
"Jadi jawab dengan jujur siapa ayah Tara?" Suara Indra terasa dingin dan menakutkan bagi Nara, karena dia sudah lama tidak ada orang yang sungguh-sungguh Memarahinya. "Jawab Nara!"
"Saya Bang." jawab Indra tegas.
"Betul kata dia Ra?" Nara mengangguk.
"Kenapa kamu enggak nikahi Nara dan malah kabur."
"Saya tidak tau kalo Innara hamil bang."
"Kamu sadar kan sudah tidur dengan Nara ."
"Maaf bang, saya ....."
"Udah lah bang, itu sudah lama, dan enggak perlu di bahas lagi sekarang." Nara mencoba menyelesaikan pertemuan ini.
"Tapi Tara perlu ayah Ra."
"Nara bisa jadi ibu dan ayah sekaligus kok bang, bang Indra enggak usah khawatir soal itu, kami udah terbiasa hidup berdua."
"Dia harus bertanggung jawab."
"Nara enggak mau.."
"Bukan keputusan mu, sekarang Abang yang tentukan."
"Kalo Abang maksa Nara bakal pergi dan enggak akan kembali lagi."
"Ra...Dengerin Abang Lo dulu." Ucap Bara yang mulai Enggak sabar.
"Lo kenapa ikut-ikutan si Bar? Gue benci sama Lo."
"Tapi gue suka sama lo."
"Gue enggak."
"Kalian harus menikah."
"Bang..."
"Abang enggak mau dengar penolakan."
"Ini gara-gara Lo Bar..."
"Kamu, Bara..besok bawa orang tua mu, saya tunggu sampai dua puluh empat jam, jika kamu tidak datang dengan orang tuamu, maka kamu tunggu akibatnya, nasib orang tuamu dan nasibmu tidak akan selamat."
"Bang Indra apaan sih?"
"Diam kamu, sekarang kamu masuk kamar, jangan punya pikiran yang tidak-tidak, Tara ada sama Abang."
"Bang, ini pemaksaan."
__ADS_1
"Apa kamu masih mau jadi perempuan simpanan sahabat mu itu?"
"Bang ... enggak seperti itu."
"Masuk, dan tunggu sampai Abang ijinkan kamu keluar." dengan kesal Innara menuruti kemauan abangnya itu, Diapun masuk kedalam kamar. Sedangkan Bara masih diluar, entah apa yang mereka bicarakan, Innara tidak peduli.
Sudah pukul tiga pagi, Innara masih belum bisa pejamkan matanya. Dia berfikir bagaimanapun dia harus keluar dari rumah ini. "Kenapa Abang tega sama gue sih? Kenapa harus maksa gue nikah sama Bara." kalimat itu yang terus keluar dari mulutnya, dia ingin sekali menghubungi Angga, tapi ponsel Angga tidak aktif, berulangkali dia mencoba tapi masih sama saja. "Ga Lo dimana sih? Gue takut, kenapa Lo enggak ada saat gue butuh sekarang, Lo pasti lagi sama Jenny kan?" pikiran Nara semakin kacau. kesalnya tidak terkira.
Pukul lima pagi, kantuk mulai menyerang. Angga menghubungi berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari Innara. Dia tau Nara ada di Jakarta tapi dia tidak tau dimana tepatnya, karena selama ini dia tidak mau memberi tau kan siapapun dia dimana.
"Dimana sih Lo Ra?" gumamnya sambil tap tap layar ponselnya.
Tok tok tok
tiba-tiba pintu di ketuk
"Siapa sih pagi buta ketuk pintu kamar orang." gerutu Angga, tapi dia masih mengabaikan ketukan itu, tapi semakin lama ketukan itu tidak berhenti dan semakin keras. "Damm." umpat Angga amdan akhirnya dia membukakan pintu. "Jenny? Ngapain Lo disini?" pekik Angga kaget kenapa Jenny bisa sampai di Jakarta, padahal beberapa hari yang lalu dia kabur kembali karena rindu Innara dan sekarang dia harus di pertemuan kan kembali oleh Jenny.
"Kenapa? Kaget?Gue lebih kaget saat buka kamar Lo enggak ada dan ponsel Lo mati, dan sekarang Lo dimana?di jakarta Ga! Lo penghianat."
