
"Oke kita buktikan nanti," Tantang Gio pada Juan." yok naik."Ajak gio untuk naik ke lantai atas, di sana tempat lebih privat.
"Males gue."
"Banyak yang baru."
"Masih sore GI."
"Tapi wajah Lo dah lewat tengah malem bego ." Ya karena wajah Juan saat ini sangat kacau, dia tidak tau jika di usir oleh Nara akan membuat nya frustasi. tidak seperti biasanya dia akan lebih dulu menghilangkan jika dia sudah bosan, tapi kali ini berbeda.
Hari beranjak larut, keadaan Juan semakin kacau, Dia mengambil ponselnya berkali-kali menekan nomor yang tuliskan Innara, tapi sayang panggilan nya di tolak.
"Hah." Juan membanting ponselnya dan mengacak rambutnya dengan kasar. "Kenapa gue?" Keluhnya. dia mengeluhkan akan sikapnya yang berubah pada Nara, dia tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi, dia berfikir Nara sama halnya dengan adiknya, nyatanya kenyataan tidak sesuai harapan.
"Udah lupain Innara, Lo enggak liat cewek yang ada di samping Lo?" ucap Gio memberi kode pada salah satu cewek yang ada di meja mereka. Juan menatap beberapa cewek yang ada disana dan semua adalah Innara... Hah?kok bisa ?ya karena saat ini Juan telah dalam pengaruh minuman keras.
"Ra...ini Lo Ra?" Juan mendekat pada salah satu lalu mencium nya dengan membabi buta. bahkan bukan hanya mencumbu tapi mereka berlanjut di kamar tidur.
"Hah... Innara? bisa bikin temen gue mabok sampai kayak gitu." Gumam gio lalu melanjutkan goyangnya.
...****************...
"Om Angga..." sambut Tara saat bertemu Angga memberi salam.
"Halo jagoan nya om."
"Om Angga enggak papa?" ucap Tara sambil menyentuh bibir Angga yang terluka.
"Im fine sayang...Maaf ya tadi bikin kamu kaget." Ucap Angga pada Tara, Tara pun mengangguk. "Bunda mana?"
"Belum pulang."
"Tumben, ini sudah malem banget lho." ucap Angga, "Dan kamu kenapa belum tidur?"
"Masih nunggu bunda, karena ponselnya mati."
"Coba biar om yang hubungi." Ucap Angga dan mengambil ponsel di saku celananya.
Tutututut "Jaringan sibuk."Gumamnya.
"Gimana om, bisa?" tanya Tara antusias. Angga menggeleng.
"Enggak bisa sayang, Atau kita jemput saja gimana?" jawab Angga.
__ADS_1
"Setuju." Jawab Tara dengan mengangguk.
"Oke,"Mereka pun langsung bergegas menuju kafe.
Sudah pukul dua belas malam, biasanya kafe sudah hampir selesai beres-beres nya.
"Gelap." Gumam Angga.
"Kok gelap om." tanya Tara mendekat pada Angga.
"Ayo kita masuk."
",Tara takut."
"Om gendong ya?" Tara mengangguk. Angga mulai menapaki jalan menuju kafe, dan perlahan membuka pintu nya, tapi sayang sudah terkunci. Terpaksa dia harus mengetuk pintu. Tok tok tok "Ra.... Nara." Panggil Angga walau kecil kemungkinan suara Angga terdengar di dalamnya.
"Bunda, bunda...buka pintunya..." Giliran Tara yang beraksi.
"Mungkin bunda sudah pulang sayang." Ujar Angga yang sudah mulai putus asa.
Klek
Pintu terbuka perlahan.
"Nara?" Angga terkejut melihat kondisi Innara yang jelas seperti orang frustasi. "Lo kenapa?" Nara menggeleng. "Ya udah masuk dulu." Angga mendorong tubuh Innara masuk kembali ke kafe dan langsung menuju kantornya. "Tara di sini dulu ya." Angga meletakan Tara di atas ranjang kecil yang ada di kantor Nara. menyalakan televisi siaran anak-anak. Setelah itu Angga menarik tangan Nara keluar ruangan. "ada apa? Cerita sama gue?" Nara masih saja bungkam sambil menggeleng. dia tau jika dia jujur mungkin Juan tidak akan pernah kembali utuh.
