
Raffi dan Fia mencari di kafe-kafe dekat pantai yang sekiranya di kunjungi Tania, tapi sayang mereka tidak menemukan nya, Karen mereka tidak tau bagaimana sosok seorang Tania. sedangkan Bara pun sama, dia tidak menemukan juga. rasa putus asa sudah mulai melanda.
"Tan, Lo dimana sih?" gumam Bara." Apa gue telpon Angga ya?" sambung nya." dia lagi asik sama Nara, apa iya dia mau bantu gue, eh tunggu gue enggak punya no Angga." berhenti lagi dia berfikir. "Nara, ya hanya Nara yang ada di handphone gue selain Raffi dan Tania tentu nya." Bara monolog.
tuuutt tuuttt tuuttt
"Tuh Kan enggak diangkat." gumamnya dan ponselnya akan di matikan.
"Halo." -Nara
"Ah, eh...."-Bara
"Halo.."-Nara
"Eh iya Ra, gue Bara."-Bara
"Iya gue tau, kenapa?"-Nara
"Tania ..."-Bara
"Tania kenapa?" tanya Nara sambil melihat ke arah Angga.
"Tania ilang." -Bara
"Hah ..kok bisa?"-Nara
"Coba tanya Angga, mungkin dia tau dimana Tania." -Bara
"Oke, nanti gue kabarin." -Nara.
tuuuuutt ponsel dimatikan
"Tania?" Nara berucap pada Angga. lalu Angga mengambil ponsel Nara dan meletakkan di nakas.
"Dia udah gede, enggak perlu di cari." ucapnya sambil menikmati cemilan yang dei berikan oleh Tara.
"Lo tau di mana dia?"
"Enggak."
"Lo ada masalah apa sama Tania?"
"Enggak ada apa-apa Ra."
"Jujur sama gue Ga."
"Innara, apa yang enggak Lo tau dari gue?" tanya Angga, membuat Nara sedikit ragu, karena memang beberapa hari terakhir dia terlihat murung.
"Ya mana gue tau Ga, ya udah kalo enggak mau cerita." Nara membaringkan tubuhnya di kasur, di susul Tara di sampingnya sedangkan Angga masih duduk ditepi ranjang.
"Gue keluar."
"Em..." Jawab Nara dingin, dan itu sangat menyakitkan untuk keduanya, saling suka saling cinta tapi tidak ada yang mau jujur. Angga pun pergi dari kamar Nara entah kemana. Nara hanya memandang pintu yang tertutup rapat itu serasa ada bongkahan batu yang mengganjal di hatinya. "Kenapa jadi begini sih?" gumamnya.
...****************...
Malam sudah beranjak pagi, tapi Nara enggan untuk keluar, dia malas untuk berbasa-basi dengan penghuni penginapan itu. lelah hatinya menahan amarah dan cemburu, tapi tidak tau bagaimana dia melampiaskannya akhirnya dia pun tertidur lagi.
"Nara belum keluar?" tanya Raffi pada Angga. tapi Angga tidak menjawab, dia hanya tetap menatap layar ponselnya yang bergambar dirinya Nara dan Tara.
"Thanks ya Ga." ucap Bara menepuk pundak Angga saat dia hendak duduk di samping nya.
"Gue cari Tania bukan karena elu, tapi karena dia sahabat gue." Ucap Angga lalu memasukan ponselnya kedalam saku celana.
__ADS_1
"Terserah apa alasan Lo, gue cuma bilang itu." jawab Bara.
"Yah, what ever." Angga beranjak dari kursi hendak membangun kan Nara.
"Kemana Lo?" tanya Raffi kepo.
"Bukan urusan Lo." Angga pergi begitu saja sedangkan Raffi hanya nyengir, karena mungkin dia terlalu banyak bicara pada Angga yang pada dasarnya mereka bukan teman baik, mereka hanya kenal, itu saja.
"Tania mana?" tanya Bara saat Angga sudah menjauh.
"Sama Fia dikamar."
"Lo tau Tania kenapa?"
"Kayaknya lagi patah hati."
"Hah, yakin Lo?" tanya Bara tidak yakin dengan jawaban Raffi, tapi Raffi hanya menggendikkan bahunya.
