Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Meraba masa lalu


__ADS_3

Nara dan Angga jatuh ke dalam kolam renang, mengagetkan Tania dan Bara. baju yang di gunakan Nara miring hingga terlihat ada tato bulan dan bintang di pundak kirinya. hal itu membuat Bara memicingkan matanya lalu berdiri.


"Lo kenapa Bar?" tanya Tania yang kaget melihat Bara tiba-tiba berdiri.


"Gue balik dulu Tan." jawabnya dingin kemudian berlalu meninggalkan Nara, Angga juga Tara tanpa pamit. Sedangkan Nara dan Angga malah asik berenang.


"Tara ikut bunda ..." Tara mengulurkan tangannya agar di gendong untuk masuk kedalam air.


"Ayo sayang." bukan Nara yang menyambut Tara tapi Angga yang selalu siaga.


"Om Angga...Tara belum bisa berenang." keluh Tara saat Angga membawa Tara kedalam air yaang dalam.


"Om yang jaga Tara, oke..." Tara mengangguk." Ayo bunda kejar kita..." ucap Angga seolah mereka adalah keluarga muda yang bahagia.


"Apalah gue ini, hanya jadi obat nyamuk keluarga Cemara." gerutu Tania melihat keasikan mereka bertiga.


"Cemilan nak Tania." ucap Bu Rini lalu duduk disamping Tania yang sedang melamun memandang Nara dan Angga.


"Eh Bu Rini. Terimakasih Bu." ucap Tania keki Karen tercyduk menggerutu sendirian.


"Enggak ikut renang juga?"


"Tania malas Bu, nih kerjaan belum selesai." Tania menunjuk kan tugasnya yang masih berongga.


"Nak Bara kenapa?" tanya Bu Rini yang baru menyadari ketidak hadiran Bara.


"Enggak tau Bu, tadi bilangnya mau pulang, dan ini tugasnya belum keluar." jawab Tania dengan cemberut.


"Yang sabar, sudah ibu kasih semangat kan dengan cemilan."


"Hehehe iya Bu," cengir Tania sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


.


.


"Kak..kak Juan dimana Lo?" teriak Bara saat masih rumah dengan marah. "Juan, kak Juan..." teriaknya lagi lebih keras karena yang punya nama tidak menjawab.


Braaakkk


"Aaaaaa." suara cewek keluar dari kamarnya.


"Apaan sih Lo Bar?" tanya Juan yang sedang asik menikmati mainan barunya.


"Keluar Lo." perintah Bara lalu menatap sinis pada sang gadis.


"Iya tunggu gue di luar, nanggung nih." Jawab Juan. "Tutup dulu pintunya, ntar Lo pengen lagi liat gue main." ucap Juan sambil berguling untuk melanjutkan mainnya. "Mantap sekali sayang..." seru Juan saat merasakan kenikmatan itu. "Aaaahhh.." pelepasan kesekian kalinya.


Setelah dua puluh menit berlalu Juan keluar dengan celana kolor dan kaos oblongnya.


"Kenapa sih Lo? datang-datang langsung marah enggak jelas." Juan berjalan mengambil air putih di gelas dan duduk di di depan Bara.


"Sejak kapan Lo kenal Innara?" tanya Bara penuh amarah.


"Innara? maksud Lo?"


"Ya sejak kapan Lo kenal dia?"


"Kenapa tiba-tiba Lo tanya dia?"


"Jawab apa pertanyaan gue?"

__ADS_1


"Emmm...Lima atau enam tahun lalu mungkin, Kenapa?" Juan panik atas pertanyaan Bara, dia tau arahnya kemana.


"Lalu.."


"Maksud Lo apa?"


"Lo tau dia cewek itu kan?"


"Emmm."


"Brengsek Lo kak."


"Salah gue apa?" Juan sebenarnya enggak enak hati, tapi memang itu yang terjadi.


#FLASHBACK ON#


"Jangan aneh-aneh deh kak, ini acara sekolah gue, ngapain Lo sama temen-temen Lo kemari?" ucap bara kesal karena kedatangan kakak sepupunya di acara sekolahnya di puncak.


"Gue juga alumni kali Bar, Lo jangan pelit-pelit amat sama kakak kelas."


"Tapi kan ini bukan acara reunian."


"Dah ah, gue enggak akan ganggu acara Lo, gue cuma liat dari jauh aja, oke." Juan tidak menggubris lagi ocehan Bara.


