Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Kekecewaan Bara


__ADS_3

"Pergi Lo pergi." Teriak Nara dengan melempar bantal yang ada di belakangnya.


"Oke, gue pergi, tapi gue bakal kembali lagi." ucap Juan lalu berlalu meninggalkan kamar inap Nara.


"Kenapa Lo tega banget sih kak Ju." Ucap Nara sedih dan mulai menangis.


Sedangkan di luar sana Angga masih bingung mencari makanan pesanan Nara, akhirnya dia hanya menemukan nasi goreng dorong di dekat rumah sakit.


"Semoga aja Lo mau Ra." ucap Angga Pasrah.


...****************...


Sesampainya di kamar.


"Lah .." Angga kaget melihat beberapa benda berserakan di lantai. Dia mengedarkan pandangannya, melihat Innara sedang terlelap, lalu angga mendekat. "Ra...?" Wajah Innara terlihat sembab, dan basah. "Lo kenapa Ra?" gumam Angga sambil mengusap wajah gadis itu.


Tanpa di sadari Angga, Nara membuka matanya. "Dah sampai Ga?" Angga buru-buru menarik tangannya dari wajah Innara.


"Iya baru aja."


"OOO." Nara sangsi.


"Nih." Nara megambil Bu bungkusan itu dan membukanya.


"Ini bukan nasi Padang Ga?"


"enggak dapet Ra, dah malem."


"Ya udah, ini aja, gue udah laper banget." Nara menyantap dengan lahap. Sedangkan Angga membereskan kekacauan kecil yang ada di kamar Nara. Nara melihat sedih kearah Angga,


"Maafin gue Ga." Batin Nara.


"Mau cerita?" Ucap Angga dengan memandang Nara dan membawa bantal ke tempat semula, Nara langsung berhenti makan, dan mengingat kejadian kemarin dan hari ini . "Oke kalo masih belum mau cerita, gue tunggu sampai Lo siap." Angga mengacak rambut Nara dengan lembut.


"Ga, untuk ini jangan paksa gue untuk cerita, jangan tanya lagi masalah ini." Ujar Nara dengan mata berkaca-kaca.


"Ra...Lo kenapa?" tiba-tiba air mata Nara menetes. Iya, gue enggak akan tanya lagi, gue janji." Ucap Angga sambil memeluk Nara menyesal atas pertanyaan nya. "Jangan sedih seperti ini Ra , ini bikin hati gue sakit," batin Angga. sedangkan Nara masih terisak di pelukan Angga.


"Ga .."


"Em.."


"Sorry."


"Its oke, Enggak papa, yang penting Lo sehat dulu." Nara mengangguk dan menyeka air matanya.


"Tara ?" tanya Nara memandang Angga.


"Biasa di rumah sama mbak Tia."

__ADS_1


"Maaf gue ngerepotin Lo lagi."


"Ra, ini gue, kenapa harus bilang maaf sih?"


"Enggak tau, kenapa gue pengen bilang gitu ma elo."


"Ya udah, lanjutin makannya!" lagi-lagi Nara mengangguk. "Setelah makan Lo mau tidur lagi atau mau nonton?"


"Gue nonton aja Ga, bete gue." Angga mengambil remot dan menyalakan televisi.


"Nih." Angga menyerahkan remotnya lalu mengacak kembali rambut Nara. "Gue di sofa, panggil aja kalo Lo mau sesuatu!"


"Em..." Nara menyelesaikan makannya, dia malas untuk membuka ponselnya dia fokus pada acara yang ada di televisi. Tapi Malam semakin larut, Nara mengucek matanya, kantuk mulai melanda dirinya, perlahan dia menutup mata. Sedangkan Angga entah sudah mimpi sampai mana.


...****************...


"Kak kenapa sih Lo enggak angkat telpon gue dari kemarin?" Kesal Bara saat mendapati Juan telah asik main PS.


"Gue sibuk." Jawab Juan cuek.


"Sibuk apaan sih Lo?"


"Gue sibuk kemarin, enggak sempat angkat telpon dari Lo." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. " Ngapain Lo telpon gue?" tanya Juan.


"Bantuin gue dong Deket sama Nara!"


"enggak bisa."


"Ya enggak bisa."


