
"Elo..?" Ucap Nara dengan mata terbuka lebar saat melihat sosok di depannya.
"Gue kangen Ra.." Dia langsung memeluk Innara dengan erat.
"Lepasin Ga...gue enggak bisa napas." protes Nara, tapi sayang tidak dilepaskan juga.
"Jangan protes," ucap Angga dengan mengendurkan pelukannya. "Jangan buat gue semakin gila sama Lo Ra." Ucapnya lagi, tapi tidak di jawab oleh Nara, dia hanya terdiam dan menikmati pelukan yang ia rindukan.
"Enggak capek?"
"Capek sih." lalu Angga melepas pelukannya dan menatap Nara secara intens. "Lo tambah cakep Ra."
"Cih..."
"Awas gue mau kekamar mandi." Usir Nara. Angga mengikuti perintah itu, setelah Nara masuk ke kamar mandi, dia merebahkan diri di tempat tidur Nara.
"Gue kangen bau ini," Beberapa kali Angga menghirup aroma tubuh Nara yang tertinggal di bantal dan selimut nya.
"Ga....ambilin handuk dong, gue lupa." Teriak Nara dari dalam.
"Iya bentar," dengan malas Angga mengambil handuk di lemari dan menyodorkan pada Nara. "Lo mandi?"
"Em... thanks ya." ucap nya lalu menutup pintu kembali.
"Lo dah malam belum?"
"Belum Ga.."
"Mau Gue pesenin atau makan di luar."
"Di luar aja, gue kangen jalan-jalan di Bali."
"Oke, gue tunggu di depan ya."
"Sipp." Nara segera menyelesaikan mandinya. "Wah segernya..." Ucap Nara sambil mengibaskan rambutnya yang basah. Nara keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Mengeringkan rambut nya, memoles wajahnya dan tidak ketinggalan bibirnya. Setelah dirasa sudah pas, dia keluar menemui Angga yang asik bermain ponsel di sofa. "Lo tau gue balik hari ini ga?"
"Enggak."
"Terus kok Lo ada di rumah gue?"
"Gue kangen ma Lo Ra, jadi gue dateng, kebetulan pas gue masuk pintu enggak di kunci, jadi gue cek kamar Lo deh, dan bener Lo udah balik." ucapnya dengan sumringah.
"Ada-ada aja sih Lo, ya udah yuk, gue laper."
"Hemm." Angga menarik tangan Nara dan membawanya keluar rumah. "Bawa mobil gue aja."
"Oke.." Mereka masuk ke dalam mobil dan di kendarai dengan kecepatan sedang. "Sejak kapan Lo balik?" tanya Nara pada Angga.
"Dua Minggu yang lalu."
"Gue pikir Lo bakal lama di Bandung."
"Enggak betah gue."
"Ada cewek Lo."
"Bukan cewek gue."
"Tunangan Lo."
",Nara..."
"Oke-oke, Sorry-Sorry." Canda Nara.
"Makan di mana kita?"
"Tempat biasa aja, bebek goreng."
"Enggak ngafe aja? Selama Lo pergi ada kafe baru buka, dan jaraknya enggak jauh dari kafe kita."
__ADS_1
"Serius."
"Hemm."
"Boleh deh, di coba." Mereka pun merapat ke kafe baru itu. "Kafeku." Ini tempatnya?" tanya Nara saat mereka sampai.
"iya..."
"Bagus, bisa buat referensi nih."
"Ini saingan Ra,"
"Kalo rejeki enggak akan kemana kali Ga." Ucap Nara langsung masuk ke dalam kafe. Di depan pintu dia disambut hangat oleh pelayannya.
"Malem kak, sudah reservasi?"
"Belum kak."
"Baik, silahkan ikut saya." Ucap pelayan dan Nara pun mengikuti nya. Lalu duduk di kursi kosong yang tanpa reservasi terlebih dahulu.
Aku tak mengejar mu saat kau pergi
Bukan karna ku tak cinta lagi
Tapi ku ingin berhenti
Kita saling menyakiti
Aku tak menahan mu tetap disini
Bukan karna tak bahagia lagi
Tapi kini ku sadari
Cinta tak harus saling miliki
"Kayaknya lagi ini cocok buat kita deh Ra." Ucap Angga saat mendengar sebuah lagu di putar.
"Janji ya."
"apa?"
"Di kehidupan selanjutnya Lo milik Gue seutuhnya." Nara tersenyum mendengar hal konyol dari Angga.
"Tergantung takdir."
"Plin plan Lo Ra " lalu Angga mendekap erat sahabat nya itu.
