Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Menikah


__ADS_3

"Anak kurang ajar, apa belum puas kamu bikin malu mama sama papa selama ini?" Orang tua Bara sangat murka, karena selama ini, Bara sangat menggila, walau dia tidak main perempuan, tapi balap liar sering iya lakukan bersama teman kuliahnya, walau Lexi dan yang lain sudah memperingatkan tapi tidak di hiraukan, akhirnya dia di Asingkan di Bali.


"Setelah ini, Bara akan mengikuti semua kemauan papa dan mama." Bara mencoba dengan berbagai cara.


"Kamu yakin?"


"Bara yakin Pa." Bara mengangguk cepat.


"Jadi mau jam berapa kita kesana?"


"Sekarang saja pa."


Plaakk.


Sebuah pukulan mendarat di kepala Bara.


"Kamu bodoh atau bagaimana?" lagi-lagi papa Bara kesal." Siapkan dulu apa yang perlu dibawa kesana."


"Maaf pa." Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi ingat janji kamu sama papa." Ucapan papanya Bara.


"Siap pa."


"Dasar anak bandel, bagaimana bisa kamu melakukan ini sama mama dan papa." ucap papa Bara dengan menghela napas.


"Sudah lah pa, yang penting sekarang dia akan menuruti semua kemauan papa, itu kan yang papa mau?"


"Kamu benar ma, ada baiknya juga."Papa Bara mengangguk-anggukkan kepalanya , paham atas hikmah yang dapat di ambil dari peristiwa ini.


Pukul dua belas siang, Nara sudah siap dengan pakaian kebaya modern nya, rambut di sanggul cantik.


"Gue tunangan aja bang, enggak langsung menikah, kenapa heboh banget sih dandan nya?" Protes Nara saat masuk kedalam kamar untuk mengecek sejauh mana persiapannya.


"Berapa lama lagi ini?"


"Sebentar lagi tuan."


",Bagus Awasi dia terus jangan sampai kabur," Ucapnya pada MUA yang di sewanya. "Ingat ya Ra, kalo kamu kabur lagi, kamu tidak akan bisa bertemu dengan Tara lagi, paham." Sambung indra dengan mengancam.


"Tau gini, Nara enggak balik ke Jakarta."


"Lebih baik seperti ini, dari pada kamu memiliki masalah yang lebih besar nantinya."


"Abang kayak peramal."


"Kamu satu-satunya saudara Abang, dan Abang mau yang terbaik buat kamu sayang." Indra mengecup pucuk kepala Nara, dan itu membuatnya terharu. "Jika jalan yang Abang berikan kepada kamu ini nantinya ada masalah, maka Abang yang akan pasang badan. Kamu paham kan maksud Abang?" mau tidak mau Nara mengangguk paham, walau sebenarnya dia tidak tau apa yang indra pikirkan.


"Bos..tamunya sudah datang." panggil salah satu ajudan Indra.

__ADS_1


"Oke." jawabnya singkat, "Abang tunggu di bawah, jangan bikin kecewa Abang." ucap indra, dan lagi Indra mengecup kepala Nara lalu pergi.


"Abang....Nara kangen mama." Gumamnya lirih. Harusnya ini adalah hari bahagia baginya, tapi dia tidak memiliki siapapun selain indra di samping nya. "Mami Nita, bagaimana jika mami Nita tau akan hal ini, apakah mami akan marah?" sambungnya lirih.


Di Lantai bawah sudah bertemu keluarga besar Bapak Wahyu Iskandar.


"Selamat datang tuan Iskandar." Sambut Indra saat mereka masuk ke dalam rumah.


"Terimakasih banyak tuan Indra atas sambutan baik ini, saya tidak menyangka selain perusahaan kita yang bekerjasama, ternyata anak-anak kitapun saling berhubungan."


"Itu lah takdir yang baik bagi keluarga kita tuan Iskandar." mereka tertawa bersama dan duduk entah membahas apa saja. Tidak lama penghulu datang dan juga antek-antek nya.


"Bagaimana pak Indra, bisa kita mulai?"


"Baik pak, bisa, saya panggil dulu mempelai wanita nya."


Drrrttt drrttt


Ponsel Nara berbunyi, tapi dia tidak mendengar, dia masih sibuk dengan perasaan nya.


"Angga Lo dimana?" gumamnya lirih.


