
"Is-tri..?" Suara Indra terbata.
"Iya, istri, Bagaimana ,cantikan istri saya pak indra?memang dia jarang saya ajak keluar, katanya malas." Senyum pak Budi bangga atas istrinya. "Wah pak indra sepertinya anda sangat terkesan dengan istri saya." ucap pak Budi kesal karena tatapan indra pada istrinya.
"Pak...." Nadia menarik lengan baju indra, dan itu membuatnya tersadar.
"Ah ya, maaf pak." Indra terkejut akan kode dari Nadia, " Begini pak budi, sepertinya proyek kerjasama kita tidak perlu di bahas lebih lanjut, saya memilih untuk membatalkan semua proposal yang sudah anda ajukan pada perusahaan kami, dan saya mohon pamit sekarang juga ." Ucap indra kesal lalu berdiri dari kursinya, sedangkan Nadia masih bingung atas ulah indra, karena ini adalah proposal penting yang beberapa bulan terakhir di cross cek oleh pak Edo.
"Pak Indra, ada apa ini, kita sudah ada kesepakatan dari bulan lalu."
"Saya tidak perlu menjelaskan, lebih baik tidak perlu bertemu lagi, dan anda, saya ceraikan anda sekarang juga, langsung talak tiga..." Indra menunjuk langsung di wajah Agita, dan itu sontak membuat Nadia dan pak Budi kaget.
"Cerai? Maksudnya?"
"Istri anda adalah istri saja juga." ucap indra lalu meninggalkan tempat itu. sedangkan pak Budi tidak percaya akan apa yang terjadi beberapa saat lalu.
"Agita, jelaskan apa ini?" sedangkan Gita sudah tidak berkutik lagi, mengkerut bagaikan kerupuk yang sudah kena air.
"Pak...ini maksudnya gimana?" ucap Nadia yang masih belum paham atas situasinya.
"Kita langsung kekantor saja."
"saya juga pak?"
"Kamu boleh pulang,"
"Lalu ..."
"Apalagi sih NAD?" Indra berhenti tepat saat itu juga Nadia menabrak punggungnya.
"Maaf pak," Ucap Nadia takut-takut, lalu menyodorkan file yang dari tadi dia bawa." ini pak," file itu di terima oleh Indra " lalu pak Edo pak?"
"Edo urusan saya."
",Baik pak, saya pulang ." ucap Nadia takut, walau. Dalam hati girang. "Sudah tiga tahun jadi sekretaris pak Indra tapi sama sekali belum pernah bertemu istrinya, sekali ketemu eh..samaan istrinya sama pak Budi," Batin Nadia, "Kasian juga pak Indra." Sambungnya lagi.
"Kamu kenapa?"
"Ah enggak pak, saya pergi sekarang." Nadia langsung kabur dari hadapan indra, sedangkan Indra langsung kekantor, dan pasti dia tidak akan pulang malam ini.
Setelah kejadian itu, indra merenungi nasibnya, dari dia kehilangan adik semata wayangnya dan sekarang istri yang tidak tau diri. Jika di ulas kembali semua cerita memang banyak keganjalan dari setiap cerita yang di sampaikan Gita pada nya, hingga dia selalu menyalahkan adiknya yang tidak tau menahu, dan sampai akhir dia pergi dari rumah, dan setelah itu kejanggalan yang terjadi lagi adalah di saat pernikahan mereka yang kelima, dimana Gita sering minta ijin jalan dengan teman-temannya dan tidak pulang hingga satu Minggu. Sampai akhirnya dia tersadar akan hal itu. Ini alasannya sampai dia tidak pulang, Tuhan telah membuka matanya dengan menunjuk kan langsung padanya tanpa harus bersusah payah mencari bukti.
Semua sudah jelas sekarang, urusan dengan Edo?tidak usah di bahas, karena pastilah seperti apa marahnya dia, bahkan indra saja ngeri melihat anak buahnya marah-marah.
Dan akhirnya Indra mulai mencari keberadaan adik ya setelah hampir Eman tahun berlalu.
__ADS_1
...********FLASHBACK OFF********...
Nara menutup mulutnya rapat-rapat, karena tidak percaya hal itu terjadi kepada kakaknya, karena kakaknya yang selama ini teliti mengapa sampai bisa tertipu hingga bertahun-tahun.
