
Setelah keluar dari perpustakaan Nara berlari dengan cepat menuju mobilnya, berharap tidak ada kemacetan yang menghalanginya.
"****." Umpat Nara mendapati mobilnya terjepit . "Bego banget sih mereka parkir nya ." sambung nya lagi. tidak mau menunggu lama Nara keluar dari parkiran dengan berjalan cepat. "Naik ojol aja biar cepet." ujarnya sambil membuka salah satu aplikasi ojek online.
Tiiin tiinn
"Aj*ng..." umpatnya lagi. "Bara?" Nara mengerutkan keningnya.
"Ayo..." Nara bertanya dengan kode tangannya. "Lo butuh tumpangan cepet kan?" Nara mengangguk. "Ya udah ayo, gue anter."
"Serius?" Bara hanya mengangguk. "Oke.." Nara mengulurkan tangannya minta bantuan untuk menaiki motor sport nya.
"Pake!" Bara memberikan helmnya pada Innara.
"Thanks."
"Kita kemana?"
"Rumah Angga." lagi-lagi Bara mengangguk. lalu Nara memberi alamat pada Bara, kemudian dia menginjak gas dengan kecepatan tinggi. Nara yang terbiasa dengan kecepatan sedang memeluk erat pinggang Bara. sepanjang jalan mereka hanya diam, Bara memperhatikan Nara dari kaca spion, wajahnya sendu matanya berkaca-kaca seolah ingin menangis.
"Lo kenapa Ra?" Hati Bara sakit melihat hal itu.
"I'aM oke Bar." Teriak Nara saat mate mereka bertemu di spion. bara hanya mengacungkan jempolnya. Mereka sampai di rumah Angga kurang dari empat puluh menit.
"Gue turun disini aja Bar," Nara turun dari motor nya dan di bantu Bara." thanks ya." ucap Nara sambil menyerahkan helm nya. "Lo enggak usah nungguin gue, Lo balik aja." sambungnya ." Bye Barata.." Nara berlari tanpa melihat lagi kebelakang.
"Barata?" ucap Bara lirih " dia inget gue? dari mana?" gumamnya kembali lalu melihat Innara yang sudah menghilang di pintu gerbang yang tinggi. "Gue takut Lo kenapa-kenapa Ra." sambung Bara, tapi dia tidak punya pilihan lain selain pulang. jika dia menunggu disini maka akan sangat mencurigakan untuk penduduk sekitar. setelah mengunci helm yang di pakai Nara, Bara melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
...****************...
"Mbak Nara di bawa Bu." bisik ART di rumah Angga. mami Nita mengangguk dan turun menemui Nara.
"Maaf sayang kamu harus ketinggalan kuliah." Ucap Mami Nita sambil memeluk Nara.
"Enggak papa mam, terus bara dimana sekarang?"
"Masih di kamar sama papi." Jawab mami Nita sendu "Ayo." ajaknya naik kekamar Angga.
Sesampainya di kamar Angga.
"Angga?" Nara mendekati Angga yang duduk lemas di lantai dengan wajah yang tidak bisa di jelaskan. "Pi?" Nara memanggil papi Radit seolah bertanya kenapa.
"Duduk!" ucap papi Radit dingin pada Nara. Nara mengikuti instruksi itu. "Kamu tau kenapa Angga seperti ini?" Nara menggeleng. "Jelaskan pada papi kemana saja saat kalian keluar menginap kemarin!" titahnya pada Nara.
"Memang nya kenapa Pi?" tanya Nara ragu.
"Jelaskan saja sama papi, atau papi buat Angga lebih parah dari ini!" lalu papi Radit berdiri. Nara melihat itu dia langsung berdiri di hadapan papi Radit
__ADS_1
"Papi stop Pi, stop." Nara mengangkat kedua tangannya menghentikan langkah papi Radit." jangan pukul Angga lagi, apapun kesalahan Angga Nara mohon jangan lukai Angga lagi." sambungnya.
"Kalau begitu jelaskan pada papi apa yang kalian lakukan, sebelum papi lebih marah dari ini." Nara menunduk sendu dan mengangguk. "Duduk!" Nara duduk kembali ke kursinya.
"Jadi begini Pi....." Nara menceritakan semua kegiatan yang mereka lakukan, dari sampai tempat tujuan meninjau lokasi hingga pulang, tanpa menutupi apapun kecuali urusan anak muda.
