
"Ya udah gue naik dulu."
"Oke... Pelan-pelan aja." ucap Ferdy lagi saat Innara hendak naik. Nara hanya mengacungkan jempol nya. lalu Innara naik dengan tenang di ikuti Bara dan Tara. Saat di depan pintu Innara dan Bara berpandangan, lalu menutup Innara telinga Tara sedangkan bara menutup telinga Innara.
"Kita turun." Bisik Bara dan mereka turun perlahan.
Setelah sampai di bawah Innara kembali menghampiri Ferdy.
"Kenapa enggak bilang sih?"
"Kenapa?Lo kan penasaran, jadi gue biarin aja."
"Sejak kapan?"
"Beberapa hari belakangan kayak nya."
"Jenny pernah kesini?"
"Sejauh ini belum sih." Innara tidak habis pikir apa yang ia dengar tadi, dan sekarang dia malu untuk menatap Bara karena hal itu. "Makan apa?"
"Mereka lama?"
"Menjelang resto tutup sih, paling sekita satu jaman lagi lah?"
"Whaaattt?" teriak Innara sambil menutup mulut.
"Biasa aja ay.."
"Enggak, bukan gitu maksudnya."
"Gue tau isi otak Lo." ucap Bara sambil menoyor kepala Innara. " makanan apa aja yang sesuai sama jagoan ini fer."
"Oke, sepuluh menit lagi ya, tunggu di meja itu bos,"
"Hem..." lalu Innara sibuk dengan ponselnya, dia tidak berani mengajak Bara bicara karena malu,
"Kenapa kok gitu?"
"Apanya?"
"Ya duduk nya kenapa kenapa jauh-jauhan gitu?"
"Enggak..... enggak papa." Jawab Innara sambil melirik kikuk ke arah Bara yang bingung mau bilang apa, dia benar-benar malu.
"Ay..."
"Hem.."
"kenapa sih?"
__ADS_1
"Udah deh Ta, jangan bikin gue tambah malu sama Lo."
"Malu kenapa?"
"Mulai deh."
"Karena yang tadi? Udah lah ay orang dewasa sudah menjadi hal yang bisa seperti itu, jadi enggak perlu di pikirin." Bara mencoba menenangkan Innara.
"Bukan begitu maksud gue, bener kata Lo waktu itu, Lo percaya sama gue tapi enggak dengan dia, dengan kejadian ini batasan persahabatan itu perlu." Ucap Nara.
"Sekarang Lo paham kan maksud gue? Bukan hanya karena cemburu, tapi laki-laki itu hampir sama, kalo ada yang mau kenapa enggak, apalagi di saat sedang frustasi."
"Jadi Lo juga mau kalo di sodorin dada sama paha?" ucap Nara kesal.
"Asal itu Lo gue mau aja."
"Dasar mesum."
"Selama Lo ada disini, gue enggak bakal ngelakuin hal kayak gitu ay, gue pengen Lo menjadi satu-satunya."
"Alah gombalan Lo."
"Ngegombal apa dia bos, kalo macem-macem bilang sama gue." tiba-tiba Ferdy datang dengan beberapa pelayan membawakan makanan.
"Lo ikut aja urusan orang gede." Ucap Nara.
"Tapi dia udah nikah bang." Ucap Bara dan itu berhasil membuat Ferdy shock sementara.
"Enggak fer, becanda."
"Gue enggak becanda...." Mendengar itu Nara langsung memasukan tempe goreng kedalam mulut Bara.
"Laper kan Lo, ayo ak biar gue suapin." Nara gelagapan dan itu membuatnya semakin aneh.
"Ay....." Ucap Bara tapi tidak jelas, mulutnya di penuhi oleh tahu tempe juga lalapan. "Ay udah..."
"Hah? Apa?" Tanya Innara tapi tangannya masih saja mencoba memasukkan makanan kedalam mulut Bara, karena kesal tangan Innara akhirnya ditahan olehnya.
"Jaja Jaja Jaja."
"Lo ngomong apa sih Ta?" dia menunjuk mulutnya yang sudah penuh. "Ow...oke." Kini Innara mengerti dan berhenti sesaat, dia menunggu Ferdy pergi. "Ngapain sih Lo bawa-bawa nikah segala?"
