
"Barata, kamu dari mana saja nak, kasian Tara tuh main sendiri." Ucap mami Sani saat melihat Bara masuk rumah.
"Ini ma, ada pekerjaan yang di minta papa sedikit, sekalian ngafe sama temen." Jawab Bara jujur.
"Innara mana ma?"
"Lagi di dapur, katanya mau buatin juice sehat buat mama." Sambungnya Lagi, dengan tersenyum bahagia. Bagaimana tidak bahagia, setelah Bara menikahi Nara, sikap bara sungguh sangat berbeda. Biasanya kalo enggak mabok ya balapan, tapi setelah menikah hal-hal seperti itu tidak iya lakukan lagi, jadi dia harus bersikap baik dengan Innara.
"Juice?"
"Iya, emang kenapa?"
"Enggak papa sih ma, Nara emang jago kalo bikin juice." puji Bara.
"iya, puji terus istri mu."
"Cantik kan ma?"
"Kamu memang pinter."
"Siapa dulu dong."
"Tapi jalanmu salah le...."
"Enggak papa ma, yang penting hasilnya."
"Kamu ini, ya sudah ini ajak anakmu main." Ucap mama Sani lalu berjalan menghampiri Nara.
"Sudah jadi ma." Ucap Nara lalu menyodorkan juice sehat ala Innara.
"Ehhmmmm..." Gumam mama Sani menikmati juice itu. " Kamu pinter sekali sayang buat jusnya, walau dari sayur tapi rasanya tidak seperti makan sayur." puji mama Sani.
"Mama bisa aja, kalo Nara enggak ada mama bisa kok buat sendiri, nanti Nara siapkan bahan-bahannya biar tinggal bland aja." Jawab Nara.
"Heemmmm, enak banget, Seger." Imbuhnya. "Kamu lama kan nginep disini?" tanya mam Sani setelah menghabiskan minuman nya itu. "Biar mama ada yang buatkan juice." Ucapnya sambil tertawa, "Nanti uang jajan mama tambah deh...." Rayunya lagi.
"Mama bisa aja," Sahut Nara sambil tersenyum." Uang jajan dari Barata cukup kok ma....."Sambungnya.
"Buat tambahan kan enggak papa sayang, udah jangan nolak, mama enggak suka." ucapnya sambil menggandeng tangan Nara dan mereka pindah ke ruang tengah.
"Ternyata mertua enggak segalak yang ada di layar kaca." Batin Nara dan tersenyum dengan pikirannya sendiri.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya mama Sani melihat Nara tersenyum.
"Enggak papa ma, Nara seneng aja bisa ngobrol banyak sama mama."
"Makanya kan sering mama minta kamu kesini, tapi kamu sibuk terus."
"Iya ma, maafin Nara." ucapnya tulus.
"Jangan Barata baik-baik ya sayang, mama berharap banyak dari kamu."
"Nara akan berusaha ma."
"Terimakasihnya sayang " lalu mama Sani memeluk Nara dengan erat, selayak anak sendiri. Dia benar-benar menyukai semua yang ada pada Innara, dari cara bicara, pakaiannya, sikapnya, semua membuat mama Sani senang.
"Udah dong, peluk-peluknya." Ucap Bara merasa cemburu karena dia abaikan oleh Nara.
"Tara ngantuk ni Ra..."
"Apa ? Ra?"
"Apa sih ma?"
"Kamu panggil mantu mama apa tadi?Ra?"
"Mama apa-apaan sih."
__ADS_1
"Mami enggak suka mantu mami di panggil seperti itu " Ucap mama Sani.
"Enggak papa kok ma, Nara udah biasa."
"Enggak bisa, kamu harus panggil mantu mama dengan sebutan yang pas, mama enggak suka kamu panggil dia dengan namanya saja."
"Terus Bara harus panggil apa ma..."
"Pikir sendiri."
"Mama." Kesal Bara. Disambut tawa oleh Mama Sani dan Nara. "Kalian kompak ya ngerjain aku."
"Gue enggak ikut kok, mama aja." Ucap Nara gelagapan. Bara hanya melirik tajam ke arah Nara setelah itu dia pergi mengajak Tara main di taman belakang.
...****************...
"Ra....."
"Ehmmmm"
"Ayo jalan!"
"Kemana?"