"Dari awal sudah gue bilang kan?"
"Lo terpaksa terima pertunangan itu? Tapi gue enggak."
"Serah Lo, sekarang Lo pergi dari sini." Usir Angga. Tapi saya g Jenny sudah terlanjur masuk.
"Gue disini sampai Lo siap."
"Bandung lah, gue kesini di suruh bokap Lo jemput Lo untuk balik ke Bandung."
"Enggak."
"Ngapain sih Lo disini? Cari Innara?" tanya sekaligus menjawab pertanyaan nya sendiri. "Jangan berharap banyak sama dia, dia pergi tanpa kasih kabar Lo kan? Berarti udah enggak penting lagi buat dia." Jenny memprovokasi Angga.
"Itu semua gara-gara Lo."
"Baguslah kalo gara-gara gue, berarti dia cewek yang tau diri."
"Tapi elo yang enggak tau diri." ucap Angga yang semakin kesal saja dengan ucapan Jenny.
"Udah lah ga, jodoh Lo tu gue, jangan kejar Innara atau gue buka semua aib orang tua Lo."
"Urusan Lo sama gue Jen, jangan libatkan orang tua gue."
"Hubungan kita karena bokap Lo yang minta gue sama ayah untuk jadiin Lo partner hidup gue."
"Cuma partner bukan pasangan."
"Angga, Lo keterlaluan."
"Gue masih capek, pergi Lo, gue mau tidur lagi."
__ADS_1
"Gue tunggu sampai Lo bangun."
"Jenny.....!"
"Setelah bangun Lo ikut gue ke Bandung, bokap gue nungguin Lo." lalu jenny duduk di sofa dan menyalakan televisi.
"Aaahh.." Angga teriak melepas kesalnya dengan mengusap wajahnya dengan kasar. "Bisa enggak sih Lo lepasin gue aja Jen?"
"Enggak, karena gue enggak akan menghianati bokap gue."
"Kita enggak mungkin bisa jadi pasangan Jen."
"Menurut Lo, tapi gue enggak peduli, walau Lo Enggak suka sama gue, atau cuma badan Lo yang sama gue, gue sama sekali enggak peduli."
"Lo sakit?"
"Cuma itu cara gue bikin bahagiain bokap gue."
"Cih..." Angga berdecih membuang muka dengan kesal.
"Terserah Lo percaya atau nggak." Ucap Jenny dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya dia jga enggan untuk menerima perjodohan ini, karena diapun sudah memiliki kekasih, tapi demi papanya dia melepas lelaki yang sangat iya cintai. Demi kelangsungan perusahaan yang sudah mulai krisis dia merelakan kebahagian nya demi papanya.
"Jujur sama gue, kenapa Lo terima-terima aja perjodohan ini." Angga mencoba mengintimidasi Jenny agar berkata jujur. Tapi lagi-lagi hal itu tidak berlaku untuk Jenny.
"Kan sudah gue bilang demi bokap gue."
"Lo sudah punya cowok Jenn, jadi kenapa? Kasih tau alasannya, biar gue cari jalan keluar."
"Perasaan gue enggak penting,"
"Shitt!!!!!" Angga meninju meja yang tak bersalah di sampingnya.
"Sorry Ga, gue harus lakuin ini, gue tau kita sudah memiliki seseorang yang kita sukai," Batin Jenny, lalu dia menghela napas panjang lalu berbaring. "Lo tidur aja, gue disini, enggak akan ganggu Lo."
"Gue mau cari Innara." akhirnya dia jujur agar Jenny membuka hatinya sedikit.
"Setelah ketemu Lo harus balik ke Bandung sama gue."
"Jen...Lo bener-bener ya?"
"Mau gimana lagi, cuma itu yang bisa gue lakuin buat Lo." akhirnya Angga pun tidak bisa berkata apa-apa.
Ditempat lain, Bara memohon kepada orangtuanya agar mau memenuhi permintaan nya. Tapi orang tuanya enggan melakukannya.
"Anak kurang ajar, apa belum puas kamu bikin malu mama sama papa selama ini?"
.
.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...