
"Kok dia ilang sih abis dikerubungi lalat." gumam Tania saat melihat tidak ada Bara di ruangan saat kelas akan mulai. "fi, kemana tadi oppa-oppa Lo?" Tania iseng menanyakan keberadaan bara pada Fia teman yang duduk didekatnya.
Fia berfikir sejenak dengan sebutan Tania"OPPA" "Oh...Mau kerumah sakit katanya." jawab Fia pelan karena dosen tengah membuka perkuliahan.
"Jangan-jangan bisa ketemu Nara tu oppa-oppa." Gumam Tania lagi.
"Ah apa?" tanya Fia berbisik.
"Ah enggak Fi, Thanks ya." Tania kembali duduk dengan posisi semula.
"Kenapa?" tanya Fia heran, karena Tania adalah cewek paling cuek di kelas.
"Enggak Fi, nggak papa."
"Lo juga suka?"
"Kagak Fia."
"Alah..."
"Ya udah deh, kagak."
"Awas ya kalau tiba-tiba dia nembak Lo."
"Enggak bakalan."
"Serius."
*Apaan si Lo fi." akhirnya Tania mengakhiri obrolan dengan fia." percuma gue tanya Lo fi." gumamnya lagi.
...****************...
Setelah sampai di rumah, Nara membawa Tara ke kamarnya, Lalu membiarkan Tara berbaring.
"Masih sakit sayang kaki nya?" tanya Nara sambil melihat kaki Tara yang terluka, sebenarnya tidak parah, hanya pihak rumah sakit ingin melakukan tes keseluruhan takut jika ada sesuatu yang salah pada tubuh Tara.
"Aku enggak apa-apa bunda, sekarang bunda istirahat aja, bunda pasti capek jagain Tara."
"memang luar biasa anak bunda ini," puji Innara pada Tara." Ya sudah bunda mandi dulu ya, gerah banget." lalu Innara berjalan keluar kamar Tara.
"Bunda.."
"Hemm" Nara menghentikan langkahnya berbalik badan menghadap Tara kembali.
"Maafin Tara ya Bun, bikin bunda dan nenek capek."
"Kenapa Tara minta maaf?" tanya Innara
"Tara sudah bikin bunda susah." jawab Tara dengan tertunduk sedih." Tara janji sekarang Tara akan menjadi anak yang pintar, enggak nyusahin bunda juga nenek." Tara berdiri dari ranjangnya dan memeluk Innara.
"Bunda dan nenek baik-baik saja sayang, Asal Tara tidak mengulangi lagi ya berlarian di jalan seperti itu!"
"Tara janji." ucap Tara dan memeluk Innara.
"Ya sudah bunda mau mandi, udah bau acem ini." canda Innara. sedangkan Tara tergelak mendengar lelucon garing Innara.
" Bun."
"Apa. sayang?"
"Om Angga mana?"
"Kok tanya om Angga, Ada apa ?"
"Biasanya ada bunda selalu ada Om Angga, jadi aneh kalau bunda jalan sendirian." jawab Tara membuat Nara tersenyum.
"Bisa aja anak bunda ini." Nara mencubit pipi Tara dengan gemas." ya sudah, bunda mau mandi dulu ya." Nara mencium kening Tara dan keluar dari kamar itu menuju kamarnya. "Hape gue mana ya?" gumam Nara dan merogoh tasnya barang kali dia menemukannya." Ah ini dia." diambil ponselnya." lah kok panas banget nih Hape." sambungnya. " Lah lagi memanggil...siapa ya?" Tanya Nara " halo siapa nih?" tanya Nara karena itu panggilan sudah hampir satu jam.
"Halo, "
"Lah, laki?" Nara menjauhkan ponsel dari telinga nya.
__ADS_1
"Iye, gue cowok, kenapa Lo telpon gue?"
"Jadi gue yang telpon?"
"Iya, Lo yang telpon."
"Sorry gue lupa, ya udah ya...bye."
tuutt
Innara menutup ponselnya sepihak. "Siapa tadi tu cowok?" tanya Innara dalam hati sambil mengingat-ingat.
drrrttt
"Aduh.." Innara kaget dan di lemparkan ponselnya ke lantai. "Yah..hape gue..." keluh Nara mendapati ponselnya berguling-guling. "Siapa sih nelepon." diambilnya benda pipih itu dan melihat siapa yang membuat nya kaget. "heeh... laki jadi-jadian." gumamnya.
"Apa?"
