi." Mami Nita mulai terisak. "Papi rela merusak anak satu-satunya demi sebuah proyek."


"Terus sekarang papi harus bagaimana mana mi?" Radit juga mulai ikut panas.


"Mami tidak tau, mami tidak tahan melihat Angga hancur seperti ini."


"Apa perlu kita minta bantuan Innara?"


"Apa papi masih punya muka untuk ketemu Innara, setelah papi menghinanya dan mami menampar nya?" mami terduduk di sofa di dalam kamar mereka, menutup mata karena sebentar lagi air matanya akan tumpah.


"Mami rela melakukan apapun untuk membantu papi, tapi lihat hasilnya sekarang? Keluarga hampir hancur, demi sebuah proyek papi!" Raditya pun mendekat dan memeluk istrinya, dia sangat bersalah kepada istri juga anaknya karena terlalu obsesi pada bisnis padahal tanpa bisnis itu hidup mereka sudah sangat mewah. Sekarang istrinya sering uring-uringan melihat menantunya yang tidak tau diri, sedangkan anaknya jarang pulang, sekali pulang dalam keadaan mabuk. Sungguh menyedihkan.


"Maafin papi mi," Berulang kali Raditya mengatakan hal yang sama tapi kata maaf tidak dapat merubah keadaan seperti semula.


"Mami Kangen Innara, tapi mami malu jika mengatakan nya, mami juga kangen Tara, walau bukan cucu mami, tapi mami membatu membesarkan anak itu Pi, " Ucapnya Nita kini mulai tergugu. " selama tujuh tahun terakhir mami sudah menganggap Nara anak sendiri, tapi waktu Angga menikah kenapa malah mengabaikan nya seolah kita tidak mengenalnya Pi, mami menyesal melepas seseorang yang benar-benar baik dengan orang yang baru." Ungkapan panjang lebar itu di dengar Jenny dari balik Pintu, hal itu membuatnya sangat marah dia kembali kekamarnya dan membanting pintu keras-keras, sampai Nita dan Raditya mendengar nya.


"Kenapa lagi itu anak Pi." Keluh Nita sambil menyeka air matanya.


"Mami tidak usah memikul jenny, kalo mami tidak betah tinggal disini, kita bisa tinggal di rumah satu nya." Ucap Radit menenangkan Nita.


",Itu namanya lari dari masalah Pi."


"Terus mami maunya apa?"


"Kita tanya ngga saja maunya bagaimana, agar semua berjalan normal kembali."


", Terserah mami saja, papi juga sudah pusing, baru dia bulan mereka menikah, tapi terasa sudah sepuluh tahun." Ternyata selama ini papi Radit juga merasakan kekesalan yang sama, cuma dia tidak peduli, dia tidak menyadari jika istri nya sangat tersiksa.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2