
"Ra..." Tiba-tiba Tania mendekat.
"Tania?"
"Ra tolong maafin gue Ra!" Tania memegang tangan Innara, memohon agar Nara mau memaafkan.
"Cepet banget Lo insyaf nya?" ucap Nara tidak percaya.
"Ra, gue serius, gue minta maaf." Tania menggoyangkan tangan Nara.
"Lepas Tan, Lo bukan anak kecil merengek kek gini."
"Gue salah Ra, gue minta maaf."
"Udahlah Tan, seperti yang gue bilang tadi, Lo dan gue jalan sendiri-sendiri, udah enggak ada kita lagi Tan."
"Tapi Tan, gue masih pengen temenan sama Lo."
"Cih....." Nara tersenyum mengejek.
"Ra...."
"Tan sorry, gue kira Lo best friend buat gue, ternyata Lo tega nusuk gue dari belakang," Ucap Nara mulai kesal dengan wajah memelas Tania. "Asal Lo ingat Tan, gue enggak pernah perhitungan apapun sama Lo, Jadi gue enggak merasa punya hutang apapun sama Lo, dan enggak ada kewajiban gue maafin Lo." Tania mulai berkaca-kaca, Dia pikir dia bisa tanpa Innara, tapi baru beberapa menit Nara membencinya ternyata begitu menyiksa. "Dan soal Angga, gue enggak akan kasih tau Angga soal ini, jadinlo enggak usah kuatir soal itu, tapi Lo jauh-jauh dari gue." Akhirnya Tania melepas tangan Nara. Sedangkan Nara langsung menepisnya dan pergi.
"Ra Lo tega..." suara Tania lirih, karena dia tau jika memang ini adalah salahnya.
...****************...
Innara sibuk di berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan pembukuannya dalam sebulan, dan jadwal menu mingguan yang akan dirubah konsepnya agar ada varian baru untuk beberapa Minggu kedepan, karena Nara ingin sejenak rehat dari keramaian kota Denpasar.
Tok tok tok
"Masuk..." Ujar Nara yang masih belum merespon siapa yang datang.
"Bos.." Nara mendongak, dengan memperbaiki kacamata nya.
"Apa?"
"Ada yang cari..."
"Siapa?"
"Temen Lo." Nara mengerutkan keningnya. "Dokter Juan."
"Suruh pergi aja, gue sibuk."
"Tapi gue udah disini Ra." Juan muncul dari Belakang Jonatan. Dan Nara melepas napas panjang. Lalu Jonathan pergi setelah mendapat instruksi dari Nara.
"Mau ngapain?"
"Gio udah cerita sama gue." Nara mengerutkan dahinya. "Semua beneran Ra, ternyata selama ini bukan hanya karena kasihan sama Lo, tapi gue suka sama Lo."
"Emang ada ya rasa yang kek gitu," Nara menjeda kalimatnya." Kok bisa?"
__ADS_1
"Gue juga enggak tau Ra, tapi gue yakin sama perasaan gue."
"Terus gue harus bilang apa sama Lo kak?"
"Paling tidak Lo kasih respon soal perasaan gue!"
"Juanda Alexander, sorry gue enggak ada rasa sama Lo, dan mendingan Lo jauh-jauh dari gue terutama kafe ini, lama-lama Lo kayak hama di sini."
"Tega Lo Ra."
"Lo yang tega sama gue, jadi enggak ada salahnya kalo sekali lagi gue usir Lo dari sini."
"Ra tolong hargai perasaan gue sedikit aja."
"Sorry."
"Perasaan apa nih?" Tiba-tiba Angga sudah berada di belakang Juan.
"Angga?"
"Iya gue, ada yang lewatin?"
"Enggak." Jawab Nara kesal, kenapa harus ada dua makhluk menyebalkan datang bersamaan.
"Gue masih mau ngomong sama Nara, bisa enggak Lo turun dulu." Pinta Juan pada Angga.
"Apapun itu, gue harus tau." Ucap Angga sambil melipat lengan di dadanya. Juan pun putus asa akhirnya dia mengalah dan pergi.
"Gue belum selesai Ra " ucap Juan sebelum turun dari tempat kantor Nara. Setelah merasa Juan jauh Angga masuk kedalam dan menutup pintu nya.
"Enggak tau." jawab Nara asal karena dia memang tidak mau membahas lebih jauh tentang Juan pada Angga.
