Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Barata Abimanyu


__ADS_3

Sesampainya di rumah Nara langsung ke kamarnya, urusan Tara sudah berganti kepada Bu Rini dan mbak Tia. Nara membersihkan badannya yang terasa lengket sambil bersenandung, setelah semua selesai dan berpakaian lengkap dia mengambil dan membuka laptopnya, Nara mulai membuat rencana anggaran belanja untuk kafenya yang baru di tempat yang ditunjukkan oleh Angga, sedangkan Angga entah kenapa dia tidak tinggal lebih lama di rumah Nara, dia langsung pulang saat Tara dan Nara sudah turun, tapi Nara tidak ambil pusing karena memang ada kalanya Angga bersikap aneh jika saat sedang kesal ataupun lelah.


Nara mengambil kacamata nya di dalam tas yang iya bawa kemarin hingga sesuatu didalam amplop kecil berwarna biru terjatuh di lantai.


"Apaan nih?" Nara memungut amplop mini itu dan membuka nya. "Foto? foto siapa?" Nara mencoba menerka gambar siapa itu, lalu dia membalikkan gambarnya ternyata ada tulisan di sana. "Barata Abimanyu? Kayaknya pernah dengar nama ini, Dimana ya?" gumam Nara sendiri. "Barata.....Tara..ya Tara." lalu Nara masuk kedalam kamar Tara dan mencari sesuatu di dalamnya.


"Bunda cari apa?" Tara tiba-tiba muncul dari belakang nya.


"Foto ayah, Tara masih punya?" Tara mengangguk. "Bunda boleh lihat?" Tara mengangguk lagi dan berjalan ke arah tempat penyimpanannya.


"Ini bunda .." Tara menyodorkan selembar foto ukuran 3x4. "Itu ayah bunda.."


"Kok Tara tau?"


"Kan sama bunda?"


"Barata? Bagaimana bisa dia sampai disini dan menuin gue?" batin Nara. "Juan ya kak Juan, pasti dia tau tentang ini." sambungnya.


"Bunda kenapa? kok bingung?"


"Tara dapat foto ini dari mana?"


"Seperti nya Tara sudah pernah cerita sama bunda?" ucap Tara agak bingung.


"Tara pernah cerita ya? tapi bunda lupa..."


"Bunda enggak asik."Tara cemberut.


"Maaf ya.," Nara memasang wajah manisnya. memang wajah foto Barata yang dulu dan sekarang agak berbeda, dia memang atletis tapi sekarang lebih dari itu, macho!! dulu yang berambut sedikit gondrong sekarang udah kayak oppa-oppa Korea seperti kata Tania. "Barata Abimanyu memang ayah Tara." batin Nara. "Apa dia punya niat tersembunyi ya?" Sambungnya, Nara mencoba berfikir secara rasional, tapi tidak menemukan jawabannya. akhirnya diapun menyerah, masuk kembali kekamarnya, menutup laptopnya dan merebahkan diri di atas kasur yang empuk. "Enggak bisa mikir gue gara-gara foto jelek ini." gumamnya sambil melempar asal foto itu.


...****************...


"kak Ju lagi sibuk?" Nara mengirim pesan untuk dokter Juan.


"Kenapa Ra?" -Juan


"Bisa ketemu?"-Nara


"Sore ya, pagi gue ada praktek di rumah sakit."-Juan


"Oke, gue tunggu di kafe ya?" -Nara


"Sip..." -Juan


Nara melemparkannya kan benda pipih itu di atas kasur yang empuk, dia berhias sekedarnya saja karena hari ini dia akan kekampus.


Biasanya Angga akan menjemput nya tapi hari ini Angga berangkat dari rumah orang tuanya.

__ADS_1


drrrttt drrttt


Nara mencari ponsel yang iya lempar tadi lalu mengangkat nya.


"Pagi mam!" ucap Nara saat dia sudah menggeser gambar hijau keatas.


"Pagi sayang, kamu kekampus hari ini?"


"Iya mam, ada kuliah jam sepuluh."


"kalian berantem?"


"Maksudnya?"


"Sama Angga?"


"enggak tuh mam, dari kemarin kita baik-baik aja, cuma semalem nara tidur cepat, jadi enggak sempat balas pesan Angga." jelas Nara. "Emang Angga dimana mam?"


"Ada di kamarnya, lagi dikunci."


"Capek kali mam, males kuliah."


"Kalo papinya tau pasti marah nanti." Keluh maminya Nita.


