
"Barata?" Innara membuka mulutnya lebar-lebar melihat pemandangan yang ada di depannya. Lalu dia menutup kembali pintu dan pergi.
"Kan sudah gue bilang Lo sih maksa, kapok kan lihat pemandangan itu." Suara Prita keras dan terkekeh.
"F***,Kenapa sekarang sih?" Keluh Innara lalu turun menggunakan lift karyawan.
"Kenapa Ra?" tanya Edo saat dia sudah masuk karena Edo sudah berada didalam lift duluan.
"Sejak kapan Beby sama Barata?"
"Gue enggak tau."
"Serius, Lo kan temannya."
"Enggak semua urusan dia gue harus tau Ra "
"Oh oke." Dengan kesal dia keluar dari lift itu. "awas kalo gue sampai tau sesuatu." Ucap Nara dan berlalu.
"Makanya gue takut kawin muda." gumam edo dengan menggeleng kan kepalanya.
"Dari mana Ra, main ngilang aja?" Tanya Sintia pada Innara.
"Toilet."
"Gue enggak liat Lo disana."
"Toilet atas, tadi di bawah penuh." alasan Innara.
"Oh ya Ra, kenapa Lo bilang gitu tadi sama Andreas?"
"Bilang apa?"
"Ya Lo curiga dia yang kasih makanan itu ke elo."
"Lo yang makan, bukan gue." Jawab Innara kesal.
"Ya tapi sama aja, targetnya Lo Ra, gue jadi takut."
"Kalo bisa Lo jauh-jauh dari gue, biar Lo aman."
"Ya enggak gitu juga Ra, itu kan Mash perkiraan, belum tentu juga Lo target nya bisa jadi gue." Sintia seolah menjadi orang penting.
"Serah Lo aja." ucap Nara dan langsung menyibukkan diri. Tambah pusing Innara dengan celoteh Sintia yang enggak jelas.
...****************...
"Ay... dengerin penjelas gue dulu ay," Ucap Bara saat mereka dirumah. Tapi Innara tidak menginginkan penjelasan itu.
"Iya, enggak papa, wajar aja kalo liat cewek cantik apalagi seksi, pasti begitu, biasalah cowok."
"Ay please."
"Tidur di luar Lo."
"Ay...masak baru di kasih sekali udah di suruh puasa lagi?" keluh Bara, Innara tidak menanggapi itu, tapi rasanya dia ingin tertawa mendengar kalimat itu. Dia langsung masuk kamar mandi menyalahkan semua keran yang ada setelah itu dia melepas tawanya.
"Dasar mesum." Gumamnya sambil senyam-senyum sendiri. Akhirnya Bara tetap saja tidur di kamar tamu, Innara tidur sendiri dan mengunci pintu nya, Tara tidur di kamarnya.
Setelah dirasa tidak ada gangguan lagi, Innara membuka laptopnya, beberapa data masuk dan membuat nya tercengang.
"Baru beberapa bulan ternyata Lo dah bebas bro." Ucapnya dingin. "Dan Lo mau ganggu hidup gue? Belum puas Lo kemaren?" sambungnya. "Kali ini Lo bakal lebih lama di dalam sana anj***!"
Ting
"Waktunya bermain baby."
__ADS_1
Beraninya cuma lewat pesan, hadapi gue langsung Bangs**." Cela Innara.
Tok tok tok
"Siapa?"
"Gue ay."
"Pergi Lo."
"Ada yang mau gue bicarain sama Lo."
"Gue enggak."
"Ay..."
"Pergi." dengan lunglai Bara kembali ke kamarnya.
"Kenapa?" indra muncul dari belakang.
"eh bang indra."
"Iya kenapa kamu lemes gitu."
"Biasa lagi labil."
"ya udah ikut saya." Ucap indra dan diikuti oleh Bara.
"Kenapa bang?"
"Seperti yang Abang bilang kemarin, Bianca menjadi staf sementara di kantor dan bertugas hanya mengawasi Innara, tapi dia mengeluh jika Innara terlalu banyak tingkah, dia takut jika ketahuan sebelum waktunya."
"Lakukan saja tugasmu, Innara juga tidak akan diam jika mengetahui hal ini."
"Menurut Abang dia sudah tau."
"Abang selama ini sudah tau?"
