Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Bali Am coming....


__ADS_3

"Ciieee... Pengantin baru, erat amat gandeng nya." Goda Kevin saat mereka tiba di salah satu kursi.


"Sama mereka?" bisik Nara agak terkejut dia pikir hanya mereka berdua tapi ternyata...., dan Bara pun mengangguk.


"Gue pikir Lo jarang jalan di Jakarta, dari pada berdua rame-rame lebih seru kan?"


"Hemmm."


"Sorry telat." Ucap Bara sambil menarik kursi untuk Nara. "Duduk Ra."


"Thanks." Nara duduk sesuai instruksi Bara.


"Gimana Ra, seru enggak di rumah mertua?"


"Kalian tau?"


"Biasa suami Lo ember." Ucap Caca.


"Bar?"


"Sorry sorry..." Ucapnya sambil nyengir.


"Kebiasaan Lo."


"Lo dah tau gimana kebiasaan Barata Ra?" Goda sisi.


"Enggak tau gue, taunya kalo tidur ngorok." Ucapnya sambil melirik Bara.


"Kalo itu bukan rahasia lagi Ra, dan bukan suami Lo aja, mereka nih kalo tidur juga ngorok." ceplos sisi.


"Elo si." Ucap Dio rada kesal juga.


"Udah enggak usah ribut, ayo pesan yang kalian mau."


"Belum pesan?" tanya Barata, karena dia pikir mereka datang tinggal makan.


"Ya belum lah, nungguin Lo lama banget."


"Iya iya...."


"Dah masih aja itu di bahas, ayo Lo mau pesen apa?" Caca mengkomando pesanan.


"Mau apa Ra?"


"Apa aja yang enak disini?" tanya Nara pada pelayan.


"Ini yang rekomended kak." Pelayan menunjukan beberapa menu.


"Ya udah, aku mau ini, ini, iniii dan ini." Ucap Nara santai, karena dia juga ingin tau menu seperti apa itu, mungkin saja cocok untuk kafenya nanti. "Oh mbak tambah ini." sambung Nara.


"Banyak banget Ra." Ucap Bararta.


"Itu kan buat Lo sama gue."


"Gue mau pesen ini aja."


"Ya udah di pesen lagi aja."


"Gitu?"


"Hem..."


"Lo enggak lagi hamil kan Ra." tanya Kevin.


"Maksud Lo?"


"Ya kalo orang hamil makannya banyak." sambung Kevin.

__ADS_1


"Kepo Lo." ucap Nara.


"Serius Lo hamil...? Sambung Aldo. "Waaahhh hebat bener Lo Ta." sambung Dio.


"Kalian ini kenapa sih? Dia punya suami kalian yang ribut." Lexi menengahi.


"Iya nih, pada resek." Caca menimpali. "enggak usah di dengerin Ra, mereka emang bawel." sambungnya. "lanjut pesen apa enggak nih?" Tanya Caca. Dan yang lain mulai mencari menu favorit mereka.


"Lo pesen banyak buat apa sih Ra?" Tanya Bara pelan, karena itu menu belum pernah ada yang berani mencoba.


"Kenapa emang? Enggak boleh?"


"Boleh, tapi namanya aneh, entar malah enggak kemakan."


"Cemen Lo, kalo enggak enak ya enggak usah di makan Ta."


"Serah Lo deh..."


"Gue cuma cari inspirasi menu baru di kafe, karena kan tiap bulan kita ada menu baru."


"Ooohhh ternyata." Ucap Barata, yang sudah paham maksud Nara memesan makanan aneh itu.


...****************...


"Gue balik." Ucap Innara pada Barata saat di depan pintu masuk bandara. "Jaga Tara buat gue." sambungnya lagi dengan sedih, karena dia tidak pernah jauh dari anaknya itu," Kabari gue kalo Tara kenapa-kenapa." imbuhnya.


"Gue akan jaga anak kita Ra, Lo tenang aja disana, gue akan segera nyusul Lo saat urusan disini udah kelar."


"Emmm." Innara mengangguk.


"Lo hati-hati disana, jangan nakal, ingat Lo udah punya gue."


"Cih..."


"Gue sayang sama Lo, rasa sayang gue masih sama sejak dulu, dan asal Lo tau semakin hari semakin bertambah sejak Lo jadi istri gue."