"Nona ayo kita turun." Ujar salah satu MUA. Nara pun mengikutinya.


"Lho ...apa ini?"Nara kaget dengan semua tamu yang datang, dan meja kursi yang tertata rapi seperti orng akan akad nikah, sama dengan yang sering dia lihat di televisi.


"Bu Rini? Ibu tau semua ini?" protes Nara pelan kepada Bu Rini.


"Ibu tidak punya kuasa apapun Ra, maafkan ibu." Nara menghela napas berat.


"Bunda cantik."


"Terimakasih sayang."


"Ayah keren Lo Bun."


"Iya."


"Baik ya semuanya, kita mulai acaranya agar tidak terlalu lama." semua orang menjawab setuju.


Ijab kabul pun di ucapkan dengan lantang oleh Bara, dan mereka telah sah menjadi suami istri, Nara menitikkan air mata nya, dia terharu akan hal ini, ini adalah hal yang sangat sakral, tidak untuk main-main, Dan Nara tidak tau bagaimana selanjutnya dia menjalani hidup. Dan bagaimana perasaannya pada Angga, tidak mungkin dia bisa melupakannya dalam sekejap. Lagi-lagi Nara meneteskan air matanya, ini ia teriak sekencang-kencangnya, tapi apa daya dia tidak mungkin mempermalukan Abangnya.


",Gue bisa, gue harus bisa." Batin Nara.


"Ra...sana temui suamimu." ucap Bu Rini sedih karena dia tau siapa yang di sukai Nara. "Kamu harus bisa nak, ibu selalu ada buat kamu." ucap Bu Rini dengan menitikkan airmata nya.


"Terimakasih Bu, maafkan Nara yang selalu bikin repot ibu."


"Kamu anak ibu Ra, jangan menganggap ibu orang asing." Nara mengangguk dan berdiri lalu berjalan menuju kursi di dekat Bara.

__ADS_1


"Silahkan tukar cincin." tutur penghulu." Mempelai wanita bersalaman dengan mempelai pria." sambungnya, setelah mereka menukar cincin, Nara mencium punggung tangan Bara dan bara mencium kening Nara. Para tamu bersorak terutama Lexi, Caca dan lainnya.


Setelah acara utama selesai mereka pun di suguhi dengan hidangan pesta, Juga ada mini band. Pestanya berada di taman belakang samping kolam renang, rumah indra bentuk ORI nya dari rumah Nara, karena rumah Nara lebih kecil dari ini, dia membuatnya sama persis dengan rumah utama ini hal itu agar mengobati rindunya pada Indra saat itu. Tamu Tidak banyak, hanya ada beberapa kolega dan juga teman dari Bara, tidak dengan teman Nara, Karen Nara tidak mau mempublikasikan hubungan nya.


" Jangan pernah post acara pernikahan kita." Ucap Nara pada Bara saat mereka duduk bersama.


"Gue tau."


"Sorry, tapi gue belum siap."


",Gue tunggu sampai Lo siap, seperti kata gue sebelumnya." walau sebenarnya hati Bara sakit.


"Gue enggak mau Lo atur-atur."


"Gue enggak akan ngatur, tapi kita punya aturan setelah menikah."


"Kita nikah terpaksa Bar!"


"Itu elo, gue enggak." Nara membuang muka karena kesal.


"Gue Mau masuk,"


"Sebentar lagi."


"Gue capek."


"Gue juga, tapi tamu masih banyak." lagi-lagi Nara menghela napas.


Drrrttt drrttt


ponsel Nara berbunyi.


"Jangan diangkat." ucap Bara.


"Ngatur."


"Kalo Lo angkat, berarti Lo sendiri yang publish Lo dah nikah." ucap Bara, dan benar juga karena ini adalah panggilan video call jika Angga tau dia berpakaian seperti ini pasti tau acara apa. Nara pun menurut ucapan Bara. "Turun yuk kita dance."


"Gue enggak bisa."


"Gue ajarin." Bara menarik tangan Nara dan mulai menari. Saat lagi slow otomatis mereka berdansa. Bara menarik tubuh Nara dan memeluknya. " Gue sayang sama Lo Ra." Bisik Bara, setelah mengucapkan itu kembali ke mode kulkas.


.


.


...BERSAMBUNG ...


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like Dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2