Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
lagi-lagi cemburu


__ADS_3

🎤🎤Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu. Cintaku tanpamu ya sayang bagai malam tiada berlalu.


Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu. Cintaku tanpamu ya sayang bagai malam tiada berlalu


Janganlah kau ragukan luasnya cintaku. Yang putih tulus untukmu, hanya kepadamu.


"Ngapain sih Lo Ga nyanyi enggak jelas gitu." Ketus Tania saat Angga mengikuti lantunan lagu dari king Nassar di kafe tempat mereka duduk.


"Gue nyanyi buat Innara, biar dia tau kalo hidup gue gelap tanpa dia." Jelas Angga pada Tania dengan menatap Innara dengan tersenyum, dan itu membuat Tania sangat kesal.


"Itu lagu gue buat Lo Ga, Lo pernah ngerasa enggak sih semua perhatian gue sama Lo." Batin Tania, dan menatap Angga dengan miris.


"Alah Lo Ga, jangan bikin gue ge-er deh." Celetuk Innara.


"Bagus kalo Lo ge-er, berarti ada kesempatan gue balik sama Lo."


"Hei, emang kapan kita pernah jadian? we just a friends oke.." Jelas Innara sehingga membuat Angga cemberut.


"Walau teman kan masih boleh peluk-peluk Ra."


"Kalo Lo belum nikah, mungkin masih boleh, kalo udah NO...."


"Denger tuh, jangan gatel Napa, dah ada istri di rumah masih cari yang lain aja." Cerca Tania dan itu mendapat tatapan sinis dari Angga dan itu juga membuat Innara tak enak hati.


"Oh ya ga, rencana Lo gimana sama Jenny?" Innara mengalihkan topik mereka.


"Maksudnya?"


"Katanya mau bawa ke dokter kandungan,"


"Gimana kalo di bawa ke rumah sakit kak Juan, iya kan Ra?" tanya Tania yang belum tau permasalahan antara Juan dan Innara.


"Yang lain aja deh, gue males." Tutur Angga dengan menatap Innara.


"Oh iya ada dokter kandungan dekat tempat gue magang." Ucap Tania semangat.


"Bener Tan?"


"Hem...entar gue tanyain temen gue yang tinggal disana biar lebih jelas."


"Bagus deh, kalo gitu,"Ucap Innara, lalu meneguk minuman dinginnya, menghela napas dalam karena merasa sindiran-sindiran Tania tertuju padanya.


...****************...


"Gimana tadi ay, lancar laporan nya."


"Lumayan... Lo dah makan Ta?"


"Udah barusan sama Tara," Jawab Bara lalu meninggalkan Innara yang duduk bersandar di sofa.


"Kenapa sih dingin banget." Gumamnya tapi Nara mengabaikan sikap Bara.


"Bunda...."


"Hay sayang, udah makan ya sama ayah?"

__ADS_1


"Emmm, bunda lama, Tara sudah lapar."


"Padahal bunda juga belum makan, mau makan sama jagoan bunda, malah bunda di tinggal."


"Ayah belum makan bunda, nungguin bunda lama pulangnya."


"Ha?" Nara terkejut mendengar itu, "jadi ngambek nih ceritanya?" Gumam nya dalam hati.


",Ya udah, Tara mau di buatin cemilan apa?"


"Ayah bunda yang lapar, Tara sudah makan tadi di pesankan ayah online."


"Kenapa ayah tidak dibajak makan sekalian sayang, kasian kan kelaparan."


"Kan Tara sudah bilang, ayah nunggu bunda,"


"Ya udah, biar bunda buatkan makanan, Tara mau di buatkan cemilan Apa nih? biar sekalian bunda masaknya."


"Kentang goreng bunda, Tara mau."


"Oke, give me Ten menit."


"okay, I'm waiting." Jawab Tara dan mengekor di belakang Innara ya g berjalan ke dapur.


Nara sibuk menyiapkan makan malam untuk Bara, dan cemilan untuk Tara dan berbincang seru. Bara melihatnya sangat ingin bergabung tapi dia gengsi karena dia sedang kesal dengan Innara, bukan hanya kesal tapi juga cemburu. Kalian tau kan cemburu kenapa, karena dia pulang larut dan pergi bersama Angga, walau ada Tania disana tapi tetap saja dia kesal.


Sepuluh menit berlalu, makanan telah siap, minuman hangat juga ada, "Sayang panggil ayah ya, kita makan bersama." Pinta Innara pada anaknya.


"Siap bunda." Tara pun berlari kekamar di mana ayah ya sedang sibuk dengan laporan.


