
Menempuh jalan hampir dua jam lamanya, mereka berada kurang lebih dua ratus meter dari rumah sederhana di pinggir kota, rumah masih semi permanen, bawah di tembok setengah dan diatasnya papan.
"Lo yakin ini tempatnya Bar?"
"Gue yakin sesuai alamat yang di maksud." bara menunjukan Alamat tersebut.
"Seharusnya benar ini, tapi kenapa sepi?" Ucap Juan.
"Le...coba Lo cek pelan-pelan." Perintah Juan pada salah satu temannya, yaitu Leo. Leo mengikuti perintah Juan, dia mengambil sebatang rok*k lalu berjalan ke arah rumah yang di tuju itu. Dia Mencoba menyalakan rok*knya dengan korek api yang ada di tangannya.
"Siapa Lo?" suara seseorang dari belakang, hal itu membuat kaget.
"Anj*Ng." Ucapnya lalu membuang rok*k yang ada di mulutnya. "Biasa aja ngomongnya."
"Lo siapa, ngapain disini?"
"Ada korek enggak?" tanya Leo, bukannya menjawab malah mencari korek api, karena koreknya tidak bisa di nyalakan.
"Sial Lo," Umpat lawan bicara Leo, "Jangan main-main Lo sama gue." Imbuhnya.
"Eh bro, gue tanya Lo punya korek enggak, malah nyolot," Jawab Leo ikutan kesal.
"Mau Lo apa datang kesini?"
"Nanya Mulu, punya korek enggak." Tanya Leo agak ngegas.
"Bangsat Lo." Ucap lawan bicaranya yang sudah siap menghantam Leo, tapi berhenti saat pintu di buka.
"Berisik amat sih." Jonathan keluar dengan memicingkan matanya karena gelap, ingin melihat dengan jelas. "Ngapain Lo?"
"Ini Jo, ada orang mencurigakan."
"Udah cuekin aja, enggak penting dan Lo jangan bikin ulah, gue mau ***-*** sama Nara..hahahha." Ucapnya sambil tergelak masuk kedalam rumah lagi.
"Bangsat." Bara geram mendengar ucapan Jonathan, karena sunyi, jadi suaranya terdengar jelas walau jarak mereka agak jauh. Lalu Bara beranjak.
"Tunggu kode dari Leo." Juan mencegah.
"Mungkin itu hanya mereka berdua kak."
"Kita belum tau di dalam ada berapa orang." jelasnya, dan itu semakin membuat Bara kesal. "Tidak mungkin dia melakukan hal ceroboh jika sudah berniat menculik seseorang." sambung Juan. Walau dia kesal dengan sepupunya itu, tapi dia juga masih memiliki rasa pada Innara, kedua nya adalah orang berharga baginya.
"Pergi Lo dari sini!" usir pria itu lalu beranjak masuk mengikuti Jonathan. Dengan perlahan Leo menyelinap masuk dan bersembunyi, memperhatikan gerak gerik orang yang ada di dalam rumah itu.
"Ternyata cowok Lo enggak akan Dateng." Ucap Jonathan.
"Sudah gue bilang kan sama Lo, gue enggak punya cowok."
"Itu kata Lo, tapi kita semua tau Ra, gimana bucinnya kalian berdua." balas Jonathan. "Angga enggak bakal ngerelain Lo hanya demi kafe itu."
"Cih...ternyata masih ada orang pengen kaya tanpa kerja di dunia ini."
"Bab* Lo." umpat Jonathan.
__ADS_1
"Maki gue sepuasnya, karena hanya itu kekuatan yang Lo punya." Ledek Innara.
"F*CK ." Jonathan mendekat berusaha untuk mencium paksa Innara, tapi tidak berselang lama pintu sudah di buka paksa.
BRAAAK
"Anj*Ng." umpat Jonathan dan melihat siapa yang merusak hati baiknya."F*CK." dia mengambil tongkat bisball dan keluar membatu Reza dan dua orang lainnya.
"Bangs*t Lo." Umpat Bara dengan melakukan tendangan telak pada kepala Jonathan, dengan seketika tubuh Jonathan terkapar di lantai. Setelah melihat itu Bara langsung berlari mencari Innara. "Ra.... Innara." teriaknya beberapa kali.
"Ta...gue disini..." teriakkan Innara pun berkali-kali. Dan akhirnya mereka bertemu.
"Ay...Lo Enggak papa?" Tanya Bara sambil memeluk kepala Innara, karena memang posisi Innara sedang duduk. "Wajah Lo ay..." Bara mengusap bibir Nara yang sedikit berdarah.
