
"Masih berani Lo?"
"Lo punya masalah apa sih sama gue?" Tanya Innara, karena dia tidak mau hal ini semakin runyam.
"Masalahnya Lo selalu bikin gue jadi budak Lo."
"Joooo, Lo pegawai gue, maksud Lo apaan?"
"Gue mau kafe itu milik gue."
"Cih.. Lo gila!" kini Jonathan semakin dekat dengan Innara. Sedangkan Innara terus mundur hingga merawat di dinding.
"Lo yang bikin gue semakin gila Ra..." Jonathan mulai mencekik leher Innara. Walau tidak jago beladiri Innara pernah belajar sedikit tentang itu. Innara melakukan perlawanan dengan menendang perut Jonathan.
"iisssss." Jonathan mendesis, merasakan sakit di perutnya, dia mundur satu langkah hingga cengkraman pada Nara sedikit longgar. Kesempatan itu di gunakan Innara untuk menyerang Jonathan kembali. Tapi sayang tangan Jonathan lebih besar dari tangan Nara. Diapun terperangkap kembali hingga Jonathan lebih mudah menangkapnya.
"Lepas Jo." Nara memberontak.
"Lo mau lawan gue, enggak bisa Ra, kan sudah gue bilang kemarin bawa temen untuk nemenin Lo," Ucapnya santai. "Tapi Lo liat, Lo sendiri...Hahahha." Tawa Jonathan pecah. Dan bodohnya Nara, kenapa tidak memberi tau Bara jika dia harus pulang cepat.
"Ternyata bener tentang kecurigaan 6selama ini sama Lo!"
"Tapi Lo lebih percaya sama gue kan..."
"Fu**."
"Percuma Lo memberontak, Lo enggak bakal lepas dari gue."
TAP TAP TAP tiba-tiba terdengar suara langkah orang berlari.
"Sorry Jo, mogok tadi mobil gue.."Nara mengenali suara itu.
"za...."
"Maaf bos, hutang gue banyak, jadi terpaksa gue ikuti rencana Jonathan." Ucap reza salah satu pegawai resto.
"Mau kalian apa sih?"
"Tutup mulutnya za, kita bawa ke markas."
"Anj***, Lepasin gue...Hup." Mulut Nara sudah tertempel lakban tebal.
"Gini kan enak, tinggal siapa yang nemuin surat ini." Ucap Jonathan meletakan selembar kertas di meja, dan menyeret tubuh Innara dengan paksa untuk masuk kedalam mobil.
"Cepet za...." Ujar Jonathan, dan reza pun mengikutinya. Nara ingin mengumpat sekeras-kerasnya tapi apa daya tidak ada hasilnya karena mulutnya sudah di bungkam rapat.
__ADS_1
"Awas aja kalian, kalau sampe gue bisa lepas, gue enggak bakal kasih ampun." Batin Nara sambil berdoa agar siapapun menyelamatkannya.
...****************...
BRUUMM..BRUMM...
Deru kendaraan berhenti cantik di depan rumah Nara.
"Kok kebuka aja ni pintu." Gumam Bara saat dia masuk di halaman, pintu gerbang tidak di kunci ataupun di tutup. Setelah memarkirkan motornya Bara turun dan memperhatikan keadaan, melihat ruang tengah atau didepan televisi berantakan Bara langsung panik. "Ay....Lo dimana, gue pulang ni." Ucap Bara dengan suara keras. "Ay jangan bercanda dong."suaranya mulai panik. Ay...gue telpon polisi nih." ucapnya mencoba bercanda, tapi tidak ada jawaban, dia kembali lagi ke ruang tengah yang berantakan. Mengangkat kursi yang tersambung kaki nya hingga hampir terbentur meja. "Apa nih?" Gumamnya lagi, dan membuka lipatan kertas HVS. "MAU DIA KEMBALI? BAWA SEMUA BERKAS KAFE KE ALAMAT INI." tulis surat itu. "Nih bercandanya kelewatan, mana ada penjahat nulis alamat..hedehh, coba gue telpon Innara kalo aja diangkat."
"Tuuuttt tuuuttt
DRRRTTT (Oh yeah, I know
That I don't have anything special
But yeah, did you know?
