Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
bermuka dua


__ADS_3

"Tapi gue enggak peduli."


"Gue peduli, dan orang tua Lo pasti lebih peduli lagi."


"Gue bisa pergi dari rumah!"


"Dan gue enggak mau Lo jadi anak durhaka."


"Nara....." Angga sedikit menaikan suaranya. "Please Ra, tolong jangan pikirkan orang lain lagi, pikirkan perasaan Lo dan gue." Nara menggeleng,


"Gue enggak bisa, gue enggak mau merusak kehidupan orang, jika gue lakuin itu sama saja dengan kelakuan bejat Mereka Sama gue." Nara mulai menatap kosong kearah dinding, rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya tapi apalah daya, Angga bukan Angga yang dulu, walau dia masih sangat peduli, tapi Nara mencoba untuk tidak terbawa hati.


"Ra...bukan begitu maksud gue."


"Lo udah tunangan sama Jenny, harus Lo jalani dengan baik Ga, gue enggak mau jadi penghalang atau merusak hubungan orang." Angga menghela napas berat dengan wajah yang sedih melihat Nara.


Klek....


"Jenny?" Nara dan Angga bersamaan. "ngapain Lo disini?" tanya Angga menghalangi Jenny masuk lebih jauh.


"Mau ketemu sama bos pemilik kafe ini."


"Kenapa? Mau ngapain Lo?"


"Bukan urusan Lo! Minggir Lo." Jenny mendorong tubuh Angga dengan sekuat tenaga, tapi sayang tubuh Angga lebih besar dari yang ia kira. "Lo Innara pacar Angga?"


"Bukan, gue bukan pacarnya, gue cuma temenan sama dia."


"Jangan bohong Lo, basi banget, mana ada cowok Sama cewek cuma temenan." Jenny lalu menyebar beberapa foto Angga dan Nara, ada yang berpelukan, bergandengan tangan juga hanya duduk manis berdua. Angga dan Nara mengambil salah satunya.


"Cih...Norak Lo." Nara lempar kembali foto itu pada Jenny.


"Jangan coba-coba Lo sok kecentilan godain Angga,"


"Hei...Jen, jangan asal ngomong Lo, gue sama Nara lebih lama dari pada sama Lo."


"Terus maksud Lo, gue yang ngerusak hubungan Lo?"


"Sudah gue bilang gue enggak ada hubungan apa-apa sama Angga, gue hanya temen juga partner kerja, jangan berlebihan!" Nara lelah menghadapi hal ini.


"Ck mana ada jaman sekarang seperti itu "


"Terserah Lo," Nara kesal mendengar ocehan Jenny diapun kembali pada layar laptop nya.


"Mendingan Lo pergi Jen," Usir Angga.


"Ra, urusan kite belum kelar." Ucap Jenny lalu keluar kantor di ikuti Angga . Sedangkan Innara semakin pusing di buatnya, dia memijit pelipis nya karena pening.


Klek....


"Apa lagi?" Teriak Innara sambil berdiri.


"Ini gue Ra .." uco Tania yang jadi menciut setelah mendengar suara keras Innara.


"Tania." Akhirnya Nara bernapas lega, lalu duduk kembali ke kursi kebesarannya.


"Siapa cewek tadi?"


"Tunangan Angga ."

__ADS_1


"Oh itu? Kenapa Lo enggak panggil gue sih Ra, kan bisa gue bejek-bejek tu cewek." Sesal Tania pada Nara.


"Enggak penting Tan," Ucapnya lalu mengambil gagang telpon menghubungi pantry. "Jo, anterin gue makanan juga minuman, dua porsi ya." Tania menunggu jawaban Nara mematikan panggilan nya.


"Marah-marah juga perlu tenaga ya Ra..."


"Pusing gue Tan,"


"Sini gue pijitin." Nara menurut dia duduk di sofa dan di pijat pelan oleh Tania. Rasa capek yang ia rasakan sedikit berkurang.


"Untung ada Lo Tan." Ucap Tania merasa bersyukur ada Tania, tapi Nara tidak tau betapa busuk hatinya.


"Kan sudah gue bilang, kalo ada apa-apa Lo hubungi gue."


