
"Mata Lo aja yang enggak kepake..."
"Nara....Lo..." Bara Ingin membalas ucapan Nara tapi melihat Nara yang menggemaskan membuatnya berfikir untuk menjahili Nara, lalu perlahan mendekat, sepuluh Senti, lima senti, satu Senti dan....
"Minggir Lo." Nara mendorong badan Bara lalu berdiri dan duduk di ranjang. Bukannya kesal tapi Bara malah terpingkal.
"Lo lucu banget sih Ra, gemesin tau." ucap Bara sambil berdiri dan mengikuti nya duduk di ranjang. "mau di lanjut?"
"Maksud Lo?" Bara memberi kode dengan menepuk kasurnya.
"Barata Lo mesum banget sih?" Nara memukuli lengan Bara beberapa kali, kemudian di tahan olehnya. " Mau apa Lo? Lepasin tangan gue!"
"Gue mau bikin adeknya Tara." Ucap bara sok serius.
"Ih ...." Nara memaksa melepas tangannya dan berdiri.
Deessss
Nara menendang kaki Bara dan kabur ke kamar mandi.
"Hahahhhahhha Lo lucu banget sih Ra, bikin gue makin sayang sama Lo." Ucap Bara sambil memegang perut nya menahan sakit karena tertawa berlebihan.
"Bisa gila gue kalo hari-hari bareng Barata kek gini." gumam Nara di dalam kamar mandi. Dia mencuci wajahnya yang memanas. "Dosa gue banyak kali ya, sampe gue di kasih cobaan bertubi-tubi." sambungnya dengan mengusap-usap wajahnya.
"Ra .... Ngapain si Lo didalam sana? Lama banget." Ucap Bara sambil memainkan ponsel di sofa. tapi tidak ada jawaban dari Innara. "Ra...Lo enggak papa kan?" sambungnya lagi tapi dia menghentikan permainan nya. "Ra.... Innara, jawab gue..!" Ucap bara lagi, dia mulai berdiri dari sofa dan berjalan ke arah Kawar mandi. TOK TOK TOK..."Ra....Nara... Innara.." Bara memanggil Nara berkali-kali tapi tidak di jawab. Bagaimana bisa Nara keluar kamar mandi saat wajahnya masih terasa panas karena ulah Bara. "Ra..jawab gue atau gue dobrak." ancam Bara karena tidak ada jawaban. "Ra ....." Teriak Bara untk kesekian kalinya. Diapun memasang kuda-kuda untuk mendobrak pintu itu." Satu, dua ...tiigaa." Bara mendorong tubuhnya kedepan dengan kuat berharap pintu bisa di buka sekali dorong, tapi sayang waktu tubuhnya sudah meluncur cantik pintu di buka Nara lebar-lebar dan ."Aaaaaaa." Jedug...kepala Bara kepentok tembok dengan keras.." Aaauuuuwwww." Rintihnya panjang. Nara mengerutkan dahinya.
"Kenapa Lo?" Ucap Nara tanpa dosa. Dan juga bingung kenapa Bara bisa terjun bebas kelantai seperti itu.
"Lo enggak liat gue kesakitan." Keluh Bara yang masih berbaring dilantai dengan mengusap-usap kepalanya.
"Iya gue tanya Lo ngapain?"
"Lo kenapa enggak buka pintu waktu gue panggil?"
"Ha?"
"Lo budek?"
"Eh maaf, lupa belum gue lepas." Ucap Nara sambil mengambil headsfree di telinganya. "Lo ngomong apa tadi?"
"Sial Lo, sia-sia gue mau nolongin Lo." ucap Bara berusaha duduk. "Diem aja sih Ra, tolongin kek gue." ucapnya kesal. Bagaimana bisa dia berfikir Innara kenapa-kenapa di dalam, kenapa dia tidak berfikir lebih jauh lagi, "Bego banget sih gue." Runtuk Bara dalam hati. Dia juga malu atas ulahnya sendiri.
"Sini gue tolongin." Nara mengulurkan tangannya untuk membantu Bara berdiri, tapi sayang Bara tidak menyambut tangan itu, dia malu dan kesal sendiri. Dia berdiri dengan cepat lalu merebahkan diri di tempat tidur. "Minta tolong, di tolong malah ngambek, Aneh" Gerutu Nara, tapi jelas di dengar oleh Bara.
"Gue denger."
"Sengaja."
"Cih..."
****************
"Gimana sayang sekolahnya? Senang?"
"Seneng bunda, sekolahnya bagus, ada kolam renangnya seperti di rumah." jawab Tara dengan sumringah.
"Baguslah kalo Tara suka, jadi bunda tidak khawatir pulang ke Bali."
"Tapi....."
"Kenapa sayang?"
