
"Apa semenderita itu hidup Lo sama Jenny Ga?" tanya Tania dalam hati, lagi-lagi dalam hati. Kenapa dia tidak bisa berkata apapun pada Angga untuk mengungkapkan semua isi hatinya. "Kalo iya gue bisa bikin Lo bahagia Ga."
"Yang sabar ya." Akhirnya hanya ucapan itu ya g bisa iya keluar dari mulutnya.
"Untung ada Lo Tan, kalo enggak gue harus cerita sama siapa?" kalimat itu membuat Tania melayang, merasa sudah menjadi super woman untuk Angga.
"Gue akan selalu ada buat Lo Ga," Tutur Tania dengan tersenyum.
"Thanks ya." Angga memegang tangan Tania. "Setelah makan jadi ya kita pergi?"
"Masih maksa ya Lo?"
"Gue bosen Tan, kalo ada Lo lebih seru."
"Gue balik aja, besok gue ngantor."
"Ayo lah Tan..."
"Angga...?"
...****************...
"Kenapa wajah Lo?" tanya Innara saat Tania melakukan video call.
"Enggak papa gue,"
"Serius enggak kenapa-napa?"
"Hem..."
"Serah Lo Tan, kalo ada apa-apa bilang sama gue."
"Hem..."
"Ntar malem gue ke Bali,"
"Iya."
"Lempeng banget sih Lo? Ada masalah apa?"
"Enggak ada apa-apa Ra, gue baik-baik aja."
"Tania, gue kenal siapa Lo, gue tau persis gimana Lo, jadi percuma Lo bohong ma gue."
"Gue belum bisa cerita Ra, kasih gue waktu."
"Serah Lo, asal jangan berbuat yang aneh-aneh, gue enggak suka."
Brok brok brok....
"Apa tuh ribut-ribut Tan?"
"Enggak tau."
"Tan jawab gue, kenapa wajah Lo ketakutan gitu."
"Udah dulu ya Ra, besok kita ketemu, gue kerumah Lo." Belum sempat Innara menjawab ponsel sudah di matikan.
BROK BROK BROK
"Tania buka pintunya, gue tau Lo di dalem " Teriak Angga dari luar. " "Tania .."
Klik...
__ADS_1
"Mau apa Lo?"
"Tan please, gue mohon sama Lo gue jangan sampai kejadian kemarin Innara tau."
"Maksud Lo apa Ga? Lo kesini cuma mau bilang itu? Lo emang brengsek."
"Tan, gue akan tanggung jawab kalo terjadi sesuatu sama Lo, tapi gue mohon jangan sampai Innara tau."
"Fu**... Kenapa gue harus masuk dalam kehidupan Lo yang toxic sih, nyesel tau gue." Umpat Tania pada Angga.
"Gue enggak mau buat Innara lebih kecewa sama gue Tan, gue takut, gue enggak bisa dia ngeliat gue sebrengs*** ini."
"Innara lagi, Innara terus, pernah enggak sih Lo mikirin gue Ga, sekali aja Lo peka sama perasaan gue?"
"Maksud Lo apa sih Tan? Kita temenan dan akan selalu begitu."
"Temen enggak akan makan temennya sendiri."
"Oke, gue salah kemarin gue mabuk berat, dan gue...." Angga tidak sanggup membayangkan kejadian kemarin antara Tania dan dirinya. "Intinya jangan sampe Innara tau." lalu Angga pergi tanpa berbalik lagi kebelakang, sedangkan Tania terkulai lemas di lantai dan menangis tersedu-sedu.
"Lo jahat Ga, Lo jahat." Gumamnya sambil tetap bersimpuh di lantai.
...****************...
"Tante Tania....." Sapa Tara saat Tania masuk kedalam rumah.
"Hai jagoan, gimana kabar kamu sayang? Lama Tante enggak lihat kamu, udah Segede ini." Sambut Tania sambil memeluk Tara.
"Baik Tante, ayo masuk, ada ayah sama bunda di dalam."
"Ayah?"
"Iya ayo..." Tara menarik Tania masuk. disana sudah ada Bara yang sedang duduk di asik melihat acara televisi.
"Hai Tan..." Bara menyapa Tania karena dia adalah teman satu kelasnya. Tapi tetap saja dia fokus pada acara tersebut dan di susul oleh Tara yang langsung duduk di pangkuan Bara.
"Hai Tan," sapa Innara saat melihat Tania." Sini duduk." tawarkan Tania duduk di meja makan tempat biasanya Bu Rini menyiapkan makanan.
"Hai Ra..." sapa Tania dan sedikit heran. "Ngapain dia pagi-pagi sudah disini?"
"Siapa?"
