Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Rasa bersalah


__ADS_3

Drrrttt drrttt


ponsel Juan bergetar.


"Bara?" Juan hanya melihat panggilan itu, tapi dia tidak berani mengangkat, bukan hanya karena Innara, tapi dia juga belum siap jika Bara harus bertanya banyak hal tentang Innara, sedangkan dia sendiri sudah jatuh hati padanya.


...****************...


"Nara sudah bangun Bu?" Tanya Angga Saat melihat Bu Rini menyiapkan sarapan.


"Sudah dari gelap tadi nak, sekarang di kolam renang, coba nak Angga cek." Ucap Bu Rini ambil menyodorkan minuman hangat juga cemilan di nampan. Angga paham maksud Bu Rini. lalu dia membawa nampan itu kebelakang untuk menemui Nara. dia melihat Nara di sudut kolam.


"Ra...." panggil Angga, Nara menoleh lalu tersenyum.


"Pasti ada masalah berat sampai dia berendam lama sekali." Gumam Angga dan duduk di gazebo tempat biasa mereka ngumpul. Tapi sejak tadi Nara tidak melakukan pergerakan sama sekali, lambat laun tubuhnya tenggelam ke dasar kolam," Ra ... Nara?" panggil Angga yang sedikit khawatir. tapi masih belum beranjak dari duduknya, satu menit, dia menit Rara tidak muncul lagi di permukaan dan kini Angga mulai panik, " Ra... Innara." Angga teriak memanggil Nara dan berlari kearahnya. Bu Rini yang mendengar teriakan Angga pun menyusul mereka ke kolam. "Bu Rini tolong." Angga sudah membopong tubuh Nara yang lemas dengan sekuat tenaga.


"Nara, kamu kenapa nak." bu Rini pun ikutan panik. Lalu membantu Angga menaikan tubuh Nara di pinggir kolam. "Langsung di bawa ke dalam saja nak Angga biar ibu gantikan pakaian nya." Pinta Bu Rini , karena Angga saat ini tidak bisa berfikir apapun.


"Oh iya Bu." Angga membopong lagi tubuh Nara sesuai permintaan Bu Rini. di dalam kamar mandi Bu Rini menggantikan semua pakaian Nara dan kembali meminta Angga membawanya ke tempat tidur. "Ra bangun Ra." Angga semakin panik dengan keadaan Nara.


"Ibu kasih minyak dulu nak Angga." Bu Rini datang dari kamarnya membawa minyak kayu putih. Angga mengangguk patuh. Bu Rini menggosok kan hampir semua bagian tubuh Nara dengan minyak. Tapi saya g Nara tidak menunjukkan tanda-tanda siuman.


"Kita bawa kerumah sakit saja ya Bu." Usul Angga dan Bu Rini setuju. sedangkan Tara tetap bersama mbak Tia pengasuhnya. "Mbak Tia nanti kalau mau antar sekolah Tara, pake taxi online saya ya." pesan Angga pada Tia dan memberi uang beberapa lembar .


"Ibu siapkan dulu pakaian Nara." Bu Rini mengambil koper kecil di isi dengan beberapa baju Nara dan Bu Rini membawa satu baju ganti, hal itu hanya sebagai formalitas, belum tentu dia akan menjaga di rumah sakit, pasti Angga yang akan melakukannya seperti biasanya.


****************


"Ju.." panggil Adam saat melihat Juan lagi asik dengan berkas yang ada di depannya. Juan mengangkat kepala nya melihat sumber suara.


"Apa?"


"Innara."


"Innara? Kenapa?"


"Di IGD, dia...." belum saja Adam menyelesaikan kalimatnya Juan sudah berlari kearah IGD dan meninggalkan berkas-berkas itu.


"Nara kenapa Ga?" Tanya Juan saat melihat Angga disana.


"Pingsan." jawab Angga, lalu Juan mendekat hendak memeriksa. "Sudah di periksa tadi." Juan mengangguk dan mundur perlahan.


"Kenapa Lo enggak hubungi gue tadi?"


"Gue panik, jadi enggak mikir kesana."


"Pingsan kenapa?"

__ADS_1


"Kelamaan berenang."


"Renang?" gumam Juan lirih, dia juga tau bagaimana kebiasaan Nara saat banyak pikiran atau masalah. "Langsung ke rawat inap aja Ga, biar gue ajuin ." ujar Juan pada Angga.


