
"Tara sama mbak Tia pulang naik taksi online ya sayang, bunda mau kekampus pasti bunda terlambat kalau antar Tara dulu."
"Iya bunda, Tara pulang sama mbak Tia saja."Jawabnya sambil menoleh kearah bundanya.
"Anak pinter nya bunda." Nara mengusap lembut kepala Tara.
"Bunda hati-hati ya." Nara mengangguk.
"Mbak Tia, nitip Tara ya, saya kekampus." mbak Tia mengangguk juga lalu menggandeng Tara.
"Sudah di pesan, Tara tunggu sebentar ya, bunda sekarang langsung berangkat, oke..."
"Siap bunda."
"TOS dulu dong." mereka bertos ria. "Da Tara.., hati-hati ya nak, mbak Tia kalau ada apa-apa segera hubungi saya."
"Siap bu." Akhirnya Nara pergi meninggalkan Tara dan mbak Tia di depan pagar besar milik keluarga Angga.
...****************...
"Lambat banget sih Lo Ra." Oceh Ragil yang melihat Nara baru sampai dengan tergopoh-gopoh.
"Sorry-Sorry." Jawab Nara dengan tulus.
"Lo berangkat sendiri Ra?" tanya dewi saat Nara mengambil kursi dan duduk di depannya.
"Pantesan." Ucapnya lagi lalu melanjutkan membaca materi yang mereka siapkan. Nara tidak heran akan hal itu, sudah lebih dari dua tahun mereka bersama dan sebab musababnya telat atau tidaknya Innara Basuki.
"Sorry-Sorry dech sorry." Ucap Nara lagi.
"Enggak heran gue,"Tambah Ragil lalu memberikan buku tebal pada Nara. "Bagian Lo." mau tidak mau Nara harus menerima nya.
"Hehhe tebel amat Gil, enggak ada tipisan dikit." pinta Nara sambil nyengir.
"Enggak." Dengan menghela nafas berat Nara mulai membuka bukunya, walau Nara berusaha memahami isi dari buku itu, tapi Nara tidak paham juga, karena pikiran Nara sedang tidak berada kedalam buku itu, tapi pikiran Nara berada di rumah Angga, "Ada masalah apa hingga Om Radit marah besar sama Angga?" Batinnya sambil membolak-balik halaman tanpa iya baca.
"Ngelamun Lo?" Ragil memperhatikan tingkah Innara dan sebentar-sebentar Menarik napas panjang.
"Enggak, gue baca kok."
"Gue liat Lo cuma bolak-balik tu buku, enggak Lo baca."
"Apa iya?"
"Coba jelasin ke gue apa isinya?" Tantang Ragil yang kesal dengan pembelaan Nara. Nara bukan mahasiswa yang bodoh, tapi kali ini dia memang tidak memahami isi dari buku yang di berikan oleh Ragil.
"Sorry..."Nara nyengir kuda.
"Sora sorry..."Celetuk Ragil."Baca yang betul!" Sambung nya.
"Oke-oke." jawab Nara kesal. "Cowok satu ini memang galak nya bukan main, Angga aja enggak segalak dia." Batinnya sambil melirik Ragil yang dengan serius mengetik materi dengan Dewi. "Kok gue jadi kangen Angga ya, baru dua hari enggak ketemu." sambungnya dalam hati.
"Masih bengong Lo?"
"Enggak Gil, gue baca nih..." Nara menandai yang sudah di baca dan di pahami.
__ADS_1
"Besok kita presentasi, jangan sampai elo plonga-plongo." Nara tidak menjawab ocehan Ragil, dia hanya membolakan matanya searah dengan jarum jam.
"Hai Ra ..." Tiba-tiba suara yang tidak asing mengejutkan Nara saat dia sudah mulai konsentrasi dengan bacaannya. Dewi dan Ragil melirik siapa pemilik suara itu lalu memandang Nara memberi kode bahwa mereka bertanya "Siapa"
"Kenalan gue." jawab Nara. Pria itu mendekat kearah meja Nara.
"Hai..."
"Emmm hai."
"Sibuk?"
"Iya Nara sibuk, udah jangan ganggu dia." sama halnya Ragil dan Dewi memberi kode seolah bertanya "Siapa"
"Temen gue," jawab Nara malas tanpa mengenalkannya pada Dewi dan Ragil.
"Gue gabung boleh?"
"Sastra sebelah sana." Nara menunjuk tempat biasa anak sastra ngumpul, termasuk Tania saat mereka kerja kelompok.
"Gue sendiri Ra, males gue, boleh ya?"