"Aauu... Sakit Ta." keluhnya.
"Maaf sayang, maaf, biar gue lepas dulu ikatannya." ucap Bara, Innara hanya mengangguk.
"Gue enggak nyangka kalo itu bakal Lo yang muncul Ta."
"Lo berharap itu orang lain?" Tanya Bara walau, mengatakan nya membuat hatinya sakit.
"Enggak, bukan gitu." Nara menggeleng keras.
"Gue tau kok, Karena ini kan alasan Lo panggil gue kesini." dengan cepat Nara mengangguk.
"Dari mana Lo tau?"
"Barata." Bara selesai melepas ikatan pada Nara.
"Beres." ucapnya, lalu Nara berdiri perlahan.
"Aduh..."
"Kenapa ay?" lalu Bara melihat kalinya yang banyak luka-luka. "Bangs*t juga Jonathan, sampai bikin Lo kayak gini, Lo harus lapor polisi ay."
"Emmm."
"Jangan takut, gue selalu ada buat Lo."
"Thanks Ta."
"Gue suami Lo ay, jangan bilang begitu, seolah gue pamrih sama Lo " Ucap Bara kecewa. "Gue sayang sama Lo, dan gue minta maaf karena gue telat lupang kerumah."
"Yang penting Lo udah temuin gue." ucap Nara sendu. Lalu Bara mengangkat tubuh Innara dan membawanya diatas kuda besinya.
"Kita kerumah sakit dulu ya?"
"Em..."
"Lo kuat kan kalo naik motor?"
"Bisa."
__ADS_1
"Oke...pegangan yang kuat." Titah Bara. Nara pun menurut. Mereka berdua membelah jalanan di tengah malam yang dingin. Di ikuti oleh Juan dan lainnya. Sedangkan leo dan Gio masih disana menunggu kedatangan polisi.
Sampai di rumah sakit Nara langsung di bawa ke IGD untuk penanganan lebih awal, karena tidak ada luka serius maka Nara diperbolehkan pulang.
"Lain kali, terus terang aja sama gue, jangan kayak gini Ra." Ucap Bara saat mereka duduk di lobby menunggu taksinya datang.
"Sorry,"
"Jangan sungkan sama gue, gue suami Lo, jadi gue wajib jagain Lo, ngerti kan Lo?"
"Iya, jangan ceramah Mulu, nangis nih gue." Ucap Nara cemberut.
"Karena selain gue harus tanggung jawab sama bang Indra, ortu gue juga pasti ngamuk kalo liat Lo begini, apalagi tuhan..." Sambungnya lagi. Tanpa sadar Nara bersandar di bahu Bara.
"Maaf .." ucap Nara. Bara langsung memalingkan wajah ke arah Innara yang bersandar di bahunya dan tertunduk. "Gue takut, jadi beban Lo Ta, gue takut suatu saat kita berpisah dan gue takut kalo gue harus tergantung sama Lo." seketika Bara memeluk tubuh mungil Innara.
"Lo dan Tara adalah prioritas gue, sejak janji suci itu terucap gue enggak pernah berfikir untuk ninggalin Lo ay, jadi jangan berfikir buruk tentang gue!"
"Tapi banyak cewek-cewek cakep di sekitar Lo."
"Jadi cemburu?"
"Barata!!" Nara kesal dan berusaha lepas dari pelukan Bara.
"Sorry-Sorry." Ucapnya sambil tertawa kecil. "Mereka aja kan yang Deket, gue enggak." sambungnya lagi. "Dan satu lagi, Lo harus percaya sama gue, seperti gue percaya sama Lo."
"Lo percaya sama gue?" tanya Nara.
"Em..."
"Walau gue jalan Sama Angga?"
"Gue enggak percaya sama Angga!!" ucap Bara dengan menekan nama Angga.
"Serah Lo." Ucap Nara kesal. "Ayo balik, taksi udah Dateng " sambung Nara saat melihat taksi berhenti di depan mereka.
"Ya udah ayo." Bara mendorong kursi roda itu dan menaikan Nara kedalam taksi. "kenapa enggak naik motor Lo aja sih Ta," tanya Nara saat taksi sudah melaju.
"Udah malem banget ay, masuk angin Lo nanti."
"Kan ada jaket Lo."
"Gue yang masuk angin..."
"Hahahhahahha." tawa Innara lepas, kali ini dia tidak akan canggung lagi, karena bara adalah suaminya, Bara percaya padanya jadi dia harus menjaga kepercayaan itu.
.
.
...BERSAMBUNG ...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...
__ADS_1