"Terserah Lo aja Ju, gimana baiknya Nara." Lalu Juan pergi mengambil formulir pengajuan daftar inap.


Semua sudah beres di urus Juan, karena Juan rumah dokter rumah sakit ini, dan Nara sudah di pindahkan ke kamar inap. Selang infus sudah dipasangkan, dan beberapa suntikan telah di berikan. Diagnosa dokter hanya kelelahan, tapi perlu pemeriksaan selanjutnya. Hari sudah beranjak malam, Nara baru sadarkan diri dari pingsannya.


"Ga..." Suara Nara serak khas orang bangun tidur.


"Ra...iya Ra, gue disini." Angga langsung menjawab Nara yang baru siuman.


"Haus..." Ucapnya lirih.


"Oke." Angga mengambil air mineral, dan membantu Nara meminum air tersebut. "Mau makan?" Nara menggeleng. "


"Gue ada di Mana?" Nara memandang sekeliling ruangan. "Rumah sakit ya?" Angga mengangguk. "Lo pasti panik, maaf ya."


"Gue enggak papa Ra, asal Lo sehat gue seneng." Ucapnya sambil mengelus rambut Nara.


"Ga jangan perlakukan gue selembut ini, lama-lama gue enggak bisa nahan perasaan gue." Batin Nara saat itu.


"Bengong aja, kenapa?" Gantian Nara yang menggeleng. " "Gue panggil dokter dulu ya " Angga menekan tombol bantuan, tidak menunggu lama, perawat pun datang dengan membawa beberapa perlengkapan.


"Gimana mbak Innara, sudah enakan?" tanya perawat lalu sambil memeriksa suhu tubuh, tensi darah juga mengganti cairan infus.


"Lumayan." jawab Nara sambil memperlihatkan Angga yang sedang menerima telpon.


"Saya bisa segera pulang kan sus?"


"Kalau pemeriksaan dokter besok bagus, maka boleh pulang." jelas perawat itu. Dan Nara hanya mengangguk. "baiklah, pemeriksaan selesai,"


"Terimakasih sus." ucap Angga dan mengantar perawatan keluar ruangan.


"Lo mau buah Ra?"


"Boleh."


"Tunggu ya gue kupas." Angga mengambil apel merah kesukaan Nara. Setelah di kupas Angga menyodorkan buah itu pada Nara. "Nih." Nara mengambil dan langsung memasukan kedalam mulutnya.


"Pelan-pelan!" peringatan Angga. "Gimana Manis?"


"Emm."


"Nih, tambah lagi, makan yang banyak."


"Gue laper Ga."

__ADS_1


"Itu masih ad nasi sore tadi dari rumah sakit."


"Enggak mau, pengen nasi Padang."


"Sudah malam Ra."


"Iya .."


"Ya udah gue beliin, tapi enggak papa Lo sendirian?" Nara cepat-cepat mengangguk. Karena dia memang sudah sangat lapar, seperti nya dia belum makan seharian. Tapi kalau di pikir-pikir Memeng betul, Dia memang Belum memakan apapun dari pagi. Lalu Angga pun pergi untuk mencari nasi Padang yang Nara inginkan. "Pasti lama, Lo tiduran aja kalo.ngantuk, kalo sampe gue bangunin." Nara mengangguk. Akhirnya Angga berangkat mencarikan nasi Padang pesanan Nara.


KLIK..


"Ra...."


"Cepat banget Lo balik Ga." lalu Nara mendongak menghadap pintu. "Ngapain Lo kesini?"


"Gue dokter Lo."


"Gue minta ganti."


"Ra ..."


"Gue enggak butuh basa basi Lo,"


"Gue minta maaf."


"Udah gue maafin."


"Tapi sikap Lo."


"Lo enggak bisa memenuhi permintaan gue kak, dan Lo keterlaluan."


"Gue minta maaf."


"Sebaiknya Lo pergi sekarang, sebelum gue bertindak yang enggak karuan."


"Ra ...,"


"Pergi Lo pergi." Teriak Nara dengan melempar bantal yang ada di belakangnya.


"Oke, gue pergi, tapi gue bakal kembali lagi." ucap Juan lalu berlalu meninggalkan kamar inap Nara.


"Kenapa Lo tega banget sih kak Ju." Ucap Nara sedih dan mulai menangis.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰


__ADS_2