
"Hay cantik." Innara terkejut mendengar suara yang menyapa.
"Ah sial. Lo?" Kesal innara pada pria itu.
"Lupa ya sama gue?"
"Gue inget wajah Lo, tapi lupa nama." Jawab Innara
"Gue Andreas,"
"Ah ya bener."
"Lo berangkat sendirian?"
"Iya, kenapa?"
"Pulang bareng gue ya."
"Dia pulang sama saya." Bara tiba-tiba muncul dan merangkul pundak Innara.
"Ah bos maaf," lalu Andreas pergi. Tapi belum jauh Sintia muncul dan berteriak.
"Kim Seok Jin....." Dia langsung berlari menghampiri Andreas, dengan gemas mencubit pipinya. Beberapa orang menoleh dan tersenyum melihat ulah Sintia. "Pagi ayang aku." sapanya genit.
"Pagi sin."
"Masih pagi gini, mukanya udah di tekuk aja."Godanya. "Ada apa sih?"
"Ah enggak sin, kurang tidur aja semalam."
"Mau Gue temenin?"
"Sintia, mulai ya...." Ujar Nara dan menarik tangan teman nya itu.
"Daaa ayang, ketemu di kantin ya nanti siang." Sintia melambaikan tangan pada Andreas. "Kenapa gue di tarik sih Ra "
"Lo kegenitan Sintia Lamusu."
"Sintia mentari Innara."
"Oke mentari."
"Sintia nya mana."
"Bodo' ah." Innara langsung pergi.
"Eh kok gue di tinggal, habis manis seolah di lepeh ini mah." Gerutu sintia mengejar Innara.
"Kenapa lagi tu bos udah gangguin Lo?"
"Enggak ganggu kok, cuma ngobrol dikit."
"Lo tambah akrab ya Ra?"
"Maksud Lo?"
"Iya Li tambah akrab karena ngobrol."
"Apaan sih Lo sin." Innara menarik kursinya" Apa nih?" Gumamnya.
"Apa Ra?"
"Enggak tau apaan nih." Innara memberi bungkusan itu Sintia.
"Waaah."
"Apa?"
"Sarapan."
"Sarapan apa sin?" Innara mendekat."gimbab." Seru Innara.
"Iya Ra, gue makan ya?" Belum saja Innara menjawab, sudah masuk mulut satu potong gimbab isi sosis.
"Lo belum sarapan?"
"Iya, belum." Jawab Sintia dengan mulut penuh makanan.
"Lanjutin deh." Innara menggeleng melihat tingkah absrutd Sintia.
"Penggemar Lo suka korea-koreaan Ra."
"penggemar apanya."
"Enak Ra, Lo enggak mau?"
__ADS_1
"Enggak deh buat Lo aja." Jawab Innara yang sibuk dengan monitor di depannya.
"Lo ngerjain apa sih Ra? Serius amat?"
"Ini nih, kenapa enggak singkron antara ini sama ini?" Innara menunjuk tabel di layar.
"Coba gue liat?" Sintia memperhatikan dengan seksama. "Oh ini Ra, ada yang salah masukan nilai Lo."
"Yang mana?"
"Ini." Innara memperhatikan dengan seksama.
"Oh itu, oke-oke. Thanks ya." lalu Innara melanjutkan pekerjaannya.
Ting.....
(Ay naik ya?)
"Hedehh, nih bocah." Gumamnya.
"Kenapa Ra?"
"Enggak, " Innara tidak menggubris pesan itu.
Ting..
(Jawab ay!)
"Haduuhh si resek." Sambungnya
"Ada lagi yang susah Ra?" Lagi-lagi Sintia kepo.
"Enggak sin."
"Tapi siapa ya yang kirim Lo makanan?"
"Enggak tau."
"Lo dari tadi enggak, enggak enggak."Ucap Sintia"Aduh Ra..."
"Kenapa?"
"Perut gue mules."
"Kebanyakan kalo Lo makannya."
"Lama banget, Lo Enggak papa Sin?"
"Sakit banget perut gue Ra, Aduh..." Keluhnya lagi dan langsung kembali ke toilet.
"Kenapa tu anak?" Akhirnya Innara mengikuti Sintia ke toilet. "Lo enggak papa sin?" tanya Innara dari luar.
"Perut gue sakit banget Ra, ada racunnya kali di makanan tadi " Ujar sintia dengan menahan sakit.
