
"iya Beby sepupu Lo yang sering datang ke kantor Lo?"
"Kenapa dia?" pikir Bara, karena aslinya Beby itu sangat imut, tapi sayang Bara sama sekali tidak menyukainya, karena dia sudah jatuh cinta sejak lama pada Innara. Walau mereka pernah di jodohkan dan Beby menolak waktu itu, Bara pun biasa saja. Tapi setelah pernikahan nya dengan Innara dia muncul dan ingin kembali. Lalu apa hubungannya dengan kasus makanan beracun itu.
"Dia sebelumnya punya pacar," ucapnya." Lo tau siapa?" Edo menjeda kalimatnya Dan bara menggeleng. "Jonathan."
"Fi**, bisa-bisa nya mereka mempermainkan gue dan Innara."
"Dan Lo tau siapa Andreas?"
"Lo tanya Mulu, mana mungkin gue tau semua karyawan gue bege." Umpat Bara kesal. "Siapa dia Jangan bikin gue tegang."
"Adiknya Jonathan."
"Anj***, jadi mereka berencana ngeracunin gue sama Nara."
"Tul, mereka berdua mau bikin Lo sama Nara berantem dan pisah dengan dalih kalian berdua (Bara dan Innara) yang sudah jeblosin Jonathan ke penjara
"Itu lah orang bego, bukannya sadar malah bikin runyam ." keluhnya." Oke-oke, gue ikuti permainan kalian."
"Innara bagaimana?"
"Urusan gue." jawab Bara.
"Lo yakin bisa?"
"Innara pasti ngerti situasi sekarang, walau dia enggak pernah melihat wajah aslinya."
"Maksudnya?"
"Gue tau dia kalo kerja pasti total, jadi kalo hal seperti ini seperti ini saja dia pasti bisa." Ucap bara mengingat istri di rumah. "Gue jadi kangen Lo Ra."
"Udah enggak usah cengar-cengir inget bini,"
"Makanya Lo kawin."
"Udah kawin gue, nikahnya aja yang belum."
"Awas penyakitan."
"Mau di lanjut atau stop." Ancam Edo karena membahas tentang dirinya.
"Lo tu enggak pernah mau denger nasehat gue do."
"Basi tau nasehat Lo."
"Serah Lo deh." Ucap Bara dan langsung duduk di sofa.
",Terus apa rencana Lo setelah tau ini?"
",Gue ikuti permainannya, pertama gue masuk dulu dalam permainan mereka, sampai mana mereka mampu."
"Lo yakin Innara setuju?"
"Dia enggak perlu tau."
"Target Andreas itu Innara bro."
"Innara tau harus giman."
__ADS_1
"Yakin banget."
"Serah gue lah, dah gue tidur dulu ngantuk."
"Enggak balik?"
"Nanggung."
"Enggak kangen istri?"
"Ada Tara di kamar, enggeh bisa main gue."
"Dasar, otak Lo itu cuma begituan aja."
"Masalahnya susah banget dapetin nya."
"Makanya baik-baik sama istri."
"Lo temen gue bukan sih mojokin gue Mulu," Kesal bara. "Dah gue tidur dulu, kali ada yang lain bangunin gue."
"Ay, jangan tungguin gue, gue tidur di kantor, besok pagi-pagi gue pulang," pesan yang dikirim oleh Bara pada Innara. "Dia sudah tidur belum ya? Atau gue video call aja." gumamnya, kalo dia dah tidur gue ganggu." Sambung nya lagi.
"Anj*** Lo berisik banget, dah tidur sana. Bangs**."
...****************...
"Hay ladies, boleh gabung?" Andreas menyapa saat melihat Innara dan Sintia duduk di tempat semula.
"Hay an...."Jawab Sintia senang, "Duduk aja."
"Thanks."
"Santai jam kali, ada Innara yang jemput gue." jawab Sintia yang masih memperhatikan wajah Andreas tanpa berkedip. "An... Cakep banget sih Lo, mau enggak jadi pacar gue." Gumamnya, walau lirih tapi mereka bertiga yang duduk di bersamanya mendengar, sedangkan Andreas hanya tersenyum.
"Bukan Lo target gue anj***." Umpatnya dalam hati tanpa mengubah ekspresi wajah nya, sambil melirik Innara.