"Lo kan Deket kak sama dia, masak enggak bisa sih?" keluh Bara sambil menjatuhkan diri di sofa.


"Ya enggak bisa aja."


"Jangan-jangan Lo suka juga sama Nara?" Juan berhenti sejenak bermain dan melirik Bara.


"Lo gila?"


"Ya terus kenapa Lo enggak mau bantuin gue?"


"Gue udah bantu Lo jagain dia selama tujuh tahun, apa masih kurang?"


"Itu kan bukan mau gue, coba aja Lo kasih tau gue, pasti gue sendiri yang jagain dia."


"Bacot Lo, Berisik! Gue lagi main nih." umpat Juan kesal.


"Lo dokter, bukannya belajar malah main PS," Gumam Bara lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


"Ngapain Lo kesini? Cuma bilang itu doang?"

__ADS_1


"Tau ah, males gue." Ucap Bara dan pergi." Gue cabut." Bara menghilang di balik pintu, setelah dirasa Bara sudah pergi Juan juga berhenti memainkan Stik PS nya.


"Sorry Bar, gue enggak bisa bantu Lo." Gumamnya sambil melihat kearah pintu. "Gue kira kasihan ternyata gue selama ini suka sama Nara." Sambungnya. Entah bagaimana perasaan itu bisa timbul, dimulai dari mana pun Juan tidak tau, karena ada saja alasan untuk bertemu Nara setiap dia ada kesempatan libur kuliah atau jam kosong, dan saat sudah menjadi dokter KOAS diapun selalu menyempatkan diri untuk menemui Nara setelah dari rumah sakit. Juan menghembuskan nafas berat setelah menyadari ulahnya sendiri. "Bego banget gue!" Keluhnya sambil mengetuk kepalanya ringan.


Yang di pikir Bara sudah pergi dari sana ternyata Bara masih ada di balik pintu, karena dia ketinggalan kunci motornya.


"Jadi begitu?" Ucap Bara muncul di tengah-tengah.


"Bar, sejak kapan Lo di situ?"


"Sejak Lo bilang suka sama Nara." ucap Bara." Tega Lo kak sama gue." Bara masuk dan mengambil kuncinya. "Kalo bukan karena kunci ini, gue enggak bakalan tau sikap buruk Lo, Anj***." Umpat Bara.


"Bar bukan itu maksud gue."


"Kenapa harus Nara sih kak? Lo tidur sama banyak cewek dan kenapa harus Nara yang Lo suka?" Bara kecewa dengan sepupunya itu. "Lo tau cerita gue dari awal, harusnya Lo bisa jaga perasaan gue dan bantu gue!"


"Bukannya Lo juga udh di kelilingi banyak cewek Bar? Kenapa harus balik ke Nara lagi sih?" Juan mulai membuat alasan untuk membela diri, karena dia tidak suka selalu di sudutkan oleh Bara dan dia sudah tidak bisa lagi menutupi perasaan nya.


"Walau banyak cewek tapi gue enggak pernah tidur sama mereka, sedangkan Lo? Apa?"


"Tapi gue..." Juan tidak bisa berkata apa pun, semua yang di ucapkan oleh Bara adalah benar.


"B*b* Lo, Gue kecewa banget sama Lo."Bara pun akhirnya benar-benar pergi dari rumah Juan dan pergi kerumah Nara.


"Hah." Juan kesal dan melemparkannya stik PS nya.


...****************...


"Ayaaaahhh." Tara menyambut gembira dengan kedatangan Bara.


"Halo Tara,"


"Ayah pasti kangen Tara?" tembak Tara pada Bara.


"Kok tau?"


"Iya dong, karena jarang-jarang lho ayah main kesini." Bara hanya tersenyum lalu mengajak Tara masuk .


"Maaf nak Bara, Kemarin Nara masuk rumah sakit,"


"Kenapa Bu?" tanya Bara kaget.


"Pingsan, tapi sudah baikan sekarang, mungkin nanti pulang, itu kabar dari nak Angga." Jelas Bu Rini.


"Syukurlah kalau sudah bisa pulang hari ini," Ucap Bara dengan tersenyum walau sebenarnya hatinya sakit, mengapa harus selalu Angga yang berada di sisinya bukan dia.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰


__ADS_2