Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Jalan tikus


__ADS_3

"Biar Edo yang urus soal dia."


"Edo?IT Lo Edo?" Bara hanya mengangkat bahunya.


"Ada masalah?"


"Enggak ada yang lebih jago? Lambat banget dia." Ucap Innara menyombongkan diri.


"Emang ada yang lebih jago dari dia di kantor?"


"Ada..."


"Siapa?"


"Gue..."


"Ayang.."


"Bercyanda bercyanda"


"Gue serius Innara, kalo Lo kayak gitu pengen banget gue bikin adiknya Tara."


"Dasar mesum dikit-dikit bikin adek, Lo aja masih kecil, hahahahha." Canda Innara mulai keterlaluan.


"Oh jadi gitu ya?" dengan langkah cepat Bara menghampiri Innara memeluk lalu ******* bibirnya dengan rakus.


"Ta...ah...ta..." Innara terengah tak bisa bernapas. "Lepasin ...ah..gue Ta!"


"Gue serius Lo aja bercanda, sekarang gue becanda Lo minta di lepas." Setelah bicara sebentar Bara kembali bermain dengan bibir Innara. Semakin lama semakin dalam. Bibir Bara turun ke leher sampai akhir kancing baju keduanya terlepas.


"Ta....aah...." pertempuran mereka merupakan sarapan kedua di pagi ini. Setelah selesai mereka berdua berbaring lemas di atas ranjang. " Gue anak magang Barata." Keluh Innara.


"Anak magang istri bos kan."


"Yang ada gue di kira halu ta."


"Kok bisa?"


"Ya karena semua orang mikir Lo pacar Beby."


"Innara sayang..." Tangan Bara melingkar di pinggang Innara. "Jangan over thinking gitu dong." Bara mengecup pipi istrinya.


""Sana mandi gih, kita kekantor."


"Cuti aja ya hari ini!"


"Kenapa?"


"Gue mau lagi."


"Lo mau hajar gue lagi kayak kemaren?"


"Itu kan pertama kalinya ay, jadi Maruk gue."


"Sama aja, sekarang juga Maruk, baru selesai aja dah mau tambah." ujar Innara sambil membelai rambut Bara.


"Oh ya, masalah IT tadi, kenapa dengan Edo?"


"Kan dah gue jelasin tadi." Ucap Nara. "Lambat."


"Lo kenal Edo?"


"Enggak."


"Terus dari mana Lo tau IT gue lambat."


"Harusnya om Zaki yang Lo ambil untuk itu, karena om Zaki lebih pro, kalo Edo masih kurang lah."


"Sebenarnya Lo siapa sih ay? Semakin hari ada aja hal unik yang enggak gue tau dari Lo."

__ADS_1


"Nanti juga tau, gue juga belum tau banyak tentang Lo."


"Wajar Lo enggak tau tentang gue, Lo enggak pernah bucin sama gue, sedangkan gue, dari tujuh delapan tahun yang lalu udah bucin."


"Emang setau apa Lo tentang gue?"


"Enggak usah di bahas nanti mood Lo ilang."


"Serah Lo deh, gue mau mandi dulu," Innara hendak bangun dari tidurnya tapi bara masih memelukku. "Minggir Lo!"


"Bentar lagi ay." Bara masih menikmati rebahan nya. "Kapan ya ay dedek nya Tara ada di sini?" Ucap Bara sambil mengelus perut Innara.


"Jangan dulu, gue masih kuliah,"


"Kan bentar lagi lulus."


"Ya biar konsen aja Ta, enggak usah buru-buru juga,"


"Gitu ya?"


"Em...jadi kita bisa menikmati pengantin barunya lama." imbuh Innara.


"Serah Lo ay, tapi tetep gue bakal rajin bikin dedeknya Tara."


"Heeeeewh." Innara menghela napas. "Iya udah, minggir dulu, gue kebelet pipis nih." mau tak mau Nara melepas pelukannya.


Setelah kejadian itu tidak ada lagi teror untuk berbentuk apapun, Beby juga jarang muncul dan Andreas masih pura-pura tidak tau. Innara mengikuti bagaimana permainan nya, sedangkan Sintia, entah bagaimana bisa dia selalu ikut setiap misi yang Innara lakukan.


"Sin entar sore mau enggak Lo jalan sama gue?" Ajak Andreas saat mereka makan siang bersama.


