Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Menutup telinga rapat-rapat


__ADS_3

"Besok kita balik, ada sesuatu yang mau Lo lakuin enggak?" Tanya Bara saat mereka asik nonton televisi.


"Tara gimana? Tara mau kemana?"


"Emm...Tara kangen sama Oma."


"Oma kan ada di Jakarta sayang."


"Bukan Oma ayah bunda, tapi Oma mami."


"Sekarang sudah mau malam Tara, enggak enak ah bertamu malam-malam."


"Jadi kemana dong."


"Ta mau anter gue ke resto enggak?"


"Jauh ay, kalo itu besok pagi aja ya, kita balik Jakarta malam."


"Sekarang aja, pagi-pagi kita pantai liat sunrise, baru pulang kerumah, sore atau malam kita balik ke Jakarta, gimana?" terang Innara.


"Asal Lo enggak capek aja,"


"Tara gimana? Siap kan?"


"Oke bunda, Tara sudah lama tidak ke pantai."


"Oke, deal..., ayah let's Go...." Ucap Nara memberi semangat mengikuti gayanya Tara , lalu mereka berganti baju dan bersiap-siap. Mendengar Innara memanggilnya ayah, membuat hati Bara bergetar, sedang sekali rasanya. "Malah bengong ayo!" Nara menyenggol lengan Bara.


"Oh oke." Jawabnya langsung bergegas masuk kekamar."


"Ngapain Lo kesini?" Nara lupa jika kamar mereka adalah kamar yang sama.


"Ganti baju." Nara membolakan matanya lalu masuk dalam kamar mandi membawa pakaian gantinya.


Dalam perjalan menuju pinggiran kota lumayan sepi, jadi kendaraan bisa memacu kecepatan di atas rata-rata, sehingga perjalanan yang biasanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga setengah jam, kini bisa dijangkau lebih cepat.


"Sesuai Map kan ay."


"Iya..Kenapa emang nya."


"Enggak papa sih, cuma sepi aja, Lo diem dari tadi."


"Emang mau ngomong apa?"


"Ya cerita apa gitu!"


"Apa ya?"


"Masa depan kita aja ay..."


"Cih.... Masa depan yang gimana mau Lo? Entar kalo beda pendapat malah berantem, gue males Ta kalo ada acara debat."


"Belum di coba dah over thinking aja."


"Ya....." Innara belum menjawab tapi di potong oleh Bara.


"Eh ay, sorry nih kita belokan pertama apa kedua? mepet ini jalannya?"


"Yang kedua Ta, lurus aja terus, ketemu pantai dah tu rame disana."


"Oke, thanks, lanjut..."


"Apanya?"


"Ya ceritanya."


"dah lupa gue..."


"Belum dua lima ay, masak iya dah pikun aja."


"Resek ya Lo lama-lama Ta."


Drrrttt drrttt drrttt

__ADS_1


Ponsel Bara bunyi tiada henti sejak sore tadi, tapi anehnya Bara sama sekali tidak menghiraukan.


"Angkat ya, berisik tau, dari tadi di diemin aja."


"Kalo mau Lo aja yang angkat!"


"Urusan Lo, mana boleh gitu."


",Biar Lo tau ay, gue enggak sembarangan angkat telpon."


"Tapi sembarang bagi-bagi nomer."


"Dih..sewot, makin cinta liat Lo kek gitu."


"Apaan sih? Sini gue angkat." Innara mengambil ponsel Bara. "Siapa sih? Enggak ada namanya?"


"Gue juga enggak tau, makanya enggak gue angkat."


"Gue angkat ya?"


"Hem..."


Saat ponsel Bara berdering kembali Innara mengangkat nya, dan Lo loudspeaker.


"Ih Bara, susah banget sih telpon Lo, gue kangen Bar, jangan bikin gue khawatir." Suara di seberang sana membuat kedua makhluk tuhan itu saling berpandangan. Innara mencurigai Bara, sedangkan Bara takut Innara salah paham.


"Bar, Lo jangan deket-deket sama cewek bar-bar itu, gue enggak suka, awas Lo sampe gue tau, gue bakal ngambek sama lo!" Innara melebarkan matanya memandang Bara yang menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Bar...Bara .. Lo kok diem aja sih? Lo denger gue bicara kan. Ayo lah Bara..... Gue kangen sama Lo, pengen denger suara Lo."


Tuuttt


Innara mematikan ponselnya karena telinganya sudah panas mendengar rengekan cewek manja yang selalu bikin dia kepanasan saat dia bersama Bara.


Melihat sikap Innara Bara Menjadi khawatir "Tau gitu enggak usah diangkat tadi." keluh ya dalam hati.