"Iya, nanti ayah menyusul," jawab Bara malas, walau sebenarnya dia ingin segera berlari dan melahap semua masakan Innara, tapi apalah daya, dia sedang kesal sekarang.


Melihat ayahnya tidak kunjung bergerak, Tara menarik tangan ayahnya, dengan terpaksa dia mengikuti Tara .


"Lama banget, emang enggak lapar?"


"Iya nih Bun, ayah lambat."


"Ayo duduk." Innara menarik tangan Bara dan duduk disampingnya. Innara mengambil piring di letakan di depan Bara, mengambil beberapa lauk juga sayur.


"Udah, cukup." Ucap Bara memandang Innara penuh cinta. Walau dia masih mempertahankan kemarahan nya.


"Kenapa enggak bilang aja sih kalo belum makan, " tanya Innara, "Kan langsung gue buatin makanan." sambungnya. Tapi Bara bergeming. "Lo marah?" Innara menghentikan kegiatan nya dan memandang Bara. "Beneran Ta Lo marah?" tanya Innara lagi, tapi Bara masih sama." Pantes gue tanya singkat banget jawabnya, Lo marah kenapa sih?"


"Marah karena bunda pergi sama om Angga."


"Whaaattt? Serius Ta Lo marah karena itu?" Tanya Nara menyakinkan pernyataan Tara." lagian gue enggak cuma berdua, tapi juga sama Tania Barata." jelas Innara dengan kesal.


"Tapi kenapa Lo reject panggilan gue?"


"Gue masih ketemu dosen, lagian Lo telpon gue belum lama setelah gue di kampus Barata, ada-ada aja sih Lo, bikin selera makan gue ilang." Sekarang ganti Innara yang kesal. Lalu meletakkan piringnya di wastafel tanpa mencuci, lalu masuk ke kamar. Setelah giliran Bara ya g merasa bersalah karena dia Innara tidak makan dengan tenang, dan bisa di bilang tidak makan.


Bara cepat menyelesaikan makannya dan menyusul Innara di kekamar." Tara tunggu di sini ya, ayah mau bujuk Bunda biar mau makan lagi."


"Oke."

__ADS_1


"Ay....." Bara memanggil Innara pelan dan masuk kedalam kamar.


"Aaaaaa......, dasar mesum, ngapain Lo masuk-masuk." teriak Innara membuat Bara otomatis berbalik badan.


"Sorry-Sorry Ay, gue cuma mau ...." Kalimatnya terhenti dan berbalik lagi. "Ngapain gue berbalik, Lo kan bini gue ay, enggak papa kan gue liat."


Pluk...sebuah kain melayang di atas kepala Barata.


"Dasar mesum ya emang mesum, pake alasan yang lain lagi." Ucap Innara dan segera masuk kedalam kamar mandi. Bara tersenyum melihat tingkah Innara, lalu dia duduk di ranjang menunggu Innara keluar kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, Innara keluar dengan rambut yang basah.


"Ngapain Lo disitu?"


"Nungguin Lo Ay..."


"Ngapain?"


"Maaf..."


"Apa?"


"Maaf karena tadi?"


"Yang mana?"


"Ay....."


"Kenapa Lo enggak percaya sama gue sih Ta? Gue enggak macem-macem, gue enggak mungkin juga ngapa-ngapain."


"Dia masih berharap sama Lo ay, gue takut Lo bakal ninggalin gue lagi."


"Lagi?"


"Ya ..... Lagi, Lo ninggalin gue pas hamil Tara kan?"


"Itu ......" Innara lelah menjelaskan hal itu, yang selalu di ungkit oleh Bara.


Grep...."Gue sayang sama Lo ay, please, jangan bikin gue was-was tiap Lo sama dia." Bara memeluk Innara.


"Gue capek kalo Lo terus curiga Ta, dan asal Lo tau, gue juga enggak suka kalo Lo jalan sama Beby."


"Maksudnya?"


"Ya... Gue tau Beby sepupu Lo, tapi gue enggak suka, karena gue pikir Lo lebih dari sekedar sepupu buat Beby, tapi gue enggak pernah bicara ini sama Lo, karena Lo pasti mikir gue freak cemburu sama sepupu Lo itu."


"Serius Lo cemburu."


"Gue enggak bilang gitu, gue bilang enggak suka."


"Gue enggak papa kok kalo Lo cemburu, berarti gue sudah mulai mengisi hati Lo." Bara semakin mengeratkan pelukannya. "Gue bakal sabar nunggu sampai Lo bener-bener mau terima gue Ay." lalu Bara mengecup sekilas bibir Innara. "Love U."


"Norak." Kilah Innara dewan wajah memerah. Kalo saat ini dia seputih jisoo mungkin saja wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...


__ADS_2