"Kemana?"


"Biasa ngafe, ada tempat tuh yang lagi viral." Ucapnya antusias.


"Lo Ra, Mau ikut?" Tanya Andreas." Kasian Sintia enggak ada temen nya."


"Kenapa gue?"


"Iya Ra, temenin gue." pinta Sintia dengan wajah memelas.


"Boleh deh, tapi enggak lama kan?"


"Enggak kok, jam delapan kita balik." jawab Andreas senang.


"Oke,"Jawab Innara santai. "Kita balik dulu ya," Pamit Innara di ikuti oleh Sintia.


"Ra tunggu." teriak Sintia saat Innara berjalan terlebih dahulu. "Bye Andreas, bye Andi." Sintia melambaikan tangannya.


"Gue takut Ra," Ucap Sintia saat mereka sudah berada di dalam ruangan.


"Santai aja, sampai mana sih dia mau ngajak kita kucing-kucingan." Jawab Innara sambil sambil memainkan ponselnya.


"Tetep aja Ra gue takut, mereka cowok Ra."


"Mau gue bilang Bara?"


"Jangan deh, nanti malah gue yang di pecat sama laki Lo, gara-gara ngajak jalan sama cowok."


"Nah, tu tau."


"Emang dia enggak nanya, kalo Lo pulang telat?"


"Enggak."


"Dan Lo?"


"Gue juga enggak tanya kecuali dia yang cerita sendiri."


"Kalian ini, bikin gue frustasi."

__ADS_1


"Maksud nya?"


"Ya kalo pasangan itu Ra, harus saling kasih kabar dan juga pamit kalo mau kemana-mana."


"Buat apa?"


"Kalo Lo kenapa-napa mereka tau Lo dimana." Nara berfikir sejenak.


"Bener juga, pantes aja kadang Bara WA enggak jelas, tapi gue cuekin aja."


"Dasar lo emang aneh."


"Ya udah la ya, dia laki gue dan enggak pernah protes."


"Tapi kalo Lo penuh perhatian pasti beda Ra."


"Kalo lebay berarti dia bukan gue sin-sin."


"Lama-lama bisa panggil gue sinting Lo Ra."


"Pengennya sih gitu, tapi enggak tega gue."


"Awas ya Li, gue lapar Bks Bara."


"Emang mau lapor apa?"


"Apa ya?" Ucap Sintia sok mikir.


"Udah lanjutin kerjaan Lo, biar bisa pulang bareng Kim Seok jin."


"Walau Kim Seok jin kalo gitu gue takut juga Ra "


"Itu lagi..." Akhirnya Innara tidak lagi mempedulikan ocehan Sintia yang tambah absrutd, dia menyelesaikan semua laporan untuk bulan terakhirnya magang di perusahaan keluarga suaminya.


...****************...


"Hai ladies." Sapa Andreas saat mereka bertemu di lobi.


"Gue nebeng Nara aja ya an," ucap Sintia yang takut jika dia harus bersama Andreas.


"Pake mobil gue aja, lebih asik rame-rame dari pada sendirian kan?" Paksa Andreas. "Iya kan ndi?" ucapnya mencari dukungan, padahal Andi tidak tau apapun.


"I-iya." Ucapnya lagi dengan memperhatikan Innara.


"Gimana Ra?"


"Oke deh."Ucap Innara santai lalu mengikuti langkah Andreas dan Andi.


"Lo yakin Ra?" Bisik Sintia.


"Tenang aja, ada gue " Ucapnya.


"Ladies first." Ucap Andreas sambil membuka pintu untuk Innara dan Sintia, sesaat Sintia terlena tapi begitu mengingat kejadian beberapa waktu lalu dia kembali takut. Innara masuk dan di ikuti oleh Sintia. Andi duduk di depan bersama Andreas ya g memegang kendali. "Siap ya? Kita meluncur.


"Jalanan agak macet nih." Keluh Andreas saat kendaraan mereka jalan melambat.


"Kan biasanya juga kek gini an." Jawab sintia.


"Iya sih," Ucapnya sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Gue lewat jalan tikus aja ya?"


"Emang ada?" tanya Sintia.


"Ada gue tau kok." Jawabnya.


"serah Lo deh." Innara ikut menimpali .


...BERSAMBUNG ...


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...

__ADS_1


"


__ADS_2