"Dia belajar secara alami di masa hidupnya, saya jadi merasa bersalah."
"Maafkan saya bang."
"Kamu tidak salah, hanya waktu yang tidak mendukung." Tutur indra, "Dan kamu harus bersabar menghadapi dia, Buat lah dia membutuhkan mu, agar dia bisa kamu pegang dan tidak terlalu mandiri."
"Akan Bara usahakan bang, saya tega melihatnya melakukan semuanya sendiri."
"Dan kamu kenal dia beberapa bulan sebelum kalian menikah, pastinya kamu sudah tau lebih banyak dari pada saya."
"Keras kepala dan gila kerja."
"mungkin itu hanya luaran Innara, tapi Tara dan Innara punya persamaan, mereka handal dalam IT."
"Hah? Dari mana Abang tau?"
"Tara."
"Anak kamu yang bilang, waktu dia bantu saya memperbaiki jaringan di komputer saya."
"Tara bisa apa?" Bara takut pendengaran nya bermasalah.
"IT, Ya dia bisa."
"apa mungkin data tentang nya dan Tara tersimpan rapi dan sulit untuk di cari."
"Bisa jadi, karena dia menganggap tidak ada orang yang bisa ia percaya." Bara meremas rambutnya, bagaimana dia tidak tau hal seperti itu. "Saya harus gimana bang? sulit sekali untuk meyakinkan Innara."
__ADS_1
"Nara tidak seperti kebanyakan perempuan, dia tidak mudah luluh dengan hal-hal yang manis, kamu perlu tau itu."
"Pantesan gombalan aku sering mental." gumamnya.
"Sekarang saatnya kamu tunjukan ke pada Innara, bahwa kamu layak untuk diandalkan, dan cukup baik untuk menjadi suami." Indra menasehati iparnya, Bara hanya mengangguk menanggapi hal itu.
...****************...
"Ay, kita berangkat sama-sama ya?"
"Enggak Bar, Lo aja dulu, gue ada perlu.," Ucap Innara dan bergegas keluar dari kamarnya. "Gue cabut dulu ya, kita ketemu di kantor."
"Enggak sarapan dulu?"
"Enggak sempat, ada yang perlu gue lakuin." Innara yang biasanya naik ojek, kini dia membawa motor sendiri, itu juga motor butut milik kang kebun di rumah kakak nya.
"Nara kenapa Bar?"
"Enggak tau bang, ada urusan katanya."
"Lo enggak kejar dia?"
"Perlu?"
"Siapa tau dia dapat sesuatu yang membuka kasus ini lebih jelas." dengan saran indra Bara pun mengikuti Innara dengan menggunakan motor sport nya.
"Hay Ra ...." Sapa Sintia saat melihat Innara sudah berada di depan kos nya. "Tumben Lo mau jemput gue?" ujar Sintia, lalu memperhatikan motor yang di pakai Innara." Motor apaan ini Ra, pasti lama nih nyampe nya." tutur Sintia.
"Belum gue jawab salam Lo, dah nyerocos aja kayak petasan banting." Keluh Innara.
"Ya kita mau kemana?"
"Ikut gue aja, enggak usah bawel."
"Sarapan gratis tapi ya?"
"Beres, kalo cuma sarapan aja, apalagi kalo misi gue berhasil sisa waktu gue di kantor tiap pagi gue kasih sarapan."
"Waaaaahh...Serius Lo Ra?"
"Emang pernah gue enggak serius."
"Banyak sih, tapi gue bingung itu serius apa enggak."
"Alah, ngomong apa sih Lo." akhirnya Innara pun naik motor butut Innara dan mengikuti kemana dia pergi. "Gue kenal nih jalan, emang kita mau ngapain?"
"Jangan banyak tanya, Lo diem aja oke."
"Tapi...."
"Enggak ada tapi-tapian, kalo Lo mau selamat diem."
"Galak amat." lalu Sintia menutup mulutnya rapat-rapat. "Ada apa sih ni Ra, jadi takut gue."
Sedangkan Bara yang mengikuti nya dari belakang bingung, kenapa ada Sintia disana.
"Itu Andreas bukan?" Tanya Sintia.
"Hussstt ."
...BERSAMBUNG...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...
__ADS_1
Jangan lupa baca juga novel AUTHOR Lainnya ya🙏