
"Kalo gitu ayo kerumah Lo." ucapnya semangat.
"Sorry.."
"Maksud Lo?"
"Sorry gue enggak bisa bawa Lo ke rumah gue, enggak enak sama bang Indra."
"Ayo ke hotel!"
"Kita makan aja ya disini, Ada Tara kan?"
"Gue tau," jawab Angga kesal." Lo kenapa sih Ra?"
"Tara sama mbak Tia ya makannya, bunda masih mau bicara sama om Angga"
"Siap bunda." Jawabnya santai, lalu mencari kursi kosong dan makan dengan baby sitter nya itu.
"Sampai mana tadi Ga?"
"Lo disini belum sebulan udah berubah aja."
"Gue masih sama Ga, enggak ada yang berubah."
"Sikap Lo bikin gue berfikir seperti itu."
"Gue cuma menghargai Jenny Ga "
"Jenny lagi, Jenny terus bosen gue denger nama itu." Ucap Angga kesal. "Gue maunya elo Ra, apa enggak bisa Lo kabulin permintaan gue."
"Kita butuh restu Ga."
"Gue enggak butuh, gue bisa hidup tanpa itu."
"Tapi gue enggak bisa."
"Dulu Lo bisa kabur dari rumah, kenapa enggak bisa kabur sama gue sekarang?"
"Beda cerita Angga."
"Sama aja."
"Gue enggak mau terlunta-lunta hanya karena restu, gue enggak mau menyesal karena itu."
"Gue sayang sama Lo Ra, enggak mungkin kita seperti itu."
"Bukan seperti itu yang gue maksud Ga, tapi ketenangan jiwa."
"Jadi gue harus bagaimana agar Lo bisa sama gue?"
"Lo harus sama Jenny, enggak ada pilihan lain!" jawab Nara tegas, karena dia juga sudah menikah, dia harus menjaga perasaan Bara, walau dia belum bisa mencintai suaminya itu.
"Gue maunya elo Ra, berapa kali sih gue harus bilang gitu."
"Takdir Lo udah sama Jenny Ga."
"Takdir..? Cih... Gue enggak percaya takdir" ucap Angga semakin kesal. "Gue cuma butuh Lo Ra, gue enggak mau yang lain, cuma Lo yang bisa ngertiin gue! Cuma elo..."
"Ga.. sorry, gue enggak bisa."
"Restu lagi?" Nara mengangguk.
"Lo....ahh.? gue harus bagaimana bisa yakini Lo Ra?"
"Sebaiknya kita jalani ini Ga!"
"Enggak." Angga berdiri tapi tiba-tiba ada pukulan melayang di wajah tampannya. "Bangs*t." ucap Angga dan hendak membalas.
__ADS_1
"Brengs*k Lo Ga, jadi mau Lo buat sendiri setelah gue ngakuin semuanya ke elo." umpat Bara sedikit sempoyongan.
"Lo mabok."
"Cih...jangan alihkan topik anj**g."
"Bar..." Nara memegang tangan Bara.
"Lepasin..., gue mau dia Lenyap, agar Lo cuma peduli sama gue."
"Bara...jaga omongan Lo, ini tempat umum."
"Gue enggak peduli." teriak Bara dan itu membuat Nara semakin pusing dan kesal."
"Ayo gue anter pulang." ucap Nara mencoba menenangkan Bara. Tapi tangan Nara di tarik oleh Angga.
"Lo sama gue." ucapnya.
"Dia milik gue."
"Bangs*t." Giliran Angga yang melayangkan pukulannya, tapi di tangkis oleh Nara. "Ra... sorry Ra.." Angga panik.
"Ra....Lo enggak papa?" Bara di belakang Innara.
"Sebaiknya lo balik Ga," ucap Nara.
"Ra...." -Angga
"Gue baik-baik aja Bar,"
"Bukan itu maksud gue."
"Lo balik Ga...Kita ketemu lagi di Bali." Nara berdiri dan pergi dengan menarik tangan Bara di ikuti dari belakang. Tapi tiba-tiba berhenti.
"Ada apa Ra?" tanya Bara.
"Lo gila..." Bara panik mencari Tara yang duduk agak jauh dari tempat mereka berbincang tadi. "Tara...." Panggil Bara.
"Ayaaaah..." Tara berlari memeluk Bara. Karena takut.
"Maafin ayah ya." ucap Bara menyesal. Tara mengangguk."Sekarang kita pulang." ajaknya.
