Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
ada rasa yang tidak sesuai akal sehat


__ADS_3

"Celingukan aja, nyari siapa Lo?" tiba-tiba bara muncul di belakang Tania saat Tania sedang mencari Innara.


"Kunyuk Lo, bikin gue jantungan aja." Ucap Tania sambil memegang dadanya.


"Lo belum jawab pertanyaan gue." - Bara


"Emm itu, Nara, Innara Lo liat enggak." -Tania


"Dua orang?" -Bara


"Enggak, satu orang aja, tadi gue suruh nunggu di sisi, tapi malah enggak kelihatan." jawab Tania masih celingukan. "Lo liat kagak?"


"Enggak.." Akhirnya Tania mengambil ponselnya mencoba menghubungi Nara.


"Enggak di angkat lagi." keluhnya tapi masih di dengar oleh Bara. "Bar Lo lihat cewek ini enggak?" Tania memperlihatkan sebuah foto Nara dan Tania.


"Ini Nara namanya?"


"Iya .., Lo liat?"


"Liat,"


"Terus dimana dia?"


"Pergi sama Juan?"


"Hah? Kok bisa?" Tania membuang napas keras." Lo tau mereka kemana?"


"Katanya mau ke kafe."


"Ohh ya udah, gue susul aja deh." ucap Tania." thanks ya Bar, gue duluan."


"Lo enggak ngajak gue balik bareng?" Bara mencoba menarik perhatian Tania.


"Lo gila? dah ya gue cabut." saat motor Tania hendak melaju namun di tahan oleh Bara.


"Kalo gitu gue yang ikut Lo." Tania mengerutkan dahinya dengan sikap Bara yang aneh.


"Lo waras?"


"Gue gila." jawab Bara lalu mengambil posisi di depan. "Mundur Lo .." tanpa perintah dua kali Tania mundur dibelakang ." Lo tau dimana kafe nya?" Tania mengangguk. " Arahin jalannya." lagi-lagi Tania mengangguk. dan mereka pun berjalan sesuai instruksi Tania.


"Gue penasaran sama tu cewek, banyak benget temen cowoknya." Batin Bara." Juan ikut - ikutan lagi, ada apanya sih tu cewek." sambungnya sambil geleng-geleng.


"Kenapa Lo? pusing?" tanya Tania saat melihat Bara geleng-geleng.


"Enggak."


"Kenapa geleng-geleng?"


"Kepo Lo."


"Dih males banget kepo sama Lo, enggak penting, yang penting gue sampe kafe selamat." Ucap Tania kesal.


Perjalanan mereka di tempuh kurang lebih tigapuluh menit saja, karena Bara mengendarai kuda besi itu dengan kecepatan tinggi, sampai Tania tanah napas sangking takutnya.


"Ini cafe nya?" saat mereka sudah ada di seberang jalan.


"Gila ya Lo bawa motor keceng banget, Li pengen mati?"


"Gue pengen cepet sampe, yang ini bukan?" Tania mengangguk, Bara langsung tancap gas kembali untuk parkir di area cafe. "Nih kunci Lo."


"Sini biar gue lepasin." Lagi-lagi Juan menarik tangan Nara untuk melepas tali helmnya.


"Gue bisa kak."


"Tapi gue pengen lepasin helm Lo."


"Alah, alasan aja Lo, tumben banget ada apa nih?"


"Dah gue lepas." Juan meletakan helm Nara di motornya.


"Mau masuk, atau lanjut?" tanya Nara.

__ADS_1


"Masuk dong, traktir americano ya .."


"Siap...yuk." Nara memimpin jalan mereka sedangkan Juan di belakang Innara.


"Baru sampe Lo?"


"Astoge..., heran gue ada aja jelangkung disekitar gue keluh Nara sambil ngelus dadanya.


"Kenapa sih Lo Bar?" Juan kesal karena berkali-kali Bara membuat dirinya kaget.


"Balikin motor gue."


"Lo gila?"


"Udah sini cepetan.." maksud Bara ingin melihat sejauh mana Nara memandang Juan, apa hanya karena motor yang dia kendarai atau karena Juan atau karena hal lain.


"Nih.." tanpa ragu dan malu Juan memberikan kunci motornya kepada Bara.


"Yuk Ra..." Nara dan Juan pun meninggalkan Bara yang sedang mematung.


"Gue pikir tu cewek bakal ilfil ma Juan, ternyata biasa aja." Batinnya.


"Lo enggak masuk?"


"Ha?..oh.."


"Apaan si Lo?" ha ho ha ho.., masuk enggak?"


"Boleh deh." mereka berjalan bersama saat masuk cafe bara mengedarkan pandangannya mencari sosok Juan. dan dia dapat kan, Juan duduk di dekat kasir.


"Lo ikut masuk juga?" Bara mengangguk." terus buat apa Lo minta kunci motor Lo? bikin malu aja di depan cewek, untung ceweknya Nara, coba cewek lain pasti ilfil ma gue." Oceh juan pada Bara karena kesalnya.


