
"Lo kenapa Tan? ketemu Angga Lo marah-marah melulu."
"Emang Lo enggak kesel Ra, dia tunangan tanpa kabar menikah pun enggak ngundang." Alasan Tania. Tapi sebenarnya bukan karena itu.
"Engg....gimana ya, gue enggak bisa jawab soal itu, mungkin dia punya alasan sendiri kenapa kita enggak di kasih kabar. Iya kan ga?" ujar Innara karena tidak mungkin dia menyalahkan Angga sepenuhnya.
"emmm..." Jawab Angga, karena dia juga bingung harus bagaimana.
"Kalian itu temenan enggak sih sebenernya?" keluh Tania lalu menyeruput minuman nya dalam-dalam.
"Udah Tan, jangan di ambil hati," Nara menenangkan Tania. Walau sebenarnya diapun kesal, tapi dia tidak bisa marah pada Angga, karena statusnya yang kini sudah berubah dan tidak ada yang tau.
"Jadi kapan Lo mau bawa Jenny ke dokter." Ucap Tania mengalih kan topik.
"Kenapa emang?" tanya Innara, karena belum tau masalah nya.
"Jadi gini Ra, Angga tu enggak percaya kalo itu anaknya, karena dia merasa enggak pernah melakukan hal itu dengan jenny." Teran Tania.
"Serius Ga?" tanya Innara kaget, sedangkan Bara yang masih menonton televisi tidak fokus dia lebih fokus pada perbincangan tiga sahabat yang banyak menyembunyikan rahasia itu.
"Iya, tapi gue bingung harus gimana."
"Kan dah gue bilang, bawa ke dokter tanpa sepengetahuan dia."
"Maksudnya gimana Tan?"
"Ya selama ini Angga curiga bahwa setiap hasil pemeriksaan yang dia terima adalah palsu."
"Terus."
"Dengerin dulu."
"Oke..."
"Nara." kesal Tania, sedangkan Tania hanya meringis. Tapi juga agak heran, kenapa semua yang iya Tanya kan pada Angga, Tania yang menjawab.
"Terus, gue bilang kayak tadi, bawa ke dokter tanpa sepengetahuan Jenny."
"Bener Tuh, jadi kapan mau di bawa?"
"Belum tau gue."
"Lelet dia Ra,"
"Cih..." Angga membuang muka.
"Jadi Lo masih perjaka dong kalo Lo enggak tidur sama Jenny?" tanya Innara, lalu Tania dan Angga saling berpandangan lalu saling membuang muka.
"I-iya..." Angga gagap menjawabnya.
"Serius? Tapi kayaknya enggak." Nara tidak percaya.
"Maksud Lo?"
"Ada yang kalian sembunyiin dari gue?" Tebak Innara Tiba-tiba membuat keduanya gelagapan.
"Apa ya g perlu kita sembunyiin dari Lo Ra?"
"Ya siapa tau, selama gue di Jakarta kan gue enggak tau kabar kalian berdua."
"Bunda....lapar." Teriak Tara tiba-tiba, hal itu merupakan penyelamat bagi Angga, tapi Angga tidak tau bahwa itu sengaja dilakukan , karena Bara yang meminta Tara untuk teriak pada Innara.
"Iya sayang, sebentar lagi ya " lalu Tara menyiapkan makanan untuk mereka ber lima.
...****************...
"Gimana laporan Lo Ra?" tanya Tania saat Innara sudah keluar dari ruangan dosen.
"Sejauh ini sih oke,"
__ADS_1
"Bagus deh kalo gitu, sekarang kita kemana?"
"Gue pengen ke resto, Lo ikut ya?"
"Sama Angga?"
"Iya, kan dia yang pegang semua."
"Heran gue sama Lo, percaya banget ma tu bocah."
"Kita dah kenal lama Tan, bukan baru kemarin."
"Iya sih."
"Nah Lo sendiri gimana?"
"Apanya?"
"Angga?"
"Maksud Lo?"
"Ya ampun Yan kita lagi ngomongin kepercayaan, ya sebatas itu lah."
"Sorry-Sorry, nge-lag gue."
"Dasar, mikirin apa sih Lo? Dari tadi pagi Lo enggak ada fokus-fokus nya kalo di ajak ngomong." tutur Innara." Skincare Lo habis."
"Nara apaan sih Lo." Tania mendorong kecil lengan Innara. "Gue magang dapet gaji Ra, skincare enggak bakal kehabisan, Amaaan."
