
"Nara, ngapain Lo disini?" Tanya Angga terkejut ketika melihat Innara, Tara dan juga Bara berada di bandara di pagi buta.
"Gue mau balik," Jawab Innara singkat tanpa ingin melanjutkan obrolan mereka, karena sejujurnya Innara sangat kecewa dengan Angga.
"Gue mau ke bandung." Jelasnya.
"Dia enggak nanya." Gumam Bara. Tapi di abaikan oleh Angga.
"Eh Lo Ra, ada juga Lo disini?" Jenny muncul dari belakang Angga.
"Hay Jen." Sapa Nara acuh.
"Gue kira Lo hambatan gue, ternyata temen Lo itu valak juga."
"Gue enggak tau Maksud Lo."
"Cih...gue dah tau semua Ra, gue bukan bego, tapi gue cuma diem."
"Bagus deh, kalo Lo dah tau." Jawab Nara malas.
"Gue bawa dia ke bandung."
"Serah Lo, dia punya Lo."
"Nah betul itu." Ucap Jenny mengacungkan jempolnya namun itu di cibir oleh Angga.
"Gue bukan milik siapa-siapa, gue bukan barang." Angga tak terima. Tapi tidak ada yang peduli dengan ucapannya. Bara merangkul pundak Innara dengan santai, di ikuti Tara yang berdiri di duduk di sampingnya. Melihat hal itu pun Angga terkejut lagi, Innara tidak pernah membiarkan siapapun menyentuh tubuhnya walau hanya sekedar merangkul atau memegang tangan kecuali mereka sudah dekat. "Apa mungkin Bara sudah semakin dekat dengan Innara?" Batin Angga melihat hal itu.
"Rambutnya ay...." Bara menyibak rambut Innara sehingga tanda kepemilikan dari Bara jelas kelihatan di sepanjang leher Innara tanpa disadari olehnya.
"Innara!" Tiba-tiba saja Angga membentak Innara dan di lihat oleh orang banyak.
"Ya tuhan kaget gue, kenapa sih Lo?" Jenny ngomel terlebih dahulu.
"Minggir Lo.." Angga berdiri menjauhkan tangan Bara dari Innara dan merarik tangannya. "Maksudnya apa nih?" Angga menunjuk merah-merah di lehernya.
"Ada yang aneh di leher gue?" tanya Innara polos, karena dia memperhatikan saat mandi.
"Lo habis tidur sama dia?" Tuding Angga to the poin. Innara bingung harus menjawab apa.
"Apa sih maksud Lo?"
"Ayo lah Ra, kita semua sudah dewasa disini."
"Terus?"
"Jawab gue!"
"Harus?"
"Ya harus "
"Kenapa?" Angga bingung harus menjawab apa.
"Kenapa kalo dia tidur sama gue? Lo keberatan?" Jawab Bara santai.
"Baji**** Lo." Umpatnya hampir saja melayangkan pukulan pada Bara tapi di tahan oleh Jenny.
"Hak Lo apa sama dia, Lo cuma sahabat yang berkhianat Ga, jangan menganggap diri Lo suci. " Ucapan jenny langsung menusuk.
"Bukan karena Lo dendam sama gue kan Ra, Lo ngelakuin itu."
"Hah? maksud Lo apa sih Ga?"
"Innara istri gue asal Lo tau, dan enggak pernah ada hubungannya sama Lo masalah percintaan kita berdua." paham Lo, bisik Bara di telinga Angga sangat lah jelas. "Dan gue minta Lo jangan deketin Innara lagi, walau gue tau kalian bersahabat." Bara membersihkan kemeja Angga yang tidak kotor.
"Ra .... Serius Lo?" tanya Angga memelas. Innara tidak menjawab karena tidak tau arah pembicaraannya. lalu bara pun mengajar anak dan istrinya masuk ke ruang tunggu, karena sebentar lagi akan masuk pesawat. Dan susul oleh jenny menarik Angga yang masih mematung untuk ikut.
__ADS_1
"Ngapain Lo bengong?ayo!!" Ujar Jenny, saat mereka akan melangkah tiba-tiba saja.
"Angga...... Ga...Anggara." suara Tania berteriak. "Bisa-bisanya Lo tinggalin gue ga, setelah semuanya." Ucap Tania dengan berderai air mata.
"Eh perempuan gatel, jangan berharap Lo jadi nomer satu setelah tidur dengan suami orang." Ucap Jenny kesal karena memang seharusnya dia bersikap begitu.
"Angga, please...."
"Keputusan Angga ada sama gue, jadi Lo Enggak perlu memohon sama dia, kalo berani Lo mohon sama gue, sembah kaki gue." kemarahan Jenny memuncak.