"Sadar woy, sadar, obat bius nya udah enggak ngefek kalo sekarang." Tutur Innara yang melihat Sintia seperti ke sambet dengan kegantengan Andreas.
"Udah pada pesen belum?" Tanya Andi yang merubah topik mereka.
"Kita udah," Jawab Innara, lagian tidak mungkin mengharap Sintia menjawab karena dia udah kesambet Andreas.
"Eh bagi nomer wa kalian dong." Pinta Andreas sambil menyodorkan ponselnya pada Innara, tapi langsung di sahut oleh Sintia.
"Gue simpenin nomer nya," Ucapnya senang, karena setelah pertemuan pertama mereka Sintia selalu membahas Andreas, sampai Innara bosan mendengar nya. "Nih udah, Andi kalo mau nomer kita boleh kok minta sama juga." Ucap sintia polos.
"Apaan sih Lo sin?" ucap Innara.
"Makanan datang," Ucap ibu-ibu yang sering melayani mereka.
"Gado-gado?" Tanya Andreas sambil memperhatikan makanan Sintia dan Innara. " Ganti menu sin?" Andreas basa basi.
"Lah masak iya gue makan gudeg tiap hari an, bisa diabetes gue, apalagi ada Lo tiap hari di samping gue." Goda Sintia pada Andreas.
"Bisa aja Lo."
"Kalian udah pesan? Pesen apa?"
"Soto ayam."
__ADS_1
"Wah itu favorit Innara." Ucap Sintia, walau sebenarnya Innara lebih menyukai makanan ke korea-koreaan atau jepang..
"Serius Ra, ini makanan favorit Lo?"
"Mungkin." Jawab Innara sambil memasukan beberapa sayuran kedalam mulutnya. "Gimbab juga gue suka." Ujarnya dengan melihat Andreas.
"Wah makanan korea kan?"
"Em..."
"Tapi untung ya makanan kemaren enggak Lo makan, bisa jadi Lo yang masuk rumah sakit." Ucapnya dengan tertawa lepas.
"Dari mana Lo tau itu gimbab? Kayaknya gue enggak bilang itu jenis makannya waktu itu." tawa Andreas langsung lenyap.
"Ah Lo lupa kali, pernah bilang kok Lo." Andreas tetap berusaha tersenyum.
"Tebakan. Gue enggak salah kan?" Innara menatap lekat Andreas.
"Maksud Lo apa?"
",Iya ih Ra...Lo lupa kali bilang kalo makanan yang gue makan gimbab, jangan bikin gue tegang Ra."
"Mungkin aja bisa kebetulan aja sin, tapi mata enggak bisa bohong sama gue."
"ayang udah ya enggak usah di peduliin Innara, dia emang bisa over thinking." Ucap Sintia sehingga Andreas bisa lepas dari tatapan Andreas.
"Lo tau ndi?"
"Maksud Lo?"
"Temen Lo psiko?"
"Nara..yang psiko itu Bara, kenapa Andreas sih." Sintia tidak terima jika idolanya di jadikan tersangka atas celakanya kemarin.
"Terserah Lo, kan Lo yang kena racun, besok-besok nikmati racunnya lebih banyak ya tuan putri." Ucap Nara kesal dan berdiri meninggalkan tempat itu. Lebih baik dia keatas menemui bara, entah kenapa tidak melihatnya semalaman dia rindu seperti ini, tidak seperti biasanya.
"Ra..kok gitu? gue enggak bermaksud...." Innara tidak mendengar kelanjutan kalimat Sintia, karena sudah sangat malas untuk mendengar hal-hal yang tidak penting.
"Ngapain Lo disini?" tanya Prita saat mendapati Innara hampir mencapai pintu. "Bos ada tamu, mendingan Lo pergi aja."
"Kenapa sih Lo resek banget, ada salah apa gue sama Lo?"
"Gue enggak suka aja sama Lo, Lo jelek sih."
",Cih...yang sok cakep, cakep gara-gara make up aja bangga Lo."
"dari pada Lo kegatelan."
"Udah gue garuk, jadi enggak usah ganggu gue, gue mau masuk."
"Enggak bisa." Prita menghalanginya di depan pintu.
"Minggir Lo." Innara mendorong Prita hingga menjauh dari pintu.
Klik
"Barata?" Innara membuka mulutnya lebar-lebar melihat pemandangan yang ada di depannya.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...