
"Bara? ngapain?" tanya Nara mendekat pada Bara.
"Ini." Bara memberikan sesuatu pada Nara.
"Apa ini?"
"Buka aja." Nara membuka paper bag coklat dari Bara.
"Syal?" Nara mengerutkan keningnya.
"Emmm, Lo enggak ingat?"
"Enggak." lalu Nara mengembalikan paper bag itu, mendorong kan di dada Bara dan berjalan menuju toilet.
"Ra, tunggu." Nara menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Apa?"
"Lo enggak ingat tentang ini?"
"Sorry Bar, gue enggak bisa mikir yang berat." ucap Nara sambil melambaikan tangan. Bara gontai meninggalkan fakultas ekonomi. "Lo kenapa sih Ta muncul lagi dalam hidup gue." keluh Nara sambil meneteskan air mata. "Mau Lo apa? gue takut sesuatu yang gue takuti terjadi." sambung nya lagi. lalu Nara membasuh wajahnya dengan kasar. dan kembali ke kelas.
...****************...
Kelas sudah selesai, Nara berniat pulang dan ke tempat parkir, tidak di sangka disana sudah ada Doni yang sengaja ingin menunggu Innara.
"Sore Ra."
"Em...."
"Dah tau berita hot belum?"
"Enggak minat."
"Tapi gue pengen Lo tau."
",Dan gue males liat Lo."
"Ayo lah Ra, gue kirim aja ke nomer Lo ya." ucap Doni sambil tersenyum miring.
"Lo mabok?"
"Hai sayang, ini belom malam, belum waktunya party."
"Gila."
"Udah gue kirim, Lo bisa menikmati video itu." ucap Doni lalu mengacak rambut Nara dan pergi dengan tertawa girang.
"Dasar aneh." saat Nara mau membuka pesan dari Doni tiba-tiba panggilan masuk.
drrrttt drrttt
"Halo Ra, jadi kan kita ketemu di kafe?"
"Emmm, jadi kak, bentar lagi gue otw."
"Oke, gue tunggu ya, gue baru nyampe nih."
"Sip." di urungkan niat nya membuka pesan dari Doni, dia masuk ke mobil, menyalakan mesin dan menginjak gas. mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Empat puluh menit Nara sampai disana dia datang lebih lambat dari biasanya. saat masuk kafe Nara sudah melihat Juan duduk di mejanya seorang diri.
"Hai kak Ju."
"Hai, lama banget Lo."
"Sorry, macet." jawabnya merasa bersalah. "Udan minta minum?"
"Udah."
__ADS_1
"Oke kak, gue to the poin aja ya."
"Em...apa itu?"
"Soal foto itu."
"Barata?"
"Kak Juan kenal sama Barata?" Nara masih pura-pura tidak tau jika Barata adalah Bara yang mereka kenal.
"Dia sepupu gue itu."
"Tapi agak beda kak."
"Yah Ra, udah hampir tujuh tahun gimana mau Sama, Lo juga tambah cantik kan."
"Ya... tapi kan." Nara tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa? Lo bingung?" Nara mengangguk. "Jadi gini Ra, tapi sebelumnya gue minta maaf dulu ke elo, kalo kelakuan gue bikin Lo sakit kayak gini, gue minta maaf banget, gue enggak berfikir panjang waktu itu." ucap Juan tulus.
"Maksud kak Juan?" lalu Juan menceritakan semuanya, (Baca lagi bab tujuh belas ya.) "Kak Juan..." Nara menutup mulutnya karena kaget. " Jadi selama ini...?" Nara sudah tidak sanggup menahan air matanya. Nara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Kok Lo tega sih kak sama gue," Ucapnya sambil terisak, walau tidak keras tapi cukup di dengar oleh Juan yang duduk di depannya. "Kebaikan kakak selama ini hanya untuk menutupi kesalahan kakak dan Barata?" Tega banget Lo kak."
"Maaf Ra, maafin gue, saat itu gue enggak mikir kalo sampe Lo hamil."
