Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Semakin runyam


__ADS_3

"Jadi ada yang bisa jelaskan kejanggalan apa ini?" tanya Angga yang menaruh curiga, Tapi dari kedua manusia yang ada di depannya diam saja menikmati makanan yang di sajikan oleh Innara.


"Ra gue mau tambah sayur itu dong " Ucap Bara menyodorkan piringnya. Nara meladeni Bara dengan telaten.


"Lagi?"


"Udah..." Bara mengambil piringnya dan melahap kembali makanan itu. "Rencana Lo hari ini apa?"


"Mau ngampus bentar, ada dosen masuk dadakan, setelah itu gue mau ke kafe."


"Bareng dia?" Bara melirik Angga yang mencuri pandang pada Innara.


"Hem..." Mendengar jawaban Nara, Angga merasa bangga.


"Ya udah gue anterin."


"Serah Lo aja." Ujar Nara karena sudah malas untuk berdebat.


"Kok terserah dia, Lo kan mau bareng sama gue Ra." protes Angga.


"Dia juga mau kekampus, bareng aja enggak papa kan?"


"Gue enggak mau."


"Gue enggak minta persetujuan Lo." ucap Bara.


"Sial Lo." Angga mulai marah.


"Dah ah, habisin makannya." ucap Nara pada Bara dan juga Angga.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka di barengi dengan teriakkan. "Ra..... Lo di rumah enggak? Gue masuk ya???" Tania dan Raffi muncul bersamaan. "Wah lagi sarapan nih, ikutan dong." Ucap Tania tanpa sungkan, sedangkan Nara sendiri masih agak canggung saat mata mereka bertemu. ",Hay ga ... Lama gue enggak liat Lo." Ucap Tania sambil duduk di samping Angga, yang biasa di sanalah Nara duduk.


"Lo yang enggak pernah nongol, ngatain gue lagi." Jawab Angga sarkas.


"Iya sih, tugas banyak banget, pusing gue, masih awal semester udah di bom sama tugas." Jawab Tania, dan semua itu menjawab kecurigaan Angga pada Nara.


...****************...


"Jangan nempel terus sama Angga! Ay.." Tutur Barata. Sedangkan Nara hanya membolakan matanya.


"Lama-lama gue capek serba Lo Dikte Ta.."


"Gue cuma cemburu ay.., emang Lo Enggak cemburu kalo gue Deket sama cewek lain."


"Heeeh.." Nara menghela napas. "Iya Ta.." lagi-lagi Nara malas berdebat hanya masalah sepele. Belum lagi dia punya janji dengan Jonathan. Nara menggeleng-gelengkan kepalanya pusing memikirkan banyak hal bersamaan.


"Oke, gue pergi dulu sama Tania ya ay..." Bara mengecup pipi Nara singkat lalu pergi. "Hati-hati ay, kalo ada apa-apa hubungi gue." Ucapnya sambil berlari kecil. Masih terlihat dia tersenyum bahagia pergi.


"Dasar aneh." Gumam Nara lalu membuka ponselnya. "(Love you), dasar norak." Ucap Nara sambil menggeleng-gelengkan.


"Siapa yang norak." tanya Angga sambil melihat ponsel Nara. Sedangkan Nara yang kaget langsung memasukan ponselnya dalam tas.


"Bukan siapa-siapa." Jawab Nara lalu berjalan dan di ikuti oleh Angga.


"Kayaknya banyak yang Lo sembunyiin dari gue Ra..." Ucap Angga saat langkah mereka sudah sejajar.


"Enggak ada."


"Ra...kita udah temenan selama tujuh tahun lebih, jadi gue ngerti gimana elo."


"Apaan sih Ga, gue enggak kenapa-napa kok." Jawab Nara. "Dan gue masih Nara yang sama."


"Maksud Lo apa?"

__ADS_1


"Ya elo yang kenapa? Maksud Lo apa?"


"Ra... Sudah gue bilang Ra, gue saya g sama Lo, gue rela ngelakuin apa aja demi Lo."


"Bulshit."


" Ra..." Angga menarik tangan Innara kedalam pelukannya. "Gue siap apapun resikonya."


"Lepas..."


"Jangan bikin gue nekat."


"Inget Jenny, jangan bikin banyak cewek berharap sama Lo."


"Gue cuma sayang sama Lo Ra."


"Cih, jangan asal Lo." Nara mendorong tubuh Angga, "Ga..tolong bantu gue untuk enggak lagi sayang sama Lo, Lo dah punya Jenny, dan kehidupan kita akan berbeda setelah kuliah kita selesai, jadi tolong bantu gue."