"Mana gebetan Lo? siapa namanya?" Nara . Nara cupu ya.."


"Sial Lo kak."


"Udah kalo dia jual mahal, sikat aja, mumpung disini dingin, angetin dikit boleh lah." goda Juan pada anak SMA tidak lain adalah Bara "Gue bantu asal Lo bilang oke." sambungnya.


"Gila Lo, dah ah gue balik." ucapnya lalu meninggalkan Juan dan lainnya. " Dasar baru ke BALI kemaren aja udah los aja batangnya " gerutu Bara.


"Batang apa." Bimo muncul dari belakang.


"Batang siapa ?"


"Kepo Lo."


"Kepa kepo, tu gebetan cupu Lo dari tadi di ganggu Sasi."


"Hah...kenapa?" tanya Nara dengan jalan di percepat.


"Sasi kan naksir sama ketos, dan yang nempel terus kan gebetan Lo."


"Ya nempel karena di sekretaris bege."


"Lo waras, dia kan agak." ucap Bimo asal, karena mau tidak mau Innara harus bersama ketua OSIS saat di pelukan.


"Dimana sekarang?"


"Aula.." langkah Bara semakin cepat.


"Lo mentang-mentang sekretaris OSIS jadi Lo bisa SE enaknya nempel-nempel sama cowok gue?" umpat sasi di telinga Nara. Tapi Nara walau pun penampilan nya cupu tapi dia tidak takut dengan keadaan yang seperti ini.


"Kalo Lo enggak suka, kenapa enggak Lo aja yg jadi sekretaris nya." Nara tidak mau tinggal diam.


"Lo berani jawab gue?" bola mata Sasi seakan mau lepas saat melihat Nara melawannya.


"Lo tanya gue jawab dong, masak iya gue diem, gue enggak bisa."


"Anjir Lo ya." Sasi menarik rambut Nara dari belakang.

__ADS_1


"Sakit bege." Nara mencengkram tangan Sasi dengan keras hingga kuku Nara melukai Sasi.


"Bangs*t Lo." Sasi melepas rambut Nara, dan Nara merapikan rambutnya.


"Gue cupu, tapi gue enggak lemah." Nara melenggang keluar dengan santai.


BRAAKK


"Aduh, kaget ajiiirr." Nara mengelus dadanya dan mundur beberapa langkah karena kaget pintu aula terbuka.


"Ra Lo enggak papa?" tanya Bara saat melihat Nara di depan pintu lalu melihat Sasi yang meringis kesakitan.


"Apaan sih Lo Barata?" Nara mendorong Bara dan keluar dari aula.


"Ra...tunggu." Bara mengejar Innara. "Beneran Lo enggak papa?"


"Em....."


"Ra...lihat gue dong.." Nara menghentikan langkahnya.


"Apa?"tapi setelah Nara menatap Bara, diapun tidak berkata apapun. "Itu lah kenapa gue males sama Lo," Ucap Nara lalu pergi. sedangkan Bara menunjukan tangannya di udara.


"Sial, apa susahnya sih bilang suka." gerutunya dan mengutuk dirinya sendiri. karena kesalnya sudah sekilan kali Bara tidak dapat mengatakan bahwa ia menyukai Nara, saat malam tiba dia mencari Juan dan bergabung dengan teman-temannya.


""Kelar acara Lo?" tanya Juan sambil menegak minuman beralkohol itu.


"Belom sih, tapi gue males, entar lagi juga kelar."


"Lo masih kesel di cuekin si cupu."


"Dia jago kak, bukan cupu."


"Minum ini deh, biar Lo lega."


"Apaan nih?"


"Minum aja,"


"Alkohol ini, enggak gue enggak mau."


"Coba aja dulu." dengan segala rayuan maut Juan akhirnya Bara meminum nya juga.


"Akkkhhhhzzz pahit kak..." Bukan kasihan tapi Juan dan teman-temannya tergelak melihat tingkah anak SMA.


"Dah lo ngaso dulu sana, biar enaknya." Bara mengikuti ucapan kakak sepupunya itu.


"Mau Lo bantu adek Lo?" tanya gio salah satu teman Juan.


"Maksud Lo?"


"Ntar lagi adek Lo mabok." Juan berfikir sejenak.


"Boleh, dari pada nempel juga enggak di gubris, kasian adek gue." gumam Juan lalu mengerlingkan matanya pada Gio. "Bisa aja lu bro." Juan terkekeh.


...*****...


"Dimana gue?"


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰


__ADS_2