"Terus kenyataannya gue hamil kak."
"Karena itu gue...." Juan tidak bisa berkata lagi, karena setiap kalimat yang keluar dari mulutnya semua terdengar hanya sebuah alasan saja, alasan seorang pengecut. "Intinya gue minta maaf." Nara menyeka air matanya dengan kemeja yang ia kenakan.
"Gue maafin Lo kak,"
"Thanks Ra "
"Tapi bawa Barata jauh-jauh dari gue."
"Ra...itu enggak mungkin."
"Ra, tenang Ra."
"Bagaimana gue bisa tenang,"
"Harusnya Lo seneng Ra, karena ayah Tara sudah datang, dan Lo enggak perlu lagi jelasin yang aneh-aneh pada Tara ."
"Enggak perlu, gue udah bahagia sama anak gue, jadi Lo bawa pergi dia." kemarahan Nara semakin memuncak." Dan Lo jangan pernah muncul lagi di depan gue, gue enggak butuh belas kasihan dari Lo."
"Ra, bukan begitu maksud gue."
"Keluar Lo dari sini." usir Nara, lalu dia beranjak masuk kekantor nya. Juan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia sudah salah dari awal, mungkin ini adalah hukuman yang tepat untuknya. lalu Juan pun pergi meninggalkan kafe milik Nara, kendaraan nya melaju menuju di club Favorit nya.
"Masih sore dah kucel aja." sambut pelayan yang mengenal Juan.
"Berisik Lo." ucapnya dan itu membuat pelayan mundur perlahan.
"Kenapa Lo?" Gio sudah di belakangnya.
"Pusing gue."
"Kenapa?"
"Si cupu."
"Nara?"
"Emm."
"Kenapa dia?"
"Dia sudah tau siapa Bara."
__ADS_1
"Barata?"
"Emm.."
"Terus?"
"Gue di usir, dan dia enggak mau lagi ketemu sama gue."
"Masalahnya apa?"
"Enggak tau, kenapa gue enggak bisa jauh dari dia"
"Lo suka sama dia?"
"Enggak mungkin."
"Terus apa namanya?"
"Gue enggak tau brengsek." Umpat Juan .
"Sejak kapan Lo punya pikiran begitu?"
"Entah."
"Lo gila?"
"Tabok gue GI."
"Edan."
"Gue enggak tau kenapa bisa begini."
"Lo bakal saingan sama adek Lo."
"Sepupu!"
"Sama aja."
"Terus gue harus gimana Gi?" tanya Juan serasa putus asa, sebenarnya niat hati ingin mendekatkan Barata dengan Nara, karena memang Barata lah ayah biologis Tara, tapi seiring waktu ada benih-benih yang tumbuh tanpa ia sadari, saat waktunya tiba dia harus melepaskannya Nara, tapi dia tidak mampu. Sungguh memalukan bukan? "Gue sudah gila GI."
"Bener Lo udah gila."
"Gue kira gue cuma kasihan, tapi nyatanya berbeda apalagi saat dia ngusir gue tadi." Juan memegang dadanya terasa nyeri.
"Fix Lo suka ma dia." Juan menatap Gio seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, karena Notabenenya dia seorang yang tidak puas hanya dengan satu wanita lalu menghela nafas.
"Itu bukan gue GI."
"Lo liat aja entar kalo sampe Barata dah jadian SMA Nara, Lo bakal kayak gimana?"
"Jangan ngaco Gi, Gue Juan Lo ingat?"
"Oke kita buktikan nanti, yok naik." Ajak Gio ke lantai atas, di sana tempat lebih privat.
"Males gue."
"Banyak yang baru."
"Masih sore GI."
"Tapi wajah Lo dah lewat tengah malem bego ." Ya karena wajah Juan saat ini sangat kacau, dia tidak tau jika di usir oleh Nara akan membuat nya frustasi. tidak seperti biasanya dia akan lebih dulu menghilangkan jika dia sudah bosan, tapi kali ini berbeda.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