
"Gue sering liat Lo."
"Maksudnya?"
"Ya gue sering liat Lo makan sama Sintia disini."
"Ooowww." padahal maksud Andreas bukan itu. Dia lebih sering melihat Innara naik ke lantai atas ruangan bara dari pada ke kantin. Innara hanya mengangguk seolah paham, padahal dia tidak ngerti sama sekali, dan kalo dipikir-pikir dia sangat jarang datang ke kantin itu.
"Siapa dia?" Batin innara dengan melihat Andreas. "Gue dan kenyang nih, duluan ya."
"Lo enggak ngopi dulu?"
"Gue enggak suka kopi." Jawab Innara langsung pergi. Saat keluar pantry tiba-tiba ada Bara di sana. "Barata? Ngapain disitu?"
"Nungguin bini gue yang lagi berduaan sama cowok lain." Bara menarik tangan Innara dan mendorong nya di dinding.
"Gue laper, jadi bikin mie deh," tutur Innara, "Habisnya Tadi ada bos resek yang ganggu gue makan." sambungnya lagi sambil melirik Bara.
"Tumben tadi makan di kantin?"
"Ya karena suami gue di samperin cewek cantik."
"Ayang,"
"Udah enggak usah merajuk, impas kan kita?" Innara kesal. " Minggir!!gue mau balik, Sintia pasti lagi nungguin gue."
"Ayo naik, gue kangen"
"Enggak gue masih ada kerjaan, lagian kita juga baru sampe kan, kangen apanya?"
"Ra..tunggu." Andreas muncul dari pantry dan melihat adegan yang tidak seharusnya di lihat. Innara langsung mendorong Bara saat itu juga. "Eh sorry, gue pikir."
"Pikiran Lo kejauhan bro, pergi Lo." Usir bara pada Andreas pun pergi dengan kesal. padahal dia tadi mau minta nomer ponsel Innara, malah melihat adegan itu. "Apa hubungan Innara dengan Pak bos ya?" Gumam Andreas saat berjalan menjauh dari pantry. Setelah tidak ada lagi bayangan Andreas Bara kembali ke posisi semula.
"Lo kira-kira dong ta, kan gue malu di liatin orang, pasti mereka mikir yang macem-macem tentang gue."
"gue enggak peduli mereka mikir apa, lagian Lo istri gue, Lo lupa?"
"Ya kan masih Rahasia ta."
"Gue mau di publish."
"Sabar dulu lah, gue mau kuliah dengan tenang."
"ya udah ayo kita naik sekarang."
"Mau ngapain gue diatas, kerjaan gue dibawah."
"Ay Lo enggak peka banget sih?"
"Jangan aneh-aneh ya?" Innara berfikir yang tidak-tidak pada Bara. "Ketemu di rumah aja, kan kurang beberapa jam juga."
"Enggak sabar."
"Dasar bayi tua. Dah gue pergi, kerja yang bener jangan kegatelan sama cewek cantik." Innara mendorong tubuh Bara dan bergi dengan cepat.
"Jadi makan mie nya?" tanya Sintia saat melihat Innara masuk ruangan.
"Em ... Mie goreng." jawab Innara.
"Pak bos tu bener-bener freak ya Ra."
"ha? Kenapa emang?" Innara antusias mendengar cerita Sintia.
__ADS_1
"Masak beneran dia makan soto ayam Lo sampe habis, enggak jijik apa sisa orang."
"Mungkin dari pada mubazir ya di makan aja kali sin."
"Hah? Lo kira-kira dong, seorang pewaris makan sisa Lo."
"Hahahhahaha ... Lucu juga ya." Innara menanggapi tidak serius.
"Lo enggak risih apa Ra? Jangan-jangan dia psikopat."
"Psikopat, ngeri juga ya kalo bener."
"Tuh kan, baru mikir kan Lo."
"iya, baru mikir gue, takut kalo Deket-deket sama dia."
"Udah jangan naik lagi Lo, takut kalo Lo di apa-apain." Tutur Sintia memperingatkan Innara. sedangkan Innara bingung harus menjawab bagaimana, satu-satunya cara adalah mengangguk.
"Nara....Kamu anak magang kan?" Bu Vera muncul kepalanya.
"Iya Bu saya." Jawab Innara.