"Hanya itu?" lalu Nara mengangguk. "Lantas bagaimana bisa ada video seperti ini?" Papi menunjuk kan sebuah video berdurasi lima belas detik. Nara terkejut lalu membuka mata dan mulutnya lebar-lebar.
"Mustahil." Nara memandang Angga dan papi Radit bergantian.
"Lalu apa pendapat kamu tentang video itu?" tanya papi Radit sinis.
"Nara cek dulu ya Pi, sudah Nara kirim ke no Nara." ucap Nara sambil mengecek ponselnya. "Atau papi minta bantuan om Yuda untuk cek keaslian dari video ini?"
"Tidak perlu."
"Kalo ini video palsu papi bisa melaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik.
"Kalo itu benar maka papi yang malu." papi Radit menatap Angga tajam. sedangkan Nara memeriksa video dengan seksama.
"Seperti nya pernah lihat ini cewek." gumamnya. Angga dan papi Radit mengalihkan pandangannya pada Nara. "Ini cewek yang selingkuh sama Doni."
"Mantan Lo itu?"
"emmm."
"Cowoknya?"
"Ra..." Bentak Angga.
"Sorry-Sorry." Nara nyengir melihat Angga dan papi. "Nara yakin ini bukan Angga Pi." Nara mendekatkan video itu pada papinya. walau malu tapi harus di jelaskan. "lihat Pi, kalo di lihat dari belakang posturnya hampir sama, tapi cowok ini enggak berotot seperti Angga."
"Kamu pernah lihat Angga enggak pake baju." deg .. Nara keceplosan, bukan lagi pernah tapi sering Angga telanjang dada saat bersama Nara, dan itu hal yang biasa baginya.
"Sering lah Pi, hampir setiap hari kalo Angga renang di rumah Nara," jelas Nara dan itu membuat papi lega.
"lalu apa lagi?"
"ini ada tatonya Pi di lengan kirinya, sedangkan Angga enggak punya Tato," Jawab Nara, "eh ada sih tapi di dadanya."
"Kamu tau banyak ya tentang Angga." papi Radit mulai curiga.
"Papi mau Nara bantu enggak."ucap Nara sambil cemberut. Nara kesal juga dengan papi Radit.
"Iya iya, terus apa lagi?"
"Rambutnya lah Pi, Radit rambutnya lurus, dan ini agak ikal."jelas Nara kembali." Coba deh papi perhatikan." sambung Nara.
__ADS_1
"Dari yang Nara lihat seratus persen ini bukan Angga Pi."
"Lalu papi harus bagaimana." -papi radit
"Panggil aja om Yuda, kita bawa ke ranah hukum." -Nara
"Tapi ada resiko nya." Ucap papi Radit ragu.
"Apa itu Pi?" tanya Angga dan Nara bersamaan.
"Sementara Angga harus pergi dari Bali."
"Maksudnya?" Lagi-lagi mereka bertanya bersamaan.
"Ya biar gosip itu tidak menyebar kemana-mana."
"Kalo seperti itu enggak usah di usut dh Pi." ucap Angga lemas.
"Kalo enggak di usut ke enakan musuh papi." ucap Nara.
"Pengen banget gue pergi sih Lo Ra."
"Ya enggak gitu juga."
"ya terus apa?"
"Ya demi kebaikan Lo dan papi yang pasti."
"Kok kalian yang ribut, papi pusing ini."
"Angga enggak mau kalo harus pergi." ujar Angga kesal.
"Usut dulu saja, Pi dan untuk Angga kita pikirkan nanti." Ucap mami Nita yang dari tadi berdiam diri.
"Ya sudah, papi diskusikan dulu sama Yuda." lalu papi keluar dari kamar Angga di ikuti mami. Setelah semua pergi Nara duduk di tepi ranjang.
"Sini," Nara menepuk sisi kanan nya agar Angga duduk di samping nya. Angga menuruti perintah itu. "Coba gue liat." Angga memalingkan wajahnya ke arah Nara, di perhatikan dengan intens wajah tampan itu.
"Aduh Ra sakit." Nara menekan sudut bibir Angga yang terlihat berdarah.
"Gue tau, gue ambil kotak obat dulu." ucap Nara lalu berdiri, saat melangkah tangan Nara ditarik Angga dan Nara jatuh ke pangkuan Angga. mata mereka bertemu. dan...
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰
"