Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
masa lalu yang suram, tapi mengesankan


__ADS_3

"Dimana gue?" Bara memegang kepalanya yang sakit dan bangun dari tidurnya. "Kok dingin ya?" gumamnya lalu merasa ada yang aneh. " damn." umpatnya saat mendapati tubuhnya tanpa busana. kemudian menggeser badannya seolah memegang sesuatu. "Innara?" pekiknya tanpa suara. "Juan damned." Lagi-lagi Bara mengumpat." bagaimana ini bisa terjadi, terus gue harus bagaimana?" keluh Bara dengan tubuh terkulai lemas.


"Ra... Nara." Bara membangun kan Nara yang sedang tertidur pulas, mungkin juga karena kelelahan. "Ra..." Bara menoel hidung Nara dan itu berhasil membuat Nara membuka matanya.


"Barata?" dengan kaget Nara duduk memperhatikan pemandangan yang tak normal walaupun itu indah. karena merasa dingin Nara melihat tubuh ."Aaaaaaa." teriak Nara. "Barata Lo apain gue?" teriaknya lalu "Jangan bilang Lo?" ucap Nara berhenti dan melihat di balik selimut."Baraaaaataaaa."


"Sorry Ra, gue juga enggak tau." jawab Bara menunduk karena merasa bersalah.


"hikz hikz hikz..."tangisan Nara mulai pecah." Lo tega Ta ma gue, hidup gue sudah susah, Lo buat gue tambah susah." isaknya.


"Gue, gue akan tanggung jawab kalo Lo hamil." ucap Bara.


"Hamil?" enggak gue enggak boleh hamil Ta."


"Ra..gue minta maaf,"


"Enak aja Lo minta maaf, emang masalah selesai dengan lom minta maaf?" tangisan Nara semakin menjadi." kenapa sih ta Lo tega ma gue? salah gue apa sama Lo?"" tanya Nara membuat Bara bingung, ini juga bukan kemauannya, ini pasti ulah Juan yang membuatnya mabuk.


"Lo inget bagaimana kita bisa disini?" tanya Nara sambil menyeka airmata nya dan Bara pun menggeleng.


"Lo?" bara balik tanya.


"Kalo enggak salah semalem, Gio cariin Lo, terus gue di panggil dan di kasih minuman kaleng atau apa gue lupa, setelah itu gue enggak ingat." Nara mencoba mengingat kembali kejadian selamam.


"Anj*ng "


"Apa Lo bilang?"


"Enggak, gue enggak bilang apa-apa." kilah bara." bener-bener brengsek Lo Ju." umpat Bara dalam hati."Tato Lo bagus "


"Mata di jaga."


"Kita juga udah begituan Ra."


"Awas ya Lo, kalo ini tersebar. Gue bunuh Lo!" Ancam Nara lalu mencari kacamata. "Minggir Lo." ucap Nara lalu mendorong tubuh Bara hingga jatuh di lantai.


"Sakit Ra." Bara merintih kesakitan saat tubuhnya mendarat di lantai yang keras.


"Aak....." Nara kesakitan saat turun dari ranjang dan hendak melangkah.


"Ra Lo kenapa?" Bara berdiri menghampiri Nara dengan tubuh yang masih polos.


"Barata Lo mesum..." Nara menutup matanya dengan selimut.


"Sorry, sorry sorry." ucapnya lalu mengambil boxer yang berserakan di lantai memakai nya dengan cepat. "Udah, gue udah pake celana." lalu Nara membuka selimut yang ada diwajahnya.


"Jangan gila Lo."


"Sorry..., sini gue bantu." Bara mengulurkan tangannya hendak membantu Nara.


"Gue bisa." Nara mencoba berdiri lagi dan "Aduh..." Ternyata sakit nya lebih dari sakit.


"Makanya gue bantu." ucap Bara memaksa menggandeng tangan Nara ke kamar mandi.


"Baju gue,"


"Gue ambilin nanti." ucap Bara. Nara menyalakan air di semua kran dan benar saja Nara menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya, bagaimana jika kakaknya tau akan hal ini, bagaimana nasib kedepannya, bagaimana jika dia hamil, Nara bingung dan tidak tau harus bagaimana. sudah satu jam berlalu tapi Nara belum juga keluar.


Tok tok tok

__ADS_1


"Ra, Lo enggak papa?" Bara mengetuk pintu karena khawatir akan keadaan Nara.


"Gue oke." jawab Nara dengan terisak.


