
Kejadian semalam membuatnya semakin frustasi, dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya dan lagi-lagi mabuk di bar.
drrrttt drrttt
"Apa ga?"
"Bu tolong, ini bapaknya di jemput di Bar ABX!" Ucap pria di sebrang itu. Mendengar hal itu Tania pun menjadi panik. tanpa berfikir panjang dia masih memakai piyama dan menutup nya dengan jaket dan segera keluar mencari taksi untuk pergi kesana.
"Dimana pak orang yang panggil saya?" Tanya Tania pada keamanan disana.
"Iya ada di meja belakang." jawabnya, dan Tania langsung bergegas kesana. Disana dia melihat Angga tertidur di Sofa, dengan kancing terbuka dua.
"Bu Tania?"
"Iya pak, saya."
"Itu tadi saya menemukan panggilan cepat dari ponsel nya." lalu pria itu menyerahkan ponsel Angga padanya, wallpaper nya masih sama, Innara, Tara dan Angga tidak berubah sejak saat itu. Tania menghala napas lalu memasukan ponselnya kedalam tas nya.
"Ini orang yang bisa menyetir mobil Bu." Tutur pria itu kepada pria lainnya.
"Oh oke, bantu saya bawa dia keluar." Pinta Tania, dan merekapun keluar bar.
"Bebek betutu Naga Basuki ya pak."
"Baik Bu." mobil pun melaju kencang, karena jalanan sudah sepi. Selama perjalanan Tania hanya diam memandangi wajah Angga yang tampan, alisnya yang tebal, rahangnya yang tegas, Merupakan tipe-tipe idaman para cewek-cewek jaman sekarang. "Sudah sampai Bu, apa perlu saya bantu naik atas lagi?" namun tidak ada sahutan dari Tania, dia masih terkesima dengan wajah itu. "Ibu Tania!"
"Ah, ya pak kenapa?"
"Kita sudah sampai."
",Tolong bantu bawa ke atas ya pak!"
"Mari Bu, saya bantu." Pria itu membantu Tania.
"Terimakasih banyak dari kemarin bapak yang bantu saya."
"Saya juga kan di bayar Bu." Tania hanya tersenyum. Setelah pria itu turun Tania melepas sepatu Angga, kemejanya juga di longgar kan agar tidak sesak. Sekilas dia mengingat kejadian kemarin, lalu dia menjauhkan tangannya dari tubuh Angga. Tapi kali ini tangannya ditahan oleh Angga
"Angga?" Angga tidak menjawab tapi malah menarik tangan itu hingga tubuh Tania berada di atas tubuh Angga. "Lepasin ga,!"
"Sebenarnya gue lupa bagaimana kejadian kemarin hingga sprei kemarin ada bercak darahnya."
"Lo ngomong apa sih?"
"Gue pengen mengulang kejadian kemarin sayang." Bisik Angga membuat merinding tubuh Tania.
"Lepasin enggak?"
"Enggak akan."
__ADS_1
"Lo pura-pura mabok Ga?"
"Enggak gue mabok, tapi mabok Lo Tan?"
"Sial Lo, lepasin gue!"
"Setelah gue ingat kejadian kemarin."
"Jangan aneh-aneh."
"Gue cuma lengan tau dengan jelas, dan enggak akan gue lupain."
"Anj***, nyesel gue terima telepon dari Lo tadi."
"Tapi Lo enggak kesel ketemu gue kan?"
"cih..!!"
"Kenapa? Bukannya Lo selama ini perhatiin gue?"
"Hah?"
"Gue sadar Tan, tapi gue enggak peduli. Tapi beda sama sekarang, Lo yang rela ngelakuin hal itu sama gue secara suka rela, gue jadi ketagihan." Tangan Angga satunya turun merem** Bok*** Tania.
"Enggak lucu Ga lepasin gue!" Tania mulai tidak sabar dan kesal. Tapi bukan Angga namanya kalo tidak bisa memaksa seorang Tania. Lalu Angga membalikkan tubuh tania, kini sudah berada di bawah tubuh Angga.
"Lo cantik, tapi gue lebih suka Innara." Tania membolakan matanya. "Tapi karena Lo duluan yang relain kegadisan lo, gue jadi pengen lagi."
