
"Gue Andreas ." Pria itu menyebut namanya.
"Boleh enggak gue panggil ayang aja." Ucap Sintia dan membuat wajah Andreas memerah. "Gue Sintia, dan ini sohib gue Innara."
"Sudah pesen makanan?"
"Emm udah, Lo belum? Mau gue pesenin biar samaan sama gue." ucap sintia genit.
"Sintia." Innara menoel temannya itu.
"Boleh." Andreas menyetujui permintaan Sintia, lalu dia pergi dengan segera.
"Hah?" Innara mengerutkan dahinya, ,"cowok ini kenapa?" Batin Innara.
"Hay gue Andreas." Andreas mengulurkan tangannya.
"Kan udah tadi." Innara tidak menyambut uluran tangan itu. Dari kejauhan Bara mengawasi dengan tersenyum.
"Bini gue di lawan." Gumamnya.
"Kenapa bar?" tanya Beby melihat bara tersenyum sendiri.
"Cewek bar-bar itu lagi?" Keluhnya.
"Bar-bar apa sih beb?" bela Bara.
"gue enggak suka ya Lo dekat-dekat sama dia, Lo itu punya gue."
"Lo ngomong apa sih."
"Ingat bar, kita udah di jodohin sejak kecil."
"Bukannya Lo nolak ya dulu, kenapa bahas lagi sih sekarang?" Bara kesal.
"karena gue mau Lo sekarang."
"Lo pikir gue barang, setelah Lo buang Lo pungut lagi."
"Ya enggak gitu lah bar, gue...."
"Gue udah, kalo Lo mau lanjut silahkan." Bara berdiri meninggalkan Beby dan berjalan menghampiri meja Innara.
"Boleh gabung?" Innara dan Andreas menoleh pada sumber suara.
"Silahkan bro, duduk aja." Ucap Andreas santai, seperti dia belum tau siapa Bara atau dia teman atau kenalan Bara.
"Makanan da-tang." Sintia datang bersama pelayan yang membawa makanan. "Eh ada bos, tumben makan di kantin." Ucapnya ketus." Karena memang Sintia tidak terlalu suka dengan Bara yang semena-mena.
"Eh ada Bu sintia juga disini." Wajah kesal Sintia terlihat jelas dengan dia di panggil Bu oleh atasannya. Lalu melirik Innara bertanya kenapa dia ada disini pakai bahasa isyarat. Innara hanya menggeleng.
"Kalian bicara apa sih? Bisa ya geleng-geleng sama angguk-angguk jadi sebuah kalimat." Sindir Bara pada Innara dan Sintia. Tapi pertanyaan Bara tidak di respon oleh kedua gadis itu.
"Ini untuk ayang aku, ini untuk Innara, semoga selalu kuat dan ini untuk aku, semoga aku enggak jomblo lagi setelah ketemu ayang aku." Ucapnya genit.
"Sintia...." Innara memperingatkan. Sedangkan Sintia hanya nyengir kuda.
"Buat gue mana Bu Sintia?" Pinta Bara.
__ADS_1
"Bukannya pak bos sudah makan dengan kenyang, kenapa masih tanya lagi?" jawabnya sambil menyuapkan gudeg kedalam mulutnya. "ayang mau aku suapin?" Goda Sintia pada Andreas.
"Sin...." Innara malu karena di perhatikan oleh Bara dan Andreas. "Bukan gue yang ngajarin dia bukan." Tutur Inna dengan tersenyum kikuk.
"A....." Bara membuka mulutnya menghadap ke Innara, bukan suapan tapi malah mendapat pelototan dari Innara. "Gue tadi belum makan ay, laper." Keluh bara tanpa melihat kanan kiri. Mata Innara semakin lebar. Sintia terkejut melihat ulah Bara yang di luar nalar.
"Bos cewek Lo nungguin tuh." Tunjuk Sintia pada Beby yang wajahnya sudah merah padam. Tapi Bara tidak peduli, karena Beby memang tidak memiliki hubungan apapun dengannya.
"Ay....suapin gue."
"Bos ini di kantor ya tolong di kondisikan." Desis Nara lirih.
"Suap gue dulu." Balas Bara sama lirihnya. Karena kesal Nara malah memberikan semua semangkuk soto ayam di hadapan Bara.
"Habisin aja, gue udah kenyang. " Lalu Innara berduri dan meninggalkan semuanya.