"Hemmm." Nara memejamkan matanya, baru saja sampai kantor tapi lelahnya terasa sudah dua hari tidak pulang.


Tok tok tok


"Makan bos.." Jo masuk membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.


"Simpan aja Jo, Nara masih istirahat."


"Oke, gue simpan sini ya." Jo meletakan nampannya lalu keluar dari kantor Nara.


Saat di bawah


"Kenapa gue curiga ya sama Tania," Ucap Jonatan pada Disa.


"Kenapa emang?"


"Gerak-gerik nya itu Lo, agak aneh, enggak kayak biasanya."


"Lo liat enggak saat Jenny datang kesini?"


"Ya, gue liat."


"Kayaknya tu dia seneng banget, dan Lo tau kan akhirnya mereka bertiga berantem, dan seolah Tania menikmati dari sini."


"Ada-ada aja Lo Jo, pikiran Lo aja kali."


"Dan gue curiga kalo Tania yang lapor sama jenny soal Angga disini."


"Angga sama Nara itu sudah lama kenal, dan mereka bos kita Jo, kenapa juga Jenny harus cemburu."


"Itu kan Lo dis yang enggak tau apa itu cinta."


"Lo juga sama."


"Tau ah, Lo awasi aja Tania, dia.lagi didalam sama Nara lagi tiduran."


"Terus,"


"Ya awasi aja."


"Ada cctv Jo..." akhirnya Jonatan mengalah pada Disa, dia hanya menghela napas dan pergi ke pantry lagi.


Sedangkan di luar kafe, parkiran tepatnya Jenny menarik tangannya dengan keras hingga terlepas dari genggaman Angga.


"Lepas..." Jenny Mengelus tangannya yang sakit.

__ADS_1


"Ngapain sih Lo ngikutin gue Mulu?" keluh Angga.


"Ya karena gue tunangan Lo."


"Lo cuma tunangan gue, bukan cewek gue."


"Tapi gue lebih berhak dari pada cewek Lo."


"Terserah Lo, yang pasti jangan pernah ganggu hidup gue!"


"Lo apa Nara?"


"Apa sih mau Lo?"


"Gue pengen Lo ngejauh dari cewek freak itu."


"Lo gila?"


"Iya, gue gila gara-gara Lo."


"Gue dari awal sudah bilang sama Lo kalo gue suka sama cewek lain, jangan salahin gue kalo gue enggak bisa terima Lo yang tiba-tiba hadir."


"Orang tua kita sudah sepakat Ga."


"Itu urusan mereka."


"Tapi Lo setuju kemaren."


"Karena gue enggak mau bikin malu bokap gue."


"Lo jahat Ga." Angga tidak menjawab.


"Gue anter pulang." Angga naik kedalam mobilnya dan menunggu Jenny masuk. Tapi Jenny tidak kuncung masuk mobil maka Angga kembali turun dan melihat Jenny yang diam membatu. "Mau Lo apa sih?" Angga semakin kesal.


"Gue pernah bilang sama Lo kan , kalo jangan macem-macem sama gue."


"Terus?"


"Lo sudah bikin gue kesel Ga."


"Urusan Lo."


"Angga, kalo Lo mau Nara baik-baik saja mendingan Lo jauh-jauh dari dia."


"Jenny Lo orang baru disini, gue bisa usir Lo kapan aj kalo gue mau."


"Bangs*t Lo." Karena memang Jenny tidak bisa berbuat banyak jika dia di sini, beda cerita kalau dia dibandung, apapun yang iya lakukan akan berjalan mulus.


"Dan sebaiknya Lo cari tau lebih lanjut tentang gue, gue takut Lo bakal jantungan saat tau semua nya." Ucap Angga di telinga Jenny dan hal itu tidak luput dari pantauan Tania. "Cekreekk"


"Anj*** Lo." dengan kesal akhirnya Jenny masuk juga kedalam mobil Angga, sedangkan mobil Jenny itu urusan terakhir.


.


.


BERSAMBUNG


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰

__ADS_1


Sebenarnya Tania ini kenapa sih? Kenapa sikapnya jadi begitu? Ada yang tau? Tulis di komen ya..


__ADS_2