Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Lantai valak


__ADS_3

"Ay, coba bantu gue benerin laporan gue," Pinta Bara pada Innara, Karena memang Innara lebih hebat dan hitung menghitung, sedangkan Bara tidak mengerti sama sekali awalnya, setelah di tekuni dan belajar dari papanya, diapun belajar dengan cepat, tapi tetap masih kalah dengan Innara yang selalu bergelut dengan angka dan tabel baik itu di bangku kuliah maupun di kafenya.


"Lo bos tapi enggak tau sih." Bara hanya nyengir kuda.


"Entar gue traktir boba deh."


"Cih ..Gue bukan bocah SMA." Nara mlengos dan melanjutkan kerjanya.


"Ayo lah ay....Nara menarik tangan Innara keruangannya.


"Ta, di lihat orang malu." Nara Manahan tangannya.


"Kalo enggak mau gue tarik ikut aja Napa ae dengan ikhlas." Bara senyum manja.


"Lo ya...." tunjuk Nara.


"Bentar aja."


"Ada sekretaris Lo kan?"


"Enggak, sama Lo aja."


"Terus apa gunanya sekretaris Ta?"


"Ngerjain tugas gue kalo lagi males."


"Dasar freak."


"Biar freak tetep suami Lo."


"Ya tuhan...dosa apa gue?"


"Nanti aja berdoa nya, setelah sholat, sekarang bantuin gue dulu." mau tidak mau akhirnya Nara mengikuti langkah Bara. Saat masuk ruangannya ada Prita sekretaris nya, terlihat tidak suka jika dia berada di dekat Bara. Tapi ini adalah Innara, dia tidak akan peduli jika itu tidak merugikan siapapun. " Prita bawakan saya dan Nara minuman ya g dingin." pinta Bara lalu masuk menyusul Innara yang sudah duluan. Walau dengan kesal Prita menuruti permintaan Bara, selalu atasannya.


"Yang mana sih?" Nara duduk di kursi kebesaran Barata. Sedangkan bara duduk di meja dekat dengan laptopnya.


"Ini, dan ini, kenapa tidak singkron sih?


"Oh itu...pasti ada kesalahan input awalnya."


"Jadi?"


"Ya perlu di cek satu-satu Ta."


"Banyak banget ay..."


"Ya mau gimana lagi, atau mau buat dari awal lagi? Butuh waktu lama."


"Bantuin ay...."


"Ya udah sini," Nara mengambil alih laptopnya dan mulai meng utak-Atik angkanya, sedangkan bara menatap Nara dengan tersenyum, merasa bahagia karena dia bulan terakhir dia bekerja selalu bersama Innara, walau belum banyak yang tau kalau mereka adalah suami istri termasuk Prita sekretaris nya.

__ADS_1


Tok tok tok


Prita mengetuk pintu dan masuk membawa minuman yang di minta oleh Bara, saat masuk dan melihat posisi itu sekarang, Prita merasa kesal.


"Berani sekali Innara?"Sumpah serapah keluar semua dalam hati Prita, dia tidak terima jika Innara anak magang di perlakukan istimewa oleh Bara. "Ini pak minuman anda." Ucap Prita di buat selembut mungkin.


"Em...makasih ya Prita." Jawab Bara tapi tidak mengalihkan pandangannya dari Innara, tetap Innara pemenang hatinya. melihat hal itu dia keluar ruangan dengan kesal.


"Cantik banget sih tu cewek." Desisnya." Cantikan juga gue kemana-mana, kenapa Pak Bara segitu ya sama dia? Apa pak Bara sudah di ajak ke ranjang sama tu cewek." Prita mulai menerka-nerka hal yang negatif pada Innara. "Awas aja kamu anak kecil, Pak Bara adalah impian gue, enggak ada yang bisa nolak kalo gue udah beraksi." Telat Prita tanpa mencari tau siapa mereka, lalu dia kembali menyelesaikan pekerjaan nya.


"Ah...ini dia ta kesalahan Lo." Ucap Nara dengan semangat hingga membuat Bara kaget dan langsung berdiri. "Mau kemana Lo?" tanya Nara saat melihat Bara berdiri.


"Gue kaget ay, Lo semangat amat."