"Ta, gue harus gimana?" Innara meminta pendapat dari Bara.
"Sudah bukan urusan Lo lagi ay, Lo dah pernah peringatkan mereka, tapi Tania kekeh pada kemauannya kan."
"Jadi?"
"Kita pergi, jangan ikut campur lagi, yang perlu lo perhatikan cuma gue sama Tara itu aja." Bara merangkul pundak Innara dan berjalan masuk. sedangkan di luar masih terjadi cekcok antara Tania, Angga dan Jenny.
...****************...
"Telat Lo Ra?" ujar Sintia yang sudah sibuk dengan komputer di depannya.
"Emm."
"Bareng sama bos pula?"
"Enggak, cuma ketemu aja tadi di depan."
"Gue kira Lo naik satu mobil sama bos."
"Mana mungkin anak magang kek gue naik mobil sama bos sih." Kilahnya.
"Ya bisa aja."
"Gue kan enggak cantik kayak Lo sin."
"Lancar."
Ting.....
"Gue naik dulu ya, pak bos manggil." Pamit Nara.
"Bener-bener bos enggak bikin kerjaan Lo jadi mudah Ra."
"Makanya kalo bisa jangan kenal apalagi deket sama atasan, bisa di abisin kek gue, enggak ada berhentinya kerja." Keluhnya. "Ya udah sin, gue duluan."
"Oke.." saat Keluar ruangan tiba-tiba Innara menabrak seseorang.
Bruuukk
"Aadduuuhhhhh." keluh cewek itu lalu berdiri melihat siapa yang menabraknya. "Ternyata elo cewek bar-bar." tudingnya.
"Ngapain Lo disini?" tanya Innara.
"Bukannya jawab malah tanya." Keluh Beby..ya cewek itu adalah Beby, sepupu Bara yang baru datang dari luar negeri.
"Cih, Lo yang nongol enggak jelas di kantor orang, bikin onar pula." Desis Innara.
"Lo....awas ya gue aduin Lo sama Bara."
"Silahkan." Innara memutar tangan nya bak pelayan yang mempersilahkan tamunya.
"Sial." Dengan kesal Beby berjalan menuju ke ruangan Bara. Sedangkan Innara masuk kembali ke ruangannya.
"Kok balik." Sintia terkejut saat Innara melempar tubuhnya di kursi.
"Ada Mak lampir datang."
__ADS_1
"Siapa?"
"Cewek manja itu."
"Enggak pernah liat gue."
"Iya, dia baru-baru datang kesini."
"Dan langsung berantem sama Lo."
"enggak."
"Tapi Lo kesel."
"Iya..bikin mood gue jadi rusak."
"Terus Lo enggak jadi naik dong "
"males gue, makan aja yuk."
"Lo tu ya, baru datang malah ngajak makan."
"Waktunya makan siang Sintia."
"Oh iya, pantes aja cacing di perut gue udah pada karaoke an."
"Cuzz lah." Mereka pun naik di lantai tiga tempat kantin berada.
"Rame Ra,"
"Ya iyalah kan waktunya makan siang."Tutur Innara." Lo mau makan apa?"
"Makan apa ya?" Sintia mengedarkan pandangannya. "Eh Ra, itu bukannya bis Lo?"
"Siapa?"
"Si jutek ."
"Siapa emang?"
"Tuh..."Tunjuk Sintia tempat dimana Beby dan Bara berada.
"Biarin aja sih, yuk makan." Innara memesan soto ayam dan es jeruk, sedangkan Sintia memesan gudeg dan teh manis.
"Duduk sana aja Ra, dekat jendela."
"Kenapa sih Lo suka banget mojok." Tutur Innara.
"Enggak terlalu rame Ra, gue males kalo entar lagi asik makan malah banyak yang gabung."
"Oke." mereka duduk di pojokan sesuai keinginan Sintia, mereka asik ngobrol soal drakor yang lagi rame.
"Aslinya cakep banget tau Ra itu bong-seok."
"Iya bisa ya jadi unyu-unyu kek gitu." hahahhahha tawa dari keduanya menarik perhatian seseorang.
"Hay ladies boleh gabung?" Tanya seorang pria berdiri di ujung meja.
"Waaahhh...Kim Seok jin." Ucap Sintia melihat ketampanan pria yang menyapa mereka.
"Sin, apaan sih Lo?" Sintia tidak menggubris Innara, dia langsung menarik tangan pria yang di sebut Kik soek jin tadi.
"Duduk sini yank sama gue."
"Yank?" Innara kaget sedangkan pria itu hanya tersenyum.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...