
"Bundaa ....." Tiba-tiba Tara datang menghampiri Nara dengan gembira.
"Bunda?" Ucap Indra tanpa basa-basi." Kamu sudah nikah dek?" tanya Indra.
"Em..ayo bang, Nara ceritain semuanya." Nara menarik indra membawanya ke Gazebo dan mengabaikan Tara.
"Bunda...." merasa di abaikan Tara pun merajuk. "Bunda jahat." Nara langsung menghentikan langkahnya lalu kembali menghampiri Tara.
"Tara sama mbak Tia dulu ya!" sambil memeluk anak semata wayangnya itu.
"Siapa itu?" Tara menunjuk ke arah Indra, karena memang dia belum pernah melihat nya.
"Nanti bunda kasih tau, sekarang sama mbak Tia dulu ya." sambung Nara. Dan Tara pun pasrah, dia tidak pernah membantah apapun yang di ucapkan oleh Nara.
"Em..." Lalu Tara berlari ke arah Bu Rini dan mbak Tia. Sedangkan mereka berdua masih shock dengan kehadiran Nara dan Indra. "Mbak Tia.... nenek, " Tara memanggil mereka berdua karena masih fokus ke arah Nara dan Indra pergi.
"Siapa Bu?"
"Mana ibu tau ti."
"Nenek..." kini suara Tara lebih kencang.
"Ah iya sayang," Bu Rini menghampiri Tara." Tara mau apa?"
"Tara lapar."
"Ya udah biar mbak Tia siapkan." Ucap Tia dan segera ke dapur menyiapkan makan siang untuk Tara, sedangkan Bu Rini menyiapkan minuman dingin dan cemilan untuk Innara ara dan Indra.
Di Gazebo Nara dengan takut mulai menceritakan semuanya yang iya alami hingga titik ini.
"Taraaaa...Anak Nara bang." ucapnya sambil menunduk.
"Anak? Abang enggak salah dengan dek?" Innara menggeleng.
"Itu alasan kenapa Nara pergi dari rumah, bukan karena kakak ipar atau Abang, tapi karena Nara hamil..."
"Lalu siapa ayah nya?"
"Abang enggak perlu tau."
"Tapi dia harus bertanggung jawab dek."
"Nara bisa sendiri bang, tanpa ayah Tara Nara sanggup."
"Tapi Tara berhak tau siapa ayahnya, dan dia tidak boleh kehidupan kasih sayang seorang ayah."
"Abang tidak perlu khawatir soal itu, Tara sudah memiliki seseorang yang dianggap ayah."
"Siapa? Yang mana?"
"maksud Abang?"
"Ya... Yang mana? Yang foto nya berpelukan, atau yang lagi duduk di kafe."
"emmm .... Itu, yang peluk Nara."
"Tapi dia sudah punya tunangan bukan?"
"Iya..." Nara mengangguk.
"Apa Tara bisa terima jika dia tau?"
"Nara belum berfikir sampai situ bang."
"Kamu harus pikirkan anakmu juga dek, kasihan kalau dia sampai tau kenyataannya."
"Sekarang kan ada Abang yang akan tetap bersama Nara."
"Asalkan kamu mau ikut pulang ke Jakarta."
"Banggg...."
"Tidak bisa kan."
"Beri Nara waktu berfikir bang."
"Abang tidak bisa mengatur kamu seperti dulu dek, kamu sekarang sudah dewasa, dan Abang pikir kamu sudah lebih hebat dari sebelumnya, tapi Abang minta pikirkan juga Tara."
"Nara tau bang, tapi Nara belum siap."
"Kamu tau siapa kan ayah Nara." Nara mengangguk.
"Paling tidak kamu sudah tau, jadi tidak perlu di risaukan. Tapi apakah dia tau kalau punya anak ?"
__ADS_1
"Iya..."
"Jadi apa yang kamu tunggu?"
"Nara enggak suka sama dia bang."
"Kamu sukanya sama cowok yang udah tunangan itu?" Nara cemberut. "Ya ampun adek Abang, bagaimana bisa cinta bertepuk sebelah tangan."
"Bukan sebelah tangan bang, tapi tidak dapat restu."
"Jadi ...." Indra menatap Nara mencari jawaban. Dan Nara hanya mengangguk mengerti. "Masih ada ya jaman sekarang." Indra menepuk dahinya.
"Ra....."
"Eh Bu..."
"Ini minumannya, biar seger."
"Makasih bu, oh ya Bu kenalkan, ini Abang Nara yang di Jakarta."
"Nak indra?"
"Iya Bu, Bang ini Bu Rini yang jagain Nara dan Tara selama ini." Indra menjabat tangan Bu Rini.
"Terimakasih Bu, sudah mau menjaga adek saya yang bandel ini."
"Nara anak yang baik kok nak Indra, cuma kadang manjanya enggak ketulungan."
"Iya itulah yang saya rindukan, tapi ternyata sekarang sudah dewasa, jadi kayaknya manjanya jadi jaim Bu..."