"Terus ngapain Lo masuk? dan disini bukan buat tamu kan?"


"Ini kursinya Nara, kalo Lo silahkan cari kursi sendiri sana.


"Terus Lo ngapain disini?"


"Kak Ju, Sorry ya gue tinggal dulu belum kelar urusannya." ucap Nara sambil meletakan americano juga cemilannya.


"Oke, lanjutin aja, gue santai." jawab Juan.


"Lo dah sampai sini aja Tan?"


"Sorry tadi gue...."


"Enggak usah alesan ma gue." Nara mengibaskan tangannya lalu pergi meninggalkan meja itu tanoa menyapa Bara.


"Terus gue minum apa?" Tanya Bara.


"Ya Lo pesen aja Bar."


"Lo udah ada aja, cepet lagi."


"Gue di traktir Nara." dengan cueknya Juan menyeruput minuman hangatnya. sedangkan Nara membuang napas berat.


"Hay Tan, mau pesen apa?" salah satu karyawan menyapa Tania.


"Gue gue capuccino dingin, dan ini" Tania menunjuk salah satu yang ada di menu." Lo Bar?"


"Samain aja " ucapnya malas.


"Ya udah itu aja deh."


"Oke, di tunggu ya, Agak lama tapi, Lo liat sendiri kan lagi rame." Ucap Tami, salah satu karyawan Nara. setelah Tami pergi mereka bertiga sibuk dengan ponsel masing-masing.


Klek , pintu cafe terbuka, sepasang muda mudi masuk dengan si cewek bergelayut manja.


"Duduk sana."


"Emm..." jawab si cowok dengan mengangguk.


"Dasar hidung belang, habis marah-marah sama ceweknya udah bawa cewek lain aja." gumam Tania.

__ADS_1


"Kenapa Tan?" Juan menimpali ucapan Tania.


"Temen Lo tu."


"Siapa?" Juan mendingan kepalanya mencari arah yang di tuju Tania.


"Kok bisa disini mereka?"


"Mana gue tau." Tania menggendikkan bahunya.


"Siapa sih yang kalian omongin."


"Tuh.." tunjuk Tania pake dagunya.


"Bukannya itu cowok Nara yang ngamuk di perpustakaan tadi?" tanya Bara tak percaya dengan penglihatannya. "Bagaimana bisa Nara di katain cewek murahan sedangkan dia jelas bermesraan dengan cewek lain." batin Bara. "Tapi kenapa gue jadi kesel ya?" bara mengerutkan kening semacam tak percaya apa yang dia pikirkan.


"Kenapa Lo?" tanya Juan, tapi bara cuma menggeleng, lalu mereka kembali menyantap cemilan dan minumnya.


"Bos..." Nara menoleh saat saat salah satu pegawai memanggil. Nara menjawab dengan alisnya." Lalu dia menyodorkan nampan berisi kopi hangat juga es moka."


"Nomer berapa?"


"Tiga belas." Nara mengambil nampan dan berjalan kearah meja nomer tiga belas. tiba-tiba Bara berdiri di depan Nara.


"Biar gue yang anter."


"Apaan sih Lo."


"Iya Ra, biar Bara aja yang anter." ucap Tania.


"Minggir." usir Nara.


"Biar gue."


"Enggak ada urusannya sama Lo." Akhirnya Bara mundur, membiarkan Nara lewat dan memperhatikan Nara dari kejauhan.


"Permisi, ini pesannya, kopi susu dan es mo...."


"NARA?" Doni kaget melihat Nara disana sedangkan dia sedang bersama Nilam. Nara diam melihat hal itu.


"Silahkan menikmati." Nara pergi meninggalkan Doni dan Nilam.


"Ra, gue bisa jelasin." Doni memegang tangan Nara.


"Lepasin."


"Gue lepas setelah Lo dengar penjelasan gue."


"Enggak perlu, gue percaya dengan apa yang gue lihat." ucap Nara lirih lalu menatap tajam Doni. "Lepas tangan gue."


"Ra...." Nara tidak pedulikan panggilan Doni, dia berlalu begitu saja.


"Ra..." kini giliran Bara yang menghentikan nya.


"Lo mau apa?" tanya Nara dingin.


"Gue... gue.." Bara bingung mau bicara apa, karena tindakan nya tidak sesuai dengan logika nya. "Kenapa sih gue?" batin Bara.


"Bar..." Tania mencolek bara yang masih memandangi punggung Innara. Nara pergi dari sana kemudian melepas celemek yang ada di pinggang nya sambil berjalan, meletakan nampan di meja pesanan dan keluar kebelakang cafe. "Lo Kenapa?" tanya Tania.


"Enggak.." akhirnya dia duduk kembali. ada perasaan yang aneh di hati Bara, tapi dia tidak tau itu.


.


.


BERSAMBUNG


Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰


Hayoooo..Bara kenapa??


tulis di komen ya

__ADS_1


__ADS_2