"Nanti sebelum kekampus Nara singgah deh mam,"


"Tara baik mam, cuma tadi sempat nanyain Angga juga."


"Ya udah, nanti bawa sekalian Tara sama si Tia, biar main disini."


"Oke mam, Nara siap-siap dulu ya."


"Ya udah kamu hati-hati ya sayang."


"daa mami."


tuuuttt


Sambungan jarak jauh pun terputus.


Ya sejak Tara lahir mami Nita sudah tidak mau di panggil Tante oleh Innara, dia meminta Innara memanggil seperti Angga , wal hasil sekarang dia yang lebih sering di hubungi dari pada anaknya sendiri. aneh memang, tapi ya itulah mami.


"Kenapa sih Lo Ga?" Gumam Nara sambil memasukan beberapa catatan dan laptop kedalam tasnya, rencana hari ini dia akan ke perpustakaan mengerjakan tugas kelompok. Memang untk proyek ini Nara terpisah dengan Angga."Tara ...Ayo kerumah Oma." teriak Nara dari dalam kamar.


"Bunda ini teriak-teriak didalam rumah." Oceh Tara sambil mendekat kekamarnya bundanya. "Bunda kata Bu guru, enggak boleh teriak-teriak didalam rumah."


"Iya maaf, bunda lupa sayang," Ucap Nara yang masih sibuk dengan diktatnya. "Tara kita kerumahnya Oma, bilang sama mbak Tia " perintah Nara.

__ADS_1


"Horeee, ketemu om Angga."


"Kan tiap hari ketemu nak."


"Tara kangen bunda sama om Angga."


"Ya udah sana gih, siap-siap, biar bunda enggak kesiangan kekampus nya "


"Oke..." Tara berlari sambil memanggil mbak Tia.


"Dasar bocah habis bilangin bundanya jangan teriak malah dia yang teriak sekarang."Gumam Nara ya g berdiri sial berangkat.


Nara mengendarai mobil mini nya dengan kecepatan sedang, membawa serta Tara dan mbak Tia, Tara sepanjang jalan bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang ia pelajari di sekolah juga acara YouTube kesukaan nya hingga sampai di rumah Angga.


Pintu gerbang di buka, tampak rumah besar dan megah juga mewah, Nara sudah lama tidak singgah di rumah ini sejak Tara kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Nara keluar dari mobil di ikuti oleh Tara dan mbak Tia. belum saja Nara menekan bel rumah pintu sudah terbuka lebar....


"Innara......" sambut mami Angga lalau memeluk Nara yang sudah dianggap anaknya sendiri. "Dan ini cucu Oma...." Mami Nita merentangkan kedua tangannya disambut oleh Tara yang berlari menghampiri nya." Tara sayang, Oma kangen sekali." Ucapnya nya sambil memeluk erat tubuh mungil Tara.


"Tara juga kangen Oma," balas Tara membuat hati mami Nita semakin bahagia.


"Ya udah masuk yuk." ajak mami Nita dengan melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Tara melewati ruang tamu yang mewah. "Kita di ruang tengah aja ya, sambil nonton televisi." sambung mami Angga yang masih tersenyum lebar.


Tiba-tiba... BRAAAKKK


"Anak tidak tau di untung."Suara seseorang yang sangat mereka kenal. yaitu papinya Angga alias Om Radit.


"Aduh kenapa lagi itu papi sama Angga ya?" monolog mami Nita panik.


"Kenapa mam?" tanya Nara sambil melihat sumber suara yang berada di lantai atas.


"Itu papi mu, akhir-akhir ini sering uring-uringan." keluhnya pada Nara dengan tidak enak hati.


"Sebaiknya kami pulang dulu mam, tidak enak jika papi tau kamu kemari." Nara mencoba pamit dengan pelan.


"Maaf ya sayang, mami jadi tidak enak sama kamu, baru sampai sudah pulang."


"Enggak papa mam, nanti Nara telpon ya, mami jangan ikut emosi sama papi." Nara mencoba mengingat kan mami Nita.


"Iya kamu hati-hati," Ucapnya pada Nara. "Cucu Oma maafkan mami ya, hari ini kita enggak jadi main." wajah mami Nita memelas. Tara hanya mengangguk sedih, tapi dia adalah anak yang baik, mengerti semua situasi dan bagaimana harus bersikap.


"Kami pamit dulu mam..." pamit Nara dan keluar dari rumah mewah itu.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰


__ADS_2