"Biasa ngafe."
"Bosen gue ngafe, hati-hati hidup gue di kafe."
"Kan kalo di Bali Lo yang ngelayanin, kalo disini Lo di layani, beda kan."
"Males gue,"
"Ayo lah, Lo besok dah balik ke Bali sayang ...."
"Hah? Apa?"
"Lo tadi bilang apa?"
"Yang mana?"
"Pulang ke Bali bali?"
"Setelah itu?"
"Sayang? Kenapa? Ad yang salah?"
"Geli gue..."
"Kan di suruh mama Ra, gue males denger nama ngomel masalah enggak jelas gitu."
"Yang boleh, tapi di depan mami aja, selain itu enggak."
"Iya deh..." pasrah Bara. "Ayo jalan."
"Tara dimana?"
"Sama mama di bawah."
"Enggak papa kita keluar?"
"Santai aja."
"Ya udah, tunggu di bawah, gue ganti baju dulu."Ucap Nara lalu bergegas kekamar mandi membersihkan wajahnya lalu berganti pakaian.
"Gue ke bawah Ra..." ucap bara sambil berjalan keluar.
"Eh ta...kita ke kafe aja kan enggak kemana-mana lagi?"
__ADS_1
"Iya..."
"oke...".jadi Nara memakai pakaian kasual aja, enggak perlu lebay. Setelah selesai Nara turun menyusul bara, dan berpamitan pada mama dan Tara.
"Bunda mau kemana sama ayah?"
"Ayah mau ngajak bunda jalan-jalan, Tara sama Oma ya!"
"Terus kapan Tara di ajak pergi?
"Nanti di hari Minggu, sebelum bunda ke Bali kita ke Ancol atau TMII, terserah Tara mau yang mana?"
"Oke, nanti Tara pikirin." Jawab anak itu bijak lalu melanjutkan nonton kartun bersama Omanya. Lalu mereka pergi sesuai dengan janji Barata.
Mereka mengendarai motor milik Barata dengan kecepatan sedang, hembusan angin mengingat kan dia akan Angga, dia yang selama ini menemani nya, tapi kali ini dia bersama Bara., ada sedikit perih di hatinya, walau sebenarnya hal itu sudah tidak di ijinkan atas dasar pernikahan.
"Kenapa Ra?"
"Emang kenapa?"
"Lo diem aja."
"Enggak papa gue." Jawab Nara, singkat.
"Wajah Lo enggak baik-baik aja Innara." Ucap bara, yang memperlihatkan wajah Nara dari kaca spion. Wajah yang sendu, seolah menyembunyikan banyak hal yang tidak sanggup dia tanggung sendiri.
"Gue baik-baik aja Ta."
"Gue pengen Lo tersenyum." Nara pun tersenyum mengikuti kemauan Barata, agar dia tidak cemas lagi.
"Udah kan, gue enggak papa." Ucap Nara, walau sebenarnya dia lelah dengan hatinya sendiri.
"Gue sayang sama Lo Ra," ucap Bara lebih kencang dari sebelumnya.
"Lo gila."
"Iya gue gila karena elo..."
"Barata!" Nara mencubit pinggang Nara, dan dia mengaduh kesakitan. Hal kecil itu membuat Nara sedikit ceria.
"Sorry Ra, gue enggak bisa lepas Lo lagi, karena gue sudah lama menunggu hal indah ini terjadi." Batin Bara. Tidak lama setelah itu motor pun berhenti di area parkir yang luas, kendaraan Roda dua dan roda empat terpisah.
"Bagus Ta konsep kafenya." ucap Nara takjub.
"di dalam lebih waw kalo Lo liat."
"Serius?" ucap Nara riang.
"Hem...Ayo masuk."
"Emmm." Nara mengikuti langkah Barata walau sebenarnya bara menggandeng tangan Nara dengan erat. Nara menikmati pemandangan kafe yang luar biasa sempurna yang ada di dalam otaknya. "Waahhhh."
"Suka?"
"Emm, thanks lho ta, dah bawa gue kesini." ucap Nara tulus. Kenapa dia bahagia? Karena dia punya ide untuk konsep kafenya untuk bulan depan, sudah muncul ide-ide brilian baginya. "Mantap nih." gumamnya.
.
.
...BERSAMBUNG...
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...
"
"
__ADS_1