
Hari kepergian Angga ke Bandung bersama jenny, Nara sama sekali tidak menghubungi nya, dia tidak mau menjadi penghalang atau apa lah itu, dia memilih untuk tetap sibuk menyelesaikan konsep yang belum juga kelar. Di dalam hati yang paling dalam dia ingin mengatakan "Angga jangan pergi." Tapi apalah daya dia sudah terikat oleh kata yang di namakan sahabat, walau sebenarnya sering kali Angga meminta nya untuk menjadi kekasih tapi Nara masih memegang teguh keputusan nya.
To tok tok
"Bos ada tamu."
"Siapa sih pagi-pagi Jo?"
"Dia di bawah enggak mau naik dan gue enggak kenal."
"Penting ya?"
"Mana gue tau bos."
"Ya udah bilang tunggu sebentar."
"Oke," Jonathan melingkar kan jarinya dan pergi. Dua puluh menit kemudian Nara turun mencari siapa yang mencarinya sampai ke kafe.
"Jo... Mana?" tanya Nara menanyakan seseorang yang mencarinya.
"Itu..." Nara menunjuk seseorang yang menghadap jendela.
"Siapa?"
"Belum pernah liat." Ragu, tapi dia tetap menemui orang itu.
"Permisi." ucap Nara sopan karena dilihat dari pakaiannya sepertinya lebih tua darinya. Pria itu menoleh.
"Bang Indra?" Nara shock di buatnya. Karena dia hampir saja melupakan sosok Indra sejak saat itu.
"Adek Abang udah gede." Ucapnya sambil tersenyum, dan senyuman itu sangat di rindukan oleh Nara, karena beberapa tahun sebelum kepergiannya Abang kesayangan nya itu tidak pernah lagi menampakan senyumnya itu. lalu indra berdiri didepan Nara.
"Serius ini bang Indra? Nara enggak mimpi kan?" lalu pria tegap tapi kurus itu memeluk adek semata wayangnya itu. "Beneran ini bang Indra." Gumamnya sambil memeluk erat abangnya itu.
"Maafin Abang ya dek."
"Kenapa bang?"
"Abang sudah jahat sama kamu."
"Nara baik-baik aja kok bang."
"Tapi Abang merasa bersalah sama kamu dek, sejak kamu pergi Abang enggak bisa hidup tenang." Ucap bang Indra sambil mengelus rambut Nara dan memang terlihat jelas bahwa dia sedang sangat kacau, badannya yang dulu segar dan tegap berisi, sekarang kurus tak terurus. ",Maafin Abang ya, karena Abang enggak percaya sama kamu, karena Abang selalu mengabaikan kamu, dan maafin Abang untuk kesalahan Abang yang banyak sama kamu dek!"
"Bang Indra..." Nara meneteskan air mata nya dan memeluk erat abangnya. tapi saat lagi sedih-sedih nya ada seseorang yang mencoleknya. "Jo?" Nara mengerutkan keningnya lalu menyeka air matanya. ",Kenapa?"
"Di atas aja, banyak yang lihat tuh " bisik Jonathan. Dan ucapannya Jo sangat benar, banyak mata tertuju padanya.
"UPS..." Nara tersenyum dan menoleh pada abangnya itu. "Kita naik bang." Nara menarik tangan Indra dan naik ke kantornya. "Thanks ya Jo." ucap Nara.
Setelah di dalam ruangan Indra duduk di sofa panjang dan Nara di depannya.
"Abang tau Nara disini dari siapa?"
"Dari sosial media dek."
"Masak? Kok bisa? Emang bang Indra main sosmed?"
"Biar jadul gini Abang punya sosmed dek."
"Sosmed siapa sih yang Abang kepoin?"
"Nih.."
"Barata?"
"Itu temen kamu kan?" Nara mengangguk.
"Abang kenal?"
"Enggak sih, tapi dulu waktu kamu kabur dia pernah Dateng ke rumah tanyain kamu."
__ADS_1
"Iya sih pernah denger dia kerumah setelah satu Minggu Nara pergi." Ucap Nara, "Jadi Abang langsung tau itu tadi Nara gara-gara sosmed ini?"
"Emmm.,kafe ini terkenal Lo dek, di sosmed."
"Masak?"
"Kamu lihat dech, banyak yang tag Instagram kafe ini ."
"Nara enggak punya Ig bang, anak-anak yang bikin."
"Ah bohong, nih ada akun atas nama kamu, Abang juga ngikutin."
"Kerjaan Nara banyak bang, enggak sempat."
"Terus ini punya siapa?" Indra menunjukan Akun Instagram atas nama dirinya dan juga fotonya.
"Enggak tau bang,"
"Lihat deh, ada foto Selfi juga."
"Iya ya, kok semua foto Nara ada disini?"
"Nanti deh Nara tanya Angga."