"Ya udah kita ke rumah sakit aja, dari pada tambah parah."
"Bentar Ra, sakit banget ini perut gue, melilit." keluhnya dengan terengah-engah. "Siapa sih yang kasih Lo sarapan racun.
"Sarapan racun?" Batin innara, "apa ada orang yang mau nyakitin gue?" Sambungnya.
"Ya udah yuk sin."
"Naik motor gue Ra, biar cepet."
"Lo lemes gitu malah bahaya kalo jatuh," Tuturnya. "Kita naik taksi aja, cari di depan."
"Terus ijinnya gimana?"
"Lo siap-siap gue ijin sama Bu Vera." Ujar Innara. Lalu dia berlari ke ruangan atasannya itu untuk minta ijin, untung saja Bu Vera orangnya baik, jadi tidak perlu susah-susah berdebat dengannya langsung di ijinkan. "Ayo." Innara mengajak segera Sintia pergi, tapi Sintia sudah lemas kekurangan banyak cairan. "Aduh gimana ini?" Innara bingung. "Bentar sin, gue minta bantuan satpam dulu ya." Innara keluar kantor.
BRUUUKK
"Aauu."
"Cantik? Mau kemana?"
"Andreas."
"Emm ini gue, tumben Lo inget nama gue." ucapnya dengan tersenyum.
"Enggak ada waktu basa basi, bantuin gue bawa sintia ke rumah sakit, dia udah enggak bisa bangun." Innara menarik tangan Andreas untuk membantunya.
"Ra Lo lama banget, gue udah enggak kuat." Ucap Sintia saat melihat Innara masuk. "Ra gue udah di surga ya? Kok ada Kim seok jin disini." sambungnya dengan memperhatikan wajah Andreas. "Gue enggak papa Ra, kalo gue di surga bareng dia." Gumamnya semakin ngelantur.
"Ayo an, buruan." Innara mendesak Andreas agar cepat-cepat membawa Sintia keluar dari ruangan, tidak lupa Innara membawa tasnya juga makanan yang di makan oleh Sintia tadi.
__ADS_1
"Berat Ra." Andreas berusaha mengangkat tubuh Sintia dengan sekuat tenaga.
"Gue bantu." Lalu mereka menggotong Sintia keluar.
"Pake mobil gue aja Ra, biar cepet, kasian dia." beberapa orang yang melihat membantu membawa Sintia dan Innara mengekor di belakangnya. Banyak orang di lobby yang membicarakan kejadian itu hingga beritanya sampai ke telinga Bara.
"Buruan An."
"Iya sabar," Ucapnya.
"Sabar ya sin, Lo kuat kok," Tutur Innara sambil menitikkan air mata melihat Sintia lemas tak berdaya di pangkuan nya.
"Tanang Ra, Sintia enggak bakal kenapa-kenapa." Andreas mencoba menenangkan Innara.
Drrrttt drrttt drrttt
"Iya Ta?"
"Lo dimana?"
"Perjalanan mau ke rumah sakit."
"Sintia kenapa?"
"Enggak tau Ta, dia Lemes, gue takut dia kenapa-napa." tiba-tiba saja Innara terisak.
"Gue susulin Lo."
"Enggak usah Ta, Nanti gue balik setelah Sintia kelar."
"Siapa yang nganterin Lo?"
"Ini Andreas."
"Cowok kemarin?"
"Iya."
"Kok bisa?"
"Kebetulan aja Ta, enggak sengaja, entar deh gue ceritain detailnya,"
"Em...Lo hati-hati, jangan terlalu Deket sama cowok itu." Bara kecewa, tapi tidak mungkin dia juga sepagi ini dia keluar kantor.
"Iya...."
Tutt
"Pacar Lo?"
"Hemm."
"Kok tau Lo keluar? Dia kerja di perusahaan kita juga?"
"Hemmm."
"Lo anak magang kan?"
"Iya."
"Singkat amat sih Ra jawabnya."
"Iya Andreas gue anak magang,"
"Kapan kelar magang Lo?"
"Satu bulan lagi."
"Cepet juga ya?"
"Udah lama gue disini, udah dua bulan, kalo Lo berapa lama kerja disini?"
"Gue udah satu tahun."
"Emang kenapa tadi Sintia sampe lemes gitu."
"Itu ada yang narok makanan di meja gue tanpa nama."
"Terus di makan sama Sintia?"
"Iya."
"Ada musuh Lo berarti."
"Hah?"
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...