"Udah duduk aja, tapi jangan ganggu Nara." sambung Ragil. tapi Bara bingung, kenapa Nara seolah takut dengan Ragil, sebenarnya bukan takut, bara cuma tidak enak hati karena di sangat terlambat saat mengerjakan tugas bersama.
"Oke, thanks." jawab Bara lalu meletakkan tasnya dan pergi mencari buku yang dia butuhkan.
"Siapa Ra?" tanya dewi yang kepo dengan cowok yang di bilang Nara kenalan nya.
"Temennya Tania."
"Apaan sih Lo." ucap Nara kesal."Eh kenapa dia kesal?" Nara tiba-tiba mengerutkan dahinya.
"Kenapa Lo?" tanya dewi yang melihat perubahan sikap Nara.
"Enggak," lalu Nara mengalihkan pandangan kembali pada bukunya. "Gue dah kelar nih, apa lagi yang harus gue kerjain?" tanyanya pada Ragil.
"Gue capek Ra, bantu selesai ini sedikit lagi ya." ucap Ragil menyodorkan laptopnya. dan di terima oleh Nara lalu membaca kalimat-kalimat yang telah tersusun rapi itu.
"Gil, ini di hapus aja ya, kayaknya kurang cocok dengan tema kita." ujar Nara sambil menunjuk kalimat yang kurang pas.
"Bentar gue baca." lalu Ragil memperhatikan kalimat itu kembali. "Iya bener agak aneh nih kalimatnya, Lo nih dew yang tulis." tuduh Ragil.
"suka-suka Li dah." ucap Dewi malas berdebat dengan Ragil.
"Ya udah sini gue kelarin." Ucap Nara sambil mengambil laptop itu kembali, lalu konsentrasi mengetik paragraf demi paragraf.
"Serius amat."
"Haduh..."
"Lo kenapa Ra? ada yang sakit?" tanya Bara panik.
"Lo bikin konsen gue ilang bege." kesal Nara pada Bara.
"Sorry." ucapnya lalu duduk pelan-pelan di samping Nara. sedangkan Nara kembali konsentrasi pada layar di depan nya. dan kini Bara tidak berani lagi mengusik Innara. Ragil masih konsentrasi dengan buku lainnya sedangkan Dewi sibuk menatap Bara sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Dew....mata Lo mau lepas tu." ucap Ragil bikin kesal Dewi.
"Resek ya Lo Gil." keluh Dewi yang setengah malu.
"Udah baca buku Lo."
"Iya, iya bawel amat sih Lo."
"Medok bahasa Lo." ucap Ragil
"Sama Lo juga " balas Dewi. sedangkan Nara tidak akan terusik jika hanya mendengar kicauan Ragil dan Dewi, kecuali dia di senggol baru bubar deh susunan kata yang mau di ketik. Ragil memperhatikan secara intens di balik bukunya pada Nara, dia suka pada Nara saat serius seperti itu, apalagi saat dia sedang menggunakan kaca matanya, terlihat smart.
"Baca yang bener bukunya," Giliran Dewi yang menegurnya. Tapi Ragil pura-pura Tuli. sudah hampir dua jam Nara berkutat di depan layar laptop akhirnya beres juga.
"Kelar nih Gil." ucap Nara dan itu membuat Ragil gelagapan. "Kenapa Lo?" tanya Nara kaget melihat ekspresi Ragil. "Lo ketiduran?"
"Bukan ketiduran Ra, tapi ketangkap basah." ujar Dewi.
"Emang abis ngapain Lo?"
"Habis ngintip." Sambungnya.
"Waahhh parah Lo Gil." ucap Nara sambil membalik laptop di depan Ragil. Ragil menerima dan membaca ketikan Nara.
"Bagus Ra, enggak kayak tulisan sebelah gue." sindir Ragil pada Dewi.
"Kalian pacaran?" tebak Nara.
"Apaan?" jawab Ragil dan Dewi bersamaan dan keras hingga semua mata memandang kearah mereka.
"Jangan asal Lo Ra...." ucap Ragil yang tiba-tiba berhenti tidak melanjutkan kalimatnya melihat Nara mencari ponsel nya yang berbunyi.
"iya mam"
..,...........
"Sekarang?"
.......
"Iya mam, Nara kesana sekarang."
tuuuttt sambung terputus.
"Sorry gue duluan..." ucap Nara dengan memasukkan semua barang nya dengan buru-buru. Bara yang disampingnya tidak bisa berkata apapun. "Bye..." Nara berdiri dan berjalan cepat kearah pintu keluar.
.
.
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰
Nara mau kemana ya??
__ADS_1