
"Ra kamu dimana?" Tanya Indra melalui sambungan jarak jauh.
"Di kafe bang, kenapa? Tara rewel ya?"
"Iya, bad mood dia beberapa hari," Jawab indra sedih." Telpon dia sih, kasian, kangen mungkin sama kamu."
"Iya nanti ya bang, Nara masih repot ini." sambungnya.
"Kamu masih sering ketemu Angga?"
"Iya bang."
"Jauhi dia dek."
"Dia partner Nara bang."
"Jangan sering-sering berduaan, Abang tau kamu masih suka kan sama dia?" Tebak indra. "Kalo suami mu tau, dia pasti kecewa banget dek."
"Nara tau, tapi Nara harus gimana bang, kerjaan juga bareng sama dia, kampus juga, Nara bisa apa."
"Paling tidak kamu usaha lah dek, jangan di biarkan terus menerus, nanti kalian akan benar-benar terikat, kasihan pasangan kalian masing-masing."
"Iya bang, Nara coba." Ucap Nara malas, karena dia masih bingung dengan perasaan nya sendiri, satu sisi dia menghormati Bara sebagai suaminya, di sisi lain, dia masih sangat menyukai sahabatnya itu, sehingga dia tidak dapat berfikir jernih bagaimana cara memutuskan nya.
"Ngelamun?" Angga menyenggol bahu Nara, sedangkan Nara buru-buru memutuskan panggilannya.
"Apaan sih Lo?"
"Telpon dari siapa?"
"Bang indra."
"Tara gimana?"
"Ya Gitu deh, dia enggak pernah jauh dari gue, Lo tau sendirikan."
"Ya gue tau gimana dia, gimana kalo kita ke Jakarta."
"Gila, enggak ah."
"Lo enggak mau gue ketemu Tara?"
"Tara kangen sama Lo, tapi gue enggak bisa bawa Lo kesana, bisa-bisa bang indra ngegantung gue."
"Masalahnya apa sih Abang Lo sama gue."
"Karena Lo Angga,"
"Hanya karena itu?"
"Emmm."
"Enggak mungkin, Lo pasti cerita aneh-aneh sama Abang Lo."
"Enggak ada."
"Enggak percaya,"
"Ya udah, serah Lo." Jawab Nara lalu dia kembali fokus pada laptop di depannya.
"Lagi buat apa sih Lo, serius banget."
"Ini, profit kita bulan lalu, agak ada yang salah nih."
"Maksud Lo?"
"Coba Lo liat ini." Nara menunjukan tabel-tabel yang berjajar rapi.
"Kalo dari sini sih, emang iya, ada beberapa yang tidak sesuai, tapi ada udah Lo cek laporan yang terbaru?"
"Kalo yang lama salah, yang baru lebih lagi Angga." Nara menekan kalimatnya.
"Coba Lo liat lagi." pinta Angga, dengan berat hati Nara mengikuti perintah Angga.
"Terus apa?"
"Yang itu?" tunjuk Angga, lalu di cek oleh Nara.
__ADS_1
"Hah kok bisa begini?" ucapnya bingung.
"Kita hampir dua bulan enggak cek kafe Ra, tapi kita punya Jonathan sebagai orang kepercayaan, masak Lo ragu?"
"Gue enggak ragu Angga, tapi kalo laporan salah kan wajar, bisa di itung ulang." Ucapnya kesal, karena Nara merasa tertuduh.
"Ya ...iya juga sih?"
"Gue cuma tanya sama Lo, dan gue enggak nyebut siapa pun, atau elo disini yang curang."
"Hai nona...jangan macem-macem anda."
"Makanya jangan suka ambil kesimpulan yang enggak jelas." ucap Nara ketus. "Gue harus cek ulang ini, kok gue jadi curiga sama Lo." Ucap Nara jelas, dan itu membuat Angga kesal.
"Serah Lo." lalu dia keluar dari kantornya dan pergi.
"Dasar aneh." Ucapnya, lalu Nara mulai sibuk dengan pembukuan lagi. Lalu Nara mengambil ponselnya, dan menekan beberapa tombol. "Jo naik dong sebentar." Pinta Nara. Tidak lama kemudian Jonathan pun sudah berada di kantornya.
"Kenapa bos?"
"Gue minta penjelasan Lo soal ini." Nara menunjukan beberapa laporan yang baru saja di cetak pada Jonathan. "Coba Lo cek apa yang beda dari kedua laporan itu "
"Lo dapet laporan ini dari mana?" tanya Jonathan serius.
