Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
7. dia lagi?


__ADS_3

Nara sampai di Rumah sakit tepat pukul dua siang. Dia langsung menuju kamar inap Tara. Sebelumnya dia membeli beberapa barang yang dipesan oleh Tara di Minimart Rumah sakit.


Drrttt


Ponsel Nara berbunyi, dan dilihat siapa yang memanggil nya.


"Iya Bu?"


"Bunda...." Tara yang berbicara menggunakan ponsel Bu Rini.


"Iya sayang." jawab Nara lembut.


"Kapan datang, ada ayah disini." Suara melengking gembira itu membuat langkah Nara berhenti seketika.


"Ayah?"


"Iya bunda...cepat kesini." ucapnya semangat sekali saat memberi tau Innara tentang ayah temuannya.


"I-iya sayang, sebentar lagi bunda sampai, sabar ya." jawab Nara agak bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ayah? ada-ada aja anak bund ini." gumam Nara dan melanjutkan langkahnya.


tuttt


Panggilan berakhir.


"Ayah? Gumam Nara sendirian lagi-lagi kata ayah keluar dari mulut Innara." Siapa ayah?" Nara geleng-geleng kepala.


"Ayah itu, orang tua laki-laki." Jelas seseorang yang berdiri tepat di samping Nara.


"Eh dokter Juan." ujar Nara saat melihat siapa pemilik suara itu.


"Tara sudah boleh pulang hari ini ya?" tanya dokter Juan.


"Hemmm iya dok, Alhamdulillah sudah boleh pulang."


"Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi saya dek."


"Siap dok." jawab Nara dengan senyum simpul. setelah itu dokter Juan pergi Innara pun berjalan menuju kamar inap Tara yang tidak jauh dari tempatnya bertemu dokter Juan, tapi matanya masih menatap kepergian dokter muda itu. "Aduh." lagi-lagi Nara menabrak orang karena kecerobohannya. "Maaf." ucapnya lagi lalu melihat siapa orang tersebut. "Lo?" ujar Nara sambil menunjuk kari kepada pria itu.


"Makanya jangan Meleng matanya, dokternya juga udah jauh, masih di lihatin aja." Ucapnya bikin Bara kesal, karena dia mengira Nara menyukai dokter tampan itu.


"Apaan sih Lo, minggir Lo." Nara mendorong pria itu dan masuk ke kamar inap Tara.


"Sayang, bunda datang..." Ucap Nara sambil memperlihatkan kantong yang ia bawa.


"Bunda lama banget." Keluh Tara.


"Emangnya kenapa?"


"Tadi ada ayah." jelasnya sambil memasang wajah sedih.


"Ayah lagi, ayah siapa sih?" tanya Nara sambil melihat kearah mbak Tia atau Bu Rini.


"Mas Bara Bu, orang yang menolong mas Tara dan membawanya kerumah sakit."

__ADS_1


"O iya, saya belum sempat bilang terima kasih Lo sama orangnya, jadi dimana sekarang dia?" Tanya Bara lagi.


"Sudah pergi Bu, katanya ada urusan mendadak, padahal tadi mau mengantar mas Tara pulang." imbuh mbak Tia.


"Oh gitu, tapi mbak Tia ada nomernya kan?"


"Ada Bu, kemarin masnya bilang kalau ada apa-apa bisa menghubungi nya, dan menyuruh saya memberikan kepada ibu." jelasnya.


"Nanti kirim ke saya ya mbak." pinta Nara dan dijawab anggukan oleh mbak Tia.


"Ayo jagoan bunda, sudah siap.." peluk. Nara pada Tara.


"Bunda, Tara sudah besar, jangan peluk-peluk." Kilahnya.


"Jadi sudah besar ya, sudah enggak sayang lagi sama bunda?" Nara pura-pura marah.


"Bunda...." Tara bermanja pada Innara dan memeluk manja bundanya itu.


"Ya udah ayo kita pulang." ajak Nara." Oh ya Bu Rini, sudah dibayar kan?"


"Em itu nak, anu..." Bu Rini bingung bagaimana cara menjelaskan pada Nara.


"Bu Rini?"


"Itu Bu, tadi waktu Bu Rini mau membayar, emm cowok yang dibilang ayah sama mas Tara sudah melunasinya."