"Gue..gue ..."Nara tidak dapat melanjutkan kalimatnya, dadanya mulai sesak jika dia ingat semua ucapan Juan. Bagaimana bisa seorang Juan yang sudah dianggap sebagai kakaknya tapi ternyata ada sesuatu di balik itu semua. Kini Nara mulai tergugu. Angga tidak bisa berbuat apa-apa selain memeluk sahabatnya itu.
"Lo punya gue Ra, Lo harus inget itu." Nara hanya mengangguk di dalam pelukan Angga. "Ya udah kita pulang, kasihan Tara," Nara mengangguk lagi. Akhirnya merekapun pulang.
...****************...
Matahari sudah beranjak tinggi, cahaya mulai memaksa masuk lewat di celah-celah yang ada, Seorang gadis masih dengan polos berbaring di dalam pelukan seorang pria tampan.
"Udah jam berapa nih?" Gumamnya sambil memegang kepalanya yang pening. Saat akan bangun badan nya terasa berat, lalu melihat siapa yang punya tanga melingkar di perutnya. "Hah..Siapa Lo?" Juan kaget saat mendapati bahwa dia tidak sendiri.
"Apaan sih Ju, masih pagi ini, tidur lagi yuk..."Rengek gadis itu.
"Lisa? sejak kapan Lo disini?"
"Lo enggak liat gue gimana?" Lalu Juan memandangi tubuh dalam selimut secara bergantian.
"Gila, jadi .. Lo?" gadis yang bernama Lisa itu mengangguk dengan tersenyum.
__ADS_1
"Innara?"
"Oh nama yang Lo panggil Ra, Ra, Nara ..saat Lo Eja****si itu Innara?"
"Jangan sebut dia dengan mulut kotor Lo."
"Lo lebih kotor dari gue ju, Lo bercinta sama gue, tapi nama cewek lain yang Lo sebut."
"Bukan urusan Lo."
"Lo tega ju ngomong gitu ma gue." tapi Juan tidak mendengarkan. Juan beranjak dari ranjangnya.
"Mendingan Lo cabut aja deh, pusing gue liat lo." setelah mengucapkan kalimat kasar itu Juan meninggalkan Lisa dan membersihkan diri di kamar mandi. Sedangkan Lisa dengan kesal mengambil pakaiannya yang berserakan dan merapikan diri keluar dari kamar hotel yang mereka sewa.
"Sial, awas aja Lo Ju." Umpatnya.
"Hei mau kemana?" Suara yang ia kenal mengagetkan nya.
"Temen Lo tu, brengsek banget."
"Kenapa? Lo kurang?" Ucap Gio sambil bergaya nyeleneh (Tau kan maksudnya?")
"Halah...Lo juga sama aja."
"Mau lanjut sama gue?" bisik Gio.
"Gue capek."
"Gue pijit deh."
"Cih...." akhirnya merekapun pergi berdua, kini tinggallah Juan di kamar mandi menyebutkan semua nama hewan yang ada di kebun binatang. bagaimana bisa dia bercinta dengan cewek lain dan menyebut nama Innara.
"Siiiaaalll." teriak nya didalam. "Sekarang gue harus gimana?" Sambungnya. "Hah.." dia kembali memukulkan tangannya di udara. "Bagaimana jika Bara tau tentang perasaan gue?" keluhnya. Setelah selesai membersihkan diri Juan mengambil pakaian dan keluar meninggalkan Hotel itu. "Gue balik dulu aja, baru berfikir gimana gue ngadepin Nara dan Bara." gumam nya lalu dia mengendarai mobil sedannya dengan kecepatan tinggi. Jarinya menekan tombol dan memilih lagu untuk menemani perjalannya yang membutuhkan waktu lumayan lama.
Drrrttt drrttt
ponsel Juan bergetar.
"Bara?" Juan hanya melihat panggilan itu, tapi dia tidak berani mengangkat, bukan hanya karena Innara, tapi dia juga belum siap jika Bara harus bertanya banyak hal tentang Innara, sedangkan dia sendiri sudah jatuh hati padanya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