"Om Angga?" tanya Tara..karena biasanya Angga selalu bersama mereka..
"Om Angga ke hotel, jadi kita pulang sama ayah."
Mereka berjalan di ikuti mbak Tia, itu merupakan pemandangan yang aneh untuk Angga. Tapi sebelum mereka benar-benar pergi Angga sudah menunggu di tempat parkir.
"Jelasin ke gue ada hubungan apa Lo sama Bara " Ucap Angga dengan menyilangkan tangannya di dada.
"Lo udah pernah dengar cerita Bara kan?" tanya Nara.
"Jadi Lo sudah tau."
"Emmm."
"Lalu?"
"Kenapa Lo rahasia kan ini sama gue Ga?"
"Gue....."
"Jangan tanya macam-macam lagi, gue balik! kita berpisah disini,"
"Ra...."
"Kita ketemu di Bali." Nara mengalihkan pembicaraan, karena sudah banyak kebohongan yang iya buat untuk menutupi hubungannya dengan Bara. Lalu dia bergegas masuk mobil Aldo.
__ADS_1
"Gue antar kalian pulang, besok Lo ambil motor di apartemen." Ucap Aldo dengan menyalakan mesin mobilnya.
...****************...
"Lo gila ya Ta?" ucap Nara saat mereka sudah ada dikamar dan melempar mini bag nya. "Kenapa Lo bis se fatal itu sih? Lo tau kan siapa ora g tua Lo dan sia bang indra?" sambungnya lagi.
"Terus bagaimana dengan Lo ya g janjian sama cowok lain, sedangkan Lo sudah bersuami."
"Barata, bukan itu sekarang masalah nya."
"Tapi itu akar dari masalah ini Innara."
"Jadi Lo nyalahin gue atas perbuatan konyol Lo? Ha?"
"Gue kesal Sama Lo, gue enggak bisa nahan emosi gue saat Lo duduk berdua sama Angga."
"Bukan pertama kali kan Lo liat gue duduk sama dia?"
"Tapi ini pertama kali saat gue sudah jadi suami Lo."
"Gue enggak minta."Ucap Nara sarkas. "Lo yang minta ini terjadi, tapi Lo selalu mojokin gue atas perasaan Lo yang berapi-api! Lo gila!"
"Iya..."
"Karena gue!" ucap Nara menyambung kalimat yang kan keluar dari mulut Angga. " Belum seminggu kita nikah, tapi Lo udah kayak gini, apa perlu gue pertahanin?"
"Maksud Lo?"
"Lo tau lah, kemana arah pembicaraan ini."
"Enggak, gue enggak tau, dan gue anggap enggak mendengar apapun dari Lo." ucap Bara dan berdiri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Nara melempar tubuhnya di sofa.
"Lo bego banget sih Ra, bukannya Lo hibur suami Lo tapi malah marah-marah." gumamnya sambil meruntuki kepalanya sendiri. Karena lelah dengan hatinya Nara pun tertidur di sofa.
Bara selesai mandi, mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman. Melihat Nara tidur di sofa kasihan juga dia.
"Maafin gue Ra, gue terbawa emosi saat Lo sama Angga, gue belum bisa terima atas kedekatan kalian walau dia lebih dulu mengisi hari-hari Lo." gumamnya lirih lalu menggendong Nara membawanya ke tempat tidur.
Bruukkkkk.
"AAaawwww." keluh Nara kesakitan saat kepalanya sudah berada di lantai kamar.
"Sorry Ra, sorry..., gue cuma mau bawa Lo ke tempat tidur." Ucap Bara panik dan merasa bersalah. Nara melihat Bara dengan seksama, sampai di kaki terlihat mini bag Nara melilit kali Bara.
"Hahahhahahha.., yeeee..jelas aja Lo jatuh bege," lalu Nara menarik mini bag nya dengan keras.
Bruukkkkk
"Aaww..."Giliran Bara yang kesakitan." Sakit Ra..."
"Tau kan rasanya."
"Lo balas dendam?"
"Gue cuma mau ambil tas gue."
"Tas Lo bikin rusuh."
"Mata Lo aja yang enggak kepake..."
"Nara....Lo..." Bara Ingin membalas ucapan Nara tapi melihat Nara yang menggemaskan membuatnya berfikir untuk menjahili Nara, lalu perlahan mendekat, sepuluh Senti, lima senti, satu Senti dan....
.
.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...