
"Aduh Ra sakit." Nara menekan sudut bibir Angga yang terlihat berdarah.
"Gue tau, gue ambil kotak obat dulu." ucap Nara lalu berdiri, saat melangkah tangan Nara ditarik Angga dan Nara jatuh ke pangkuan Angga. mata mereka bertemu. dan... cup. Mata Nara terbelalak.
"Angga," Nara mendorong tubuh Angga tepat bekas pukulan sang papi.
"Aduh Ra sakit."
"Rasain tu." Nara langsung berdiri dan keluar dari kamar Angga. "Mami." deg..jantung Nara tiba-tiba berdetak sangat cepat, "Sejak kapan mami disitu."
"Barusan Ra, kamu mau ambil kotak obat kan?" Nara mengangguk." Nih udah mami bawain."
"Mami aja yang obatin Nara mau langsung kekampus."
"Kenapa?" Angga keluar dari kamarnya. Nara jadi salah tingkah karena ulah Angga.
"Mau kekampus gue, sama mami aja Lo."
"Gue maunya sama Lo."
"Manja."
"Mami sakit kalo kasih obat."
"Tangan gue lebih sakit." ucap Nara sambil menggepalkan tangannya.
"Kalian ini kenapa sih?"
"Udah Ra, kamu aja, nih." mami Nita menyerahkan kotak obat itu pada Nara lalu meninggalkan mereka berdua.
"Udah obatin gue."
"Obatin sendiri, nih." Nara menyerahkan obatnya pada Angga kemudian dia membalikkan tubuhnya melangkah meninggalkan Angga. tanpa di duga Angga menarik kemeja Nara dan membawanya masuk kedalam kamarnya lagi.
"Angga lepasin gue."
"Sudah." Angga mengunci pintu kamarnya.
"Lo gila ya?"
"Karena elo."
"Kok gue?"
"Maksud Lo apa setuju kalo gue pergi."
"Demi keluarga Lo Ga."
"Terus Lo enggak mikirin gue?"
"Ya .... mau gimana lagi."
"Lo jahat Ra."
"Apaan sih Lo, kayak bocah aja."
"Lo sama sekali enggak mikirin gue ya Ra?"
"Lo kuat Ga."
"Itu karena Lo."
"Gue enggak membantu apa-apa."
"Tapi buat gue, Lo segalanya."
"Ga, sebaiknya kita enggak lanjutin obrolan ini."
"Kenapa?"
"Gue...Ah udah lah, males gue ngebahas nya."
"Ra..." wajah Angga memelas.
"Sini gue obatin lukanya." Nara mengobati luka-luka di wajah Angga. Nara mengambil kapas lalu di beri dengan Rivanol 70% Agar lukanya tidak terinfeksi. setelah di rasa bersih kemudian di berikan salep agar lukanya cepat sembuh. "Harusnya Lo jujur sama bokap Lo, dari pada babak belur begini."
"Jujur gimana?"
"Lo pasti diem aja kan saat papi tanya ini itu." benar saja, memang Angga tidak menjawab semua pertanyaan papi, karena sama saja menjawab atau tidak pasti pukulan melayang juga.
"Males."
__ADS_1
"Kalo di bilangin mesti begitu."
"Gue males debat Ra."
"Tapi Lo juga yang rugi Ga." Angga menghela nafas berat.
"Karena itu, cuma Lo yang bisa ngertiin gue." Nara menghentikan kegiatannya. Angga mendongak menatap Nara. "Gue enggak bisa jauh dari Lo Ra."
"Nara tersenyum."
"Belum ada keputusan apa-apa."
"Tetap aja Ra." keluhnya." Gue pengen mandiri kayak elo." Nara memukul pundak Angga.
"Jangan pernah berfikir seperti itu."Ucap Nara sedih. "Ini buka mau gue." lalu Nara duduk di samping Angga. Angga memeluknya dari samping.
"Maaf." Nara mengangguk.
"Jangan pernah berfikir untuk tinggalin keluarga lo Ga." ucap Nara sambil menatap jendela." jangan samain kehidupan gue sama kehidupan Lo Ga, kita beda."Sambung Nara, dia mengingat betapa terabaikan nya saat dia bersama kakaknya, di keluarga Angga lah dia mendapatkan rasa kekeluargaan, dan pendapat nya masih di butuhkan."Semua yang mereka lakukan demi kebaikan Lo, dan Lo tetap menjadi prioritas mereka," Angga mengangguk dan berjanji dalam untuk tidak mengulangi nya lagi.