"Tara lebih suka kalo ada bunda..."
"Bunda akan sering-sering datang kesini, Oke." Nara mencoba menghiburnya. Dengan wajah memelas dia memeluk Innara. "Ya udah sekarang Tara mau ngapain? Bunda ikut deh..."
__ADS_1
"Beneran bunda?"
"Emmm."
"Tapi ayah tidak ada." jawabnya lesu kembali.
"Ayah kerja sayang,"
"Tidak jadi lah bunda." ucap Tara lalu berjalan lesu masuk kamarnya. Nara pun mengikutinya.
"Kenapa lagi ini anak." gumam Nara dengan sabar. "Apa sudah sedekat itu dengan Bara?" Padahal Nara tidak pernah tau apa yang mereka lakukan bersama, sehingga Tara tidak bersemangat jika Bara pergi.
Drrrttt drrttt
"Juan?" Batin Nara, tapi panggilan itu di tolaknya. "Ngapain sih ni orang, sudah bikin gue berantakan sekarang mau apa lagi?" sambungnya. "Tapi dia masih sodaraan lagi sama Bara." keluhnya.
"Bunda kenapa?" Tara menggoyangkan tangan Nara yang sedang bengong. ternyata panggilan Juan bisa mengalihkan perhatian nya.
"Maaf sayang bunda enggak papa kok."
"Ponsel bunda bunyi terus, Kenapa tidak di angkat?"
"Enggak penting, sekarang ayo kita main."
"Tara mau berenang."
"Panas-panas begini?"
"Enggak papa kan bunda?"
"Boleh...ayo.." Nara bersorak agar Tara tidak sedih lagi.
...****************...
Drrrttt drrttt drrttt
Drrrttt drrttt
"Ra...ponsel Lo bunyi terus, enggak Lo angkat." Tanya Bara saat tau Nara mengabaikan nya.
"Males gue,"
"Siapa sih? Gue liat boleh."
"Serah Lo." ucap Nara sambil asik nonton televisi.
"Dr. Juan? Ini kak juang Ra?"
"Emmm."
"Biar gue angkat." Ucapnya kesal, karena berani sekali sepupunya itu menghubungi istrinya berkali-kali.
Drrrttt drrttt
Klik...di angkat oleh Bara tapi Bara tetap diam.
"Ra.... Gue mau ngomong sama Lo!" ucapnya." Kapan Lo balik ke Bali?" sambungnya. "Ra....Lo masih di situ?" Karena tidak ada jawaban Juan menyebut nama Innara." Ra....."
"Ini gue?"
"Siapa Lo?"
"Suaminya."
"Cih.....Lo Bara kan?" tanya Juan dengan kesal. "Ngapain Lo angkat ponselnya Nara? Dimana dia?"
__ADS_1
"Ada di samping gue lagi tidur." Bohong Bara.
"Anj*Ng Lo."
"Jangan pernah coba-coba Lo deketin Innara."
"Urusan gue."
"Ini peringatan keras dari gue."
"Gue enggak takut."
"Bangs*t Lo."
"Lo suami beneran apa suami bayaran?"
"Anj*Ng.."
"Heh.... Lo bukan apa-apa buat gue, gue bakal rebut Nara dari Lo, selama tidak ada konfirmasi dari Nara sendiri." Bara bingung, karena jika Juan mau, dia akan sangat berusaha. Karena dia belum bisa mendapat hatinya Nara selama ini.
"Serah aja kalo Lo bisa." Ucap Bara mencoba tenang dengan geretakan Juan.
"Kita liat saja nanti."
Tuuttt
Juan menutup sambungan telepon nya.
"Bangs*t..." Umpat Bara.
"Kenapa Lo?" tanya Nara yang baru keluar kamar ganti. Melihat Nara memakai tengtop dan hot pant, matanya terbelalak.
"Ra..mending Lo jangan pake baju begitu kalo sama gue." Ucap Bara dengan menutup wajahnya.
"Lo kenapa?"
"Lo bisa enggak tidur nanti malam."
"Kenapa?"
"Gue Perkaos Lo."
"Mesum banget sih Lo." tutur Nara lalu mengambil kaos oblong untuk menutupi badannya. Lalu keluar lagi di hadapan Bara.
"Nah gini kan lebih enak, duduk sini dulu Ra, gue mau bicara sama Lo."
"Kita lagi bicara Bar."
"Gue suka Lo panggil gue Barata Ra,"
"Oke..." ucapnya lalu duduk di dekat Bara. "Ada apa?"
"Gue mau tanya sesuatu sama Lo."
"Apa?"
"Denger dulu Napa jangan nyerocos melulu."
"Iya...."
"Ra....."
"Oke..." Bara kesal dan menghela napas berat.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...