"Kita minggir dulu ya ay, istirahat."


"Emm.."


"Kalo Lo tau emang kenapa?"


"Ya enggak bakal gue angkat lah,"


"Kan emang enggak Lo angkat, gue aja yang maksa."


"Ay... please."


"Sebenarnya masa depan seperti apasih yang Lo harapkan dari gue Ta?" tanya Innara dengan menggulung lengan nya di dada.


"Banyak yang pengen gue lakuin bareng Lo, banyak rencana yang akan gue jalanin bareng Lo, tapi gue belum dapet kesempatan itu."


"Maksud Lo?"


"Lo belum bisa buka hati buat gue Ay, jadi apa yang bisa gue lakuin kalo cerita nya kek gitu?" Suara Nara menurun. "Lo aja enggak mau gue sentuh, pergi pun susah bisa sama-sama, jadi gue harus bagaimana agar hati gue tenang saat Lo jauh dari gue." Bara mengungkapkan semua keluh kesahnya, sedikit tersentil hati Innara kecemburuan pun akhirnya memudar.


"Sorry."


"Buat apa?"


"Kalo Lo enggak nyaman sama gue." Itu hanya alasan Innara agar tidak terlihat baper oleh Bara.


"Ay...bukan itu, Please ay beri gue kesempatan buat nunjukin bahwa gue adalah seseorang yang pantas buat Lo!"


"Jadi gue harus gimana menurut Lo?"


"Buka hati Lo buat gue, paling tidak jangan menolak jika gue pengen dekat sama Lo."


"Selama ini kita sudah dekat, kecuali satu itu."


"Gue nyium Lo aja kalo Lo lagi lengah, mana bisa di katakan dekat." Sekarang giliran Bara yang sewot.


"Oke fine, gue coba, tapi jangan paksa gue dan jangan di depan umum."

__ADS_1


"Serius ay?"


"Hem...," jawab Innara singkat dan itu sudah membuat hati Bara berbunga-bunga. "Ini yang gue enggak suka saat perjalanan."


"Apa?"


"Debat sama Lo."


"Tapi gue suka, walo cuma berdua."


"Dasar mesum emang Lo dari dulu." Bara tidak membalas.


"Yang mana nih ay, restonya?" Tanya Bara saat melihat banyak kafe dan resto berjejeran di sepanjang jalan.


"Cari aja yang tulisannya Bebek Betutu, Naga Basuki."


"Naga atau bebek sih?"


", Cerewet Lo." Bukannya kesal tapi Bara malah ketawa. " Dah sampe tu jangan ketawa aja."


" Iya-iya bentar gue parkir." dia menjawab pun masih dengan. Ketawa, tawanya itu membangunkan Tara yang tertidur pulas.


"Ayah berisik banget," Keluhnya.


"Hai jagoan ayo bangun, kita sudah sampai di resto bunda." Ucap Bara dengan memandang buah hatinya yang sedang mengucek matanya.


"Tara mau pipis bunda."


"Ayo, kita sudah sampai." Lalu mereka turun Bara mengantar Tara ke toilet sedangkan Innara menemui Ferdy selaku manajer dan orang kepercayaan Innara.


"Hay bos, tumben mampir," Sapa Ferdy yang melihat Innara mendekat.


"Hem...gue kangen sama Lo, "


"Nyari Angga?"


"Emang ada?"


"Ada di atas."


"Oke gue naik." saat hendak melangkah tangan Innara di tahan Ferdy.


"Dia enggak sendiri."


"Maksud Lo? Dia sama jenny?" Ferdy menggeleng. "Terus Sama siapa?"


"Tania." Bisik Ferdy.


"Kenapa bisik-bisik sih?" Tanya Innara dengan mengerutkan dahinya.


"Lo bisa tau nanti." jawab Ferdy.


"Kenapa ay?" tanya Bara saat melihat Tania berwajah bingung.


"Oh ya fer, kenalin Bara."


"Gue Ferdy manajer disini."


"Gue Bara." mereka saling berjabat tangan.


"Cowok Lo bos?"


"Hem..."


"Wah...keren Lo, gue pikir bakal Angga ternyata yang lain." Tutur Ferdy dan itu mendapat tatapan tajam dari Innara.


"Ya udah gue naik dulu."


"Oke... Pelan-pelan aja." ucap Ferdy lagi saat Innara hendak naik. Nara hanya mengacungkan jempol nya. lalu Innara naik dengan tenang di ikuti Bara dan Tara. Saat di depan pintu Innara dan Bara berpandangan, lalu menutup Innara telinga Tara sedangkan bara menutup telinga Innara.


"Kita turun." Bisik Bara dan mereka turun perlahan.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...


__ADS_2