
"Ga gue bisa minta waktu Lo?" Bara memberanikan diri untuk minta bantuan pada Angga.
"Kenapa?" -Angga
"Ada yang perlu gue omongin sama Lo." -Bara
"Penting?" tanya Angga sangsi, karena memang mereka tidak pernah ada kepentingan satu sama lain.
"Banget." jawab Bara membuat Angga mengerutkan dahinya.
"Apaan." Angga enggan rasanya meladeni Bara, tapi dia ingin tau juga apa maunya.
"Kita ngomong di luar." Angga mengikuti Bara keluar penginapan. Setelah mereka sampai di luar, Bara duduk di salah satu kursi yang ada di teras Angga masih setia mengikuti Bara. "Duduk Ga." Angga duduk di depan Bara. setelah pasti Angga duduk Bara mengeluarkan dompetnya.
"Enggak perlu bayar bro, santai aja." Ucap Angga seolah mengerti apa yang akan di lakukan Bara, tapi ternyata salah besar, tanpa mengindahkan kalimat Angga, Bara mengeluarkan selembar foto hitam putih ukuran 3x4.
"Apa nih?" Angga mengambil selembar foto hitam putih itu." Innara?" Angga melihat Bara setelah melihat foto yang ada di tangan nya. Bara mengangguk. "Dari mana Lo dapat foto ini?" ya itu foto Innara saat SMA, wajahnya masih polos tanpa filer. wajah Innara saat pertama kali mereka bertemu . "Cantik." gumamnya walau pelan tapi Bara mendengar nya. "Jadi siapa Lo sebenarnya?" Angga mulai bertanya-tanya.
"Gue Barata."
"Gue tau..." Ucap Angga lalu merasa ada sesuatu yang janggal dalam ucapan Bara." Maksud Lo?" Tanya Angga lagi, meyakinkan apa yang ia pikirkan.
"Ya gue Barata, Ayah Tara."
"Enggak, Enggak mungkin, dari mana Lo yakin kalo Tara anak Lo." Angga mulai serius dengan ucapan Bara.
"Foto itu gue ambil waktu Nara jadi anggota OSIS, dan gue juga salah satu anggotanya." lalu Bara menceritakan semua kejadian secara detail yang ia lewati bersama Innara hingga akhirnya Innara menghilang. "Mungkin Nara belum cerita sama Lo, kalo gue yang ngejar-ngejar Nara, dan foto itu masih tersimpan di dompet kumel gue." Angga menghela napas saat Bara mengeluarkan semua isi dalam hatinya.
"Terus maksud Lo apa cerita semua ke gue?" Ucap Angga kesal lalu meletakan kembali foto itu di atas meja.
" Bantuin gue.."
"Lo minta bantuan gue?Atas dasar apa?" Angga menanyakan hal yang menurut nya tidak masuk akal.
"Karena Lo sahabatnya Innara."
"Ya terus?" -Angga
"Gue yakin Lo bisa bantuin gue."-Bara
"Lo gila ya?"-Angga
"kecuali Lo suka sama dia." -Bara
"Lo mulai kurang ajar ya." -Angga
"Ya kalo Lo emang enggak ada apa-apa sama Nara harusnya Lo santai kan ?" ucap bara kesal karena merasa Angga terlalu berbelit-belit."Gue akan lakuin apapun untuk Nara dan Tara Ga."
"Menurut Lo dia butuh?"
"Gue yakin Tara butuh sosok seorang Ayah, dan Nara ...." Bara tidak melanjutkan kalimatnya karena di potong oleh Angga
"Nara udah baik-baik aja tanpa cowok kayak Lo."
"Kenapa? Lo yakin?"
__ADS_1
"Lo cowok brengsek yang seharusnya enggak perlu muncul lagi."
"Gue pengen mereka berdua Ga, gue yakin bisa menjaga mereka, sebagai sesama cowok gue yakin Lo ngerti maksud gue." Bara mencoba memohon pada Angga.
"Gue enggak ngerti."
"Berarti Lo emang suka sama Nara."
"Jangan ngaco."
"Enggak ada pertemanan yang murni antara cowok dan cewek Ga."
"Bukan urusan Lo."
"Jadi urusan gue karena dia adalah Innara dan Tara."