"Tuh." tunjuk Tania, sedangkan Innara hanya tersenyum tidak menjawab.
"Nih minum dulu." Innara mengalihkan topik. " Nanti anterin gue kekampus ya!"
"Jadi kapan Lo mau kampus?"
"Hari ini sih rencananya, entah siang atau sore,"
"Terus ngapain Lo minta gue kesini?"
"ya buat nganterin gue kekampus dan juga gue kangen Sama Lo lah Tan, mau apa lagi, oh ya gue bawa sesuatu buat Lo, bentar ya." Nara berjalan kearah sofa membuka koper yang ada di sana dan mencari oleh-oleh yang telah ia siapkan untuk Tania.
"Ay, minggir enggak keliatan." ucap bara saat Nara berdiri menghalangi Bara.
"Bunda... minggir dulu, Tara enggak ngeliat." melihat pemandangan itu Tania berfikir sesuatu yang aneh, lalu berjalan mendekati Innara.
"Ini pemandangan kayak Dejavu ya?" tutur Tania saat sudah berada di dekat mereka bertiga.
"apaan sih Lo Tan, Nih hadiah Lo." Tania berdiri membelakangi televisi menutupi Tara dan Bara.
"Ayaaang.."
__ADS_1
"Bundaa..." Tara dan Bara kompak memanggil Innara karena kesal dia menutupi layar televisi.
"Jelasin ke gue apa ini Ra?"
"Apanya?" Nara agak bingung juga, antara hadiah atau Bara.
"Mereka." tunjuk Tania pada Bara yang asik memeluk Tara selayaknya anak dan ayah serta mereka masih sama-sama menggunakan piyama couple.
"Kenapa?"
"Dan Lo juga?"
"Apa sih Tan?"
"Piyama kalian sama, jelasin ke gue ada apa." Nah disini lah Innara tidak dapat berkutik. "Ayanngg?" Tania Bertanya tentang panggilan Bara pada Innara yang Tania dengar tadi.
"Ah ini kebetulan aja Bara liat dia beliin gue sama Tara, gue enggak tau kalo dia juga punya." jawab Nara di buat setenang mungkin.
BRAAAKKK
Suara gaduh terjadi di luar tiba-tiba.
"Ra... Innara." Suara Angga tergesa-gesa.
"Angga!! Ngapain Lo? Habis di kejar setan?" tanya Nara seperti biasa asal aja.
"Ra...." Greb...Angga memeluk tubuh Innara dengan erat.
"Ga...lepasin." Nara mencoba melepaskan pelukan itu.
"Gue kangen sama Lo Ra."
"Tapi gue enggak bisa napas Ga..." Suara Nara di perlembut kan, agar Angga mau melepaskan pelukannya.
"Lo lama banget sih perginya, dan kenapa enggak pernah angkat telpon gue?" Tanya Angga setelah melepas pelukannya tapi masih memegang bahu Innara dan menatapnya lekat-lekat. Wanita yang ia cintai ada di depannya tapi tidak bisa SE leluasa dulu saat bersama. Nara selalu menolak perlakuan mesra Angga.
"Gue....." Belum sempat Nara menjawab Angga memeluk nya kembali.
"Lepas..." Tania memisahkan mereka berdua. "Ada bocil disini." Desisnya lalu duduk kembali dimana Innara membuat kan minuman hangat.
"Ngapain Lo disini?" Angga bertanya pada Tania dengan nada tidak suka. Bukan karena apa, tapi Angga takut jika Tania mengadu pada Innara.
"Gue yang panggil dia kesini." Jawab Nara dan kembali ke balik mejanya. "Minum apa Lo?"
"Biasa nya aja." Jawab Angga dengan pandangan tidak lepas dari Innara.
"Norak Lo." Keluh Tania dengan sikap Angga. "Inget bini lagi bunting." Sambung nya.
"Apaan sih Lo?" ketusnya.
"Oh ya, gimana Jenny, apa kabar dia? Sudah tau jenis kelamin ANAK Lo?" tanya Innara sengaja menekan kata anak.
"Enggak tau gue."
"Yang perhatian dong Ga jadi suami, kasian istri Lo, lagi hamil lagi." Nasihat Innara.
"Beda kalo istri gue Lo Ra, gue bakal jagain Lo dua puluh empat jam." Batin Angga.
"Malah bengong." Sindir Tania, dia tau apa isi hati Angga dan itu membuatnya kesal.
"Lo kenapa Tan? ketemu Angga Lo marah-marah melulu."
"Emang Lo enggak kesel Ra, dia tunangan tanpa kabar menikah pun enggak ngundang." Alasan Tania. Tapi sebenarnya bukan karena itu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...