"Sorry."
"I'aM oke."
"Thanks Ra, Lo selalu ada buat gue."
"Lo juga, selalu ada buat gue."
"Kenapa kita enggak pacaran aja."
Pletak
Nara memukul kepala Angga.
"Jangan gila."
"Sakit Ra,"
"Ya iya lah sakit, kan gue pitak."
"Lo jahat banget sih Ra."
"Masih ada kuliah."
"Emmm."
"Ya udah entar malem gue kesana."
"Emmm." lalu Nara berdiri, Angga pun ikut berdiri.
Cup... lagi-lagi Angga membuat jantung Nara berdisko. Nara tidak tau harus berbuat apa dia hanya memandang Angga dengan mengerutkan keningnya.
"Gila." ucapnya lalu mendorong tubuh Angga lagi." Minggir."
"Ra, tunggu."
"Enggak usah kerumah gue malam ini!" Ancam Nara lalu keluar dari kamar Angga.
"Ra..." Angga mengejar Nara yang turun dari tangga.
"Kenapa?" tanya mami yang melihat keributan yang di buat Angga.
"Nara mau kekampus mi." pamit Nara.
"Gue anterin." -Angga
"Enggak." -Nara
"Lo naik apa?" -Angga
"Ojol." -Nara
"Mobil Lo?" -Angga
"Di kampus." -Nara
"Kok bisa." Nara berhenti dan menghadap Angga.
"Ngomong sama tangan." Nara menyodorkan tangannya lima jari di wajah Angga.
"Kalian ini berantem terus, kalo enggak ada nyariin." ucap mami sambil menggeleng kepalanya.
__ADS_1
"Nara pergi ya mi." Nara memeluk mami Nita.
"Makasih ya sayang, maaf sudah merepotkan kamu."
"Iya mi, enggak apa-apa."
"Kamu baik sekali sayang,"
"Karena itu mami, kalo bukan mami, belum tentu Nara datang." canda Nara.
"Kamu bisa aja."
"Ya udah mi, Nara pergi."
"Gue anter ke depan." Angga mengantar Nara sampai pintu gerbang.
" Mau pesen ojol?" -Angga
"Iya." -Nara
ciiitttt , motor sport berhenti tepat di depan mereka.
"Bara?"Ucap Nara.
"Bara? Lo janjian sama Bara?" Nara menggeleng.
"Ayo!"
"Gue naik ojol aja." Tolak Nara.
"Lo jahat banget sih Ra, gue udah jauh-jauh kesini, sampai sini Lo suruh gue pergi." Nara menatap Angga.
"Gue pergi ya." mau tidak mau Angga mengangguk, tidak mungkin dia melarang. walau dia tidak mengiya kan untuk membantu Bara. "Gue pergi, bye..." Nara melambaikan tangan pada Angga.
"Gue cabut Ga." Pamit Bara pada Angga. Angga hanya mengacungkan jempolnya. lalu Bara menginjak pedal gas dan menghilangkan dari hadapan Angga.
"Kenapa tambah sakit ya." Angga memegang dadanya.
...****************...
"Thanks ya Bar."
"Barata." Nara berhenti. "Kenapa Ra?" tanya Bara pura-pura bego.
"Enggak," Nara menggeleng " gue ke kelas dulu."
"Lo enggak kangen ma gue?" Nara menghentikan langkahnya lagi.
"Maksud Lo apa sih?"
"Innara Basuki, Lo enggak inget gue?"
"Enggak." Nara pergi meninggalkan Bara yang kecewa. perasaannya Bara campur aduk, kesal, marah sedih tapi sedikit lega karena dia sudah memperkenalkan diri. di dalam kelas Nara tidak bisa fokus pada materi yang di sampaikan dosennya, tentang Angga dan juga Bara alias Barata. "Haaaah." Nara teriak keras hingga semua orang menatapnya.
"Ra...Lo kenapa?" tanya dewi yang ada di sampingnya.
"Innara kalo ngantuk cuci muka dulu." Ujar dosen paling ganteng di fakultas ekonomi.
"Ah iya pak, maaf." ucap Nara sambil berdiri hendak keluar kelas. "Kenapa sih gue?" batin Nara berjalan dengan gontai.
"Ra...."
"Bara? ngapain?" tanya Nara mendekat pada Bara.
"Ini." Bara memberikan sesuatu pada Nara.
"Apa ini?"
"Buka aja." Nara membuka paper bag coklat dari Bara.
"Syal?"
.
.
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰
"
__ADS_1