"Cih..." Angga berdecih merasa terpojokkan di setiap kalimat Bara.
"Gue yakin Lo ngerti maksud gue, jadi tolong Lo pikirin permintaan gue." sambil menepuk pundak Angga, Bara berdiri dari duduknya lalu masuk kembali kedalam penginapan meninggalkan Angga yang mulai bingung harus melakukan apa.
"****....Anj*Ng." Umpat Angga sambil melempar salah satu kursi yang ada di dekatnya.
"Awww... Angga, Lo gila?" Angga kaget saat mendapati Nara ada di belakangnya.sedangkan Nara masih mengusap kakinya yang terserempet kursi melayangnya Angga.
"Na... Nara, sejak kapan Lo disitu." Ucap Angga gagap. karena gugup jika saja Nara tau apa yang di bicarakan olehnya dan Bara.
"Sejak Lo ngatain gue anj*Ng." Angga sedikit bernapas lega karena Nara melihat Bara disitu.
"Bukan gitu Ra..." Angga merasa bersalah.
"Enggak papa," Jawab Angga sambil membetulkan posisi nya."Besok jadi kan balik pagi?"
"Jadi dong, nih...." Nara menyodorkan makanan kearah Angga, bukannya di ambil Angga cuma membuka mulutnya saja.
"Aaaaaak"
"Dasar pemalas." Nara mencuil makanan itu dan menyuapkan kedalam mulut Angga.
"Enak, lagi dong."
"Nih makan sendiri." sama saja, Angga tidak mau mengambil nya masih tetap membuka mulutnya.
"aaaak."
"Manja banget sih Lo lama-lama." Nara menyuapkan kembali dan duduk di samping Angga.
"Mumpung masih ada Lo sama gue." -Angga
"Maksud Lo apaan?" -Nara
"Enggak, suka aja di suap sama Lo." -Angga
"Serius maksud Lo tadi apaan?" -Nara
"Apaan si Ra?"l Ayo suap gue lagi." -Angga
__ADS_1
"Berani bayar mahal enggak Lo." -Nara
"Seluruh harta gue punya elo." -Angga
"Alah, gombal Lo." -Nara
"Bagus banget malam ini Ra." -Angga
"Apanya?" -Nara
"Langitnya, kalo Tara tau pasti dia suka." -Angga
"Sudah tidur." -Nara
" Ya Lo aja yang liat "
"Iya gue liat."
"Apaan sih Lo." Angga mencolek pinggang Nara.
"Apaan sih Ga." Nara merasa geli, tapi Angga tidak menghentikan menggoda Nara akhirnya Nara bangkit dan akan membalas Angga tapi kakinya terpeleset dan jatuh di pangkuan Angga. Mata mereka bertemu dan saling menatap, jantung mereka saling berpacu layaknya joki diatas kuda. napas tidak beraturan, mau lepas tidak rela, tapi tetap seperti ini juga tidak mungkin.
"Kalian ngapain?" Akhirnya Tania muncul karena tidak tahan melihat ke intiman Angga dan Nara.
"Hai Tan...." Nara berdiri dari pangkuan Angga merapikan bajunya dan mengelus dadanya yang hampir copot dua kali dalam beberapa menit. tapi berbeda dengan Angga, dia tidak merespon Tania, menatap pun tidak. "Sini Tan ayo gabung." Ajak Nara yang mulai mereda jantung nya.
"Nih gue bawa minuman dingin." Tania mendekat dan membagikan minuman pada Angga dan juga Nara. Tara dah tidur Ra?"
"Emmm, udah, Lo belu tidur?"
"Fia sama Raffi berisik banget di kamar."
"Ngapain mereka di kamar Lo?"
"Mabar." ujar Tania sambil membuka botol minuman dingin itu.
"Lo enggak gabung? Lo kan jago juga."
"Males gue, takut ganggu."
"Bisa aja Lo Tan."
"Oh ya, besok jadi pulang pagi?"
"Angga bilang sih iya."
"tumben Lo dengerin Angga?" Ada nada yang tak. sudah dari Tania jika akhirnya Nara nurut sama Angga.
"Apaan sih." Nara acuh tak acuh dengan ucapan Tania. Dia menegak minumannya sekali teguk langsung tandas. "Gue duluan." Nara masuk kesalam.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