"Sudah lah Ra, Abang sudah ikhlas jadi kamu tidak perlu merasa kasian sama abang." Indra berkata begitu agar Nara tidak perlu iba dengannya.
"Tapi bang..." Nara merasa kasian pada abangnya, karena abangnya itu sangat mencintai istrinya, sampai setiap perkataan kakak iparnya selalu benar di matanya dan dia selalu salah.
"Abang udah baik-baik aja sekarang, sekarang Abang harus menebus kesalahan Abang sama kamu dek." sambungnya. " Tapi Abang pengen tau alasan kamu pergi dari rumah?" Indra menatap Nara secara intens, hingga membuat Nara sedikit mengkerut.
"Emmm...Abang janji enggak akan marah sama Nara?" ucap Nara takut pada abangnya.
"Seharusnya Abang yang minta maaf sama kamu ta, karena Abang tidak bisa memenuhi janji Abang sama ibu kita." ucap Indra merasa bersalah.
"Janji ya bang?"
"Emmmm."
"Apapun itu?"
"Apapun itu!"
"Kalo gitu Abang ikut Nara pulang aja, nanti Nara ceritain semuanya, tapi janji enggak marah."
"Dih enggak percayanya sama Abang."
"Iya, maaf deh.."
"Di maafin asal Abang juga mau maafin Nara."
"Iya, ayo.." Nara pun mengajak indra pulang kerumahnya.
Setalah membereskan sisa makanan mereka Nara membawanya turun.
"Kan bisa gue bos, kenapa harus Lo yang turun."
"Gue sekalian balik Jo."
"Sekarang? Lagi rame kafe bos."
"Gue bis disini, oke."
"Kalo Lo ngomong gitu berarti emang lagi ada perlu penting ya?"
"Em..."
__ADS_1
"Dia siapa?" bisik Jo pada Nara.
"Abang gue," jawab Nara saat indra berjalan keluar kafe." besok-besok deh gue ceritain,"
"Oke, ati-ati, tau kan kalo ada apa-apa Lo harus cari siapa?"
"oke." Nara mengacungkan jempolnya dan berlari menyusul Indra.
"Abang naik apa kesini?" tanya Nara saat dia sudah menjajari langkah indra.
"Tuh." dia menunjuk mobil sport keluaran terbaru.
"Dih....sombong."
"Kan kamu tanya dek."
"Ya udah naik mobil Abang aja, Nara insecure kalo naik mobil Nara." Ucap Nara dan berjalan terlebih dulu ke arah mobil sport itu. Sedangkan Indra hanya menggeleng, dia sudah lama tidak melihat tingkah lucu adeknya itu, banyak momen yang hilang diantara mereka berdua, dan lebih lagi dengan kebodohannya sampai kehilangan adiknya bertahun-tahun tanpa dia peduli. "Ayo bang, tunggu apa lagi?" ucap Nara saat melihat indra berjalan pelan. "Lambat banget jalannya."
"Iya, iya Abang jalan lebih cepat nih." Indra pun berjalan mendekat dan membukakan pintu untk Nara.
"Kalo Nara nyoba nyetir boleh enggak bang?"
"Emm ... boleh." lalu indra melempar kunci mobil pada Nara.
"Aseekkk, kapan lagi bisa nyobain mobil sekeren ini." Ucap Nara sambil jingkrak kegirangan. Sedangkan Indra menggeleng-geleng. ",Yuk bang....Gaassss." Ucap Nara sambil menyalakan mesin.
Tidak butuh waktu lama menuju rumah Nara, hanya membutuhkan waktu kurang dari enam puluh menit sudah sampai.
"Siapa Bu?" tanya mbak Tia saat mendengar ada mobil masuk, dan itu bukan mobil Nara ataupun Angga.
"Nak Angga mungkin Tia, mobil baru."Ucap Bu Rini santai.
"Mas Angga lagi ke bandung Bu kata bu Nara."
"Ya liat aja, nanti juga masuk."
"Ah ibu, mesti begitu."
Nara keluar dari mobil sport itu, dan membuat mbak Tia dan Bu Rini kaget, Karena kendaraan yang iya gunakan, apalagi di ikuti oleh cowok matang. Bikin Bu Rini dan mbak Tia tambah shock.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