"Lo sudah kelamaan Ra di dalam, entar Lo pingsan karena kedinginan." ucap Bara memberi perhatian.


"Iya bentar lagi."


"Gue pesenin makanan ya."


"Em..." Akhirnya Nara keluar hanya menggunakan bathrobe.


"Baju Lo ." tunjuk Bara di atas kasur. "Gue mandi dulu." Nara mengangguk. setelah Bara masuk kamar mandi, Nara cepat-cepat mengenakan bajunya lalu duduk di depan televisi.


tok tok tok


Nara mengintip dari lubang pintu, ternyata adalah pengantar makanan.


"Pesanan dari bapak Barata?"


"Iya benar."


"Silahkan dek." ucap pelayan itu.


"Trimakasih om." Nara mengambil meja dorong itu lalu membawanya masuk, Nara lapar tapi dia menunggu Bara keluar dari kamar mandi.


"Kenapa Lo liatin gue kek gitu Ra? ada yang aneh?" tanya Bara saat Nara tidak berkedip melihatnya keluar dari kamar mandi, Nara melihat tubuh Bara yang kekar dan berotot.


"enggak, enggak, gue nungguin Lo buat makan." Nara gagap menjawab pertanyaan Bara.


"Kalo lapar makan aja dulu Ra." ucapnya sambil mengambil bajunya yang ada di atas kasur.


"Gue ganti baju dulu." ucap Bara, sedangkan nara langsung menutup mata Dangan tangannya.


"Em...." jawab Nara dingin.


"Lo benci banget ya Ra ma gue?" Nara tidak menjawab, dia hanya menikmati makanannya dan memikirkan nasib selanjutnya.


"Ra..."


"Gue lagi makan Ta." Bara pun tau jika Nara tidak suka di ganggu saat makan. Meraka pun makan dalam diam.


"Gue antar ya pulangnya."


"Enggak usah."


"Lo marah?"


"Terus gue harus gimana ke elo Ta?" masa depan gue hilang di tangan lo, Apa iya gue harus seneng?" Bara menunduk.


"Terus gue harus gimana biar Lo enggak marah lagi sama gue?"


"Lo jauh-jauh dari gue aja "


"Lo tega Ra."


"Yang tega Lo apa gue?"


"Bukan begitu ..."

__ADS_1


"Terus apa?"


"Gue suka sama Lo?" Nara membeliakan matanya.


"Jangan ngadi-ngadi Lo, setelah nidurin gue Lo bilang suka?"


"Apa salah kalo gue suka sama Lo."


"Tapi gue enggak."


"Itu urusan Lo, urusan gue ya suka sama Lo."


"Ya udah urus aja diri Lo." Nara berdiri dan mengambil tasnya di atas nakas.


"Gue antar Ra."


"Lo mau gue di gantung sama indra." Bara mundur dan menatap Nara sendu. " Gue duluan dan jangan pernah muncul di depan gue." nara pergi begitu saja.


Setah kejadian itu Nara tidak pernah lagi muncul disekolah, bahkan waktu Bara kerumahnya menanyakan perihal Nara, keluarga nya seolah tak peduli.


"Dimana Lo Ra.." hati Bara terasa sakit hingga bernapas pun seolah tak mampu.


"Kenapa Lo?" Gio muncul dari belakang.


"Bikin gue jantungan aja sih Lo Gi?"


"Lo lagi mikirin si cupu ya?"


"Innara Gi namanya."


"Iye, gue tau."


"Bara... Barata.." seseorang memanggil Bara.


"Iya Lex..."


"Lo satu kelas sama Nara kan?" - Lexi


"Iya, kenapa?" -bara


"Lo tau kalau dia pindah sekolah?"-lexi


"Kok bisa? Lo tau dari mana?".-Bara


"Tadi gue di panggil pak hasjad, dan gue dikasih ini." Lexi menunjukan sebuah kotak.


"Apaan tu?" Gio ikutan nimbrung.


"Berkas-berkas OSIS yang di bawa Nara." jawab Lexi, " Sebenarnya ada yang mau gue tanya ke elo Bar, karena gue liat Lo sering bareng ma dia, tapi ternyata dia pindah aja Lo enggak tau, ya udah dech enggak jadi." bara pun berlalu.


"Lo bener enggak tau Bar?" Bara hanya menggeleng.


"Lo dimana Ra?" gumamnya.


#Flashback Off#


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰


__ADS_2