Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Kamu disini?


__ADS_3

"Hay semuanya..." tiba-tiba Edo datang saat semua akan masuk mobil, wal hasil semua melihat Kearah sumber suara.


"Ngapain Lo?"


"Mau ikut dong."


"Najis Lo, tumben banget mau ikut."


"Karena ada Nara." tiba-tiba Edo merangkul pundak Nara.


"Lepasin adek gue."


"Pelit." Edi melepaskan tangannya dari pundak Nara.


"Lo yang bawa mobilnya." Indra melempar kunci mobilnya, mau tidak mau Edo pun yang pegang kendali atas kendaraan beroda empat itu.


"Harusnya Nara ya g duduk di depan, kenapa elo si bos."


"Gue bosnya,"


"Sial banget gue." mau tidak mau Edo yang pegang kendali. "BTW Ke mall mana nih?


"Serah Lo aja."


"Bener ya terserah gue?"


"Em..." jawab indra, karena memang dia tidak terlalu tau soal mall, beda sama Edo.


"Nara juga oke kan."


"Oke om..."


" kok om sih Ra, gue kan teman Abang Lo."


"Om lebih tua dari bang indra..."


"Hah....Tua dari mana?"


"Emang Nara salah Om?"


"Om lagi...Salah lah..."


"Jadi?"


"Panggil mas aja."


"Najis Lo do..." giliran indra bersuara. "Adek gue itu."


"Tau..."


"Cewek Lo banyak..."


"Gue putusin semua asal Nara mau sama gue.."


"Nara enggak berminat Om..."


"Jangan om dong Ra...jatuh nih kerennya."


"Jadi?"


"Kak...ya kak Edo aja."


"Enggak ah, enggak cocok."


"hahahhahaha... Tuh kan, bener, adek gue aja tau."


"Nara kok gitu sih?"


"Kalo Nara ngikutin Om, nanti bang indra marah?"


"Tuh baru adek gue, pinter emang..." Puji Indra.


"Serah kalian lah..." Mode silent di aktifkan oleh Edo, sedangkan Nara masih sibuk membalas pesan dari Angga yang tidak terima jika dia ke Jakarta tanpanya.


"Heeeeh." Nara menghela napas panjang. Hal itu tidak luput dari pengawasan Edo dan Indra.


"Kenapa dek?"


"Enggak."


"Berat amat hidup Lo."

__ADS_1


"Biasa aja kali bang." Nara enggan menanggapi lebih lanjut.


"Gue puterin lagu ya?" ujar Edo karena merasa sepi.


Tak bisa hatiku menafikan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak


Mataku terus pancarkan sinarnya


Kudapati diri makin tersesat


Saat kita bersama


Desah napas yang tak bisa dusta


Persahabatan berubah jadi cinta


Satu kata yang sulit terucap


Hingga batinku tersiksa


Tuhan, tolong aku jelaskanlah


Perasaanku berubah jadi cinta


"Puter lagu apa sih Om?"


"Lo enggak suka?"


"Enggak pernah denger,"


"Ini lagunya zigas Ra, sahabat jadi cinta."


"Terus kenapa?"


"Ya..... Ya .. Enggak papa, gue ganti deh."


"Serah..." ucap Nara sambil menghela pasa berulang kali. "Gue kanapa sih galau banget." batin Innara." Apa gue balik ke Bali aja ya besok?" pikiran nya selalu pada Angga, entah kenapa tapi dia sangat merindukan sosok Anggara Pratama.


"Apa Nara balik ke Bali aja ya bang?"


"Kenapa? kamu kangen sama tunangan orang?" sontak ucapan indra membuat Nara sadar, bahwa Angga sudah milik orang lain, walau hati mereka masih saling menginginkan. "kamu sadar dek, jangan terlalu berharap orang yang sudah memiliki jalan yang lain, mungkin saja kalian memiliki perasaan yang sama, tapi takdir berkata lain, raganya sudah milik orang lain, walau hatinya masih sama kamu."


"Nara tau.."


"Lantas kenapa galau begitu?"


"Nara..., enggak bang."


"Coba lupain dia saat kamu jauh seperti ini, abaikan pesan dari dia, explore apa aja yang kamu pengen inginkan, asal jangan dia." lagi-lagi Nara menghela napas.


"Ada gue Ra, Lo pasti bisa lupain cowok itu." ujar Edo sok ganteng, tapi emang ganteng sih, walau sudah berumur.