"Di minta pak Bara untuk menemaninya, bawa laporan terakhir yang harus di cek."
"siap Bu." Jawab Nara.
"Sekarang!"
"Siap."
"Ini perintah."
"Iya Bu, saya segera kesana." Ucap Nara karena Bu Vera tidak kunjung pergi.
"Tuh kan, gue bilang apa, dia tu aneh." ujar Sintia saat Bu Vera sudah pergi.
"Kasian Lo Ra, baru magang udah tersiksa sama bos Junior." Gumam Sintia lalu kembali dengan kesibukan nya.
...****************...
"Jangan kegatelan ya Lo sama bos muda." Tangan Innara di Cengkram kuat oleh Prita saat akan masuk ruangan bos.
"Apaan sih Lo? Sakit tau." keluhnya.
"Gue ingetin Lo ya."
"Gatel ya tinggal garuk, kenapa repot sih."
"Lo masih becanda ya sama gue." cengkraman Prita semakin kuat. Ini sudah bukan bercanda lagi, Innara mendorong Prita hingga jatuh kelantai.
"Aaaa." Suaranya sangat kencang hingga beberapa orang keluar dari ruangannya termasuk Bara. "Lo bicara baik-baik kan bisa Ra, bukan kasar kek gini dorong-dorong gue." Keluh nya. Sandiwara Prita di mulai, dan semua yang ada disana memandang sinis pada Innara.
"Dasar Mak lampir." gumamnya dalam hati. Bara pun mendekat pada Innara bertanya dengan alisnya lalu pun menggeleng.
"Ayo masuk." Bara menarik tangan Innara, dan mengabaikan Prita dengan wajah memelas.
"Pak Bara saya minta maaf, bukan maksud saya, tapi dia..." Prita sudah akan menuduh Innara yang macam-macam tapi dengan tatapan, Bara dia pun diam. Setelah Bara dan Innara masuk yang lain mulai membantu Prita berdiri dan mulai bergosip.
"Kenapa ay?"
"Mana gue tau,"
"Kok bisa dia jatuh di lantai?"
__ADS_1
"Dia playing victim Ta."
"Maksud Lo." Innara melepas kancing bajunya membuka sedikit dan memperlihatkan bahunya yang di Cengkram Prita hingga kukunya membekas.
"Ya tuhan...kurang ajar nih anak lama-lama." desis Bara kesal. "Sini biar gue foto." Bara mengambil ponsel dan memotret luka di bahu Innara.
"Buat apa?"
"Buat lapor ke tim disiplin."
"Ada-ada aja sih."
"Kalo di biarkan Lo juga yang bakal di sakitin terus kalo gue enggak ada."
"Udah ah, enggak usah di urus gue bisa atasi dia, cuma lagi males aja gue." Tutur Innara. "Terus ngapain Lo minta gue naik?"
Grep Bara memeluk Innara
"Kangen."
"Mulai." di raih tengkuk Innara dan mencium bibirnya dalam-dalam.
"Lepas Ta, di kantor ini."
"Di rumah boleh?"
"Barata?"
"Lo candu banget ay"
"oh ya tadi Beby ngapain kesini?" masih dalam posisi peluk-pelukan
"CK...males gue bahas dia, tambah lama enggak jelas apa maunya."
"Minta Lo kawinin."
"Dari mana Lo tau?"
"Model gituan mah gue paham ta," Jawab Innara dengan buang muka. Angga tau Innara kesal, Bara memegang kedua pipi Innara dan mengecupnya kembali.
"Hanya Lo, dan enggak pernah ada yang lain, Lo percaya kan?"
"Serah Lo dah."
"Ayang." Bara memeluk erat tubuh Innara. "Terus siapa tu cowok tadi?" tanya Bara dengan wajah serius.
"Yang mana?"
"Yang di pantry bareng Lo tadi siang."
"Anak marketing, Lo kenal?"
"Mana gue tau, gue juga kan belum lama disini."
"enak ya Lo bisa langsung jadi bos."
"Tetep enak Lo ay."
"Kok bisa."
"Iya kan langsung jadi istri bos." mereka berdua tergelak hingga terdengar samar-samar dari luar.
"Awas kamu Ra." Prita menggenggam tangan nya erat ingin melayangkan pukulan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