That I myself am really special, yeah, yeah) Nada dering ponsel Nara.
"Lah, ada disini ponselnya, pecah lagi layarnya." Ucap Bara kaget melihat kondisi benda tipis itu. "Coba gue cek dulu kesana, sebelum gue bergerak rame-rame." imbuhnya dan menatap ponsel itu lama-lama." Lo udah spesial tanpa Lo pake nada dering ini Innara Basuki." Bara berbicara dengan ponselnya Nara, seolah itu adalah yang empunya ponsel, lalu membawa ponsel itu di dalam saku jaketnya dan pergi ke alamat yang di maksud.
...****************...
"Gue butuh bantuan Lo kak."
"Gue? Enggak salah Lo minta tolong sama siapa, setelah Lo nikahin Nara diam-diam?"
"Ini karena Nara."
"Maksud Lo?"
"Nara di culik, tapi gue enggak tau siapa ."
"F*CK....Lo baru jadi lakinya tapi enggak tau cara jagain istri Lo."
"Bukan gitu kak."
"****** Lo emang, selama gue jagain Nara dari jauh, dia enggak pernah kenapa-kenapa, sedangkan Lo?" Bara tidak bisa berkata apapun lagi, karena itu memang kesalahannya.
"Gue disini enggak butuh dengerin ceramah Lo kak, gue butuh bantuan Lo!" Ucapnya kesal. Sejenak Juan berfikir, lalu menatap Bara tajam.
"Lo dah tau tempatnya?"
"Sudah kah, di pinggiran kota."
__ADS_1
"Berapa banyak orang disana?"
"kurang jelas sih, karena selama gue intai, cuma beberapa aja, sekitar tiga sampai lima orang."
"F*CK, semoga aja Nara enggak di apa-apain."
"Gue yakin enggak, karena mereka cuma ngincar uang, bukan Nara."
"Dari mana Lo tau?" Lalu Bara mengeluarkan kertas dari sakunya. "Ini kak."
"Ya udah, kita kesana." Ucap Juan, lalu mengambil ponselnya menghilang beberapa orang. " Hubungi juga temen Lo."
"Hem..." jawab Bara singkat, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Raffi dan beberapa teman lainnya juga menentukan titik temunya.
"Berangkat." ucap Juan. "Lo amanin biji Lo, gue ngadepin beberapa penjaganya."
ābukannya Bara tidak bisa mengatasi hal ini sendiri, tapi Juan lebih paham tempat ini, dan yang lebih lagi, belum ada yang tau hubungan nya dengan nara, bakal banyak pertanyaan yang belum siap ia menjawabnya.
"Iya kak."
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah berada di tanah lapang daerah pinggiran di kota bali, Juan memberi pengarahan kepada semua yang ada disana.
"Kenapa Lo sibuk ngurusin Innara sih Bar?" tanya Raffi yang merasa aneh pada sahabatnya itu.
"Ini buat intern aja bro, Innara sudah resmi jadi istri Bara, tapi info ini jangan sampai tersebar, Karena hanya kalian yang tau." Ucap Juan membantu Bara untuk menjelaskan. Beberapa diantara tidak habis pikir juga tidak percaya, apalagi Raffi yang tau jelas bagaimana hubungan Innara dan Angga. bagaimana bisa Bara masuk diantara mereka berdua.
"Perlu di acungi jempol Lo Bar." Gumam Raffi lirih.
"Thanks kak." ucap Bara pada Juan, atas bantuan menjelaskan kondisinya.
"Belum saatnya Lo bilang gitu, dan juga gue belum nyerah untuk dapetin Innara." bisik Juan.
"Terserah Lo." jawabnya.
"Kita berangkat sekarang!" perintah Juan. Dan mereka pun mengikuti kemana kuda besi Juan dan Bara melaju. Semakin lama laju kendaraan itu semakin menjauh dari perkotaan, melewati hutan dan pantai yang berada di sepanjang jalan.
"Semoga gue belum terlambat Ra." Ucap Bara dalam hati. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, bagaimana bisa hal semacam ini bisa terjadi.
.
.
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHORš„°š„°
__ADS_1