"Dasar Lo, laki Cemen "


"Biar Cemen gue laki Lo."


"Iya juga sih." Nara nyengir. "eh ini..." Nara menarik kembali tangan Bara untuk berdiri di sampingnya. "Lo lihat kan?" Nara menunjukan beberapa angka ya g tidak sesuai. "Dah Lo benerin sendiri, kerjaan gue juga masih banyak." Tutur Nara sambil berdiri dari kursinya.


"Minum dulu!"


"Pasti dong." Nara mengambil minumannya lalu duduk di sofa. "Enak ya ya kantor Lo, lega banget."


"Lo mau disini?"


"Emang bisa?"


"Ya bisa aja kalo Lo mau."


"Dih, peduli amat sih Lo?"


"Gue males berdebat ta, apalagi sekretaris Lo, matanya mau copot kalo liat gue masuk sini." Nara meneguk minumannya sampai habis.


"Laper ay?"


"Haus doang."


"Mau nambah?"


"Enggak usah, nanti gue ke pantry sendiri bikin."


"Gue juga ya?"


"Kan ada iniiiiii..." Suara Nara berhenti saat mendapati kedua gelas di depannya telah kosong. "Whaaattt? Gue ngabisin semua nya ini?"


"Menurut Lo?"


""Heee...." Bara melihat hal yang jarang di dapatkan nya. Innara yang konyol dan menggemaskan. "Ya udah gue bikinin ya!" Nara lalu berdiri mau keluar ruangan, tapi di tahan oleh Bara. "Apa lagi?" Tanya Nara melihat Bara sudah berada di belakangnya.


"Cup..." Bara mengecup singkat bibir Innara.

__ADS_1


"Bara..."


"Gue sayang sama Lo ay..." Nara selalu menghela napas jika bara mulai main cinta-cintaan.


"Sabar ya, gue akan berusaha lebih keras lagi buat Lo."


"Em...." Jawab Bara kecewa.


"Jangan gitu dong wajah nya," Nara mengusap wajah Bara dan berhenti dagu Bara yang tegak lalu menarik nya perlahan. "Cup...." Nara mendarat kan bibirnya." Tunggu gue sedikit lagi!" Tutur Nara lalu dia segera keluar dari ruangan Bara. Saat baru keluar dia bertemu Zaki pamannya Bara. "Siang om." Sapanya.


"Nara, tumben naik?"


"Tau tuh, Bara maksa Nara, ada aja alasannya. "


"Kamu sering-seringlah naik, banyak valak disini!"


"Setan om?"


"hahahha...kamu bisa aj Ra," Ucapnya, karena merasa Nara itu lucu. " Itu valakor."


"Setan berekor..."


"Pelakor maksud mok mu itu Ra. " Tiba-tiba ada suara lembut seorang wanita di belakang Innara.


"Tante Amel."Sapa Nara lalu memeluk nya. " Tumben Tante kesini?"


"Iya, seperti kata om kamu, banyak pelakor di lantai ini."


"Bisa aja sih Tante," Lalu Nara memperhatikan Amel. "Tante ini kurang apa coba? Tinggi, langsung, cantik putih, anggun...kurang apa, mana berani pelakor saingan sama tante?" Tutur Nara mendeskripsikan tentang Tante Imel.


"Jangan salah, kita lengah sedikit mereka langsung beraksi."


"Tante Amel jangan insecure gitu dong, gimana sama Nara yang kecil mungil gini?"


"Makanya kamu sering-seringlah naik, jangan minta bara terus yang turun."


"Nara enggak minta."


"Serius?"


"hemmmm." Nara mengangguk. Imel tidak tau saja jika keponakannya itu cinta mati pada Nara sehingga Nara tidak perlu terlalu waspada.


"Tetap saja sayang, kamu harus jagain suami kamu dua puluh empat jam."


"Waduh, ngeri juga Tan kalo harus dua puluh empat jam."


"Hahahhha...iya juga ya, ya sudah kerjakan pekerjaan mu,"


"iya Tan, Nara turun dulu." Pamit Innara pada kerabatnya Bara.


"Dasar cari muka." Gumam Prita kesal melihat kedekatan Nara dengan Zaki dan istrinya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...


__ADS_2