",Kemaren gue mabok Tan, jadi enggak jelas gimana rasanya." Ejek Angga. "Dan gue sekarang pengen mencicipi Setian inci tubuh Lo " Bukannya merasa senang tapi Tania menjadi takut, karena wajah Angga sangat dingin dan beringas, tatapan nya tidak sesuai dengan kata-kata nya.
"Gue mohon lepasin gue Ga." Kini Tania memohon. Bukannya mendengar ucapan itu tapi Angga langsung melum** bibir merah Tania.
"Manis, tapi kayaknya kurang." Kini Angga menciumnya dengan rakus. "Hem...lumayan, jadi gini Kemarin rasanya?" karena takut yang berlebihan air mata Tania mengalir tanpa bisa di tahan. "Jangan menangis sayang, ini baru awal." ucapnya dengan senyum menyeringai.
"Ga... Please lepasin gue." Ucap Tania dengan terisak.
"Hust... Ini enggak akan sakit sayang, seperti yang Lo rasain semalam," Ucap Angga bak psikopat yang mendapat korban. "Seperti nya Lo bikin pekerjaan gue tambah ringan sayang." ucapnya saat melihat di dalam jaket hanya piyama berlengan pendek.
"Ga.... Bisa kan kita bicara baik-baik."
"Ini jauh lebih baik sayang."
"Ga....."
"Hem..." jawabnya tapi tangannya tetap fokus pada Kancing-kancing piyama itu.
"Gue .."
"Berisik tau Lo Tan." Ucap Angga lalu kembali melum** bibir Tania dengan rakus sampai Tania kesulitan bernapas. "Kalo gini kan lebih tenang," Senyum Angga merasa menang, lalu dia menyeruak di leher dan menyesapnya hingga terlihat tanda kepemilikan. Semakin lama semakin turun kebawah. Tania pun tidak tidak tahan akhirnya kelepasan dan mendesah juga menikmati belaian Angga yang begitu lembut.
__ADS_1
"Ga....aaaahhhh."
"Yah begitu baby...." Ucapnya senang melihat Tania mulai terangs***. Akhirnya mereka bertempur hingga pagi.
"Ga....apa yang kita lakukan?" Tanya Tania saat mereka berdua terbaring lemas karena kelelahan.
"Lo maunya apa?"
"Jadi istri Lo enggak mungkin kan?" ujar Tania miris. Lalu Angga memeluk Tania dari belakang yang masih tanpa busana.
"Lo jadi partner ranjang gue sayang." Ujarnya sambil mengendus tengkuk Tania.
"Gue capek Ga," tutur Angga karena Tania merasa ada yang mengeras di belakangnya.
"Sekali lagi ya?"
"Gue mau ke temu Innara,"
"Gue masih pengen sayang." tangan Angga bergerilya di dada Tania, mereM** dengan lembut.
"Udah dari semalam Ga, capek, Sakit semua badan gue." Tania menghentikan gerakan Angga
"Gue pijitin." tak hentinya Angga mengendus.
"Lo ngelunjak."
"Hehehe..gue baru tau rasanya senikmat ini tubuh Lo."
"Emang Lo pernah rasain tubuh siapa?" Ucap Tania kesal." Istri Lo aja Lo anggurin."
"Jangan bahas dia disini, gue cuma mau Lo sekarang." Tanpa persetujuan Tania Angga langsung menyergap Tania menambah ronde pertempuran mereka.
FLASHBACK END***
"Anj*** Lo Ga, Lo anggep Tania apa? Tai Lo." Innara mengumpat. Ingin rasanya dia melayangkan pukulan pada mukanya.
" Ra, stop gue tau Lo suka sama Angga, gue tau Lo enggak rela kalo Angga sama gue, tapi Lo lupa dia dah tidur sama gue, jadi jangan coba Lo bikin Angga balik lagi sama Lo." ucap Tania karena kesal dari tadi hanya mendengar ceramah Innara yang menurut nya tidak jelas, dia pikir Innara tidak rela melepas Angga untuknya.
"Hah? Apa Lo bilang? Gue enggak rela? Maksud Lo apa Tan?"
"Iya, Lo cemburu kan gue sama Angga?"
"Lo gila?" Innara kesal mendengar ucapan Tania.
"Dia bukan cemburu, dia cuma kasian sama Lo." Tiba-tiba Bara muncul di pintu yang memang belum di tutup."
"BARA?"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...