"Elo ya, jangan macem-macem sama adek gue."


"Becanda DRA...Lo serius amat." goda Edo pada Indra yang sudah mulai protektif terhadap Innara.


"Nara bisa jaga diri Nara sendiri bang, dan om Edo terimakasih sudah perhatian sama Nara, tapi Nara baik-baik kok."


"Oke, gue tau Lo cewek hebat dan mandiri, kalo ada apa-apa ada gue sama Abang Lo."


"Em..."


"Ya udah, kita sampai,"


"horeeee." tiba-tiba Tara bersuara.


"Bunda Tara mau main trampolin."


"Boleh..."


Mereka semua memasuki area mall yang sangat ramai, tujuan mereka pertama adalah mengikuti kemauan Tara bermain trampolin sedangkan Indra dan Edo sibuk mencari tempat yang enak untuk menunggu.


"bunda lapar..." keluh Tara saat mendekat pada Innara.


"Ya udah, Tara mau makan apa?"


"Nasi goreng."

__ADS_1


"Oke, kita ke food court." Nara dan Tara berjalan di depan di ikuti Bu Rini dan mbak Tia juga indra dan Edo. Setelah sampai mereka memesan makanan mereka masih-masing.


"Kenapa enggak di resto aja sih dek?"


"Sini aja bang, biar rame, kalo di resto suasananya sepi.


"Iya juga ya."


"pesan sendiri-sendiri ya."


" Iya,"jawab Edo malas. Karena dia biasanya makan di resto dan selalu di layani, tidak seperti sekarang, kenapa juga Nara memilih hal seperti ini, kesal sekali Edo . semua makan telah dipesan dan datang, mereka mengambil tempat di pinggir sehingga bisa melihat siapa yang masuk di food court itu.


"Enak nak?"


"Enak buatan nenek."


"Buatan bunda enggak?" goda Edo.


"Bunda jarang masak om kalo dirumah, bunda masaknya di kafe." jelas Tara sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Kalo bicara pelan-pelan, berantakan kan jadinya." ucap Innara sambil membersihkan nasi di pipi Tara. Tapi tiba-tiba Tara memegang tangan Innara agar berhenti, setelah itu dia berdiri dan berlari ....


"Ayaaahhh." ucap Tara sambil menghampiri seorang pria. Dan semua memandang kemana arah Tara berlari dan siapa yang disebut ayah itu.


"Halo jagoan.." sambut Bara pada Tara yang memeluknya. "Tara kok sampai sini? mana bunda?"


"Ada tuh?" tunjuk Tara pada Nara yang berdiri hendak menghampiri nya.


"Barata?" gumamnya.


"Siapa Ra?" tanya Indra.


"Oh temen bang." Innara berdiri menghampiri Tara.


"Lagi makan kok lari sayang." ujar Nara saat sudah dekat.


"Hay Ra..."


"Hay Bar, sorry ya." ucapnya lalu memegang tangan Tara dan hendak pergi.


"Lo Innara Basuki kan?" suara salah satu teman Bara. lalu dia mengurungkan niatnya dan melihat siapa yang bertanya. " Benerkan Lo Nara?"


"Lexi?"


"Lo inget gue Ra?"


"Em..."


"Eh kenalin ini cewek gue, Caca."


"Hay Ra." -Caca


"Hay...kalian awet ya," Nara menyambut tangan Caca.


"Lo kenal dia?"Dia satu sekolah juga sama kita, dia jagoannya sekolah." ucap Lexi seraya berbisik.


"Apaan sih Lo Lex." Caca merasa tersindir.


"Kenal si h belum, tapi kalian kan fenomenal di sekolah dulu dan siapa yang enggak tau Kak Caca dan "gue sempet ketemu waktu urus lomba taekwondo." -Nara


"Lo panggil dia kak kenapa Lo panggil gue Lex sih?"


"Gue udah kenal Lo, kak Caca belom." -Nara


"Kita sama Ra, panggil gue Caca aja." -Caca


"Wah bener ingatan Lo hebat Ra." puji Lexi.


"Sama mereka ingat, kenapa sama gue enggak?" protes Bara. tapi hal itu di acuhkan oleh Nara.


"Keponakan Lo?" tanya Caca.


"Anak gue."


"Serius Ra? Dah gede aja."


.


......BERSAMBUNG ......


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2