Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
please, ngertiin gue.


__ADS_3

Nara kembali masuk kedalam kamar, kamar mandi sudah terbuka, ruang ganti pun sama, dia tidak menemukan Bara di sana. Nara keluar kamar dan melihat Bu Rini di ruang keluarga bersama Tara dan mbak Tia.


"Bunda....."


"Hay sayang, sudah mandi?"


"Sudah dong,"


"Pantesan wangi..."


"Iya dong, tapi bunda belum mandi nih, masih pake piyama."


"Hehehhe iya belum sempat,"


"Oh ya bunda tadi Tara lihat ayah keluar tapi terburu-buru, kenapa ya bun"


"Wah bunda enggak tau, mungkin ada perlu sama kakek."


"Kakek siapa? Kakek Papi."


"Ya kakek iskandar dong sayang masak lupa, kalo kakek papi ada di Bali."


"Oh iya, lupa, dan itu om Angga."


"Tuh kan..."


"Tara besok kita cari sekolah disini tidak apa kan?"


"Emang kita enggak kembali ke Bali Bun?"


"Tara sama om Indra ya disini, bunda nanti setiap bulan pasti pulang."


"Enggak mau,"


"Kan disini sama nenek juga sama mbak Tia."


"Tapi bunda enggak ada."


"Bunda janji bakal pulang sama ayah kalo Tara nurut."


"Mau om Angga."


"Kalo Om Angga, nanti bunda tanya dulu."


"Tapi Bun...."


"Kalo urusan bunda sudah selesai, bunda kembali kesini lagi, dan kita ke Bali kalo kangen sam kota bali.gimana?"


"Janji ya?"


"Em...janji." Tutur Nara. " bunda mandi dulu ya, setelah itu kita pergi."


"Kemana?"


"Ada deh, nanti juga tau." ucapnya sambil menaiki tangga, " Oh ya, Tara ganti baju dulu ya."


"Oke..."


"Bang Nara keluar sama Tara." Nara menghubungi Indra, yang sedang di kantor.


"Kemana?"

__ADS_1


"Ke mall dong."


"Sama Bara?"


"Enggak."


"Kenapa? Kalian berantem?"


"Abang..!"


"Kalian sudah punya Tara, Ingat itu."


"Kan Abang yang mau Nara nikah sama dia, Nara enggak."


"Kamu akan bersyukur nanti atas kejadian ini, Abang jamin itu, walau sekarang kamu marah, benci atau apapun sama Abang dan juga Bara."


"Semoga saja Abang benar, walau berat Nara akan berusaha bang, asal jangan terlalu memaksa."


"Bara pasti tau itu,"


"Iya bang."


"Kamu hati-hati, kalo ada apa-apa hubungi Abang atau Bara."


"Iya." jawab Nara lalu memutuskan sambungan jarak jauh itu dan meletakkan ponselnya di ranjang kemudian mengambil bathrobe. Nara masuk kamar mandi dan melihat didalam sangat berantakan, dia rasa waktu mengintip tadi Nara tidak terlalu memperhatikan nya saat masuk sekarang sangat terkejut. "Bara kenapa?" Nara melihat cermin pecah dan ada darah disana. "Serius Bara semarah ini?" gumamnya, lalau dia merapikannya kemudian mulai membersihkan diri. Menyalakan shower membasuh kepala. "Tunggu, apa dia dengar gue telpon sama Angga?" Nara berhenti melakukan aktifitas nya, "Kalo hanya salah sebut aja tidak mungkin dia semarah ini, tapi jika dia tau semua di balkon tadi tidak salah dia marah." akhirnya Nara buru-buru mandinya, dia ingin segera menghubungi Bara. "Tapi Angga?" sambungnya. " Ah..nanti saja." dia segera menggunakan bathrobe, keluar kamar mandi, mengambil ponselnya. "Ayah Tara...mana sih?" ah ini dia."


Tuuutty tuuttt


Sampai panggilan terputus pun tidak dijawab oleh Bara.


 "Coba lagi."


Tuuuttt. Tuuutt.


Di tempat lain,


"Angkat tuh ponsel Lo, berisik tau," Ujar Aldo yang sibuk dengan komputernya. " siapa sih ,segitunya dia telpon Lo." Aldo berdiri mengambil ponsel bara yang ada di meja. "Kesayangan gue, istri Lo nih."