"Lo kenapa sih ay, kalo bahas nikah kayak anti banget." Tanya Bara saat sudah menelan segala yang makanan yang masukan kedalam mulutnya.
"Gue belum siap di bully penggemar Lo."
"Penggemar yang mana lagi ay?"
"Lo lupa berapa banyak laler ijo baris di belakang kalo di kampus? Apalagi di kantor, bikin kesel aja!" Ucap Nara berapi-api jika membahas banyaknya penggemar Bara.
__ADS_1
"Mereka bukan apa-apa Ay, kan cuma Lo kesayangan gue, Iya kan Tara?"
"Em...bunda is the best." Ucap Tara sambil mengacungkan jempol.
"Tuh kan anak Lo aja tau gimana. BUnda nya, masak insecure sama orang lain." Cebik Bara
"Dah lah, males gue bahasnya, sabar-sabar Aja Napa." Kesal Nara dan menghabiskan makanannya.
...****************...
"Nara?" Ucap Angga saat mendapati Innara sudah ada di depan pintu kantornya, dan di ikuti oleh Tania di belakang Angga.
"Ada yang bisa jelasin?"
"Ra.. enggak seperti apa yang liat Ra." lagi-lagi Angga mengelak, dan mendapat tatapan tajam dari Tania.
"Gue dah dari tadi disini, gue denger adegan dewasa Lo." Desis Innara dengan menyilangkan tangan di dadanya. tapi dia tidak di temani oleh Bara, karena Bara ada di bawah dengan Tara, dia tidak mau ikut campur atas urusan para sahabat itu.
"Ra....." wajah Tania merasa bersalah, sedangkan Angga bingung mencari celah.
Innara masuk kekantor yang sedikit berantakan karena pertempuran beberapa jam yang lalu, dia duduk di meja kerja disusul Angga dan Tania duduk di sofa.
"Jelasin sama gue ada apa sebenarnya, jangan coba mencari alasan yang bikin gue semakin enek sama kalian berdua!" titah Nara. Angga masih tertunduk, sedangkan Tania dia ingin berbicara tapi takut pada Angga. "Ayolah....kalian bukan anak kecil lagi!"
"Ra....bisa enggak kita lupain kejadian ini, dan anggap aja Lo enggak yg tau apa-apa." Pinta Angga, dan itu sangat tidak adil bagi Tania.
"Terlambat, karena gue udah dengar, dan gue nunggu Lo sampe kelar disini."
"Ra ..." Rengek Tania.
"Lo juga, dia udah beristri Tan, apa sih yang ada dipikiran Lo?CINTA?" Cerca Nara pada Tania. "Dan Lo Ga, gue enggak habis pikir, apasih kurangnya istri Lo? Walo Lo enggak cinta tapi hargai lah dia sedikit aja, bukan kek gini caranya." Innara semakin berapi-api karena keduanya sama-sama bungkam.
"Lo tau Tan, kalo Jenny tau, bukan hanya Angga yang hancur tapi keluarga nya, termasuk keluarga Lo." terang Innara, "Kalian pernah mikir sampe sana enggak sih?" Tania mulai berkaca-kaca dengan panjangnya penjelasan Innara." Dan kalo pun dia enggak tau, tetep Lo jadi korbannya, karena Angga enggak bakal milih Lo."
"Lo jahat Ra, jahat." Ucap Tania terbata.
"Emang jahat kedengarannya, tapi gue berusaha membuka mata Lo lebar-lebar. Gue tau dari dulu Lo suka sama Angga, tapi dengan cara ini apa Lo dapet cintanya? Enggak kan? Lo di cari saat dia butuh doang."
"Innara Lo dah keterlaluan." Bentak Angga.
"Kenapa? Ada yang salah dari semua penjelasan gue?" Angga tidak menjawab. "Dan Lo Ga, bisa-bisa Tania Lo jadiin tumbal napsu Lo sih? Enggak ada yang lain apa? Dia sahabat kita."
"Gue juga mau Ra, jadi bukan salah Angga." bela Tania.
"Tapi Lo nangis-nangis waktu telpon gue." Balasnya.
...BERSAMBUNG ...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...
__ADS_1