"Siapa Angga?"
"Temen."
"Temen apa temen?"
"Temen bang,"
"Masak?"
"Bang indra, mulai deh..."
"Yang ini orangnya?" Indra menunjukan sebuah foto Angga memeluk nya dari belakang.
"Masih enggak ngaku?"
"Dia sudah tunangan bang, sekarang lagi ke Bandung kerumah tunangannya."
"Waduh adek Abang patah hati dong."
"Kan Nara sudah bilang, dia bukan pacar Nara ."
"Kalo ini?" Indra menunjukan foto dia sedang tertawa bersama bara.
"Barata bang, temen juga."
"Berarti adek Abang ini masih jomblo to?"
"Baru putus beberapa bulan yang lalu." Jawab Nara.
"Kasian adek Abang." ucap indra mengelus kepala Nara." Oh ya dek, Abang boleh tanya sesuatu?"
"Apa bang?"
"Alasan kamu pergi dari rumah apa?" Nara bingung bagaimana menjelaskannya. Karena takut jika abangnya tidak mau mengakui bahwa Tara adalah keponakannya. "Abang sampai saat ini masih berfikir keras, apa karena Kaka ipar kamu atau ada hal lain yang Abang enggak tau?"
tok tok tok
Kebetulan yang membawa berkah, Jonathan mengantarkan makanan dan minuman segar untuk mereka.
"Pas banget Lo Jo, gue dah laper." ucap Nara pada Jonathan tersenyum bahagia sampai Jonathan memandang aneh. "Ayo bang kita makan dulu." ajak Nara pada Indra. "Oh ya Abang udah berapa hari disini?" tanya Nara mengalihkan topik.
"Deket dek, di hotel NN..."
"Deket pantai tu bang."
"emm."
__ADS_1
"Abang sendirian?"
"Iya,"
"Kakak ipar enggak ikut?" Indra menghentikan makannya.
"Abang sudah bercerai Ra." tatapan indra menerawang.
"Kenapa bang?" tanya Nara ragu.
"Setelah kamu pergi, abang sibuk di kantor, waktu itu ......
...*******FLASHBACK ON*******...
"Sayang hari ini kemungkinan aku lembur , kamu tidak usah menunggu ku pulang." Tutur indra pada istrinya yang sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Tumben mas, biasanya kalo banyak pekerjaan di kerjakan Edo." jawab istrinya.
"Edo lagi di luar kota, pekerjaan sangat banyak,"
"Ya udah kamu mau aku temani?"
"Enggak perlu, kamu di rumah saja."
Indra pergi ke kantor seperti biasanya, tidak menghawatirkan apapun, Sesampainya di kantor dia melakukan rutinitas seperti biasa, memeriksa satu persatu dokumen yang menumpuk di mejanya.
Tok tok tok
"Masuk..."
"Maaf pak kita harus meeting dengan pak Budi di hotel galaxi."
"Sekarang?"
"Iya pak.."
"Sekarang sudah sore nad?"
"Tapi pak Edo memberi tau saya begitu pak."
"Yang bos siapa sih disini sebenarnya?" gerutu Indra atas sikap Edo yang seolah-olah seperti bos nya. "Ya udah aku sama pak Timan aja, kamu bisa pulang!"
"Baik pak, terimakasih, berkasnya sudah saya siapkan." Nadia keluar dari ruangan Indra dan bergegas menyiapkan dokumen yang di perlukan.
"Terimakasih ya NAD." Indra lalu menutup beberapa dokumen dan berkemas untuk menemui klien.
Setelah indra merapikan mejanya dia keluar dan sudah di tunggu oleh Nadia di depan mejanya.
"Sudah siap pak."
"Emm.." Indra melangkah di ikuti oleh Nadia, seperti biasa mereka janji ketemu klien di hotel Galaxi di antar oleh sopir indra pak Jasman. Indra dan Nadia membahas beberapa file yang dikirimkan oleh Edo, karena ini sebenarnya tugas Edo, sayangnya Edi lagi di luar kota mau tidak mau dia harus turun ta gan sendiri.
"Silahkan pak, ucap Nadia pada Indra lalu mereka berjalan beriringan menuju tempat klien. Disana ternyata sudah datang klien yang di maksud oleh Indra.
"Sore pak Bud-iii...." Suara rancu dari Indra.
"Sore pak Indra, maaf saya kesini harus membawa istri saya, karena dia bosan katanya." Jawab Budi santai. Sedangkan Indra masih menatap tak percaya sosok istri pak Budi.
"Is-tri..?" Suara Indra terbata.
"Iya, istri, cantikan istri saya, memang dia jarang saya ajak keluar, katanya malas." Senyum pak Budi bangga atas istrinya.
.
.
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰
Kok indra kaget, siapa sih istri pak Budi?
__ADS_1
Tulis di komen ya....