Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Ciiee..ada yang cemburu


__ADS_3

"Ayo pulang." Kepala bara muncul di depannya .


"Ntar lagi, nanggung." Ujar Nara.


"Besok lagi di sambung ay, gue laper."


"Laper tinggal makan Ta..."


"Ay, Lo enggak peka banget sih ma gue." bara menunjukan wajah melasnya. Nara lihat dengan menghela napas.


"Ya udah ayo." Nara menyimpan filenya, lalu mematikan komputernya. "Dah beres....yuk." Nara berdiri siap berangkat, tanpa menunggu lama Bara pun mengekor di belakangnya dengan gembira.


"Mau makan di mana ay?"


"Terserah yang bayarin aja."


"Lho kok gitu?"


"Ya kan selera Lo apa ta?"


"Nongki dulu lah ay, pulang kerja masak langsung pulang."


"Lo enggak kangen anak apa, seharian di kantor masih pengen nongkrong."


"Harus sekarang ya ay?"


"Enggak juga, kalo Lo laper ayo gue temenin makan."


"Elo gimana?"


"Emmm....ya udah gue juga makan."


"Jangan terpaksa gitu dong ay, jadi enggak semangat gue." Kesal juga lama-lama bara pada Innara. "Lo punya masalah apa sih ay?"


"Enggak ada."


"Kalo enggak kenapa Lo sewot banget dari tadi."


"Gue bilang enggak, ya enggak Ta, Lo repot banget sih."


"Ya kalo enggak kenapa marah."


"Lo bikin gue kesel."


"Bagian mana gue bikin kesel Lo?" Bara menarik tangan Innara, tapi Innara menolak, tapi bukan bara kalo tidak bisa memaksa Innara. Nara menatap nya lekat-lekat. "Salah gue dimana?"


"Enggak ada."


"Kalo Lo marah berarti ada."


"Barata lepasin gue!"


"Sore pak Bara..." Sapa Prita dengan senyum termanisnya, sedangkan pada Innara dia menatap sinis.


"Hem..." jawab Nara tanpa mengalihkan pandangannya pada Innara, dia menatap Innara lekat-lekat hingga Innara mengsalting ria. "Yang mana? Jelasin ke gue!"


Innara bingung bagaimana cara menjelaskan, bahwa dia tidak suka dengan Prita sebagai sekretaris nya, karena dari segi body dan lainnya Innara jelas kawah, walau kalo cantik pasti Innara tiada bandingannya. Menurut Innara sendiri tapi. Dia takut jika dia menjelaskan panjang lebar malah dia di bilang cemburu.


"Ayo, jelasin!"


"Lepas.." Nara menatap kesal pada bara juga melihat punggung Prita sinis. Bara mengikuti kemana bola mata Innara berputar.

__ADS_1


"Karena Prita."


Deg..... Langkah kaki Innara berhenti, bagaimana bisa sepeka itu Bara padanya, padahal dia belum mengatakan apapun.


"Benerkan tebakan gue "


"Males gue sama Lo."


"Prita jadi sekretaris gue satu bulan sebelum Lo Dateng ay, itu juga pilihan Om Zaki." jelas Bara.


"Lo suka tapi kan."


"Hei.... Suka apa nih?"


"Serah Lo." Nara langsung masuk kedalam mobil mereka, di susuk oleh Bara.


"Gue enggak pernah ngobrol sama dia, cuma seputar pekerjaan aja, enggak ada selain itu." jelas Bara tanpa diminta oleh Innara. "Jadi ayang ku jangan marah lagi ya." Nara Hanya mlengos sambil tersenyum walau itu sangat tipis, takut bara melihatnya. "Ya udah kita makan bebek betutu aja ya, kangen Bali gue." Ucap bara dan melakukan kendaraan dengan kecepatan sedang. "Gemesin banget si Lo ay kalo cemburu." Batin Bara tersenyum.


...****************...


"Bunda......"


"Iya sayang."


" Hari ini Tara libur, boleh ikut kerja?"


"Mana boleh sayang,"


"Kata ayah boleh." Ujar Tara sambil menunjuk ayahnya yang duduk di meja makan. Sedangkan bara hanya tersenyum simpul melihat reaksi Innara.


"Nanti kamu bosan sayang, kalo dirumah kan bisa ajak mbak Tia jalan-jalan."


"Ajak aja dek, kasian dia jarang ketemu kamu."