Bara segera mengangkat ponselnya. "Ini gue..." sambil bernapas terburu-buru. Sebenarnya dia ingin merajuk, tapi tiba-tiba saja egonya muncul


"Lo dimana?" jangan macem-macem Lo."


"Apa peduli Lo? Lo hanya peduli sama Dia,"


"Bar, Lo ngomong apa sih?"


"Gue denger semua Ra...gue denger, gue tau gue salah maksa Lo nikah sama gue, berharap Lo mau pertimbangkan perasaan gue, tapi..."


"Lo dimana gue jemput."


"Enggak perlu, tumpuk aja dia, enggak usah pedulikan gue."


"Lo suami gue, Lo inget?" mendengar itu hati bara sedikit luruh.


"Masih inget Lo kalo gue suami Lo, tapi kenapa hanya dia yang Lo peduliin."


"Bara kita udah janji akan menjalani ini pelan-pelan, dan Lo siap itu."


"Gue juga punya hati Ra."


"Gue akan mencoba Bar, Lo ...ahhhh." Nara kesal dan tidak bisa berkata apapun. Lalu menutup ponselnya dengan kesal lalu melemparnya. "Sial banget sih." Kini hati Nara semakin kacau, bagaimana dia bisa bertemu Angga jika seperti ini, tapi dia sudah janji pada Tara.

__ADS_1


"Ra... please jangan tinggalin gue." Ucap bara meraung di apartemen Aldo.


"Heran gue, Lo sayang sama istri Lo, tapi sikap Lo kayak gitu, Lo harus ya bersyukur orang yang Lo suka ada di samping Lo dan sudah jadi milik Lo, walau butuh waktu untuk menjadi utuh, dari pada gue harus selalu menjadi bayangannya." Ucap Aldo akan nasib kisah cintanya. "Kalo Lo emang begitu cintanya, kejar dia, terbuka dan tulus, jangan Lo jaim apalagi sok enggak peduli, Lo akan kehilangan dia jika Lo seperti itu," Aldo memberi nasihat.


"Ngerti apa Lo."


"Gue tau rasanya orang yang gue suka milik orang lain, sedangkan gue hanya jadi banyangkan nya." Aldo mengulang kalimatnya." Kejar dia, beri perhatian dengan jelas, jangan tidak perlu alasan untuk melakukan itu,"


"Sok tau Lo."


"Gue cuma kasih saran aja, terserah Lo sih, atau Lo mau kehilangan dia untuk kedua kalinya?" sejenak kalimat Aldo benar, dia tidak mau kehilangan Innara lagi, sudah tujuh tahun dia mencari, setelah ketemu dan bersatu apa iya dia rela? Akhirnya dia berdiri tapi di tahan Aldo.


"Mau kemana Lo?"


"Cari Innara."


"Lo mabuk."


"Gue enggak peduli, lepasin Gue!"


"Gue anter." sejenak Bara melihat Aldo, lalu menutup apa ucapan Aldo." Ganti baju Lo, bau..." Aldo mengambil kemeja putih milik Aldo dan di semprot sedikit parfum oleh Aldo. "Biar wangi."


"Apaan sih Lo."


"Ayuk berangkat."


"Em...."


...****************...


"Om Anggaaa." Teriak Tara, saat melihat Angga duduk. Angga menoleh dan menyambut pelukan Tara. "Tara kangen."


"Om juga kangen."


"Om kemana saja sih?"


"Om lagi ada keperluan, jadi jarang main kerumah Tara." bohong Angga." Gimana Tara betah disini?"


"Ya begitu deh."


"Kok lemes."


"Ya karena enggak ada om Angga."


"Sweet banget sih." ucap Nara di belakang Tara.


"Hay Ra..." Angga mau memeluk Innara, tapi di tolaknya dengan berpura-pura mencari ponsel. Tapi Angga yang sudah sangat merindukan gadis itu, Tidak pedulikan hal itu. Dia menarik tanga Nara dan memeluknya erat." Gue kangen Ra, kangen banget." ucapnya lirih.


"Lepas Ga, ini tempat umum." protes Nara.


"kalo gitu ayo kerumah Lo." ucapnya semangat.


"Sorry.."


"Maksud Lo?"


.


.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...


__ADS_2