"Ya setiap bulan gue terima dari Angga Jo, dari mana lagi."
"Nanti malam gue kerumah Lo, gue kasih laporan yang asli."
"Ada apa sih ini? Jangan aneh-aneh Lo Jo."
"Gue mau jujur sala Lo bos, tapi gue enggak bisa kalo kita masih di kantor, karena takut ada yang denger pembicaraan kita." ucap Jonathan.
"Lo jangan adu domba Jo."
"Gue punya semua pembukuan di kafe bos."
"Atau Lo kirim filenya sama gue."
"Seperti nya, Lo harus ada temen deh untuk saat ini."
"Gue takut setelah Lo tau ini, ada seseorang yang bakal teror Lo."
"Cih...Lo mulai ngarang, kebanyakan baca novel Lo."
"Gue serius bos, " Ucap Jonathan sungguh-sungguh. Karena menurut nya itu tidak masuk akal, Angga orang yang sangat iya percaya selama ini, tidak mungkin melakukan kecurangan.
"Ya udah gue tunggu di rumah besok." ucap Nara, kenapa dia tidak mau bertemu malam ini, karena dia takut jika dia terbawa emosi, sebaiknya dia menghubungi seseorang untuk menemaninya." Tapi siapa?" Gumam Nara pada dirinya sendiri.
"Oke, biar gue up semua laporan yang gue buat,"
"Sip." jawab Nara. lalu Jonathan keluar dari kantornya. "Siapa yang bisa gue percaya untuk ngebantu gue?" Pikir Nara. Tapi di pikiran Nara tidak ada siapapun, karena memang selama ini Angga lah yang dia percaya.
Drrrttt drrttt drrttt
"Hemm."
"Ay...lagi apa?"
"Biasa di kafe."
"Kangen ay..."
"Enggak usah lebay, kita telponan berdua aja, enggak ada mama."
"Siapa bilang, mama ada di samping gue ay..."
"Alah, akal-akalan Lo aja."
"Mau bicara?" Belum di jawab tiba-tiba sudah berubah suaranya Bara. "Sayang, gimana kabar kamu."
"Mama?"
"Iya dong, siapa lagi."
"Nara baik ma, tumben Bara ada dirumah."
"Kok Bara?"
__ADS_1
"Eh iya, ayahnya Tara."
"Iya, lagi istirahat dia pulang, bawa Tara juga." Panggilan Pun berubah menjadi video call.
"Bunda...."
"Hay sayang, Lagi apa kok di rumah Oma?"
"Iya tadi di jemput ayah, jadi langsung kerumah nenek, nanti sore di jemput om Indra."
"Iya, yang pintar ya, jangan bikin repot Oma."
"Siap bunda..." jawab Tara riang, entah karena dia ada telpon dari bundanya atau dapat sesuatu dari Bara. "Bunda lihat ini." Tara menunjukan sebuah mainan.
"Nah benerkan." Batin Nara. "Tara suka?"
"Suka bunda,"
"Punya mainan tapi enggak lupa belajar kan?"
"Rajin dong bunda..."
"Pintar anak bunda."
"Wajah Lo kenapa ay...?"
"Kenapa emang?"
"Tambah cantik."
"Barata?" Bara pun terbahak melihat ekspresi Innara.
"Kenapa sih bikin gue kangen terus, Gue kesana ya?"
"Kerja yang bener, biar gue enggak repot cari duit lagi."
"Serius?"
"Maksud Lo?"
"Ya kalo Lo serius gue bakal kebut semua proyek biar Lo di rumah aja nemenin gue sama Tara ay."
"Tergantung usaha Lo Ta."
"Ya udah, gue pegang omongan Lo."
"Serah Lo."
"Kalo gue dah mapan semua, Lo janji enggak kerja lagi."
"Iya..."
"Serius? Tambah sayang gue sama Lo ay..."
"Lo sibuk?" tanya Nara ragu.
"Akhir pekan, senggang sih, makanya bisa jemput Tara."
"Bisa ke Bali enggak malam ini?" iseng aja, siapa tau ada respon.
"Kangen ma gue?" godaan Barata selalu kena sasaran, walau aslinya enggak juga.
"Gue perlu bantuan." Nara mencoba terbuka, dengan Bara.
"Gue dateng." jawab Bara enteng.
"Kalo repot enggak usah." Nara ragu kembali atas permintaan nya itu.
"Demi Lo ay..." Rayuan lagi... Bara selalu berusaha menarik perhatian Innara.
.
.
...BERSAMBUNG...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...
__ADS_1