
Hari sudah menjelang malam, pesta pun sudah selesai, Nara masuk kamar dan menutup nya, dia lupa jika Bara mengikuti nya dari belakang.
"Ngapain Lo ngikutin gue?"
"Kamar kita kan?" saat melihat Bara menunjuk ranjangnya Nara pun kaget. Sejak kapan kamarnya berubah jadi kamar pengantin. Saat Nara masih melongo, Bara nyelonong masuk dan melepas pakainya.
"Eh stop-stop, ngapain lo ganti baju di situ?"
"Mau ganti baju di mana?Gue capek Ra." ucap Bara merajuk.
"Sana Lo ganti di dalam." Nara mendorong tubuh Bara kedalam kamar ganti.
"Tas gue Ra." Nara mengambil koper Bara dan mendorong di kamar ganti.
"Nih." ucap Nara sambil mlengos.
"Oke.. thanks..." bara mengambil koper itu , kenapa setiap sama Nara, Bara tidak bisa stay cool seperti saat dia dengan cewek-cewek yang lain. Dia cenderung manja saat bersama Nara.
Sedangkan Innara kesulitan melepas segala aksesoris yang menempel di tubuhnya.
"Duuh, gimana sih ini?" gerutunya sambil berusaha menarik jepitan yang ada di kepalanya. "aaaaak" rintihnya sambil meringis kesakitan.
"Sulit ya." Bara sudah berada di belakangnya menggunakan celana kolor dan dan kaos oblong transparan membantu melepas satu persatu aksesoris itu. Nara hanya diam saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun. "Lo marah?"
"Enggak."
"Kok diem aja."
"Emang harus koprol di depan Lo?" jawab Nara jutek.
"Boleh."
"Resek Lo."
"Lo cantik banget Ra hari ini.." bisik Bara dengan mendekatkan wajahnya di sisi kiri Nara.
Deg..." kenapa sih jantung gue."Batin Nara. "Minggir Lo." Nara mendorong tubuh Bara. Sedangkan bara hanya tersenyum. Merasa lucu dengan jalan hidupnya, dia tidak menyangka bisa bersama Nara juga akhirnya walau udah beribu hari ia lewati dalam penantian. "Kenapa Lo?"
"Gue bahagia."
"Cih..., yang ada gue kesel, kenapa harus berakhir sama Lo." Ada sedikit kecewa sebenarnya di hati Bara, tapi dia tidak peduli, karena Nara sudah resmi jadi miliknya. "Bar ..."
"Em..."
"Gue punya permohonan sama Lo."
"Apa?" tanya Bara, walau sebenarnya dia bisa menebak apa yang di Ingan Innara, tapi dia pura-pura tidak tahu.
"Rahasia kan pernikahan kita ya, gue mohon."
"Kenapa?"
"Gue belum siap."
"Bukan karena Anggara?"
"Kok Lo mikir gitu sih Bar?"
"Gue cuma nebak." jawab Bara langsung berhenti membereskan aksesoris di rambut Nara dan berbaring di ranjang pengantin.
"Lo marah?" Tanya Nara ragu, tapi sayangnya pertanyaan itu tidak di jawab oleh Bara dia malah menarik selimutnya, dan hal itu jelas jika Bara sedang merajuk. Nara Pun tidak berani mengutuknya lagi. Dia membersihkan muka, lalu menuju kamar menggantinya dengan piama setelah seharian menggunakan kebaya dan baju pesta. "Masuk Angin deh kayaknya gue." karena dia telat makan. "Hoek..hoekk." Nara berlari kekamar mandi. Bara yang mendengar langsung lari mengikutinya. "Hoek..Hoek..." Bara memijat-pijay punggung Nara. Sampai Nara merasa baikan.
"Udah?"
"Em.." Nara keluar dari kamar mandi dan lalu berbaring di ranjang nya.
"Mau gue gosokkin minyak?"
"Panggil ibu aja."
"Bu Rini?"
"Em..."
"Kita pengantin baru Ra."
"Terus mau Lo apa?"
__ADS_1
"Enggg...."
"Jangan harap Lo."
"Lo mikir apa sih?"
"Alah..kayak gue enggak tau pikiran laki-laki aja."
"Gue enggak pernah sentu wanita lain Ra selain Lo."
"Gue enggak nanya, dan gue juga enggak nyuruh Lo."
"Tapi gue masih berharap kita bisa bareng."
"Keinginan Lo terkabul."
"Serius.."
"Kita dah nikah kan?"
"Jadi boleh?"
"Tunggu gue siap."
"Pasti...!!!" Jawab Angga lalu mengecup ubun-ubun Nara." Gue panggilin Bu Rini."
"Em..."
"Kenapa dengan gue sih?" Nara memukul-mukul dadanya yang terasa berdenyut keras.
...****************...
"Kita ke Bandung sekarang," Ucap Jenny.
"Gue belum ketemu sama Innara."
"Sudah malem sekarang, dan waktu Lo sudah habis."
"Jen..."
"Gue enggak bisa bantu Lo semakin jauh Ga, gue juga cewek yang punya hati."
"Lo sudah milik gue, sampai kapanpun akan seperti itu."
"Harusnya Lo melakukan pembelaan saat itu."
",Kenapa elo enggak?"