"Bener tu bang." Ucap Bara dengan mulut penuh makanan. "Uhuk uhuk." Bara terbatuk karena terlalu semangat. Jika Tara ikut otomatis Nara akan berada diruang nya. Mereka akan menghabiskan hari bersama-sama." Batin Bara.


"Ya udah Tara ganti baju sana, setelah itu kita makan sama-sama." titah Nara pada anaknya. "Mbak Tia tolong ya, sekalian siapkan keperluan Tara nanti!"


"Iya Bun." Tia mengikuti Tara yang masuk kekamarnya.


"Kenapa sih Lo ijinin Tara ikut, jadi ribet kan nanti, Lo di atas dan gue di bawah."


"Ya Lo keatas la ay, kerjaan Lo bawa keruangan gue."


"Bakal jadi rame Ta."


"Rame apanya?"


"Ya gosipnya, gue pengen tenang dari mata-mata dan mulut-mulut yang kehausan gosip."


"Emang gosip apasih?" tanya Indra.


"Itu bang, Nara enggak mau di gosipin Deket sama gue."


"Lah...kalian dah nikah, itu bukan gosip lagi kan


"Heeeeeh..." Nara menghela napas berat, karena menyadari jika memang itu benar adanya, bukan hanya sekedar dekat, mereka sudah menikah hampir satu tahun. Nara pun ikut bergabung makan dengan malas.


"Makan yang banyak ay .." Bara menyendok nasi di piringnya dan mengambil kan beberapa lauk Innara. (Ada yang kebalik enggak sih? Hahahha).


Melihat hal itu Indra merasa pernikahan adiknya sudah berhasil, tapi kenyataannya, Innara masih memberi jarak diantara mereka, belum bisa menerima sepenuhnya pernikahan ini, walau sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak bahagia.

__ADS_1


...****************...


"Lo naik dulu deh sama Tara, gue beresin barang di bawa ke atas. " Ujar Nara saat mereka sampai di kantor.


"Mau sama bunda..." Rengek Tara.


"Tara sama ayah dulu ya, nanti bunda menyusul, masih bunda mau ambil berkas di ruangan dulu, setelah itu bunda naik."


"Ayah kita tunggu bunda ya?" pinta Tara.


"Bar ini file ya g harus di periksa." Tiba-tiba Zaki sudah di belakang mereka dengan banyak berkas di tangan nya ." Halo Tara ." sapanya.


"Iya opa..."


"Jangan panggil opa dong, kan masih muda!"


"Panggil aja kakak Nak." Desis Bara sewot.


"Bar..." Zaki membolakan matanya hingga mau lepas.


"Iya om iya..."


"Tumben Tara ikut? tidak sekolah?"


"Libur IPA, jadi Tara ikut ayah sama bunda bekerja."


"Anak pintar, biar bisa jagain ayah dari valak ya ." ucap Zaki sambil nyengir.


"Om Zaki..ngajarin anak kecil yang enggak-enggak aja deh " Keluh Nara.


"Ya udah kalo gitu gue naik dulu." Pamitnya." Da tara...."


"Dadah opa..." Ucapnya menggemaskan.


"Ya Udah gue duluan ya sama tara, cepet nyusul."


"Oke..." Nara melingkar kan jadinya tanda setuju.


"Bunda jangan lama-lama."


"Siap sayang." lalu mereka pergi, menyusul Zaki, sedangkan Nara ke ruangan nya mengambil beberapa file yang menjadi dateline di waktu dekat.


"Akrab banget sama si bos." Sintia bergumam dari belakang. Nara menoleh dan tidak bergeming. " Siapa bocah kecil tadi Ra?" tanya nya lagi dengan penasaran.


"Anak gue.". Jawab Nara tanpa menoleh pada Sintia.


" Hah...serius dong Ra, nyebelin banget enggak asik Lo." Sintia pun duduk di kursi nya dan mulai menyalakan komputer di depannya.


Setelah mengambil semua yang di perlukan, memindahkan beberapa file ke flashdisk, menumpuk berkas juga laptopnya lalu di gendong semuanya. "Sin gue naik dulu ya, kalo ada yang cari gue suruh telpon aja." Pamit Innara pada Sintia.


"Mau ngapain Lo pagi-pagi naik?"


"Jagain anak bos."


"Wah jadi baby sitter juga Lo, jangan lupa minta tambahan gaji." Ujar Sintia sinis.


"Ya udah gue pergi dulu ya, bye..." Innara tidak bergeming, dia meninggal Sintia yang sedang kesal.


...BERSAMBUNG...


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2