"Nak indra bisa saja, Innara masih sama seperti dulu, masih manja," sambung nya. "ya sudah di lanjutkan saja, kalau ada apa-apa panggil ibu saja di depan." Ucap Bu Rini sambil melangkah pergi dari tempat itu.
"Kamu memang anak baik dek, Sampai ada yang mau merawat kamu sampai seperti ini."
"Abang baru tau."
"Iya, Abang salah...kan Abang sudah minta maaf, kamu pasti berat melewati semuanya sendirian."
"Banyak orang baik di sekitar Nara bang,"
"Kamu hebat dek." Indra memeluk erat adiknya itu.
"Nara kangen pelukan Abang."
"Lo dimana Ra? Gue kerumah Lo, tapi kosong?"
"Gue di Jakarta Ga,"
"Maksud Lo?"
"Gue di jemput Abang."
"Gue kesana."
"Enggak perlu Ga, gue baik-baik aja kok, setelah liburan gue balik ke Bali lagi kok,"
"Kan gue bilang tunggu gue Ra, gue pasti balik buat Lo."
"Enggak usah panik gitu dong."
"Elo yang bikin."
"Sorry gue enggak kasih kabar, gue takut ganggu."
"Gue nungguin Wa dari Lo tiap hari Ra."
"Jangan gitu dong Ga, gue jadi merasa bersalah nih."
"Gue kangeeeeen..." ucap Angga lirih, tapi masih di dengar oleh Nara.
"Gue juga Ga." Batin Nara, dia tidak berani berharap atau memberi harapan untuk hubungan mereka.
"Dek ayo makan." Indra memanggil Nara di kamar.
"Iya bang, bentar." jawab Nara. "Ga.... udah dulu ya, nanti di sambung lagi."
"Lo ......"
"apa?"
"Enggak jadi."
"Ya udah, gue tutup. Bye...."
__ADS_1
"Bye..." Kedua ya menutup ponsel masing-masing dan keduanya menunduk sedih. Hati mereka kalah dengan logika. Setelah menetralkan hatinya Nara keluar menuju meja makan.
"Lama banget dek, siapa sih yang telpon?"
"Abang kepo."
"Inget kalo sudah punya orang jangan coba-coba jadi pelakor "
"Ih Abang ..." Nara menarik kursinya dan duduk. Sebenarnya Nara tidak selera, tapi tidak mungkin dia tunjukan pada Abang nya yang mulai protektif padanya. Nara makan secukupnya saja, padahal biasanya porsi makannya super jumbo.
"Bunda tumben makan sedikit."
"Bunda udah kenyang sayang." Nara lebih dulu meninggal meja makan dan kembali kekamarnya. Dia masih rindukan Angga, tapi otaknya masih berfungsi, agar tidak menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan. Karena dia tau rasanya jika kehilangan seseorang hanya karena orang ketiga.
Ya Nara kehilangan ayahnya yang memilih wanita lain dari pada ibu dan anak-anak nya, sakitnya masih terasa sampai sekarang, karena itu Nara sangat takut untuk menjalin hubungan yang lebih dalam dengan pria, karena dia belum siap jika terluka seperti ibunya, di tambah lagi abangnya di selingkuhi oleh istri yang ia cintai, diapun berhasil sama, di selingkuhi oleh Doni, walaupun dia tidak memiliki banyak rasa pada Doni, tapi tetap saja saat itu dia adalah kekasih Doni.
Tok tok
"Masuk."
"Adek Abang kenapa?"
"Abang," Nara menyeka air matanya karena mengingat hal yang sangat menyedihkan baginya. "Nara enggak papa bang."
"Kamu boleh cerita apa dek sama Abang."
"Tapi Nara enggak papa bang."
"Ya udah kalo gitu ayo jalan, kamu enggak bosen dah beberapa hari di rumah aja?"
"Mau kemana?"
"Ya kemana lagi kalo enggak ke mall."
"Ya udah, Nara ganti baju dulu."
"Oke, Abang kasih tau Bu Rini ya."
"Oke..."
Nara pun berganti pakaian dan keluar dari kamar, ternyata dia sangatlah lama berganti pakaian, karena mereka sudah siap semua di ruang tamu.
"Bunda lama..."
"Maaf sayang."
"Ya udah yuk..." Bang indra menggendong Tara.
"Om...Tara udah gede."
"Tapi om pengen gw dong kamu sayang."
"Naik pesawat dong om...kayak om Angga kalo gendong Tara." Indra mengangkat tubuh Tara tinggi-tinggi menyerupai pesawat.... "Ngooooooonggg."
"Udah ya Tara, om capek."
"Yah..."
"Tara, kita kan mau naik mobil, masak iya begitu?"
"Hehhehe." Tara terkekeh mengingat dia akan masuk mobil." Oke om...Tara turun deh." dan mereka naik mobil bersama.
"Hay semuanya..." tiba-tiba Edo datang saat semua akan masuk mobil, wal hasil semua melihat keRH sumber suara.
"Ngapain Lo?"
"Mau ikut dong."
"Najis Lo, tumben banget mau ikut."
"Karena ada Nara." tiba-tiba Edo merangkul pundak Nara.
"Lepasin adek gue."
"Pelit."
.
.
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰
__ADS_1