"Kok tau? bukan Angga yang bayar?"


"Bukan Bu."


" I-ini Bu." mbak Tia takut-takut memberikan moner itu, karena dia tau kalau Nara paling tidak suka di anggap tidak mampu, apalagi dia merupakan ibu tunggal. Nara mulai menekan nomer ponsel itu tapi belum juga selesai Tara sudah merengek.


"Bunda, ayo kita bilang, Tara sudah bosan." Keluhnya


"Sebentar sayang." Nara mencoba menghubungi lagi.


"Bunda .." tanya mengagetkan Nara. dan buru-buru memasukan ponsel nya kedalam tas.


tuuut..


"Ya udah yok kita pulang." tanpa menyadari ponsel Nara sudah melakukan panggilan pada nomer itu.


"Halloo..." Suara keluar dari ponsel Nara, tapi Nara tidak mengetahui nya. "Siapa sih ni?" Bara melihat nomer yang memanggil.


"Hati-hati ya sayang." ucap Nara, tapi Bara mengerutkan keningnya.


"Bunda, kaki Tara masih sakit."


"Mau di gendong bunda?"


"Enggak bunda, Tara udah besar." Tolak Tara. sedangkan yang di seberang sana senyum-senyum sendiri mendengar percakapan ibu dan anak itu.


"Mbak Tia tolong panggil kan taksi ya, biar barang saya yang bawa." Titah Nara.

__ADS_1


"Kenapa enggak taksi online saja Bu?"


"Ini rumah sakit Mbak Tia, di depan banyak taksi, ngapain repot nyari yang belum ada." jelas Nara


"Pinter juga rupanya ibu muda ini." gumam Bara yang masih menempel kan ponselnya di telinga. "Jadi penasaran gue, kayak apa bundanya Tara, Enak banget suaranya di dengar."puji Bara sebelum tau siapa pemilik suara merdu itu.


"Oh iya ya Bu, ya sudah saya keluar dulu, yang ini biar saya bawa Bu, berat."


"Kalau kamu bawa berat, kita sudah di bawah taksinya belum ada mbak Tia, sudah biar saya aja."


"Iya Bu, saya duluan," Mbak Tia berlari memanggil taksi di lantai bawah.


Nara dan Bu Rini juga Tara berjalan menuju lift.


dan tidak ada lagi suara di ponsel Nara. "Kok pada diem?" ujar Bara yang masih menyimak percakapan Nara dan lainnya.


"Siapa yang diem?" Seseorang mengagetkan Bara.


"Kak Juan...haduh, bikin kaget aja sih Kak." kesal Bara pada Juan. dan akhir-akhir ini kenapa Bara merasa aneh pada dirinya sendiri.


"Udah lama?"


"Baru."


"Ayo ." Bara memberikan helm pada Juan lalu menaiki motornya. saat motor melintas Nara menggandeng Tara yang sudah ditunggu taksi di seberang lorong.


"Itu kan cewek resek." Gumam Bara sambil mengerem mendadak, sambil memperlihatkan Innara berjalan dengan Tara.


ciiitttt suara rem berderik... beberapa orang di buat kaget karena ulah bara.


"Lo gila Bar?" ujar Juan kesal karena Bara menginjak rem mendadak, hingga helm yang di gunakan kepentok helm Bara.


"Eh maaf Kak, " Bara melajukan motornya kembali, tapi dia masih memperhatikan Innara. "Udah gue puji, tapi kenapa dia sih?Apa iya dia bundanya Tara?" batinnya masih penasaran.


"Apa Bar?" tanya Juan karena mendengar Bara berbicara tapi tidak jelas.


"Enggak Kak." Jawab Bara singkat tapi kesal juga, menginjak gas dengan kencang.


.


.


BERSAMBUNG


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰


Kenapa Bara kecewa ya?


Apa iya Bara sudah suka sama Innara walau belum pernah ketemu?


Tunggu kelanjutannya ya.


OYA JANGAN LUPA BACA KARYA AUTHOR YANG SUDAH TAMAT JUGA YA.... "CINTA LAMA BELUM KELAR DAN KETULUSAN CINTA CACA."

__ADS_1


HAPPY READING


__ADS_2