"Gombalan Lo enggak mempan buat gue."


"Gue kenapaaaa?" batin Nara.


"Diem aja..."


"Iya...."


"Iya apa?"


"Ya itu..."


"Apa??" Goda Bara, dan itu menambah wajah Nara sama seperti kepiting rebus.


"Udah deh ta."Innara cemberut.


"Oke-oke, Gue enggak akan godain Lo lagi."


"Ati-ati ya sayang....cup." tiba-tiba Barata mendarat kan kecupan di kening Nara dan itu membuatnya kaget.


"Bulshit."


"Serius..."


"Lo sering curi-curi kalo gue tidur." ucap Nara.


"Berarti Lo tau dong," Ucap Barata malu." kalo udah ketauan berarti enggak perlu nyuri-nyuri lagi dong." Godanya lagi.


"Mesum Lo."


Dimohon perhatiannya. Ini adalah panggilan boarding terakhir untuk penumpang yang dipesan ABS dengan penerbangan 943 ke Denpasar, Bali . Harap segera menuju ke gerbang A-3. Pemeriksaan akhir akan segera diselesaikan dan pintu pesawat akan ditutup dalam waktu sekitar lima belas m menit. Saya ulangi. Terima kasih.

__ADS_1


"Pesawat gue tuh." Ucap Nara." Gue masuk."


"Oke, inget pesan gue."


"Gue enggak janji."


"Jangan macem-macem Lo Ra."


"Hehehhehe." Nara tertawa.


"Gue enggak main-main Ra."


"Da Barata..., inget anak, gue titip sama Lo."


"Iya...."


"Bye...." Barata memandang punggung Innara hingga tubuh mungil itu menghilang di balik banyaknya Pintu.


"Gue bakal kangen banget sama Lo Ra..." Gumamnya.


Innara mengintip dari balik dinding kepergian Barata. " Sorry Ta, gue masih belum bisa terima hati Lo, hati gue masih milik Angga," Gumamnya lalu berbalik menunju gate-3 sesuai instruksi penerbangan. "Sekarang gue bener-bener sendiri di Bali." Ucap ya lirih dengan menghela napas berat.


...****************...


"Biasanya ada Bu Rini, sekarang gue harus sendiri di rumah." keluhnya saat masuk kedalam rumah yang sepi dan terasa lembab. "satu bulan lebih gue pergi, rumah rasanya beda banget.." lalu dia melangkah masuk kekamarnya dan membiarkan kopernya yang masih ada di ruang tamu. "Kamar kesayangan gue sejak tahun itu, dan sekarang rasanya sepi banget." imbuhnya.." Hhhhhhh... " Nara mendesah dan mwbringkan diri diatas kasur yang dingin.


Drrrttt drrttt drrttt tiba-tiba ponsel Nara bergetar.


"Emmmm." jawabnya tanpa melihat pemilik panggilan.


"Sayang sudah sampai rumah nak?" Ucap seseorang dari sebrang.


"Mama." Innara langsung duduk bersiap. "Iya ma, Nara baru saja sampai." jawabnya sopan.


"Kamu sudah makan belum tadi?"


"Sudah ma, waktu di bandara."


"Jangan capek-capek ya nak, banyak-banyak istirahat."


"Iya ma..."


"Oh ya, besok Tara mama bawa ke rumah ya?"


"Terserah Bara saja ma."


"Sayang, kok masih Barata?"


"eh...emmm... Anu, itu, ayahnya Tara mama."


"Nah gitu dong..."


"Jadi kamu kasih ijin ya?"


"Iya ma..." jawab Nara. "Mungkin saja Barata tidak akan mengijinkannya, karena di juga sibuk kerja tidak mungkin sanggup sekaligus menjaga Tara.


"Ya udah, terimakasih Nak, kamu istirahat yang cukup ya, sekarang nama tutup." Panggilan pun berakhir.


"Mertua gue emang the best." Gumamnya lalu melemparkan benda pipih itu. "Mending gue tidur bentar terus mandi." Ucap Nara dan matapun mulai terpejam perlahan diapun sudah berada di alam mimpi.


Brakkkk.... Tiba-tiba suara mengagetkan Innara.


"Ada apa sih?" keluhnya lalu perlahan membuka matanya. "Elo,..?"


.


.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...


__ADS_2