"Gue enggak tau kalo acaranya akan seperti itu."
"Gue setuju dari awal, dan gue kecewa sama Lo, kenapa tidak memiliki pemikiran yang sama." tutur Jenny "Ayo, kita pulang, semakin Lo tunda semakin malam kita di jalan."
"apa ada campur tangan Lo saat ini?"
"Maksud Lo?"
"Yah, agar gue enggak bisa lacak keberadaan Innara."
"Gue kasih ijin Lo, kenapa nuduh gue sih?"
"Cuma alibi Lo aja kan bisa!"
"Lo kelewatan Ga."
"Cih..." Angga berdecih dan tersenyum sinis.
"Lo jahat Ga."
"Untuk sekarang iya."
"apa Nara begitu berharga buat Lo."
"Dia lebih dari segalanya buat gue." ucap Angga menerawang di langit-langit mobilnya. "Kasih waktu gue sampai besok, setelah itu gue ikut Lo balik ke Bandung."
"Satu bulan!"
"Hah?"
__ADS_1
"Satu bulan." dengan menghela napas berat akhirnya dia menyetujuinya.
"Oke deal." akhirnya mereka kembali ke hotel.
...****************...
"Pagi..." Bara mengecup pipi Nara saat bangun tidur. Bara terlihat bahagia melihat Innara ada di sampingnya saat bangun tidur.
"Enggghh."
"Udah siang, bangun yuk."
"Iya... bentar lagi Ga..." Ucap Nara hal itu membuat Bara terkejut sangat. Sementara Nara yang sadar akan ucapannya, menutup mata dan mengigit bibirnya.
"Duh, kok kelepasan sih?" batinnya sambil mengutuk dirinya. Perlahan dia menoleh dan melihat Bara dengan wajah memerah. Nara langsung duduk menghadap Bara. Siap menerima makian. Tapi Nara salah, walau Bara sangat kesal dan ingin mengumpat dan keluar sumpah serapahnya, namun semua di tahan, dia tidak boleh gegabah, dia sudah janji akan menunggu sampai Nara siap untuknya.
"Ini gue, bukan Anggara." ucap Bara lalu, melempar selimutnya kemudian berdiri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Didalam kamar mandi semua kran air bukanya, menenggelamkan tubuhnya dalam bathtub agar kepalanya dingin, juga teriak sekencangnya di dalamnya, walau tidak jelas tapi Innara mendengarkan nya.
"Bego banget gue, kenapa harus Ga sih?" Nara memukul pelan kepalanya berkali-kali atas perbuatan bodohnya. "Gue harus gimana?" ada rasa kasihan di dalam hatinya. Walau didalamnya masih Angga lah yang bertahta.
Drrrttt drrrttt
"Angga?Angkat enggak ya?" Nara melihat ke arah kamar mandi, seperti nya masih lama mandinya. Kemudian Nara menuju balkon dan mengangkat ponselnya. "Iya Ga?" Jawabnya.
"Kemana aja sih Lo Ra, susah banget di hubungi." keluh Angga.
",Di rumah, kenapa?"
"Kirim alamat Lo."
"Buat?"
"Gue di Jakarta sekarang "
",Jakarta luar Angga."
"Ya udah ketemu di tengah,"
"Lo kenapa sih? Bukannya Lo sama Jenny?"
"Dari mana Lo tau?"
"Nebak aja."
"Ra.. please, gue enggak bisa napas tanpa Lo."
"Ada cewek di samping Lo Ga, enggak pantes Lo bilang gitu!"
"Gue enggak peduli,"
"Gue peduli, karena gue juga cewek."
"Innara please..."
"Lo di mana?"
"Hotel Dexa."
"Oke kita ketemu di mall aja ya,"
"Mall mana."
"Entar gue kirim alamatnya."
"ya udah...janji Lo Dateng."
"Emmm."
"Gue kangen.."
"Bye...." Nara menutup benda pipih itu dan mendekapnya. "Gue juga kangen Ga, kenapa nasib kita jadi kek gini." tanpa sadar tubuhnya sudah merosot kelantai, terasa sesak rasanya dada Innara, ternyata tujuh tahun tidak menjamin seseorang menjadi milik kita," Gue kira setelah gue bisa sukses gue bisa dapet restu dari orang tua Lo, ternyata takdir berkata lain," Nara terisak. Bara ada di belakangnya tanpa dia sadari. Bara hanya melihat punggung yang naik turun. Melihatnya membuatnya ingin memeluk erat tubuh itu, tapi itu belum bisa iya lakukan, karena diapun merasa tersiksa oleh keadaan. Dia bahagia bersama Innara, tapi tidak dengan hatinya, hati Innara masih jauh perjalanan yang harus dia tempuh untuk mendapatkan nya.
"Gue harus gimana Ga? Biasanya Lo yang bisa bantu gue dalam segala hal, sekarang gue harus cerita sama siapa?" gumamnya lagi, dan hal itu semakin menyayat hati Bara. "Tuhan sungguh tidak adil Ga, Lo sama yang lain, dan gue harus dengan Bara..." Sambungnya. perlahan isakan itu mulai reda, Bara langsung keluar dari kamar, karena tidak tau harus bersikap seperti apa pada Innara, harus memeluk karena kasihan atau marah karena cemburu?"
.
.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...