"Ra gue masih belum selesai makan, gue masih laper."
"Habisin aja dulu, gue mau ke pantry." Innara melambaikan tangannya. Bukannya marah tapi bara malah tersenyum melihat tingkah Innara yang menurut nya menggemaskan . Setelah itu dia langsung makan sisa soto milik Innara dengan lahap.
"Bos emang Lo SE kere itu, sampai ngabisin makanan karyawan Lo?" tanya Sintia dengan tatapan aneh.
"Sudah sin, makan saja makanan mu." Ucap Andreas menyadarkan Sintia atas sikap ya g tidak sopan pada bosnya.
"Oh, maaf bos, bukan maksud saya. " Ucapnya lirih lalu kembali dengan gudeg ya.
"Gue dukun ya." Pamit Andreas walau belum sepenuhnya menghabiskan makanannya.
"lah ayang, kok enggak dihabisin dulu mama nya." Sintia merajuk.
"Pacar Lo sin?" tanya Bara penasaran.
"Kenapa Lo panggil dia ayang?"
"Lah bos sendiri kenapa panggil Innara ay ..a ay.. Ayang juga kan?" Bara menggaruk keningnya yang tidak gatal. sementara Innara ke pantry membuat mie instan, karena tidak mungkin dia berlama-lama dengan Bara disana, banyak mata memandang tidak suka atas dekatnya Innara dn Bara.
"Gue juga mau mie instan nya." Suara seseorang dari belakang.
"Andreas ngapain Lo disini?"
"Mau mie instan."
"Lo kan sudah makan, masak belum kenyang?" ujar Innara.
"Gue enggak suka gudeg." jawab Andreas.
"Lah kenapa di pesen." sambungnya lagi.
"Gue pikir menu kalian sama, soto ayam." tutur Andreas dengan nyengir kuda.
"Cih, mana ada yang begitu, gudeg itu makanan favorit Sintia."
"Kalo Lo makanan favorit nya apa?"
"emmm...apa ya? Kayaknya semua makanan gue suka."
"Bahkan gudeg?"
__ADS_1
"Suka tapi enggak terlalu karena terlalu manis."
"Tapi masih manis kamu kok, liat aja gue langsung kena diabetes."
"Cih...apaan sih Lo?"
"Becanda Ra." Andreas menggaruk tengkuknya.
"Lo buat sendiri ya, gue laper soalnya." Ucap Nara lalu menuju kursi yang sudah di sediakan di pantry.
"Emmm oke, " Lalu Andreas memasak mie nya
"Kebanyakan air itu an."
"Gue enggak pernah bikin mie instan."
"Anak orang kaya nih."
" Bukan gitu maksudnya."
"IT's oke, sini biar gue buatin." Innara berdiri lagi setelah makan beberapa suap mie instan. Tidak butuh waktu lama, mie instan itu sudah jadi. "Nih dah beres." Innara memberikan mie nya pada Andreas. "Lho kenapa mie gue yang di habiskan sih an?"
"Sorry Ra, gue laper."
"Dasar Lo, aneh, enggak jijik apa sisa makanan gue."
"Bos aja enggak masak gue jijik."
"Maksud Lo?"
"Iya bos Bara."
"Gue pikir dia temen Lo atau semacamnya, karena kelihatannya Lo santai benget tadi."
"Gue tadi belum tau kalo itu bos bara, setelah Sintia bicara baru gue paham."
"Terus?"
"Ya dari pada gue canggung mending gue cabut."
"Dasar gila." Cakap Innara lalu melahap mie yang baru ia buat. "Lo dari divisi mana?"
"Gue marketing."
"Oh pantes belum pernah liat Lo." ucap Nara.
"Gue sering liat Lo."
"Maksudnya?"
"Ya gue sering liat Lo makan sama Sintia disini."
"Ooowww." padahal maksud Andreas bukan itu. Dia lebih sering melihat Innara naik ke lantai atas ruangan bara dari pada ke kantin. Innara hanya mengangguk seolah paham, padahal dia tidak ngerti sama sekali, dan kalo dipikir-pikir dia sangat jarang datang ke kantin itu.
"Siapa dia?" Batin innara dengan melihat Andreas.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...
Jangan lupa mampir juga di novel AUTHOR, CINTA LAMA BELUM KELAR YA 🤩🤩🤩