"Ra.."
"Hemm."
"Lo masih marah sama gue?"
"Enggak."
"Tapi Lo enggak mau liat gue."
"Gue sibuk."
"Ra.."
"Apa sih Ga?"
"Liat gue dong," Angga merengek karena merasa tidak diperhatikan oleh Nara. Sejak Nara tau dia bertunangan mereka tidak intens mengirim pesan. Walau sebenarnya hanya Nara yang tidak mau membalas pesan Angga, sedangkan Angga tetap menomer satukan Nara.
"Lo kenapa sih Ga? Aneh." Sahut Nara tapi dia tetap tidak mau mengalihkan pandangannya. Akhirnya Angga memeluk Nara dari belakang.
"Gue kangen sama Lo Ra," ucap Angga sambil mengecup pucuk kepala Nara. "Gue enggak akan bisa hidup tanpa Lo."
__ADS_1
"Lepas Ga."
"Beberapa menit Ra, Tunggu sebentar lagi," Angga mengeratkan pelukannya."Jangan jauhin gue Ra, gue enggak bisa jauh dari Lo." Nara hanya mendengar semua kalimat sedih Angga yang ia lewatkan beberapa hari. "Gue tersiksa kalo Lo bersikap dingin sama gue Ra, Lo paling tau gue gimana Ra, jadi gue enggak bisa apa-apa tanpa Lo." akhirnya Angga selesai mengeluarkan segala keluh kesahnya.
"Udah?"
"Belum." Angga mengeratkan kembali pelukannya.
"Gue juga tersiksa tanpa Lo Ga, tapi gue enggak bisa bilang apa-apa, karena Lo udah ada Jenny Sekarang, udah beda cerita antara Lo ma gue." Batin Nara, diapun merindukan saat-saat mereka bersama.
"Gue enggak bisa Napa Ga."Ucap Nara karena merasa pelukan Angga semakin erat. Angga mengendurkan pelukannya tapi tidak melepaskan nya.
"Kenapa Lo tega sama gue Ra." Ucap Angga lirih.
"Ini yang terbaik buat kita Ga,"
"Tapi gue maunya sama Lo."
"Kita cuma temen Ga." Ucap Nara agar Angga tau posisi nya saat ini, mereka bukan lagi BESTIE yang nempel kayak prangko.
"Gue udah sering bilang sama Lo soal KITA."
"Maaf Ga."
"Gue maafin Lo, asal tiap gue chat atau telpon Lo harus jawab dan angkat."
"Dih kok maksa..."
"Ya kalo enggak gue Enggak akan lepas."
"Angga..."
"Hehhehe...Janji ya."
"Resek banget ya Lo."
"Iya iya, gue lepas," Dengan berat hati Angga melepas pelukan itu. Lalu duduk di sofa panjang dan tertidur sedangkan Nara masih sibuk dengan konsepnya.
"Aduuuhhh, capek gue..." Nara meregangkan otot-otot nya yang pegal karena fokus pada layar di depannya.
"Masih tidur aja tu kebo." lalu Nara berdiri dan mendekat pada Angga. "Maafin gue Ga, gue enggak bisa balas perasaan Lo, karena gue udah janji SMA bokap Lo soal kita." Ucap Nara lirih hingga telinganya pun tidak bisa mendengarkannya. Lalu membelai pipi Angga yang terlihat lebih tirus dari biasanya. "Lo kurusan Ga, Lo enggak makan teratur ya." Sambungnya lagi.
"Gue sayang sama Lo Ra." Tangan Nara di genggam oleh Angga. "Gue enggak mau kita cuma teman." Ucap Angga perlahan membuka matanya.
"Angga, Lo dah bangun dari tadi ya?" Nara kaget dan mundur beberapa langkah. Karena tidak seimbang sehingga dia terjatuh, tapi sebelum itu gerakan Angga lebih cepat.
"Tetep aja ceroboh." Ucap Angga saat mata mereka bertemu. "Cup." Angga mencuri star bibir Nara
"Angga..." Nara langsung berdiri tegak. "Bisa gue laporin Lo pelecehan seksual." bukannya takut Angga malah gemes pada Nara dan memeluk erat Nara. "Angga...lepas." Angga tidak menghiraukan ucapan Nara. Dia memeluk Nara dengan bahagia, Tidak ada yang membuatnya bahagia selain wanita mungil yang ada dalam pelukannya itu.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