...****************...
tok tok tok
"Ra...., belum bangun?" Angga mencoba membangunkan Innara, karena dia tidak tahan dengan keberadaan beberapa makhluk yang ada di dalam penginapan, hanya Nara dan Tara yang membuatnya tetap di sini. "Ra..,." Angga mengulangi panggilan nya. "Innara...."
"Apaan sih Lo Ga?" dengan kesal Nara membuka pintu kamar dengan rambut acak-acakan. itu membuat Angga tersenyum lalu masuk kedalam kamar. Tara masih tidur pulas dengan memeluk guling.
"Baru bangun? tapi kok udah wangi?" Angga mencium rambut Nara.
"Udah dari tadi, cuma males mau keluar."
"Terus tidur lagi?" Nara mengangguk. "Ya udah sana cuci muka, kita cari sarapan, bosen gue di sisi."
"Kita kesini mau survey Ga, tapi malah cuma jalan-jalan." Keluh Nara duduk di samping Angga.
"Apa?"
"Soal Tania."
"Dia temen gue juga Ga, bukan temen Lo aja."
"Emmm, jangan cemburu."
pletak.... Jitakan mendarat di kepala Angga.
"Sakit Ra."
"Jangan ngadi-ngadi."
"Iya enggak," Angga cemberut karena kepalanya sakit kena jitak. "Ya udah ayo, gue laper."
"Tara gimana?"
"Titip Fia aja yang masih sadar."
"Oke.." Nara lalu masuk kamar mandi cuci muka lalu keluar dengan wajah segarnya. "Yuk..."
"Cepet amat."
"Gue juga laper." Angga keluar dari kamar Nara dan disusul oleh Nara di belakangnya.
"Mau kemana?" Tanya Bara saat berpapasan dengan mereka.
"Cari makan." -Angga
__ADS_1
"Udah gue pesenin." Ucap Bara dan berlalu masuk ke kamarnya.
"Kita keluar aja dulu Ga, gue bosen." Ucap Nara dan itu membuatnya senang.
"Oke."
"Raf gue keluar bentar, nitip Tara ya kalo dia bangun." pinta Nara.
"Kan ada ayahnya kenapa nitip ke gue."
"Iya bilangin juga Bara, gue tadi lupa mau bilang." Tania menunggu jawaban dari Raffi Nara keluar dengan Angga.
"Pasangan aneh." gumamnya.
...****************...
"Ra....."
"Hem...."
"Lo ngerasa ada yang aneh enggak sih sama Tania?" tanya Angga.
"Kenapa?"
"Ya tanya aja, kok jadi aneh tu anak."
"Aneh gimana? Apa terjadi sesuatu kemaren waktu kalian keluar berdua."
"Lo tau."
"Emang gue buta."
"Iya, sorry soal kemarin."
"Kenapa sih? penasaran gue."
"Enggak ada apa-apa."
"Serius?"
"Em..."
"Oke kalo Lo enggak mau cerita." jawab Nara lalu mengalihkan perhatian pada ponselnya, sama halnya Angga, di sana yang menjadi wallpaper adalah foto mereka bertiga, Angga, Tara dan Nara.
"Oya Ra, setelah sarapan gue mau tunjukan lokasi yang bagus buat kita." ucap Angga memecah keheningan. "Kemaren ada teman bilang lokasinya oke, tapi gue pengen lihat langsung bareng Lo."
" Boleh...."
Di tempat lain, Tania masih mengurung diri di kamar, tidak mau buka suara, makanan sudah datang pun dia enggan menyentuh nya.
"Ayo dong Tan Lo makan." Bujuk Fia karena tidak tega melihat temannya meringkuk di pojokan. Tapi sayang Tania tetap bungkam. "Lo kenapa sih Tan. kemaren ko senangnya bukan main, e.. balik-balik Udah beda ekspresi." oceh Fia yang tidak tau tempat itu. "Tan....." tak ada reaksi apapun dari Tania akhirnya Fia menyerah dan dia keluar dari kamar dengan wajah lesu.
"Gimana? mau?" tanya Raffi yang duduk di meja makan. gelengan kepala Fia sudah sangat menjelaskan kondisi Tania.
"Biar gue coba." Ucap Bara. Fia hanya mengangguk menyerah kan semua pada Bara, semoga saja dia bisa membujuk Tania.
.
.
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰
__ADS_1