"Jelas kan kita punya rasa yang sama, kenapa kita enggak bersatu aja sih Ra aaaaa?" keluh Angga.


"Kalo gue bilang enggak ya enggak Angga."


"Bingung gue sama Lo."


"Sekarang mending kita buruan masuk kelas, urusan ini kita anggap selesai. Oke!"


"Serah Lo." Angga berjalan mendahului Nara .


"Sorry Ga, mungkin kita enggak berjodoh." gumamnya lali mengikuti langkah Angga.


"Di kelas keadaan sangat ramai, Nara memilih duduk di depan paling ujung, sedangkan Angga duduk di paling belakang.


"Berantem lagi?" tanya dewi ya g tiba-tiba mendekat.


"Sibuk banget sih Lo, "


"Iya nih, banyak pikiran gue, stres."


"Jalan yuk?"


"Kemana? Di Bali di mana-mana sama aja, laut dan pantai."


"Kita mau naik gunung di Tambora."


"Nyebrang dong?"


"Emmm."


"Gue sibuk, enggak bis."


"Rehat sejenak lah Ra..."


"Kita baru libur lama Lo dew.."


"Ya karena itu masuk sebentar berasa lama."


"Dasar Lo."


"Selamat siang semuanya....." Dosen killer masuk.


...****************...


Plak...

__ADS_1


"Mami?" Nara kaget karena tiba-tiba mami Nita menampar pipi Innara.


"Mami tau Ra kalian saling menyukai, tapi saat ini mami mohon kalian berhenti."


"Maksud mami apa?"


"Ini." mami Nita menunjukan foto dirinya dan Angga tadi siang dengan kesal.


"Mami salah, kami enggak seperti itu."


"Entah itu mami salah atau enggak, mami harap kamu tidak lagi berhubungan dengan Angga."


"Mana mungkin mi."


"Mami tidak ingin kalian terluka sayang, mami ingin melihat kalian bahagia dengan pasangan masing-masing."


"Nara tau mi, mami tidak perlu menjelaskan, tapi untuk menjauhi Angga itu tidak mungkin mi, Angga dan mami juga papi adalah keluarga Nara satu-satunya di sini, tidak ada yang lain, mana mungkin Nara bisa jauh." Tukas Nara dengan mata berkaca-kaca.


"Mami minta maaf soal itu, dan terimakasih atas pengertian kamu Ra, " lalu mami Nita pergi dari rumah Nara. Setelah kepergian mami Nita, Nara terkulai lemas di Lantai.


"Bagaimana bisa mi, Nara enggak mungkin bisa jauh dari kalian." Rintihnya .


Klik...


"Lho ay....kenapa duduk di lantai." Bara datang tergopoh saat melihat Nara duduk lemas di lantai. "Sini gue bantu." Bara mengangkat tubuh Nara perlahan dan memindahkannya di sofa. Dia berlari kecil ke dapur mengambil air . " Minum dulu ay..." Bara menyodorkan minuman itu.


"Makasih Ta, dan maaf."


"Ada masalah apa? Cerita!"


" Enggak ada, gue cuma...." Nara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Ya udah, enggak Papa, Lo istirahat aja, gue ganti baju dulu ya." Nara mengangguk. Sepeninggalan Bara, Innara terisak atas apa yang di lakukan oleh mami Nita, memutuskan hubungan yang selama ini Nara bangun dengan begitu susahnya kini berakhir hanya karena Angga telah memiliki wanita lain.


"Gue cuma perlu keluarga bukan yang lain." Ucap Nara dengan napas naik turun menahan tangis yang hampir saja keluar.


BRAAAKKK ....


"Halo bos, sendiri aja Lo?"


"Jo? Lo kenapa disini?"


"Kita punya janji kan?"


"Yang sopan kek, kayak ini rumah Lo aja."


"Cih....sopan? Sejak kapan Lo punya sopan santun sama gue? Sedangkan umur gue lebih tua dari Lo."


"Apaan sih Jo."


BRAAAK. Jonathan menendang meja di depannya.


"Ja jo, ja. Jo....kenapa masih songong aja sih." Jonathan mendekat dan menampar Innara hingga tersungkur. Hal itu membuatnya kaget, karena tanpa persiapan.


"Sial Lo," Umpat Innara lalu berdiri.


.


.


...BERSAMBUNG...


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2