"Habis Lo kek gitu, gue jadi kepikiran, cerita dong sama gue?"
"Gue enggak ada apa-apa Innara Basuki."
"Serah Lo deh, kalo Lo mau aja baru cerita."
"Minum dulu Ra, gue haus." pinta Tania. Dan di angguki oleh Innara.
" Bentar lagi kali, dia bilang kan tadi mau ikut." Jelas Tania.
"Lo ada apa-apa kan sama Angga?"
"Hah?" Tania kaget." Maksud Lo?"
"Ya kalian beda aja, dari pada biasanya."
"Perasaan Lo aja Ra, Gue enggak."
"Yakin?"
"Hemmm, yakin gue." Padahal di dalam hatinya sangat bergejolak, apalagi jika bertemu dengan Angga, jantungnya serasa ikutan pargoy.
"Gue enggak masalah Lo Deket sama Angga Tan, asal masih sebatas teman, karena Lo tau status dia gimana sekarang."
"Kan Lo juga sayang sama Angga Ra, mana mungkin gue ...."
"Dia akan jadi teman gue selamanya, seperti Lo, walau diantara kita ada rasa, tetap pada pendirian awal, just a friend."
"Friend zone, itu lah kalian, mau dekat salah mau jauh rindu."
"Hahahhahha.... Dapat kalimat absrutd dari mana Lo."
"Bener kan kata gue."
"Mungkin, tapi gue juga kangen kok sama Lo."
"Kangen Lo sama gue, dan kangen Lo sama Angga beda."
"Udah enggak di bahas soal hati gue, dah gue jelasin dari awal sama Lo, kalo gue sama Angga tetap akan bersahabat, enggak lebih."
__ADS_1
"Tapi kayaknya Angga enggak gitu."
"Gue enggak peduli, apalagi dia sekarang dah ada istri." jawab Nara dengan mata menerawang di langit-langit, mengingat betapa sayangnya dia pada Angga dulu, sampai dia tak rela jika dia harus menikah dengan orang lain, tapi dia sadar Angga bukanlah untuknya.
"kenapa Lo, kok jadi Lo yang ngelamun."
"Ah enggak, ternyata waktu berlalu cepet banget, sampe gue lupa kalo sekarang kita hampir kelar kuliahnya."
"Bener Ra kata Lo, kurang satu tahun lagi kita kelar, Lo dah ada rencana?"
"Gue balik ke Jakarta, itu permintaan Abang gue."
"Kafe Lo? resto?"
"Ada Angga sama Lo kan?"
"Maksudnya?"
"Ya nanti kalo gue jadi balik ke Jakarta, gue minta Lo tanggung jawab atas kafe gue,"
"Gue editor, bukan bisnis women."
"Hahahhaha.....bisa di atur itu."
"Serah Lo "
Grep... lagi-lagi Angga memeluk Innara dari belakang.
"Ga ngapain Lo?" Desis Tania tidak suka.
"Meluk sahabat gue "
"Cih..sahabat, Lepasin enggak..." Titah Tania dengan melebarkan matanya hingga mau copot.
"Iya Ga, lepasin, malu tau." Ucap Innara yang kini mulai tak nyaman jika Angga menyentuhnya. Dengan kesal Angga pun melepaskan pelukannya dan duduk di samping Innara.
"Gimana, beres laporan Lo?"
"Ya gitu deh, gue gitu Lo." Innara congka.
"Cih dasar Lo, sombong."
"Lo gimana?"
"Belum gue, masih males bikin laporan nya."
"Lo enggak pernah ngantor gimana mau bikin laporan Ga." Ucap Tania bikin Nara kaget.
"Serius Lo ga? katanya mau wisuda bareng, enggak jadi nih?"
"Gak bakal dia, mungkin kita berdua aja Ra," Ujar Tania sinis.
"Dasar cewek, ada aja yang bikin gue bete."
"Lo ngapain aja sih selama ini?" tanya Nara kesal.
"Sibuk mabok sama clubing." jawaban Tania membuat Nara tidak habis pikir dengan ulah Angga.
"Serius Lo ga?"
"Gara-gara Lo juga Ra."
"Dih...kenapa gue?"
"Lo ninggalin gue."
"Lo yang kewong duluan bege." kesal Tania, dan Nara semakin bingung dengan sikap sahabat nya itu.
"Tania ada apa sama Lo?" batin innara .
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...