"Terkadang tuhan hanya mempertemukan, bukan mempersatukan Ga, karna yang hadir belum tentu takdir, ngerti enggak Lo."
"Bijak banget sih Lo Ra, Seandainya hadir lo adalah takdir gue." Angga menerawang pada langit-langit yang gelap dengan tatapan sedih.
"Enggak usah galau-galauan ah, kita pulang aja yuk." Ajak Nara.
"Gue masih pengen sama Lo."
"gue enggak mau ada yang liat kita lagi jalan Angga."
"Biarin lah, emang itu yang gue mau."
"Tapi gue enggak."
"Gue pengen kita bebas kayak dulu Ra." Ucap Angga sendu.
"Gue juga, tapi keadaan enggak mungkin Ga."
"Tapi kita masih bisa bareng kan Ra?"
"Kita partner kerja Angga." Angga mengerti maksud Nara.
__ADS_1
"Bisa enggak sih kalo lagi sama gue enggak ngomongin yang aneh-aneh?" Ucap Angga kesal.
"Lo yang mulai Ga, " Ucap Nara sewot." Makanya jangan bahas sesuatu yang enggak Lo suka, itu bakal nyakitin diri Lo sendiri." Sambung nya dengan memilih menu yang unik. "Lo pesen apa Ga?" tanya Nara lalu menyodorkan menunya.
"Samain Lo aja." Ucap Angga.
"Jangan, gue pesen menu yang agak aneh, Lo pilih yang lain aja, biar gue juga bisa rasa-rasa."
"Kebiasaan deh Lo " kalau Angga memesan dua menu juga minuman favoritnya.
"Ganti dong minumnya jangan itu Mulu." Ucap Nara meminta Angga Menganti minumnya.
"Elo, ada-ada aja sih Ra," tapi tetap saja Angga menuruti kemauan Innara. "Ini." tunjuknya.
"Yang ini aja ya, gue penasaran." Ucap Nara sambil nyengir.
"Serah Lo deh." Balas Angga.
"Ini ya mbak." Lalu pelayan mengambil catatan Innara dan membaca kembali beberapa menu yang dipesan. "Iya mbak, cocok semua." ucap Nara.
"Kenapa sih lon pesen yang aneh-aneh?" tanya Angga.
"Pengen tau aja Ga, gimana rasanya."
"Lo ekperimen sendiri aja di kafe, biar Lo bisa bikin menu baru."
"Eh enam puluh persen menu disana itu dari gue ya, jangan asal Lo."
"Iya tau."
"Nah tu tau." Ucap Nara. Ya begitu lah, kalo enggak ketemu kangen-kangenan, kalo ketemu udah kayak Tom and Jerry aja, bagaimana tidak mereka di sebut pasangan yang ideal oleh rekan kerjanya.
...****************...
"Capek banget gue." Keluh Nara Saat sampai di kafe.
"Siang bos," sapa Jonathan.
"Siang Jo," Jawab Nara, "Bagi yang seger-seger Dong Jo." pinta Nara.
"Siap, segera." Jawab Jonathan lalu pergi ke pantry menyiapkan minuman segar untuk Nara. "Dah siap bos." Jonathan menyodorkan minuman itu.
"Thanks Jo." lalu Nara menegak minuman itu sampai habis. "Waaah...seger banget di cuaca panas kek gini." ucap Nara sambil melihat gelasnya yang sudah kosong. "Baru nih?" ucapnya sambil melihat Jonathan. Dia pun tersenyum. "Lo tambah jago Jo, sudah dimasukan dalam menu belum?"
"Nunggu ijin dulu bos."
"Oke masukan ini dalam menu spesial." Ucap Nara lalu masuk ke ruangannya. "Angga sudah kesini?"
"Ada diatas." jawab Jonathan, Nara pun langsung naik.
Tap tap tap
"Dah sampe?" Ucap Angga lalu menghampiri Nara dan memeluknya erat.
"Kebiasaan deh, lepas." Ucap Nara dan mendorong tubuh Angga. Setelah pertemuan terakhir Nara itu mereka semakin intim, walau awalnya Nara menolak tapi dia kini malah menikmati tiap sentuhan dari Angga, seolah dia lupa komitmen dengan Suaminya, Barata. Tapi tidak, dia hanya ingin menikmati saja waktu bersama Angga, karena tidak selamanya mereka bisa bersama, karena takdir yang sudah di tentukan.
"Gue kangen Ra..."
"Lo kenapa enggak ngampus?"
"Bokap minta gue bantu di kantor nya."
"Oww...."
.
.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...