"Lo kenapa Ra?" tanya Angga tiba-tiba karena suara Innara terdengar marah.
"Gue kesel ma Lo, sampe hape gue ke banting."
"Lah, salah gue ma hape Lo apa?"
"Iya juga ya, salah mereka apa, kan gue yang kaget." gumam Innara.
"Apaan?"
"Enggak," jawab Nara." Kenapa Lo telpon gue?"
"Lo dimana?"
"Di rumah."
"Ya udah gue langsung kesana."
"Sendiri?"
"Gue pikir, di tanya in tu Lo sama jagoan gue."
"Serius...?"
"Hemmm."
"Oke dech gue bawain cake kesukaan dia deh."
"Ya udah, sana, gue mau mandi dulu." usir Nara pada Angga.
"Iya gue kesana, mau jemput Tania dulu di kelasnya."
"emang dia belum kelar?"
"Katanya sih bentar lagi."
"Kok Lo cepet?"
"Bu melin lagi ada perlu mendadak."
"Oh, oke."
"Bye Ra..."
tuuttt
"Dasar Angga."
"Angga kenapa nak?" tiba-tiba Bu Rini sudah di ambang pintu.
"Aduh.." kali kedua ponsel Nara jatuh berguling di lantai.
"Lah kan kasian ponselnya di banting." ujar Bu Rini santai sambil mengambil ponsel Nara yang ad di lantai dan di kembalikan pada si empunya. "Ibu bikin kaget ya?" tanya be Rini meringis, dan Nara pun mengangguk bingung.
__ADS_1
"Maaf ya" Bu Rini menyodorkan ponsel Nara dan diambil olehnya.
"Bu Rini mau ngapain?" tanya Nara .
"Ini, " Bu Rini menunjukan amplop berwarna hijau.
"Apa itu Bu?"
"Ibu boleh masuk?"
"Ya boleh lah Bu, masak iya ibu mau di pintu aja?"
"Ini tadi dari rumah sakit," di tunjukan isi map itu oleh Bu Rini. "Ini tagihannya, ini surat kontrol nya, dan ini resep jika di perlukan dan ini obat sampai Tara sembuh." ucap Bu Rini satu persatu pada Innara.
"Tagihannya tadi gimana Bu?"
"Oh iya itu, ini uangnya Nara."
"Kok di balikin?"
"Karena waktu ibu mau bayar katanya sudah lunas."
"Kok bisa? siapa yang bayarin?"
"Ayahnya Tara?"
"Maksud ibu?"
"itu laki-laki yang di panggil ayah oleh Tara, sampai Tara terjatuh." jelas Bu Rini. tapi Nara masih bingung.
"Maksud nya gimana sih Bu?"
"tadi, waktu ibu mau bayar ke admin, katanya atas nama anak Tara sudah lunas." jelas Bu Rini.
"Ibu enggak tanya siapa yang bayarin? bukan Angga kan?"
"Tadi Tia kan sudah jelasin to nak."
"Kok jadi mbak Tia?" gimana sih Bu?" Innara jadi blank di ajak bicara Bu Rini karen kaget dua kali.
"gini Lo Ra....." Bu Rini mengulangi penjelasan mbak Tia seperti di atas ya gaeess ... masih ingat kan gimana...
" Oh gitu.., jadi Nara harus menghubungi cowok itu ya Bu?" Bu Rini mengangguk. " Nomernya?"
"Tia belum kirim ke kamu?"
"Mbak Tia?dia punya nomer cowok itu?" tanya Nara kaget.
"Ya ampun Ra, belum tua kok sudah pikun, coba buka ponsel kamu, dan buka chat dari Tia." perintah Bu Rini dan diikuti oleh Nara. "Gimana ada?" Nara mengangguk kaku.
"Ya sudah, di hubungi sana, kalau enggak mau terimakasih ya di kembalikan saja uangnya."
"Ibu aja yang kembalikan, Nara males urusan sama beginian, bikin ribet."
"Kamu itu ibu nya Tara Lo nak, jangan gitu ah, enggak baik." ucap Bu Rini menasehati.
"Tapi Nara males Bu...."
"udah ibu tinggal, cepet sana hubungi ayahnya Tara..." goda Bu Rini...
"Ibu...." keluh Nara membuat Bu Rini tersenyum.
"telpon enggak, telpon enggak telpon.. enggak.. enggak ah.." Nara akhirnya meletakan ponselnya di nakas dan memilih mandi.
.
.
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰
__ADS_1